
Kesha yang masih terlihat panik, ia mengambil sapu tangan di dalam tasnya, untuk membalut luka Vino dengan sapu tangan miliknya.
“Apa yan akan kamu lakukan?” tanya Vino.
“Sudah diam,” Kesha dengan wajah yang mulai serius, ia menali rapat sapu tanganya di telapak tangan Vino. Vino yang hanya diam, melihatnya. Kesha yang begitu perhatian dengannya.
Vino membalikkan badanya, duduk jongkok di depan Kesha. “Cepat naik,” ucap Vino, membuat Kesha mengerutkan keningnya.
“Naik, kemana?” tanya Kesha bingung.
“Naik ke punggungku, lagian bentar lagi kita juga sampai di
halte bus.” Ucap Vino melirik sekilas ke belakang, menatap Vino.
“Tapi tangan kamu sakit,”
“Sudah, jangan perdulikan tangan aku, hanya memar saja gak terlalu sakit,” ucap Vino, menarik tangan Kesha meletakkan melingkar di lehernya.
Kesha menarik napasnya, dan langsung naik ke punggung Vino. Vino segera berjalan menuju halte bus yang lumayan dekat dengan temoat ia berdiri,
kebetulan bus sudah berehnti di depan halte. Dengan segera ia berlari.
Kesha mencoba menggoda Vino, mencubit pipinya yang menggemaskan. “Hai,, jangan terlalu tegang begitu,” ucap Kesha menggoda.
“Siapa juga yang tegang, aku hanya cepek,”
“Turunkan aku, aku bisa lari sendiri. Dari pada kamu semakin capek.” ucap Kesha.
“Sudah, diamlah, aku gak masalah kok,” ucap Vino.
“Tapi, kamunyakin, masih bisa?” tanya Kesha memastikan.
“Iya, aku yakin.” Ucap Vino tegas, “Kamu diamlah,”
“Baiklah, aku diam.”
Vino segera masuk ke dalam bus, menurunkan Kesha tepat di kursi belakang.
-------
Sampai di rumah, Kesha yang lansgung membasuh tubuhnya, ia terbaring di ranjangnya. Menatap ke atap langit kamarnya. Memutar kejadia tadi
bersama dengan Vino, membuat ia tidak bisa tidur pulas kali ini, ia masih terbayang akan hal itu.
Di sisi lain, Vino yang baru saja membasuhtubuhnya, ia berjalan menuju ke balkon kamarnya, dngan tangan mengusap lembut rambutnya yang
masih basah. Ia melihat lampu kamar Kesha masih menyala di balik balkon.
“Dia belum tidur sekarang?” gumam Vino, tesenyum mentap kamar Kesha.
__ADS_1
`````
Keesokan harinya.
Vina baru saja bersiap untuk pergi ke Paris. Dan semua barang-barangnya juga sudah siap.
"Non, mobil sudah siap," ucap pembantu Vina.
"Baik, saya juga sudah selesia bi," kata Vina,
beranjak berdiri.
Vina menarik napasnya dalam-dalam. Ia menatap sekeliling kamarnya. "Aku akan pergi dari sini. Memulai hidup baru, yang entah nanti akan menyenangkan atau tidak" gumam Vina dengan senyum tipisnya.
Vina melangkahkan kakinya penuh ragu, meninggalkan rumah yang sudah sejak kecil ia tempati. Dan karena papanya memutuskan untuk pindah. Dengan terpaksa ia mengikutinya. Mereka memang pindah rumah di sana memulai
kehidupan barunya. Dan membiarkan perusahaan di sini di atur oleh manajer di kantornya.
Vina segera masuk ke dalam mobilnya. Dan mobil mulai jalan, menuju ke bandara. Tiga puluh menit lagi, pesawat akan take off.
Ia segera mungkin sampai di sana tempat waktu. Tidak mau telat lagi nantinya, mau berangkat kemarin malam, ia ketinggalan pesawat dan harus menunda lagi keberangkatannya.
“Pak, ngebut ya!!” ucap Vina, duduk santai di belakang.
“Iya, non.”
Vina Membuka ponselnya, melihat beberapa pesan yang masuk. Sudah dua hari ia tidak membuka ponselnya sama sekali, dan banyak sekali
Melihat nama itu, seketika Vina memasukan kembali ponselnya. Mengurungkan niatnya untuk membaca pesan darinya.
------
Di sisi lain, Albert juga sudah bersiap menuju ke bandara. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
“Albert kamu mau kemana?" tanya kakaknya, yang kebetulan lewat lewat di depannya.
"Aku mau nalik ke Paris kak. Ada hal penting yang akan aku kejar." ucap Albert, tersenyum tipis.
"Aku tahu, kamu pasti mau mengejar cinta kan. Jika
memang cinta yang kamu kejar sekarang pergilah. Kejarlah cintamu, jangan biarkan dia pergi. Jika dia sudah jauh nanti maka semua akn terlambat. Jjangan biarkan dia pergi terlalu jauh.. Dan kakak akan selalu mendukung kamu. Mendukung semua
yang kamu putuskan, dan aku harap kamu jangan sampai menyesal nantinya" ucap kakak Albert menepuk-nepuk bahu Albert.
"Baik, kaka. Makasih" ucap Albert. “Doakan saja
adik kamu ini bisa mendapatkan kembali hatinya” lanjut Albert.
Kakak Albert hanya mengedipkan matanya. memberi kode padanya untuk segera pergi.
__ADS_1
-----
Hari ini memang Albert sudah memutuskan untuk pergi ke Paris. Ia ingin menjemput hatinya yang pergi sampai ke negeri seberang.
"Vina, di manapun kamu berada. Aku akan selalu datang mengejar kamu. Aku akan selalu mencarimu kapanmu. Dan sesuai janji aku, aku tidak akan pernah pergi dari kenyataan. Dan lari dari tanggung jawab." batin Albert, segera masuk ke mobil kakaknya.
"Pak, ke bandara sekarang" ucap Albert.
“Iya tuan,”
Dua puluh menit perjalanan Albert segera keluar dari
mobilnya, berlari masuk ke dalam bandara. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya, kurang lima menit lagi, Pesawat sudah akan take off.
“Haduh... aku terlambat ini,” ucap Albert, yang harus lari maraton ia lansgung naik pesawat dan duduk dikusi yang sudah di tentukan.
Bruuukkk...
Albert seketika menjatuhkan badanya duduk di kursinya. “Maaf.. maaf” ucap Albert, yang tidak sengaja menenggor minuman orang di sampingnya.
“Shiiitttt.. Apa kamu gak punya mata.” bentak wanita itu, yang sudah terlihat sangat geram, gara-gara pria di sampingnya bajunya jadi kotor.
“Maaf aku gak sengaja” ucap Albert lagi, mendongakkan kepalanya kompak dengan wanita di depannya. Seketika ke dua mata mereka saling
tertuju terbelalak mentap siapa yang ada di depannya itu.
“Al.. Albert!!” ucap Vina lirih, napasnya seketika sesak, melihat kenyataan di depannya.
Bagaimana bisa aku bertemu dengan Albert di sini. Oh.. Tuhan.. kenapa dia selalu muncul di hadapanku, kenapa dia tidak pergi dari hidupku saja.. terus sekarang apa yang aku lakukan.. dia ada di depanku, bersamaku, menatapku. Pikir Vina dalam
hatinya yang mulai gusrah.
Ia terkihat sangta gugup dengan napas yang sudah mulai tersendak-sendak.
“Aku gak menyangka kita bertemu lagi di sini,” ucap Abert, seketika lengausng memgang ke dua ppi Vina, yang menatapnya dengan wajah kosong.
“Alana, aku mencari kamu dari kemarin, dan sekarang kamu ada di sini. Aku akan ikut kamu sekarang, ikut kemanpun kamu pergi. Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku lagi,”
Vina yang mendengar ucapan itu masih bengong, tidak menyangka dengan ucapnya. Ia hanya bisa bergumam dalam hatinya.
Kenapa dia bicara seperti itu padaku. Apa dia suka denganku. Tapi, itu tidak mungkin. Dia tidak
mungkin suka denganku, tidak akan mungkin.. dia pasti hanya bercanda, aku yakin dia hanya bercanda. Dia tidak mungkin suka denganku, tidak akan mungkin..
Vina mencoba tidak terbuai dengan apa yang di katakan Albert padanya, ia tidak mau terjebak cintanya lagi. Ia mencoba memejamkan matanya
beberapa detik, menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba mengatur hatinya yang terasa sangat berantakan. Ia mengacak-acak pikirannya menanamkan kata itu agar tidak terbujuk rayu manis Albert lagi.
“Albert lepaskan, tanganmu!!” ucap Vina dengan nada rendahnya, ia menepis tangan Albert yang masih menyentuhnya.
__ADS_1
“kenapa? Aku gak akan pernah melepaskanmu lagi.. gak akan pernah,” ucap Albert, yang masih terus memegang ke dua pipi Vina
“kenapa kamu selalu menggangguku, Albert. Kenapa?” ucap Vina meninggikan suaranya, membuat seisi penumpang di sekitarnya mentap bingung ke arah mereka. Vina seketika menundukkan kepalanya malu.