
Aron terus berjalan hingga ke ujung jalan ia melihat ke kanan ke kiri jalan, masih tetap tak menemukan Manda di sana.
Kini ia sangat panik, khawatir jadi satu terbalut dengan rasa cemas dalam hatinya.
" kemana dia pergi?. Kenapa begitu cepat" Gumam Aron dengan wajah sangat khawatir bahkan ia terus mengusap kepalanya berkali-kali seakan ia sudah sangat frustasi.
Ia merasa menyesal telah membentak Manda serta menghinanya tadi, tanpa mendengar penjelasan darinya lebih dulu. Memang sungguh membuatnya merasa hatinya gundah. Ia berpikir gimana kalau Manda pergi meninggalkannya lagi. Apa mungkin ia sanggup di tinggalkan lagi olehnya. Kebahagiaan yang baru ia rasa beberapa hari pupus sudah hanyabkarena kesalah pahaman.
" Manda jangan pergi" Gumam Aron lirih. Dengan wajah menunduk meratapi semuanya.
Aron terus berdecak kesal berteriak di jalan. Hingga semua yang melintas menatapnya bingung. Bahkan mungkin ada yang mengira dia benar-benar gila. Ya gila karena cinta yang tak pernah bisa bersatu dengan bahagia seperti yang ia harapkan.
Aron membalikkan badanya, tak ingin kembali ke kantor, dan juga tak mungkin ia bekerja dalam pikiran yang terasa sangat penat. Ia tak mungkin malanjutkan kerjanya lagi.
Lelakin itu beranjak mengambil mobilnya di parkiran kantor. Dengan segera menuju ke sebuah Bar dengan hanya sekedar minum cocktail yang bisa membuat pikirannya tentang Manda hilang sejenak. Ia ingin bersenang-senang sendiri hari ini. Tanpa ada beban pikiran yang membuatnya terganggu.
Ia tahu jika kali ini perutnya tak bisa seperti dulu bisa menerima semua minuman. Dan sejak ia sakit gara-gara 3 hari minum tak ada habisnya, hingga ia harus di rawat di rumah sakit dan dokter sudah melarangnya untuk menjauhi minuman selamanya. Apalagi meminumnya sangat bahaya bagi kesehatanya.
Aron mengemudi melesat dengan kecepatan tinggi, ia terus bergumam kesal menyesali semuanya. Bahkan Aron terus menyalahkan dirinya sendiri tak ada hentinya perasaan emosinya yang meluap kali ini. Tak butuh waktu lama ia tiba di sebuah bar.
Ia beranjak membuka pintu mobilnya, lalu beranjak turun. Lelaki itu menutup mobilnya dengan kasar. Membuat semua mata tertuju padanya. Aron tak perdulikan itu ia segera masuk dalam bar dan menikmati minuman yang biasa ia minum.
" 2 botol Coctail" Ucap Aron pada pegawai bar di depanya.
" Maaf tuan apa, tapi kesehatan tuan Aron sangat penting. Jangan terlalu banyak minum" Ucap pegawai itu menundukkan kepalanya. Ia merasa takut sudah lancang mengucapkan kata itu pada Aron.
Pegawai bar sudah sangat kenal dengan Aron. Karena itu adalah tempat langganan Aron dan Jack dari dulu. Bahkan semua sudah tahu berita tentang apapun mengenai kehidupan Aron. Karena tak mungkin tak ada wartawan yang meliput semua kehidupan pengusaha muda yang terkenal di penjuru kota itu.
" Gak usah menasehatiku, aku sekarang pusing cepat beri aku minuman itu. Atau aku obrak-abrik semua yang ada di sini" Ucap Aron. Tangannya menggebrak ke meja bar dengan tatapan tajamnya ke arah pegawai di sana.
" Maaf tuan" Ucap pegawai itu menundukkan kepalanya lagi. Pegawai bar itu segera nenyediakan 2 botol minuman Coctail yang ia pesan. Tatapan tajamnya membuat semua pegawai bar itu merinding ketakutan dan dengan terpaksa menuruti apa yang ia minta.
__ADS_1
Mereka semua tahu gimana sifat Aron. Bahkan apa yang akan dia lakukan jika ada orang yang mengusiknya.
***
Di pinggir jalan Manda melangkahkan kakinya menelusuri jalanan dengan tatapan kosong dan air mata yang terus menetes di pipinya. Ia terus menunduk ke bawah dan tangan menyeka air matanya. Di dalam benaknya masih terbayang saat Aron benar-benar menghinanya entah kenapa hatinya terasa sangat sakit.
" Mungkin aku memang tak pantas untuk bahagia, dan selalu seperti ini saat memulai hidup yang normal dan bahagia seperti lainnya" Gerutu Manda dengan kaki seakan berat untuk melangkah lagi.
" Manda!!" teriak Jack di balik mobil Sport keemasan yang berhenti tepat di sampingnya.
Manda menghentikan langkahnya sejenak, menoleh ke arah Jack dengan mata sudah terlihat membengkak karena sudah erlalu banyak menegluarkan air matanya. Jack segera turun dari mobil dan beranjak mendekati Manda.
" kamu kenapa jalan kaki, di mana Aron?. Apa dia gak mau memaafkan kita" Ucap Jack memegang ke dua bahu Manda. Ia cemas dengan keadaan Manda yang begitu tersiksa. Ia tahu gara-gara dirinya semua terjadi. Tapi semua sudah terlanjur. Mungkin ia harus berbicara dengan Aron untuk menjelaskan padanya.
Manda terdiam menatap Jack yang terlihat sangat perduli dan khawatir dengannya. Namun bukanya ia gak mau Jack menghiburnya ataupun menemaninya sejenak untuk saling berbincang. Namun ia takut Aron akan salah paham lagi jika melihat mereka berdua. Dan membuat persahabatan mereka jadi hancur nantinya.
Manda menepis tangan Jack dari bahunya.
" Baiklah aku akan pergi tapi setidaknya aku antar kamu pulang ya" Ucap Jack. Kali ini ia tak mau menyentuh Manda.
" gak usah aku bisa pulang sendiri, lagian di sini banyak taxi" Pungkas manda beranjak pergi meninggalkan Jack sendiri.
Jack tak bisa berbuwat apa-apa, ia hanya bisa menatap punggung Manda yang sudah melangkah menjauh darinya. jika ia mengejar Manda maka wanita itu pasti sangat marah dengannya. Sepertinya memang dia lagi butuh waktu untuk sendiri tak ingin di ganggu orang lain.
Manda terus menundukkan kepalanya dengan langkah ringan menuju sebuah halte. Ia berhenti sejenak di halte untuk menunggu taxi datang.
Meski banyak orang yang melewatinya terus menatap aneh padanya. Manda tak perdulikan itu. Ia tetap diam menundukkan kepalanya.
Tak lama sebuah taxi melintas tiba-tiba berhenti di depannya. Ia yang terus diam tak memandang taxi itu bahkan ia juga tak memanggil taxi itu untuk berhenti.
" non Manda ya" sapa sopir taxi itu yang sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
" eh iya ada apa" Ucap Manda ia menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
" Non cepat naik ke taxi, saya antar sampai tujuan" Ucap Sopir itu agak menundukkan badan dengan tangan memberi aba-aba manda untuk segera naik.
Manda terlihat sangat bingung, ia tidak memesan taxi bahkan dari tadi ia hanya diam duduk di halte tanpa memanggil taxi.
Ia menatap ke akan dan ke kiri sepertinya tak ada hal yang mencurigakan.
Dalam hati ia berkata. Ya sudah lah lagian sudah terlanjur juga taxi itu berhenti. Tanpa pikir panjang lagi Manda segera naik ke dalam taxi.
Di balik itu di sebuah pohon besar pinggir jalan Jack melihatnya. Memang dia yang memesan taxi untuk manda agar ia cepat sampai rumah dan bisa beristirahat sejenak. Dari tadi ia terus memandang Manda hanya terdiam dan menunduk di halte meskipun banyak taxi yang lewat ia bahkan tak perdulikan itu.
" Aku memang tak bisa mendekatimu, tapi setidaknya izinkan aku membantumu meskipun tak secara langsung" gumam Jack menatap taxi yang di tumpangi Manda sudah semakin menjauh.
****
Di balik Bar Aron sudah minum hingga 4 botol. Ia sudah tak berdanya tersungkur di bar. Bahkan mulutnya terus menyebut nama Manda tak hentinya.
" Manda"
" Manda jangan pergi" ucap Arin dengan kepala sudah tersungjur di meja bar.
" Manda" Aron tak pernah berhenti mengingau memanggil nama Manda dan Manda.
" Maaf tuan apa harus aku antar ke rumah" ucap salah satu pegawai bar itu.
" Gak usah aku hanya ingin di sini" Ucapnya dengan mata masih tertutup. Ia seolah tubuhnya sudah lemas tak bisa berdiri.
" Tapi keadaan tuan sudah semakin buruk" Ucap Pegawai itu.
" Jangan mengangguku. Cepat pergi pegawai bar itu beranjak pergi ketakuta.
__ADS_1
Aron masih tetap sama bergumam menyebut nama Manda lagi tak hentinya. Bahkan kali ini tubuhnya sudah tak berdaya lagi dan perlahan memejamkan matanya. Hingga gelas yang ia pegang perlahan jatuh, hingga pecahan kaca gelasnya berserakan ke lantai.