Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Malu-malu


__ADS_3

Hampir 20 menit Aron menunggu Manda tepat di depan pintu kamar mandi, dengan punggung bersandar ke pintu, dan kaki tak hentinya terus di hentak-hentakan seolah ia sudah tak sabar lagi menunggu istrinya itu, yang terlalu lama di dalam kaamr Mandi.


Tok..tok..


"Manda sudah belum? Kamu lagi apa sih di dalam" teriak Aron. Dengan tangan tak hentinya mengetuk pintunya berkali-kali.


Manda masih terdiam, ia terus berjalan mondar-mandir dengan tangan kanan memegang dagu dan tangan kiri bersendekap. Seraya ia lagi memikirkan apa yang harus ia lakukan nanti. Mungkin tak bisa seterusnya ia menghindar dari Aron, tentang kehamilannya. Lagian entar juga lama-lama dia curiga dengannya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang"Gumam Manda, seraya ia terus berkata kalimat itu dalam hatinya.


"Manda cepat keluar!"


Brokk... brokk..brook..


"Manda keluar" suara lantang Aron menggema dalam rumahnya.


Ia merasa tak di hiraukan dengan Manda Aron terus berteriak tak hentinya. Sampai istrinya itu keluar dari dalam kamar mandi. Lagian dia juga tak sabar ingin berduaan dengannya. Apalagi sudah 3 hari belum mendapatkan sesuatu yang spesial darinya.


"Manda kenapa kamu lama sekali?" Aron tak berhenti terus berteriak di luar pintu kamar Mandi, membuat telinga Manda rasanya sangat risih, dengan teriakannya yang menggelegar siisi rumah. Lama-ama roboh juga tu rumah gara-gara teriakan Aron.


Manda berdengus kesal, ia menghentakan kakinya, lau beranjak melangakahkan kakinya menuju ke pintu kamar mandi, lali ia memutar gangang pintu berwarna hitam itu. Betapa terkejutnya dia wajah Aron tepat di depan wajahnya, manda sontak mundur satu langkah dari Aron. Mengehindari hal yang tak di inginkan lagi.


Jika terjadi kecupan lagi, pasti dia akan merasa mual-mual lagi.


Lelaki itu tersenyum tipis, menarik pinggang Manda dalam dekapanya. "Kamu mau kabur kamana lagi" bisik Aron tepat di telinga kanan Manda.


Manda mennyengkah dada Aron dengan ke dua tangannya. "Lepaskan aku sebentar, aku gak bisa napas" Ucap Manda dengan napas yang terasa sesak. Pelukan Aron sangat erat membuat napasnya kini semakin berat.


Hembusan napas Aron terasa di lehernya, napas berat khasnya membuat Manda geli.


Aron mengigit teilnga Manda, lalu ia melepaskan pelukannya. "Datang ke kamar ku?" Ucap Aron membalikkan badannya, ingin beranjak pergi.


Memamg sengaja Aron menyuruhnya pergi ke kamarnya sendiri, kalau di kamar Manda nanti ada yang ganggu, tiba-tiba kesha datang, jadi gagal deh apa yang di rencanakan Aron ingin olahraga sejenak.

__ADS_1


"Kamu mau apa? Makan atau minum atau lainnya. Kamu menyuruhku mengambilkan itu semua, dan membawanya ke kamarmu gitu" Ucap Manda sangat polosnya.


Aron menepuk jidadnya, bagaimana bisa sih istrinya terlalu lugu banget. Aron bingung mau jelasin ke Manda, takut kalau basa basi otaknya tak nyampek ke situ. Malah bikin puyeng kepala entar.


"Kanapa diam?"Ucap Manda, ia menunduk menatap wajah Aron dari bawah saat, Arin juga sedang melamun menundukkan wajahnya ke lantai.


Aron yang tersadar wajah Manda tepat di bawahnya, terjingkat mundur ke belakang. Ia tak berhenti mengusap dadanya berkali kali. Ia mengira ada kepala menggelantung di bawahnya. "Kenapa kamu mengejutkanku?" napas Aron terasa ngos ngosan, gara-gara terkejut melihat wajah Manda tadi.


Manda mengerutkan bibirnya hingga kelihatan sangat kecil seperti bibir anak kecil yang lagi ngambek. "Emang aku setan?"ujar Manda melemparkan pandangannya berlawanan arah.


"Bukan gitu syang, masak cantik-cantik gini di bilang setan sih, lagian kamu tiba-tiba di bawah pandanganku. Aku kira kepala siapa tadi" Ucap Aron. Wajah yang semula terlihat dingin dan bengis. Sekarang sifatnya berubah drastis seperti anak kecil saat bersama Manda. Bahkan wajahnya terlihat lugu, membuat Manda semakin gemas.


Manda pun juga begitu, ia yang semula takut dengan Aron. Bahkan sempat sangat membencinya dulu. Kini ia nampak berani dan sangat manja seperti anak kecil saat bersamanya. Bahkan dia tak sungkan jika bersamanya.


Seakan kepribadian ganda mereka perlahan pudar, di balut dengan kasih sayang dan cinta mereka berdua.


"Jadi aku ambilkan apa?" Tanya Manda masih terlihat polos.


"Gak jadi" Ucap Aron yang pura-pura kesal kali ini.


"Beberan gak jadi?" Tanya Manda, mendekatkan wajahnya, mengedipkan matanya menggoda Aron.


"Apaan sih, iya beneran gak jadi" Gumam Aron. Memalingkan pandangannya. Ya, ia merasa sangat sebel kali ini, istrinya gak paham sih kata-kata kode darinya.


"Ya sudah kalau gitu, aku capek mau ke kamar dulu" Ujar Manda beranjak pergi meninggalkan Aron, yang masih terdiam membisu di depan pintu kamar Mandi.


"Kenapa aku di tinggalin sih, padahal ka aku mau sesuatu darinya" Gumam Aron, berjalan mengikuti Manda masuk ke dalam kamarnya.


Ia berharap semoga saja, dia memberikan sesuatu kejutan padanya. Lelaki itu membuka pintu kamar Manda, ia melihat Manda berdiri melamun sendiri di atas balkon kamarnya.


Ia berjalan mengendap endap agar Manda tak mendengar langkahnya yang perlahan mendekat.


Brukkk..

__ADS_1


Aron memeluk pinggang Manda dari belakang, mencium lembut leher belakangnya yang masih tersisa helaian tipis rambut Manda.


"Syang.." sapa lembut Aron tepat di telinga Manda.


Manda memegang ke dua tangan Aron di pinggangnya. Sembari tangan memegang pipi Aron yang bersandar di pundaknya.


"Ada apa syang?" Tanya Manda dengan suara lembut, lembut menggoda. Membuat Aron semakin menginginkannya.


"Emmm.. kamu mau gak?" Tanya Aron yang nampak gugup mau berbicara langsung.


Manda mengernyitkan matanya, "Mau apa?" Jawab Manda bingung.


"Eh.. itu-lo. Mau.." Aron sangat malu mau mengucapkan jujur pada Manda, ini seakan bukan dirinya yang lebih tsrbiasa agresif dengan Manda tanpa bertanya langsung bertindak. Kali ini rasanya ingin seperti itu bahkan malu.


Manda melirik bingung ke arah Aron.


"Apa sihh, aneh banget" ucap Manda, mulai melepaskan tangan Aron dari pinggangnya.


Ia melangkahkan kakinya duduk di ranjang putih miliknya. Meraih ponselnya yang berada tepat di samoingnya. Ia melihat ponselnya, tidak melihat ada apa pesan masuk. Ia meletakkan ponselnya kembali.


Ya padahal ia menunggu kabar dari Kesha, banyak cerita yang ingin di ungkapkan padanya. Tapi kenapa Kesha lama banget jalan dengan Vino. Sebenarnya kaman sih mereka, gumamnya kesal.


Aron berjalan bolak balik sepertinorang kebingungan sedang memikirkan sesuatu yangbsanagt penting. Manda tersenyum tipis, baru kali ini ia melihat sifat Adon yang seperti anak kecil. Tetapi jika di luar bersama orang lain ia seperti biasa, menunjukan wajah dingin dan kakunya. Di depan Manda saja, seraya ia sudah gak punya wibawa lagi.


"Manda.. aku mau itu.."


"Eh Manda.. mau gak tidur .. ah, gak, gak!" Aron menggelengkan kepalanya. Ia terus bergumam dalam hatinya untuk menyusun sebuah kata-kata meminta izin pada Manda.


Manda menatap aneh pada suaminya itu,


"Kamu kenapa seperti cacing kepanasan?" Tanya Manda. lama-lama ia pusing dengan tingkah suaminya sekarang.


Aron terdiam seketika, begitu polosnya istrinya itu, ia gak peka di kasih kode dikit. Padahal kan ia mau minta sesuatu itu, tu, dari Manda.

__ADS_1


__ADS_2