Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Flash Back Elis dan Albert


__ADS_3

“Kamu gak tidur?” tanya Albert, menatap Vina yang sedang menikmati udara malam di balkon kamar itu.


“Iya, bentar lagi, kamu tidur saja, duluan!”  Jawab Vina, tanpa menatap ke arahnya.


“Ya, sudah. Kamar kamu di sebelah kamar ini, dan semua sudah di bereskan. Jadi kamu tinggal tidur saja. Besok siang kita pulang lagi ke apartement kita.” Ucap Albert, beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya, mendekati Vina, yang sedang menikmati pemandangan malam, dengan tamburan bintang di langit, dan cahaya bulan yang tak seperti biasanya. Kini jauh lebih terang. Dan indah, membut Vina terkagum melihatnya, dan tak berhenti menodongakkan kepalanya.


“Kamu suka suasana di sini?” tanya Albert, memeluk Vina mesra dari belakang. Menyandarkan dagunya, di pundak Vina.


“Aku mau kamu temani aku, jangan pernah ada salah paham lagi di antara kita.” Ucap Albert, yang langsung mengecup pipi Vina dari samping.


Vina melirik Albert, mengusap manja kepala calon suaminya itu, “Asal kamu bisa jaga hati dan perasaanku, aku akan selalu percaya dengan kamu. Tapi jika kamu melukai hatiku lagi, aku yidak akan pernah percaya lagi denganmu.” Ucap Vina tegas, sembari salah satu tanganya, mengusap lembut tangan Albert yang melingkar di perutnya.


“Itu, pasti, syang!” ucap Albert, lembut.


“Setelah menikah nanti, kamu mau tinggal di sini, atau di aparteman, atau sebaliknya kamu mau pergi cari rumah baru buat kita berdua.” Gumam Albert.


“tinggal di mana saja, asal dengan kamu.”


Vina menatap ke samping, membuat ke dua mata mereka saling tertuju, dengan hembusan napas berpacu sangat cepat, tatapan Vina semakin dekat, membuat Alebrt semakin tertarik, ia mengecup bibir Albert, melumatnya sejenak, dan di baals oleh Vina, sembari mengusap rambut Albert,


“Kak, kamar kamu sudah siap,” ucap Elis, yang langsung berjalan masuk ke dalam kamar, seketika langkahnya terhenti melihat kejadian di depannya. Ia hanya bisa menelan ludahnya, agar menatap itu, membuat dia semakin sakit. Tapi ia sudah tidak ada hubungan lagi.


Elis terdiam, ia pernah di tempat yang sama dengan manjaan yang sama, pernah merasakan hal yang sama seperti Vina, namun semenjak tahu jka dia akan menjadi anak adik tirinya, semuanya hancur. Dan kini harus bisa saling menerima satu sama lain.


#Flash back Elis dan Albert.

__ADS_1


“Syang, apa kamu sudah siap untuk pernikahan kita.” Ucap Albert, berjalan menghampiri Elis.


“Pasti, semua sudah siap. Lihatlah kamar ini, aku sudah siapkan semuanya, dan bulan masu kita, aku juga sudah pesan tiket pesawat ke Roma.” Elis yang duduk di ranjang, ia bernajak berdiri, melingkarkan tanganya di leher Albert.


“Albert, makasih. Kamu selalu ada buat aku, bahkan kamu menianggalkan pacar-pacar kamu untuk memilihku, dan menikah denganku.” Uvap Elis, dengan manjanya.


“Iya, aku tidak mau pacaran terlalu lama dengan kamu, hanya satu bulan kita kenal. Aku ingin langsung menikahi kamu. Ya, meski jarak umur kita jauh, kamu terlihat seperti sudah dewasa, itu yang membuat aku tertarik padamu.”  Albert, menarik pinggang Elis, masuk ke dalam dekapannya. Ia semakin mempererat rengkuhannya, dengan jemari tangan kanan, mengusap lembut wajah Elis.


“Apa yang kamu inginkan, setelah menikah. Aku akna memberimu semuanya.”


Elis hanya diam, ia menarik dasi Albert, mendekat ke arahnya, membuat ke dua mata mereka semakin dekat. Ia mengecup bibir Albert lembut, di balas dengan lumatan manja oleh Albert. Hubungan jemari tangan Albert yang sudah bertindak liar, membuat Elis semakin mendalami kecupannya.


Hingga hampir saja ia melakukan hal yang tidak harus di lakukan olehnya. Mereka berbaring albert semakin emmbaut Elis panas. Tiba-toiba permaiannay terhenti. Saat elis melihat seseorang datang ke kamarnya.


“Permisi tuan, maaf mengganggu Anda!!” ucap pelayan Albert, membuat ia menurunkan tubuh Elis di atas meja belakangnya. Elis, membenarkan bajunya. Menatap ke arah pelayan.


“Ada apa? Apa yang ingin dia bicarakan?” tanya Albert dingin, ia memegang tangan Elis.


“Tuan, Albert di suruh untuk turun, ke ruang keluarga. Tuan jason akan menceritakan semuanya.”


“Baiklah!! Pergilah sekarang!”


“Iya tuan,.


Albert memegang tangan Elis semakin erat, ia melangkahkan kakinya berjalan keluar dari kemarnya, menuju ruang keluarga yang khusus untuk keluarga di rumah, berada di lantai dua. Terpapang langsung melihat pemandangan indah di luar.

__ADS_1


“Ada apa, papa memanggilku?” tanya Albert, datar. Dengan nada cueknya. Ia melihat dari belakang ada sosok wanita yang berada di sampingnya. Membuat ia semakin kesal dengan ayahnya, baru beberapa bulan mamanya meninggal Ayahnya sudah berani membawa wanita lain.


“Duduklah!!” ucap papa Albert.


Albert menarik tangan Elis untuk duduk di depannya, seketika Elis melebarkan matanya melihat siapa wanita yang ada di pelukan tuan Jason, ia hanya bisa terdiam menelan ludahnya kasar.


“Perkenalkan, dia adalah istri baru papa, dan kita sudah menikah secara sah tadi.”


Mendengar kata itu seketika Elis, hanya bisa diam, menggelengkan kepalanya tak percaya dengan air mata yang tiba-tiba terjatuh di pipi.


“Apa mama, memang menikah dengan dia. Dan mama mencintai Tuan Jason?” tanya Elis.


Albert yang baru tahu jika Elis masih punya mama, ia ikut terkejut. Ia bahkan tidak pernah tahu mamanya. Karena selama ini Elis tinggal sendiri. Ia menggertakkan rahangnya, mentap kemesraan mereka, aliran darahnya semakin cepat dari ujung kaki ke kepalanya.


Brakk...


“Apa papa sudah gila? Kenapa papa menikah tidak memberi tahu ku? Apa kamu tahu, jiak akau akan eniakh dengan Elis besok, dan papa pulang membawa wanita baru, dan dia adalah mama Elis. Apa papa memang sengaja mau menghancurkan pernikahan ku.” Pekik Kesal Albert. Beranjak pergi dengan rasa kecewa dalam  hatinya. Dan elis masih menunggu jawaban dari mamanya.


“Jika mama memang benar suka dengannya. Maka aku akna membatalkan pernikahan kita, aku lebih senag melihat mama bahagia, dan menemukan kehiupan baru.” Ucap Elis mencoba untuk tidak menangis lagi, ia enarik bibirya, untuk bisa tersenyum di depan mamanya.


Mama Elis, duduk mendekatinya, memeluknya, dengan tangan mengusap punggung Elis.


“Maafin mama syang, seandainya mama tahu dari awal mama gak akan menikah denagn tuan Jason.”


“Gak usah di pikirkan, Elis terima semuanya. Meski mama tidak pernah merawat Elis dari kecil, Elis tahu mama sibuk bekerja. Dan sekarng sudah jadi kenyataan jika aku dan Albert resmi jadi saudara.” Elis melepaskan pelukan mamanya dan bernajak berdiri.

__ADS_1


“Aku mau bertemu dengan Albert, mau bicara dengannya.”


Elis segera menemui Albert, ia menjelaskan smeuanya dan sebuah kesepakatan akhirnya di ambil, ia membantalkan pernikahan. Dan memutuskan untuk pergi dari rumah, dua tahun berlalu, ia mulai bisa menerima semuanya, tapi ia tidak mau tinggal dnegan keluarganya, dan memilih untuk hidup mandiri. Da ia memutuskan untuk pacaran dengan Aira selama dua tahun terkahir, mencoba untuk melupakan Elis.


__ADS_2