
"Syang jika itu pekerjaan terbaik buat keluarga kita aku tidak marah kok, asalkan jangan melirik wanita lain jika di luar nanti ya. Aku menghargai setiap pekerjaan kamu syang. Dan akan selalu dukung kamu apapun semua keputusan kamu jika itu yang terbaik buat keluarga kecil kita" ucap Manda, menjinjitkan kakinya mengecup pipi kanan Aron dengan lembut. Ia merasa sangat bangga dengan suaminya itu.
"makasih syang, aku beruntung bisa bertemu dengan kamu dulu, aku sangat beruntung dapat istri yang sangat perhatian, cinta sama aku selalu dukung semua keputusan yang aku buat. Aku gak tahu lagi dulu seperti apa jika tidak bertemu dengan kamu. Tuhan memang syang sama aku, memberiku seorang bidadari cantik untuk menamani hidupku" gumam Aron, dengan senyum manis menyungging di bibirnya.
"Iya syang" ucap Manda.
"Ya, udah. Sekarang ayo kita jalan-jalan syang? Ak bantu kamu ke kursi roda ya," ucap Aron memapah jalan Manda untuk duduk di kursi roda. "Kamu hati-hati syang jalannya" ucap Aron.
"Eh bentar syang, minum dulu susunya dan makanan kamu, aku tadi sudah susah payah nyuapin semuanya untuk kamu" ucap Aron. "aku mau jemput Duke dan Lia dulu untuk makan bersama ya" lanjut Aron, yang teringat makanan ke dua anaknya yang masih ada di atas meja.
Ia segera menuju ke kamar Duke dengan segera, Aron membuka pintu kamar anaknya melihat mereka sedang asik bermain sendiri-sendiri, Lia bermain dengan bonekanya, sedangkan Duke nampak berbeda ia lebih suka membuka-buka buku dan hanya diam duduk di meja kecil. Duke tidak suka bermain, ia lebih memilih untuk membuka buku atau bermain dengan laptopnya, yang di kasih oleh Aron untuk ke dua anaknya itu.
Aron mengerti potensi anaknya kelak, dia pasti akan bisa merebut semua hartanya lagi. Harta yang selama ini ia bangun untuk Duke, tapi di kuasai oleh Fany, mantan istrinya. Ia yakin kelak Duke akan menjadi lelaki dengan wajah dingin dan bisa mengubah segalanya.
Sepertinya aku akan mengajari dia bisnis sejak dini, aku harus perlahan mengenalkan apa itu bisnis. Dan apa itu perusahaan, peralahan dia akan mengerti gimana cara menjalankan sebuah perusahaan. Agar dia biaa memimpin dan mengajari adik-adiknya kelak nanti.
"Papa!" Ucap Lia berlari menghampiri Aron. Ia melihat Aron yang masih berdiri di depan pintu memandangnya dan Duke.
"Duke sini" panggil Lia.
"Iya kak, bentar." Ucap Duke, menutup bukunya berjalan ringan menuju ke arah Aron.
"Anak papa syang, kalian ayo makan di kamar papa dan mama, papa tadi sudah siapkan kalian makanan yang enak, dan susu kalian juga sudah siap semua syang" ucap Aron, menggendong ke dua anaknya itu. Duke dan Lia menjahili Aron mencubit hidungnya, dan pipinya hingga sampai ke kamarnya. Mereka memang tak berhenti menjahili papanya.
"Mama!" panggil Duke yang turun dari gendongan Aron, dan segera berlari menghampiri mamanya yang duduk di kursi roda tepat di samping sofa kamarnya.
"Syang ini makanan kamu, mama sudah makan. Sekarang mama suapin kalian berdua ya?" Ucap Manda.
"Kok cepet banget syang makannya?" Tanya Aron berjalan ringan mendekati Manda yang duduk di kursi roda di samping sofa kamarnya.
"Masih sisa sebagian syang, aku mau kamu juga makan, lagian aku tadi lihat kamu hanya bawa tiga piring makanan. Dan kamu apa gak makan?" Tanya Manda, menatap Aron bingung, ia selalu mementingkan orang lain, tidak pernah mementingkan dirinya sendiri.
"Nanti aku bisa makan sendiri syang saat meeting, lagian sekarang kamu yang lagi hamil itu penting untuk mencakup gizi baby kita syang. Kamu harus makan yang banyak" ucap Aron.
"Aku mau kamu cepat makan sekarang, bersama anak-anak juga. Kalau enggak aku gak mau bicara sama kamu" gumam Manda, menguntupkan bibirnya kesal.
"Baiklah aku nurut sekarang" ucap Aron yang
terlihat pasrah, ia segera duduk di sofa, mengambil makanan itu dan mulai melahapnya perlahan. Dan Lia serta Duke makan di suapi oleh Manda dengan lahapnya.
Selesai makan, jarum jam menunjukan pukul tujuh tiga puluh. Mereka segera pergi menuju ke taman. Sebuah taman bunga yang dekat dengan rumahnya. Banyak pepohonan rindang dan berbagai macam bunga di sana. Aron mendorong kursi roda Manda dan Duke serta Lia bersama baby sisternya masing-masing. Mereka jalan kaki menuju taman itu. Sambil menikmati udara pagi dan sinar marahari yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, lagian kesubukan mereka masing-masing sampai tidak merasakan sinar marahari pagi menembus kulitnya.
Klinggg..
__ADS_1
Sebuah pesan masuk di ponsel Manda. Manda menatap ponselnya ia melihat nama Albert di ponselnya.
"Ada apa dia mengirimku pesan" gumam Manda lirih, ia segera membuka pesannya.
"Besok aku mau ajak kamu dan keluarga kamu makan malam, aku juga datang bersama dengan Vina."
"Gak penting banget, makan di rumah saja enak, kenapa harus makan malam di luar. Kalau memang dia butuh kenapa gak datang sendiri dan makan si rumah aku." Gerutu Manda
"Kenapa syang, kenapa kamu bicara sendiri?" Tanya Aron, yang menghentikan laju kursi rodanya, dan duduk jongkok di depan Manda.
"Albert tadi kirim pesan, jika dia mau ajak kita sekeluarga makan malam. Dia juga sama Vina. Entah ada apa dia mau ajak kita makan malam. Tapi aku gak balas syang. Lagian Vina saja tidak ngabari aku. Kalau memang dia mau jaka makan malam pasti Vina hubungi aku nantinya." Gumam Manda
Aron mengusap lembut kepala Manda, "kamu pintar banget syang, jangan gampang percaya dengan lelaki lain. Lagian kamu punya keluarga sendiri yang jauh lebih penting dalam hal apapun."ucap Aron.
"Ma, pa. Duke mau pergi ke taman ya" ucap Duke
"Iya, tapi hati-hati ya syang, jangan main jauh-jauh dari mama dan papa" ucap Manda.
"Iya ma" gumam Duke menarik tangan Lia berlari menuju taman bunga. Mereka duduk di kursi dan babu sister mereka menjaga mereka di bawah, duduk sendiri dengan bermain ponselnya.
Seorang wanita yangs angat familiar datang menghampiri Duke dan Lia. "Hai.. kamu Duke ya?" Tanya wanita itu, yang lagi gendong anaknya yang masih sangat kecil, mungkin masih setengah tahunan.
"Iya tante siapa?" Tanya Duke.
"Boleh banget tante" ucap Lia memotong pembicaraan mereka.
"Syang bukannya itu Fany bicara dengan ke dua anak kita?" Tanya Aron, yang melihat Fany ada di sana dengan ke dua anaknya.
Manda menoleh ke arah ke dua anaknya, manda seketika melebarkan matanya, memang benar jika Duke bersama Fany.
"Syang cepat kita ke sana"
"Iya syang" Aron kendorong kursi roda Manda memdekati Fany.
"Kenapa kamu di sini?" Tanya Aron jutek.
"Aron, Manda, kita bertemu lagi di sini. Tapi aku hanya ingin memberi tahu kalian jika perusahaan kalian di canada sedang mengalami penurunan. Dan kini perusahaan itu berada di tangan ayah aku" ucap Fany, mencoba memegang tangan Aron.
Namun Aron terua menepis tangan Fany, "aku gak perduli, bukannya aku sudha serahkan semuanya ke ayah kamu. Jadi tolong jangan ganggu keluatga aku lagi" guman Aron.
"Ayah aku mengusir aku" gumam Fany, menundukkan kepalanya menangis terasedu-sedu.
"Itu bukan urusan aku, sekarang cepat pergi" ucap Aron dengan nada tinggi.
__ADS_1
Manda memegang tangan Aron. "Syang jangan bicara kasar di sini, apalagi di depan anak-anak. , gak biak buat anak-anak nantinya" gumam Manda.
"Baiklah" ucap Aron yang mulai mereda.
"Ayo sekarang kita pulang, dan kamu Fany ikut kita ke rumah. Kita bicara di rumah jangan di sini. Gak baik di lihat orang banyak" ucap Manda.
"Kenapa kamu ajak dia ke rumah Manda" gumam Aron.
"Syang, aku mohon ya" ucap Manda mengeluarkan wajah polosnya memohon pada Aron.
"Ya sudah ayo kita semua pulang, aku juga mau meeting, pebih baik.kita bicara di rumah" gumam Aron. Mereka segera berjalan pulang ke rumah Aron, dan wajha Fany terlihat menyedihkan anaknya juga hanya diam, dalam dekapan anaknya.
Sampai di rumah, Manda duduk di sofa di samping Fany. Duke dan Lia di bawa baby sistermya untuk bermain di kamarnya. Sedanhkan Aron bersiap pebih dulu untuk pergi meeting apalagi kurang 30 me it lagi dia akan berangkat meetting, meski di tempat yang sangat dekat dengan rumah, ia tidak mau telat. Karena waktu adalah uang, Aron mempunyai manajemen waktu yang bagus, yang selama ini ia terapkan dalam hidupnya.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Manda.
"Apa saja" ucap Fany, aku boleh ijin buatkan susu untuk anak saya" ucap Fany penuh ragu.
"Baiklah boleh, biar pembantu aku yang antar kamu ke dapur" ucap Manda.
"Iya, makasih" ucap Fany segera menuju ke dapur, ia meninggalkan babynya di sofa dengan Manda.
"Baby yang sangat cantik dan lucu" ucap Manda, menggendong baby Fany. Ia mencoba mengajaknya komuni kasi, ya meskipun sekaranh sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Fany, ia juga termasuk tante bagi anak Fany.
"Baby cantik" ucap Manda mencba menghibur baby Fany.
"Syang kenapa kamu gendong baby Fany, di mana dia?" Tanya Aron yang berjalan menuruni anak tangga, dengan jas hitam, sepatu hitam yang sudah terpaut sangat rapi membalut tubuh bugarnya.
"Fany lagi bikin susu untuk anaknya syang" ucap Manda.
"Emangnya dia bisa bikin susu sendiri untuk anaknya, dia wanita manja, yang tidak pernah sama sekali ke dapur. Sekarang dia ke dapur, bisa rusak semua dapur kita" ucap Aron ragu, ia duduk di samping Manda. Melihat sekilas baby cantik Fany.
"Dia cantik ya syang" ucap Manda. " matanya bulat dan bola matanya hitam pekat, alisnya tebal, dengan bibir tipisnya." Ucap Manda yang menanggumi anak Fany.
"Ia, bukannya suaminya juga orang korea ya" pantas saja, dia cantik keluarganya tidak ada yang asli canada. Fany lahir di Swiss, ayahnya Itali, ibunya China, dan suaminya korea. Anaknya jadi blasteran semuanya jadi terlihat cantik" ucap Aron.
"Wah pantas saja, anak dia cantik gini syang" gumam Manda, yang mengagumi wajah cantik anak Fany.
"Iya lucu juga sih, tapi pasti lebih cantik anak kita nantinya syang kalau dia perempuan. kalau laki-laki pasti juga akan tampan sama seperti papanya" gumam Aron penuh percaya diri.
"jangan mengharap tampan syang" ucap Manda.
"Emangnya kenapa syang" tanya Aron dengan tatapan menggodanya.
__ADS_1
"Gak apa-apa syang, hanya saja aku ingin satu lagi anak perempuan yang cantik lahir dari ku" gumam Manda lirih, ia tidak mau jika Lia mendegarnya juga. Ia tidak mau anaknya itu sakit hati mendengar ucapanya.