Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kejahatan Aron (Revisi)


__ADS_3

langkah Aron terhenti, ia teringat tentang Sindy. Ingatan yang sangat sulit di hilangkan di otaknya. ia terus memegang kepalanya yang terasa sangat pusing kali ini. emosinya tiba-tiba mulai tak labil, mengguncang hatinya. Arin terus berjalan menaiki anak tangga dengan penuh amarah. entah apa tiba-tiba yang menganggu pikirannya.


lelaki itu membuka pintu kamar Manda berjalan perlahan menghampiri Manda yang masih duduk terdiam di ranjangnya dengan balutan selimut menutupi tubuhnya mungilnya. "Sudah kamu makan saja dulu" Ucap Aron meletakkan 2 kantong plastik berisikan kotak makanan ke ranjangnya.


Manda terdiam seketika menatap begitu banyak makanan di ranjang. ia berpikir tak mungkin memakan semuanya sekaligus . Dan apa mungkin Aron juga mau memakannya bersama. Ingin rasanya ia bertanya pada Aron di sampingnya. Namun setelah apa yang terjadi tadi, Ia merasa bergidik ketakutan tak mau lagi mengusik Aron. Meski sempat ia memanjakan dia namun sepertinya kali ini seekor rubah mulai bangkit dari sarangnya. Wajahnya mulai terlihat dingin.


"Kenapa kamu diam?" Bentak Aron membuat Manda terkejut, lalu terbangun dari lamunanya.


Aron menegaskan lagi. " Kalau kamu tidak mau makan maka buang saja semua makanan itu" nada kemarahan Aron semakin meninggi membuat tubuh Manda bergetar seketika. Ia sangat takut jika Aron akan melukainya sebelum balas dendamnya terwujud.


Dengan jemari tangan yang sudah mulai memucat, ia perlahan mengambil makanan itu dan tatapan ragu melirik ke Aron di sampingnya yang terus memandangnya dengan tatapan tajam. Membuat nafsu makannya seolah hilang seketika.


Ia mulai memakan makanan itu perlahan namun tak bisa menelannya sempurna. Rasa takut yang membebani pikiranya membuat ia tak selalu menunduk tak berani menatap wajah iblis di sampingnya itu.


"Kenapa kamu menunduk. Angkat kepalamu" Bentak Aron lagi dengan nada kini semakin keras.


Wanita itu meletakkan Makananya ia mulai menangis sesegukan perlahan mengangkat kepalanya memandang Aron berdiri di depannya.


Aron tak perdulikan tangisan Manda yang semakin menjadi. Ia segera meraih semua makanan itu beranjak menuju balkon kamarnya, membuang semua makanan itu. Merasa Manda tak mau makan di depannya, ia sangat marah karena usahanya tak di hargai.


" Jangan menangis di depanku. Aku tidak suka" Ucap Aron lirih dengan nada penuh dengan kemarahan. Ia melepaskan rahang Manda melemparnya kasar.


"Om jangan bertindak kasar lagi padaku" ucap manda memohon. Ia tak bisa menelan sempurna makanan yang sudah ada dalam mulutnya.


Aron hanya senyum semringai mendengar ucapan Manda seolah ia gak perdulikan itu.


" kamu sekarang istriku jadi jangan pernah menolak setiap ajakakku" Ucapnya dengan nada semakin tinggi tatapanya seakan ingin memangsa habis tak tersisa tubuh Manda.


"Kamu istriku setiap aku minta, kamu harus memberinya" Bentak Aron dengan nada semakin meninggi. Manda menutupi tubuhnya seketika dengan selimut. Ia mencengkram selimut itu bergidik ketakutan. Ia tak berhenti terus manangis sesegukan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sekarang aku mau kamu layani aku lagi, kamu yang mulai permainan"gumam Aron lirih.


" Apa kamu tuli? Cepat layani aku." Manda hanya terdiam menutupi wajahnya dengan selimut. Tubuhnya mulai bergetar hebat kali ini. Meski berharap ada yang menolongnya untuk segera pergi dari iblis di depanya itu.


sebenarnya apa yang terjadi dengan Aron, kenapa tadi dia baik, dan sekarang dia berubah menjadi seorang monster lagi yang manakutkan, gumam Manda.


Ia memberanikan diri manatap Aron sekilas, ia melihat wajah Aron yang terlihat memerah. Bahkan Manda tak berhenti bergumam terus, ia bingung dengan kondisi Aron, sepertinya mentalnya benar-benar sudah terganggu.


Aron sudah tak sabar lagi kali ini. Ia mendorong tubuh Manda untuk berbaring. Lelaki bertindak paksa mengecup bibir manda.


Manda meronta mencoba mendorong tubuh Aron. Namun tubuh kecilnya tak sekuat tubuh kekar Aron. Seolah ia tak berdaya lagi dalam dekapan Aron kali ini. " Dasar gila!" Teriak Manda menjerit kesakitan.


Tak perdulikan jeritan Manda yang semakin menjadi. Aron melanjutkan aksinya dengan paksa. Ia mengecup sekujur tubuh Manda.


Aron mulai terdiam sejenak ketika dirinya mulai terbenam dalam hasrat. " Sudah Om aku gak mau ini terjadi lagi" Manda mencoba menolak namun Aron tak perduli itu ia mulai memacu kecepatnya lagi semakin ekstar dan cepat. Membuat manda menjerit dengan lantang menjalar seluruh ruangan yang nampak hening itu. Aron semakin bergerak kasar penuh emosi menggebu-gebu dalam dirinya.


" Aku tidak mau mendengar mu menangis lagi. Jika kamu masih menangis maka aku akan semakin bertindak lebih brutal lagi" Ucap Aron dengan mangatur nafasnya sejenak berbaring di samping manda.


tangisan Manda perlahan mereda ia tak kuasa melihat dirinya yang sudah mulai hancur. Tangisannya perlahan terhenti hanya sesegukan yang masih tersisa.


Hingga 10 menit beristirahat sejenak. Aron masih melihat Manda sesegukan berbaring di sampingnya. Ia mulai melanjutkan aksinya lagi kini nafsunya sudah tak terbendung lagi. Aron bertindak melakukan hal yang sama lagi. Tak perdulikan tangisan jeritan, pukulan, gigitan dari Manda aksinya tak bisa terhenti. Ia bertidak sangat kasar hingga melukai milik Manda.


Merasa sangat puas hingga jam 23.00 malam. Kini ia membaringkan tubuhnya lagi mengatur napasnya yang tak bisa terkontrol. Tubuhnya mulai lemah lunglai tak bertulang terbaring di ranjang. Dengan keringat bercucuran membasahi tubuhnya.


" Ini baru permulaan kamu akan merasakan lebih sakit lagi nantinya" Gumam Aron. Merasa sudah tak mendengar tangisan Manda lagi ia menoleh ke kiri. Melihat Manda sendang pingsan. Namun Ia mengira Manda hanya tertidur dan membohonginya.


Tak merasa bersalah Aron hanya tersenyum tipis. Beranjak berdiri meraih Ponselnya di meja kecil samping ranjangnya.


Ia menelfon dokter langganannya untuk memeriksa Manda. Tubuh Manda terlihat mulai kurus kering. Baru satu seharian melakukan hubungan suami istri ia terlihat lebih kurus. bahkan Aron tak mengizinkan Manda menikmati makanan yang sudah ia beli.

__ADS_1


" Manda!! Ini baru permulaan" pungkas Aron lagi sengan senyum semringai di wajahnya.


Aron beranjak berdiri menuju kamar Mandi ia segera membersihkan tubuhnya yang sudah bau keringat sangat menyengat bahkan seperti bau busuk sampah . Ia segera berendam air hangat dalam Bathup kamar mandi miliknya. Memejamkan matanya sejenak merileksasikan pikiran dan hatinya agar terasa sangat nyaman. Aron ternyum tipis kali inintubuhnya sangat puas dengan apa yang ia lakukan tadi.


Hampir satu jam berendam Aron keluar dari kamar Mandi hanya memakai balutan handuk putih menutupi miliknya. Dengan tangan kanan mengusap lembut rambutnya untuk mengeringkan rambutnya pakai handuk putih kecil. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju ke ranjang Manda melihat begitu banyak darah kerluar bercampur dengan cairan miliknya. Tak merasa kasihan ia hanya tersenyum tipis.


Tiba tiba seorang memecet bel pintu rumahnya. Aron segera berlari turun membuka pintu itu. Terlihat dokter sudah ada di depan matanya. " Cepat masuk " Pungkas Aron dengan wajah datar berjalan lebih dulu menunjukan jalan pada dokter itu.


" Baiklah" Mereka masuk ke dalam rumah menaiki gangga dengan saling berbincang tentang apa yang terjadi.


Aron membuka kamar Manda masih terbaring tak lemas dengan darah terus keluar dari balik kewanitaannya.


"Apa tuan baru saja bermain" Pungkas dokter laki laki yang mulai memeriksa keadaan Manda.


"Iya dan dia sudah lemas padahal baru beberapa kali" pungkas Aron.


Dokter itu terkekeh kecil kini ia melihat daerah kewanitaan Manda mengeluarkan begitu banyak darah mengalir seperti keran membuat dokter itu menatap kasihan padanya. " sepertinya dia harus operasi untuk  mengehentikan darahnya" pungkas dokter itu lirih. Sebenarnya ia ingin marah pada Aron karena membuat gadis kecil menderita seperti itu. Namun mulutnya tak berani berkata lebih, ia tahu jika nyawanya juga pasti terancam di tangan Aron jika ia berani mengucap kata kasar padanya.


" Ya sudah lakukan saja di kamar ini, telfon seseorang untuk cepat ambil peralatan operasi untuknya" Pungkas Aron bersandar di tembok dengan tangan bersendekap.


" Apa tida berbahaya" dokter itu nampak khawatir bagaimana bisa melakukan operasi di kamar tanpa peralatan lengkap seperti di rumah sakit.


" Aku tidak perduli, cepat lakukan atau aku akan membunuhmu" Pungkas Aron kini semakin menyeramkan atsmosfer di kamar itu nampak menenggangkan. Tatapannya kini snagat tajam. Entah kenapa tiba tiba hatinya merasa sangat marah dan benar benar marah ingin sekali membunuh seseorang.


"Baik tuan" dokter itu mulai ketakutan ia segera memanggil beberapa suster untuk membantunya nanti.


Tak butuh waktu lama suster pun datang dan segera melaksanakan operasi. Bahkan para suster menatap Aron jijik bagaimana tidak ia sangat tega membiarkan sorang gadis kecil jadi lemah tak berdaya karena keganasannya. Dan kini membuat nyawanya  mulai terancam. Dengan bekas gigitan di mana mana seperti seekor hewan buas ingin memangsa habis Manda.


Operasi pun di laksanakan dengan segera karena kondisi Manda sudah sangat mengkhawatirkan. Entah nyawanya akan tertolong atau tidak. Hanya dokter itu yang bisa menyelamatkannya nanti. Dan tak ada penyesalan sama sekali di wajah Aron melihat Manda sudah tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2