
Sudah hampir dua jam menunggu Vina yang merasa sudah sangat bosan, ia beranjak duduk di ranjangnya. Dari tadi hanya berbaring dengan hati yang entah kenapa merasa sangat cemas. Albert belum juga kembali setelah masak di dapur. Entah dia pergi atau memang sudah masak.
"Kemana Albert!! Kenapa dia tidak menghubungiku!!" ucap Vina, membuka selimut yang menutupi tubuhmya, ia tak bisa hanya tinggal diam menunggu saja.
"Sepertinya aku harus ke dapur!!" gumam Vina, beranjak duduk dengan ke dua telapak kakinya menyentuh ke lantai putih di bawah ranjangnya.
Tok... Tok.. Tok...
"Kak kamu di dalam?" suara seorang wanita yang sangat familiar di telinga Vina membuat wanita itu mengerutkan keningnya.
"Elis mencari Albert! Berarti dia sudah pulang.." ucap Vina, beranjak berdiri melangkahkan kakinya mendekati pintu, langkahnya seketika terhenti.
"Jika Elis mencari Albert di sini. Apa dia tidak bertemu dnegan Albert di lantai bawah.. Ada hal ganjal.. Aku harus lihat sendiri!!" ucap Vina, memegang knop pintu, memutarnya perlahan ia melihat sosok Elis yang sudah membawakan beberapa belanjaan untuk Albert.
"Vina!! Kakak mana?" tanya Elis, menjijikkan kedua kakinya melihat ke belakang tubuh Vina di dalam.kamarnya nampak sangat kosong tidak ada yang ia cari, membuat gadis itu berdiri tegap kembali.
"Apa kamu tadi ke dapur?" tanya Vina.
"Iya, memangnya kakak di mana?" tanya Elis kembali.
"Tadi Albert di dapur. Tapi entah sekarang dimana?" lanjutnya.
"Tapi tadi di dapur gak ada," ucap Elis, memutar matanya mencoba mengingat kembali ke mana saja dia pergi tadi.
"Tapi dia tadi bilang padaku, jika dia akan masak."
"Sepertinya ada yang aneh.. Bentar!! Tadi aku melihat..." belum selesai berbicara Elis berlari menuruni anak tangga.
"Elis!!" panggil Vina, bingung dengan sifat Elis. Ia beranjak turun mengikuti kemana Elis pergi, sembari mencari di mana sebenarnya Albert berada.
-------
Elis berhenti tepat di depan 0intu rumahnya, ia melihat Albert yang baru keluar dari mobilnya sendiri. Dengan sosok wanita yang memeluk lengannya sangat erat. Membuat wajah Elis semakin geram.
__ADS_1
Elis mengerutkan bibirnya, dengan pandangan mata menajam aura di sekitar berubah seakan seperti kobaran api yabg siap menerkam semua yang ada di depannya. Wanita itu, melangkahkan kakinya dengan langkah sangat terburu-buru. Ia menarik tangan Aira yang dari tadi terus memegang tangan Albert.
"Lepaskan tanganya!!"
"Dan kamu!! Jangan pernah melakukan kesalahan sidikitpun pada istrimu. Kamu sudah punya istri, kak. Dan meski aku tahu dia mantan kamu, tapi setidaknya hargai istri kamu. Jangan bohongi dia!!" umpat kesal Elis pada Albert dengan pandangan mata yang semakin menajam.
"Apa maksud kamu, aku hanya..." ucapan Albert terhenti saat melihat wajah Vina tepat di belakang Elis, tetesan air mata sudah membasahi pipinya melihat kenyataan yang ada di depannya.
Vina menggelengkan kepalanya tak petcaya, lalu membalikkan badannya berlari pergi meninggalkan Albert dan yang dua wanita yang ada di dekatnya.
"Itu lihat sendiri. Aku kecewa dengan, kakak." umpat kesal Elis, beranjak pergi meninggalkan Albert dan Air Albert dan Aira berdua.
"Makasih ya, udah temani aku belanja. Besok aku akan datang lagi. Dan ingat jangan telat!!" ucap manja Aira, menatap wajah Albert yang sama sekali tak memperdulikannya.
"Pergi!!" ucap Albert lirih.
Aira melingkarkan tangannya di leher Albert, menjinjitkan ke dua kakinya, lalu mengecup lembut bibir Albert. "Apa yang kamu lakukan!!" umpat Albert mendorong tubuh Aira.
"Ingat, ini tidak ada dalam perjanjian. Jangan pernah berbuat gila, Aira."
"Shiittt... Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menyakiti dia? Kenapa?" umpat kesal Albert, mengacak-acak rambutnya frustasi.
Wajah Albert nampak sangat kusut, kebingungan. Ia bimbang dengan apa yang sudah ia perbuat dalam hati, ia tidak mau jika Via tahu tentang kejadian masa lalunya terlalu banyak. Karena itu privasi baginya. Di sisi lain, rasa takut kehilangan muncul dalam benak Albert jika kehilangan Vina, ia kalau Vina mau menerimanya apa adanya, jika suara saat dia permasalahkan masa lalunya yang sering berhubungan dengan para wanita, dia pasti sangat sakit hati, dan pergi meninggalkanya begitu saja.
Dengan langkah bimbang penuh keraguan mia berjalan menghampiri Vina yang kini duduk di ranjangnya bersama dengan Elis. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar Vina yang setengah terbuka, di balik pintu ia hanya melihat Elis, yang memeluk tubuh Vina dengan air mata bercucuran di mata bulat Vina. Rasa bersalah terngiang-ngiang di dalam otaknya.
"Elis! Apa kakak tiri kamu memang seperti ifu?" tanya Vina, duduk tegap menatap ke wajah Elis.
"Aku gak tahu kalau kakak bisa seperti ini lagi. Albert dulu tak seperti ini, sebelum dia pergi.." Tapi entah kenapa dia berubah lagi bermain wanita!!" gumam Elis lirih, sembari menundukkan kepalanya, ia takut berkata jujur pada Vina, jika nanti malah melukai perasaan dan hatinya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Albert, yang lansung masuk tanpa memberikan celah Elis untuk berbicara lebih jauh nantinya.
"Kenapa kamu di sini? Cepat pergi?" bentak Elis.
__ADS_1
"Aku mau temui istri aku!!"
"Istri kamu sudah terlanjur sakit hati, lebih baik kamu sekarang pergi. Jangan ganggu dia dulu," ucap Elis tak mau menyerah menguasir kakak tirinya itu.
"Elis, biarkan dia bicara dulu!!" jawab Vina mencoba lemah lembut berbicara padanya.
"Vina? Kenapa kamu bisa lembut padanya. Kamu jadi wanita jangan gampang di sakiti gitu saja. meski ia kakak tiri aku, tapi aku juga gak suka jika dia menyakiti kamu. Sesama wanita aku paham hatimu!!" umpat kesal Elis menatap tajam ke arah Albert.
"Elis!! Aku tahu, tapia aku mau bicara dulu dengannya, kamu bisa pergi sekarang. Sudah malam, lebih baik cepat istirahat."
"Tapi..!!"
"Sudah pergilah, besok aku akan temui kamu lagi!!" potong Vina cepat.
"Baiklah!! Tapi kalau dia kasar dengan kamu, bilang padaku!!"
"Iya tenang saja," Elis beranjak pergi, dengan wajah nampak sangat ragu untuk melangkah jauh meninggalkan Vina yang sedang menangis. Ia menutup pintu kamar Vina, an membiarkan mereka berdua berbincang.
"Syang! Maafkan aku!! Aku bisa jelaskan semuanya!!"
"Jelaskan apa lagi?" tanya Vina jutek.
"Aku dan Aira tidak ada hubungan. Tadi dia memaksa aku untu pergi dengannya!!"
"Apa kamu gak bisa menolak?" ucap skak mat Vina, yang membuat Albert tak bis menjawab pertanyaannya. Ia diam membisu menundukkan kepalanya.
Vina menarik bibirnya tipis, tanpa bisa berbicara banyak lagi. "Maaf!! Aku ngantuk, mau tidur!!" ucap Vina, membaringkan tubuhnya. Menarik selimut tebal menutupi sebagian tubuhnya.
Albert melangkahkan kakinya dan segera berbaring di samping Vina, ia menarik selimut tebal, memeluk tubuh Vina dari belakang sangat erat. "Aku hanya sayang dengan kamu!! Dia tadi memaksa aku, dan mengancamku, jadi aku gak bisa berbuat apa-apa lagi!! Maafkan aku!!" ucap Albert, menciumi leher belakang Vina, membuat gadis itu terangsang seketika.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Vina.
"Malam ini aku akan berikan sebuah hadiah indah buat ulang tahun kamu." bisil Albert, tek hentinya terus mengecup lehernya.
__ADS_1
"Karena tadi aku belum bisa membuat kue untuk kamu. Sekarang aku hanya bisa puaskan kamu. Dan setelah besok pagi, kamu akan tahu apa kejutan dariku!!" gumam Albert, dan membuat Vina membalikkan tubuhnya, langsung mendapatkan sebuah sambutan kecupan hangat penuh gairah di bibir Vina, tanpa penolakan darinya, membuat mereka perlahan melepaskan semua helian benang yang menempel, melakukan malam indah bersama.