Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kejujuran Aron part 2


__ADS_3

"Kamu jahat"ucap Manda, beranjak berdiri dengan perasaan kecewa pada Aron. Ia tidak memberi tahu Manda sebelumnya tentang penyakitnya itu.


"Aku gak mau bicara dengan kamu, kamu gak pernah mau jujur denganku"bentak Manda, dengan air mata yang tak berhenti menetes. Ia betanjak beridiri dan pergi dari hadapan Aron.


"Syang!" panggil Aron, meraih tangan Manda.


"Kamu jahat, kamu tidak perduli denganku? Bahkan dengan kesehatan kamu sendiri saja kamu tidak perduli"gumam Manda kesal, ia terus memukuli dada Aron.


Aron memegang ke dua tangan manda, mencegahnya terus memukulinya. Ia memegang ke dua pipi Manda dengan manatap matanya yang terlihat terus mengeluarkan air mata. Jemari tangannya mengusap lembut pipi Manda.


"Syang tenanglah, jangan seperti ini. aku tidak mau seperti ini. Pikirkan juga kondisi anak kita. Aku bisa minum obat di saat sakitku kambuh, tapi hanya menghilangkan rasa nyerinya. Sekarang oebih penting keselamatan anak kita "ucap Aron, memegang pipi Manda. Mengusap air mata yang membasahi pipi Manda.


"Kamu kalau seperti itu, kamu gak kesihan denganku dan anak kamu, kalau penyakit kamu tambah parah gimana? Apa kamu akan ninggalin aku dan anak aku, apa kamu pikir aku sanggup kehilangan kamu. Kamu harus tetap sembuh, aku gak mau kamu sakit, bukannya kamu sudah janji denganku akan selalu ada buat aku, dan selalu menemaniku sampai kakek, nenek nantinya. Bukanya kamu juga ingin melihat anak kita tubuh dewasa"gumam Manda tak berhenti berbicara, mengungkap rasa kecewa dan khawatirnya jika kehilangan Aron, ia terus menangis tersedu-sedu.


Manda masih menunduk, ia tak bisa berhenti meneteskan air matanya. "Aku gak mau kehilangam kamu"ucap Manda lirih, dan ia masih sesegukan, mencangkram erat tangan Aron. Manda tak berhenti mengomel pada Aron. Memukul dada bidang Aron, dan Aron hanya diam, menatap wajah Manda.


"Apa kamu gak tahu betapa terkejutnya aku mendengar itu, ku gak mau jadi single parent, gimana jadinya anak aku nantinya jika kamu..."Aron seketika menutup mulut Manda dengan telunjuk tangannya, agar ia tidak meneruskan ucapanya, yang dari tadi tidak bisa berhenti.


"Jangan pernah bilang seperti itu"ucap Aron.


"Tapi..."ucap Manda seketika di tutup mulutnya oleh Aron dengan tangannya.


Aron, menatap mata Manda dengan tatapan memohon agar ia tidak sedih lagi.

__ADS_1


"Aku akan menemani kamu dan anak kita? tidak ada hal yang memisahkan kita."ucap Aron. "jangan pernah berpikir hal itu lagi syang, sekarang fokus dengan bayi kita, yang sebentar lagi akan lahir. Dan jaga kesehatan jangan terlalu stres"ucap Aron memegang wjaah Manda, gar ia bisa tenang.


Meskipun begitu Manda tidak bisa menghilangkan pikiran itu, pikirannya terus berkecamuk, memikirkan saat Aron akan pergi meninggalkannya nanti. Entah apa dia bisa hidup tanpa Aron.


"Apa kamu gak pernah terapi untuk kesembuhan kamu?" tanya Manda.


"Belum pernah, aku hanya kontrol


tapi kata dokter asal aku menghindari minuman berkahol lagi, dan pola makan yang baik, dan tidak stres maka semua bisa berjalan dengan normal. Namun saat aku banyak beban pikiran, merasa sangat sakit syang. Dan selama ini hanya obat dari dokter yang menahan rasa sakit untuk sementara."Ucap Aron, mencoba terasenyum di depan Manda.


"Jangan seperti itu syang, aku mau kamu tetap senyum, yakinlah jika aki baik-baik saja"lanjutnya.


"Gimana gak khawatir jika kamu punya riwayat sakit parah, apa aku harus diam saja menatap kamu, atau melihat kamu sakit"Bentak Manda. "Dan mulai hari ini, aku mau kamu dapat perawatan khusus dari dokter mulai sekarang"Lanjut manda menegaskan.


"Tapi syang, aku apa bisa bagi waktu antara pekerjaan dan kamu, serta perawatan nantinya"ucap Aron, yang masih terpikir dengan pekerjaannya.


"Apa kamu mau sakit terus, atau memang kamu gak mau sembuh. Aku gak perduli tentang perusahaan. Lagian kamu bisa di suruh manajer kamu gantikan kamu hanya satu atau dua hari, gak seterusnya"ucap Manda. "Gak mungkin dia menolaknya, lagian juga dia bisa bagi waktu dengan anaknya yang sakit dan pekerjaan kan"ucap Manda.


Aron terdiam, benar juga apa yang di kaatakan Manda. Tapi entah kenapa ia tidak bisa bayangkan saat istrinya itu minta apa-apa nantinya. siapa yang belikan dia saat minta makanan.


"Baiklah"ucap Aron pasrah. "Tapi kamu jangan berpikir hal buruk lagi, jangan terlalu stres"ucap Aron, menundukkan badanya, mengusap lembut perut Manda, dan selalu di balas dengan gerakan kecil babynya.


Manda menatap wajah Aron. Ia masih tak bisa bayangkan jika harus hidup tanpa Aron nantinya. "Besok kamu cari dokter terbaik, aku gak mikirin masalah uang, yang penting kamu sehat dan bisa melihat anak kita sampai dewasa dan bisa sukses seperti kamu"ucap Manda.

__ADS_1


"Iya, terserah deh, terserah kamu syang. Aku akan pergi ke dokter"ucap Aron, berdiri tegap, menatap wajah Manda, mengusap lembut rambut Manda, lalu mengecup keningnya lembut.


"Aku akan selamanya temani kamu, seberapa buruk kondisiku nantinya. Aku akan tetap selalu ingin bersama kamu syang"ucap Aron.


"Makasih syang, jangan berpikir hal bodoh jika penyakit kmau membuat aku terpuruk, kamu tahu aku lebih terpuruk saat kamu semakin parah nantinya."ucap Manda.


" tapi aku masih gak bisa bakin jika aku seperti wanita yang kamu ceritakan, jadi ibu yang menghidupi anaknya sendiri. Aku gak bisa bayangkan jika aku seperti manajer baru kamu itu"ucap Manda, yang masih meneteskan air matanya.


"Sudah, aku bilang jangan berpikir hal itu, aku akan selalu bersama kamu selamanya, dan sekarang aku mau manjakan kamu, kamu minta apa aku akan carikan buat kamu"ucap Aron, mengusap air mata di pipi manda. "Sudah jangan sedih lagi, percaya denganku"lanjutnya.


"Sekarnag tersenyum dulu"ucap Aron, mencubit ke dua pipi manda menariknya agar Manda bisa tersenyum kembali.


"Iya, aku senyum"ucap Manda


"Oya, kita bereskan kamar anak kita syang, semua sudah di beli tapi belum di pasang, kamunya gak ada waktu"ucap Manda, kini ia mencoba menghilangkan pikiran buruk itu dari otaknya.


"Baiklah, sekarang aku ada waktu luang. Jadi akan bantu kamu"ucap Aron.


Aron segera menuntun Manda menuju kamar anaknya yang berada di sebelah kemaranya. "Kamu duduk saja, biar aku yang urus semuanya. Jangan banyak bergerak"ucap Aron.


"Tapi aku ingin bantuin kamu" ucap Manda.


"Gak usah syang"gumam Aron, yang mulai menghias kamar untuk anaknya. Ia sudah memepersiapkan segala kebutuhan anaknya nantinya. Mulai dari baju, tempat tidur dan lainya.

__ADS_1


Hingga beberapa jam berlalu, mereka sudah selesai menghias semuanya. Kamar yang begitu cantik untuk bayi laki-lakinya. Dan sangat sempurna dengan hiasan yang bagus. Dan Aron juga sudah siapkan kamar tidur untuk Manda di dalam. Karena memang itu keinginan dari Manda untuk tidur bersama dengan anaknya. Ia seakan tidak mau tidur terpisah dengan anaknya nanti. Dan Aron juga tidak melarang. Ia bahkan juga ingin menemani Manda. membantu Manda saat bayiny nanti bangun saat malam hari.


Ia tidak mau Manda kerepotan sendiri, sebagai suami ia juga ingin meraskaan susahnya jadi sorang ibu. Harus bangun malam mengganti popok bayi.


__ADS_2