Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Tak di Gubris


__ADS_3

Di sebuah restauran mewah yang begitu megah dengan desain interior yang mengagumkan lampu yang besar bewarna putih kaca menjulang ke bawah dengan pernak pernik membuat mata Manda melebar seketika tak bisa berkedip. Ia menatap begitu banyak orang menikmati sajian  makanan di sana. Dengan nuansa indah restauran itu.


" Kak Aron! Manda sini" panggil Vino yang sudah duduk dengan memesan berbagai makanan di mejanya. Manda dan Aron berjalan ringan menuju ke arah Vino. Namun bukannya bergandengan tangan agar terlihat mesra dan serasi sebagai suami istri. Manda berjalan lebih dulu menjauhi Aron.


Wanita itu tidak mau terus dekat dengan Aron yang seakan dia lupa apa tujuannya balik ke rumah suaminya. Bukan untuk baikan dengan menjalin hubungan bahagia dengannya dan memulai hidub baru bersamanya sebagai suami istri. Tetapi hanya sebatas untuk balas dendamnya yang belum tercapai.


Dan kini sepertinya pembalasan akan segera di mulai. Rencananya selangkah sudah ada kemajuan. Aron terus mengejarnya meski berkali kali ia tak menggubrisnya namun semangatnya untuk bisa dekat dengannya semakin menjadi. Dan ini jadi kesempatan buwat Manda membuat Aron semakin cinta dengannya.


Sejak kejadian di luar mereka hanya diam seolah sangat canggung memulai pembicaraannya lebih dulu. Manda pergi lebih dulu meninggalkan Aron semenjak kejadian di luar restauran tadi membuatnya sangat malu melakukan hal itu di depan umum.


Manda berdiri di depan Vino dengan wajah datarnya tanpa ekspresi di wajah mereka.


Vino mengehela nafas sejanak seolah ia tahu jika mereka pasti lagi berantem lagi.


Lelaki itu menelan ludahnya melegakan tenggoroakan hang tiba-tiba kering. Ia mencoba memulai pembicaraan lebih dulu.


" Kenapa kalian hanya diam saja?" Pungkas Vino melempar senyum lembut beranjak berdiri. Memegang tangan Aron dan Manda bersamaan ia menggabungkan ke dua tangan mereka agar terlihat lebih serasi.


" kalau gini kan cocok" ucap Vano melayangkan 2 jempolnya dengan senyum manis pada mereka.


Manda melirik sekilas ke arha Aeon ia terlihat tidak suka dengan apa yang di lakukan Vino. Wanita itu menarik tangannya kembali.


" Udah lebih baik kita makan terus cepat pergi dari sini" Pungkas Manda dengan nada datarnya. Ia duduk berjarak satu kursi dengan Aron dan lebih memilih dejat dengan Vino. Karena memang jursi di meja bulat itu ada 4 kursi melingkar.


Vino hanya terdiam ia tahu apa yang ada di pikiran Manda saat ini. Pasti dia sangat canggung dan sekaligus membuang jauh-jauh sifat perdulinya dengan Aron. Bahkan meskipun Aron sudah berubah ia masih tetap jijik memandangnya.


Vino melirik ke arah kakaknya, lalu ke arah Manda dia merasa aneh semua terus diam menikmati makanan yang ada di meja tanpa protes atau apapun keluar dari mulut mereka. Vino mengira mereka tidak akan suka dengan makanan dan minuman yang sudah ia pesan lebih dulu. Namun perkiraan dia salah meski mereka tak saling sapa tapi makanan di meja tiba-tiba sudah habis di lahapnya.  Mungkin mereka kelaparan kali ya?


Vino meperlambat kunyahan makanan di mulutnya ia melirik sekilas ke arah Aron yang terus curi pandang ke arah Manda. Dengan senyum tipis samar-samar ia terpikirkan ide bagus dari otaknya agar mereka bisa dekat lagi. Vino menghentikan makannya meletakkan sendok dan garbunya mendorong kursinya ke belakang dengan tubuhnya.

__ADS_1


Pandangan mereka tertuju padanya. Seolah mereka mau melayangkan pertanyaan padanya. Namun ia lebih dulu memulai pembicaraan.


" Oya aku lupa ada janji sama teman. Kalian nanti pulang bareng ya !" Pungkas Vino seolah terburu-buru bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka.


" Semoga berhasil" gumam Vino lirih berjalan santai keluar dari restauran mencari sebuah taksi untuk pergi ke suatu tempat.


Di balik restauran megah itu masih terasa nampak hening di meja. Aron melirik sekilas ke arah Manda melihat ada sisa makanan di bibirnya. Tangannya seolah bergerak untuk menyentuh bibir seksi manda. Manda menatap ke arah Aron jantungnya berdetak oebih cepat kali ini. Membuat nafasnya semakin berat. Tatapan mereka terkunci tak berkedip satu sama lain.


Tetapi tiba-tiba Manda sadar dengan tatapannya.


" apa yang kamu lakukan?" Manda menepis tangan Aron.


Aron meletakkan kembali tangannya ke meja memegang sendok perlahan mulai menyantap makanannya seolah tak terjadi apa-apa.


" Tadi ada sisa makanan di bibirmu" Jawab Aron dengan nada datarnya. Ia tidak mau terlihat lembut di depan Manda kali ini. Karena merasa ia tak di gubris Aron bertingkah seraya masih tetap sama bersifat dingin padanya.


" Ou" Manda memeringkan bibirnya sinis.


" Baiklah" lelaki itu beranjak berdiri mengikuti langkah kaki Manda yang semakin menjauh darinya. mereka terlihat seperti anak kecil yang berantem tanpa sapa dan saling bersifat acuh tak acuh. Terpikir dalam benak Aron untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Meskipun ia tetlihat canggung dan ragu. Sifat Manda yang kembali acuh padanya membuat ia ragu untuk mengucap kata meski hanya seuntai katapun.


Hingga tepat di depan restauran . Ia terpikirkan cara untuk membuat hati Manda luluh.


" Kenapa kamu jadi lama jalannya" Ucap Manda dengan nada semakin tinggi. Ia berbicara seolah Aron adalah pelayannya yang seenaknya di suruh-suruh.


Tapi sepertinya Aron tak menolak dan wajahnya kelihatan datar tanpa ekspresi marah maupun penolakan darinya. Wanita itu senyum semringai dalam hatinya. Seakan ia mendapatkan sebuah pelayan baru untuk mainannya yang bisa seenaknya ia suruh kemanapun ia pergi.


" Manda!!" Aron menarik pundak wanita di depannya itu menoleh ke belakang. Hingga rambut panjang yang terurai berterbangan mengenai wajah tampan Aron di belakangnya.


Aron memegang ke dua tangan Manda berlutut di depannya.

__ADS_1


" Maaf !!" pungkas Aron mencium lembut punggung tangan Manda dengan lirikan ke atas memandang wajah cantik Manda di depannya.


Wanita itu terdiam sekujur tubuhnya kaku seketika. Ia melirik sekelilingnya semua orang yang melewatinya memandang mereka dengan senyum seakan ada tontonan gratis.


" Dasar gila !" Batin Manda mengalihkan pandangannya seolah acuh dengan apa yang di lakukan Aron. Dengan nafas terus berdengus kesal raut wajah muram ia mengerucutkan bibirnya. Namun dalam hatinya berkata lain seolah ia ingin menerima perlakuan lembut itu dengan sebuah senyuman manis . Tetapi ia mengubur dalam-dalam keinginan itu dalam hatinya. Ia berpegangan teguh dengan pendiriannya untuk tetap membalas perbuatannya.


Manda menarik tangannya dari pegangan Aron beranjak pergi tanpa sepatah katapun. Ia tak perduli dengan apa kata orang di sana. Meski semua bilang dia gadis  jahat atau gak punya hati ia tak perdulikan suara itu. Mereka hanya tahu dari luar dan tidak merasakan penderitaan yang ia alami selama ini.


Ia segera masuk ke dalam mobil yang tak berada jauh di depannya. Meskipun ia tak perduli dengan Aron namun ia lebih memilih pulang naik mobil bersamanya. Ya karena jalan rumah Aron tak ada kendaraan satu pun ke sana. Mau naik taxi juga ia tak ounya uang sepersen pun. Kemalangan nasibnya ia harus membuang dalam-dalam rasa malunya itu.


***


Aron berjalan ringan menuju ke mobil. Raut wajahnya tanpa ekpresi. Terlihat ia sangat kecewa dengan perlakuan Manda tadi yang membuatnya malu. Namun ia tidak mau terbawa emosinya lagi.


Lelaki itu mulai membuka pintu mobil ia melirik sekilas ke arah manda yang duduk di belakang. Ia menarik nafas menahannya sejenak lalu mengeluarkan perlahan. Lelaki itu mencoba berbicara dengan lembut pada Manda yang masih acuh padanya.


" Kamu mau kamana lagi?" Tanya Aron yang mulai masuk ke dalam mobil.


" Pulang !" Manda memalingkan pandangannya melipat ke dua tangannya di atas perut.


" kamu marah?" Tanya Aron mulai menyalakan mesil mobilnya melaju perlahan keluar dari parkiran restauran itu.


" gak!"


" Ya sudah maaf mengganggumu" Aron mulai pasrah kali ini dia benar-benar menyerah dengan perlakuan Manda yang membuat ia semakin tak bisa menahan emosinya. Tetapi ia tidak mau terlihat marah lagi di depan Manda.


Manda hanya berdiam diri dengan menatap jendela kaca melihat pemandangan luar. Ia tahu Aron pasti sangat marah padanya namun ia tidak perdulikan itu. Ia jngin melihat dia marah lagi tetapi marah bukan dengannya. Manda berencana untuk memalingkan amarah Aron yang terpendam itu ke pada Fany.


Manda ingin Fany jadi sasaran kemarahan Aron. Dia yang memulai tapi orang lain yang kena imbasnya.

__ADS_1


"Aku bukan Manda yang dulu. Di otakku penuh rencana licik untuk membalas semuanya" Gumam Manda lirih tersenyum sinis menatap ke luar jendela mobil.


__ADS_2