
Di samping rumah Manda, rumah kecil dengan halaman yang
sangat luas, lengkap dengan pepohonan rindang di samping rumanhnya membuat
suasana menjadi sangat sejuk.
Seorang gadis terbaring di ranjangnya sendiri.
Kesha yang lagi gak ada kegiatan sama sekali, ia membaringkan tubuhnya di ranjang, dengan badan tengkurap, kaki di tekuk,
melayang ke atas, dan memaikannya. ke dua siku menyangga bantal, badan setengak
mendongak. Ia membaca buku novel yang baru saja Vino kembalikan kemarin. Kisah
yang sama dalam kehidupannya. Hanya saja ia berada dalam di dunia nyata bukan
dunia novel.
Kesha, membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri bergantian.
Drttt... drtt....
Haaahh... siapa lagi sih.. Ganggu saja. Gumam Kesha, segera
meraih ponsel yang berada di sampingnya.
Kesha melirik layar ponselnya, yang masih menyala. Sebuah
pesan dari ‘Albert’.
“Ada apa dia menghubungiku, sepertinya ada hal penting. Hemm.. padahal sudah dari kemarin dia tidak menghubingiku sama sekali. Dan aku
juga sudah tidak berharap lagi dia menghubungiku” gumam Kesha, beranjak duduk,
meletakkan buku di ranjang, dengan segera ia mengangkat telefon darinya.
“Ada apa?” tanya Kesha, yang kambali membaringkan tubuhnya.
Dengan pandnagan mata ke atas menatap atap langit kamarnya.
“Kamu di mana sekarang?” tanya Albert, dengan suara
datarnya.
“Aku di rumah, memangnya kenapa? Apa kamu sudah pulang sekarang?”
tanya Kesha.
“ Aku mau bicara sama kamu?”
“Kapan?”
“Dua hari lagi, aku sekarang masih di luar kota. Dan baru
dua hari lagi aku akan pulang” ucap Albert.
“Baiklah!!”
Albert segera mengakhiri panggilannya. Tanpa mengucapkan
kata syang atau apa, membuat Kesha menjadi semakin curiga dengannya.
Kenapa Albert jadi
berbeda, dia tidak seperti biasanya. Albert yang selalu perhatian dengan aku,
dan selalu romantis baik nyata, maupun hanya lewat telepon. Emmm.. apa benar
yang di katakan Vino kemarin malam, jika Albert, itu gak serius dengannya. Dia
hanya main-main dnegan aku... Tapi.. Jika aku tidak melihatnya sendiri aku juga
gak akan pernah tahu yang sebenarnya terjadi. Pikir Kesha.
Ia membaringkan tubuhnya tengkurap lagi, dan segera meraih
buku novel di sampingnya. Membuka halaman selanjutnya yang belum ia baca.
Tok.. tok.. tokk..
“Kesha kamu di dalam” panggil mamanya.
“Iya, Ma. Ada apa?” Jawab Kesha.
“Ada Vino di depan. Dia sudah menunggu kamu dari tadi”
“Ada apa lagi sih tu anak. Kenapa selalu ganggu aku,” ucap
Kesha , menghembuskan napasnya kesal. Ia beranjak dari ranjangnya dengan segera
__ADS_1
keluar menemui ibunya yang masih berdiri di depan pintu.
“Ma, kenapa dia gak di suruh pergi saja” ucap Kesha,
menyandarkan tubuhnya di pinggiran pintu.
“Dia ke sini sama Duke dan Lia. Udah sekarang kamu cepat
keluar. Kasihan anak-anak Manda sudah menunggu kamu dari tadi” ucap mamanya
beranjak pergi lebih dulu meninggalkan Kesha.
“Kenapa mama gak bilang dari tadi kalau ada Duke dan Lia”
gumam Kesha, namun tak di hiraukan mamanya yang sudah berjalan menjauh.
Kesha memngembuskan napasnya kesal, dengan badan lunglai
lemas. Ia segera menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan ringan menemui Vino
dan ke dua anak Manda. Hari ini memang dia sudah ada janji dengan Duke dan Lia.
Tapi bukan janji dengan Vino, dan entah kenapa Vino juga ikut dengan mereka.
“Kenapa kamu juga ke sini” tanya Kesha, dengan wajah
malasnya.
“Aku mau ajak Duke dan Lia keluar dari rumah, dan sekalian
jalan-jalan dengan kamu. BukaNnya, kamu juga ada janji dengan mereka, mau ajak
jalan-jalan kan?’ gumam Vini yang terklihat santai duduk di sofa.
Kesha hanya diam, memiringkan kepalanya pelan, ke kanan dan
ke kiri bergantian. Dengan ke dua tangan bersendekap. Aku ajak jalan-jalan Duke
dan Lia, Dan bukan kamu!!” ucap Kesha menyondongkan badanya ke depan,
mendekatkan wajahnya ke arah Vino.
“Tante, ayo sama-sama perginya” ucap Duke dan Lia, menarik-narik
tanganya.
enrima tawaran ke dua anak Manda.
“Tadi Excel dan Brandon lagi rewel Dan dari pada Duke dan
Lia juga ikut rewel, manda menyuruh aku untuk ajak dia keluar dengan kamu” ucap
Vino beralasan.
Vino memang sengaja membuat alasan Mnada untukn ajak Kesha
pergi. Kalau hanya berdua, ia tidak yakin jika Kesha akan mau jalan dengannya
lagi.
“Baiklah, tapi aku mau kita ke pantai sekarang. Gimana mau
gak?” ucap Kesha menraik alis kananya ke atas.
“Ke, pantai?” tanya Vino memastikan.
“iya, ke pantai, memangnya salah jika aku mau ke pantai.
Lagian, aku yakin jika anak-anak pasti akan senang” ucap Kesha.
“Tapi pantai sangat jauh, apa Manda dan Aron mengijinkan
kita ke sana” Vino khawatir jika Manda tidak mengijinkan anaknya. Nanti malah
rencanaya gagal lagi. Dan ia gak jadi kencan dengan Kesha
“Aku yakin gak apa-apa, lagian hanya memakan waktu satu setengah
jam perjalanan. Gak sampai satu hari kan.”
Vino terdiam, ia memutar otaknya untuk berpikir sebentar,
menimang-nimang apa yang di katakan Kesha lebih dulu.
“Emm... Gimana Mau gak, lagian Duke dan Lia gak nolak”
lanjut Kesha.
“Iya om, aku juga mau ke pantai, lagian aku belum pernah ke
__ADS_1
pantai. Aku ingin melihat pamandangan pantai” ucap Duke, memegang lengan Vino
yang masih diam mematung.
“Baiklah” ucap Vino pasrah.
“Ya, sudah. Sekarang kamu tunggu di sini dulu. Aku mau ganti
baju dulu” ucap Kesha yang segera melangkahkan kakinya pergi menuju kamarnya.
Beberapa menit kemudian, merasa sudah selesai semuanya.
Kesha bergegas turun kembali menemui anak-anak Mnada dan Vino, laki-laki
ngeselin, yang membuatnya tidak bisa juah darinya.
“Ayo kita pergi” ucap Kesha, berjalan menggandengan tanga
Duke dan Lia.
Mereka ke rumah Mnada lebih dulu untuk meminjam mobil Aron.
Mnada yang dari tadi mencari anaknya, dengan langkah ringan
ia berjalan keluar rumah. Di bantu dengan pembantunya.
“Duke, Lia kalian mau kemana?” tanya Manda yang kebetulan
sengaja mencari mereka.
“Mau pergi ke pantai ma” jawab Duke.
“Kalian di rumah sama mama ya, Nanti temanin adek. Mama
masih sakit buat jalan. Lagian mama juga gak ada temannya di rumah. Kalian tega
meninggalkan mama sendiri” ucap Manda, ia memang sengaja biar anaknya gak ikut
ke pantai.
Manda ingin membuat Kesha dan Vino bisa berduaan ke pantai.
Agar tidak ada yang menggangu hubungan mereka.
“Baiklah. Lia gak jadi ikut, bantu rawat adek saja” ucap Lia
antusias.
“Duke juga, mau sama mama” ucap Duke.
“Ya, sudah aku gak jadi ikut ke pantai” sambung Kesha.
“Sha, kamu temani Vino aja ya?” ucap Manda.
“Tapi, Da.”
“Sudah kamu temani dia, biar anak0anak sama aku. Dan Aron
juga masih ada meeting dadakan. Hanya sebentar kok, hari ini Vino lagi gak ke
kantor. Jadi lebih aik kamu temani dia pergi. Sekalian kamu bantu dia untuk
beres-beres di kontrakkan”
Kesha melirik ke arah Vino, “Emangnya dia mau pindah?” tanya
Kesha.
“Iya, aku mau pindah ke sini. Agar bisa melihat kamu setiap
hari, bisa memantau kamu setiap detik dan setiap kmenitnya. Dan aku juga sudah
bersihkan kamar di samping tepat menghadap dengan kamar kamu, ya meski kamar
kamu tertutup pohon sih..”
“Jangan bilang kamu mau mengintipku” ucap Kesha, mengepalkan
tanganya melayang ke ats.
“Ehh.. enggak-enggak, siapa juga yang mengintip kamu” vino,
mengangkat ke dua tanganya ke depan, mengibaskan tanganya.
“Udah kalian pergi” Ucap Manda yang membiarkan mereka berdua
di depan rumahnya. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya jika melihat mereka
terus berdebat.
__ADS_1