
Semenjak ancaman Fany kemarin Aron berniat untuk berdiam dengan Manda sejenak. Sampai ia bisa menyelesaikan semua masalah itu dengan Fany. Karena bukan hal yang mudah untuk menyingkirkan Fany dengan turun tangan secaralangsung.
Aron lebih memilih bermain bersih sekarang, dia bisa berbuwat licik, apalagi dengan Aron jauh lebih licik dari pada Fany. Tak segampang itu Fany berani mengancam Aron dengan mudah. Dia bukan masalah besar bagi Aron. Ia juga sudah membakar semua bukti tentang pembunuhan yang terjadi pada orang tua Manda, untuk menghilangkan jejak dan juga Fany tak akan bisa memanfaatkan lagi. Namun kini sepertinya ia harus mengorbankan perasaan Manda sementara untuk merencanakan masalahnya sejenak untuk menyingkirkan Fany.
Aron harus menjauhi Manda agar Fany bisa percaya dengannya. Sebenarnya Aron sudah punya suatu kejutan nantinya untuk Fany. Namun bukan saatnya ia membuka semuanya. Ia masih dalam proses untuk membuka dirinya sebenarnya di depan publik.
Sejak kemarin siang ia belum melihat Manda sama sekali. Ya, mungkin dia cemburu melihatnya dengan fany di kamar. Atau mungkik gara-gara aku cuekin dia kemarin, Gumamnya.
Namun itu juga lebih baik, untuk proses menghindari Manda, hanya beberapa hari, semoga dia mengerti dengan semuanya.
Ingin sekali ia mengucap membicarakan semua dengan Manda, namun belum saatnya Manda tahu. Takutnya ia keceplosan berbicara tentang orang tuanya.
****
Jarum jam menunjukan pukul 06.45. Aron berjalan ringan menuruni anak tangga, dengan balutan jas hitam dan kemeja putih.
" Fany cepat turun" Teriak Aron yang beranjak menuruni tangga. Ia berjalan melewati Manda yang berdiri di depannya.
" Aku ingin bicara denganmu" Manda mencoba memberanikan diri berbicara dengan Aron meskipun kini ia tak di anggap lagi olehnya. Entah apa alesan aron menjauhinya. Ia hanya ingin penjelasan yang pasti darinya. Jangan terus diam dan perlahan menjauh darinya.
Aron yang seperti itu semakin membuat hatinya tercambuk-cambuk. Bahkan melirik saja seolah ia tak sudi.
" tidak ada yang perlu di bicarakan" Ucap Aron dengan nada datarnya. Ia melipat lengan kemeja panjangnya. Lalu memakai dasinya yang masih menggelantung kerahnya.
Manda berjalan menuju ke depan Aron mencoba memakaikan dasi Aron, yang masih menggelantung belum sempat ada campur tangan dari tangannya.
Tiba-tiba Fany dantang menuruni tangga menuju ke arah Aron. Ia menabrak tubuh Manda hingga terpental dari tempat ia berdiri. Ia memang sengaja berbuwat itu, agar Manda menjauh dari Aron.
" Biar aku yang pakaikan" Ucap Fany dengan tatapan tajam ke arah Manda.
__ADS_1
" Udah ayo cepat berangkat. Jangan lama-lama di sini" Aron berjalan tanpa memandang Manda di depannya. Seolah ia tak melihatnya berada di sana. Kini ia sadar kehadirannya di rumah itu kini tak penting lagi.
Manda meneteskan air matanya berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Aron menoleh ke belakang melihat Manda menangis terasa hatinya sangat sakit. Ia tak bisa membiarkan ini terjadi terlalu lama. Manda mulai terdiam sejenak, ia menoleh ke arah fany dan Aron. Kini ia tak mau hatinya terus terluka. Kali ini ia berpikir keras harus mengubah jalan hidupnya sendiri. Memilih meninggalkan atau bertahan.
Fany menarik tangan Aron agar segera pergi ke kentor bersamanya. Kali ini adakah hari pertama Fany pergi ke kantor bersama Aron. Dan awal untuk menguasai semuanya. " Dan kamu manda selamat tersingkir dari posisimu" Batin Fany dengan tatapan licik menatap ke belakang.
Langkah Aron terhenti tepat di depan pintu masuk rumahnya. Ia menoleh ke belakang menatap ke atas lantai dua, Manda masih berdiri di atas menatap mereka. Aron tak kuasa melihat kesedihan yang di alami Manda. Bahkan ia melihat tetesan air mata Manda keluar dari mata indahnya.
" Maaf Manda nanti jika ada kesempatan aku akan cerita semua denganmu, Maaf kan aku kali ini harus membuatmu menangis lagi" Batin Aron yang masih menatap Manda di atas.
" Kamu lihat apa sih?" Fany melirik ke belakang, ternyata masih ada Manda yang terus nenatapnya.
" Jangan melihatnya" Ucap Fany mendorong pelan pipi Aron, agar menatap ke depan.
" baiklah" Ucap aron santai dengan senyum samarnya.
Manda beranjak masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal dan marahnya mengaduk jadi satu. Ia semakin geram dengan ulah fany. Ia ingin rasanya menampar itu wanita. Namun ia takut jika ia membalikkan fakta. Jika dia perebut suaminya. Apalagi ia hanya sebatas istri simpanan Aron.
***
Di balik kamar yang begitu luas Manda berbaring tengkurap dengan merengkuh bantal. Ia terus nenangis bahkan tak hentinya menyalahkan dirinya sendiri.
" aku terlalu bodoh, kenapa aku suka dengan Aron" Gumam Manda.
" aku benci dia, ku benci Aron Teriak Manda kali ini emosinya seakan tak bisa terkontrol lagi.
Bukk...bukk..buk.. ia memukul batal berkalai-kali, lalu Ia melemparkan semua barang-barang yang ada di kamarnya.
__ADS_1
Manda beranjak berdiri dengan tatapan penuh kebencian dan amarah jadi satu mengobar dalam hatinya.
Wanita itu menyeret kakinya menuju meja rias, ia menatap wajahnya yang sangat menyedihkan. Bahkan dia terlihat menjijikkan dengan wajah penuh air mata kesedihan.
Prakkk...
Manda memukul kaca di meja riasnya dengan ke dua tangannya. Ia tak mau melihat wajah yang menyedihkan itu nampak di depannya.
" Ahh.... aku benci semua kehidupan ini. Aku benci semuanya. Termasuk kamu Aron, kamu hanya serigala berbulu domba, yang selalu memainkan hatiku " Tangisan dan amarah manda semakin menjadi. Membuat atmosfer ruangan itu berubah semakin mencengkam.
" argggg...." teriak Manda mengobrak-abrik meja riasnya hingga berantakan ke lantai putih di bawahnya. Dan lampu di samping ranjangnya juga tak luput, ikut jadi korban kemarahan manda.
" Manda!!" Teriak kesha berlari masuk memeluk manda dari belakang. Mendengar suara jeritan Manda, membuat kesha takut dan berlari ke kamar Manda.
" manda tenanglah, ada aku di sini ada aku. Kamu bisa cerita semuanya denganku" ucap kesha. Memegang ke dua pipi Manda dengan nada paniknya. Saat melihat sahabatnya itu terus menangis.
Manda hanya diam, Kesha tahu Manda tak bisa cerita semuanya. Ia memeluk kembali tubuh Manda mencoba menenangkan dirinya.
Namun Manda terus meronta mengibas ngibaskan tubuhnya agar Kesha melepaskan pelukanya.
" Pergi Sa, aku mau sendiri, aku ingin sendiri" teriak Manda. dengan suara seraknya.
Kesha semakin merangkuh erat tubuh Manda hingga membuat Manda, perlahan mulai tenang dalam pelukan sahabatnya itu, lalu perlahan mereka duduk di ranjangnya.
" Manda tenanglah, lihat aku" Ucap kesha menarik dagu Manda ke atas agar menatap matanya.
" Jangan nangis seperti ini atak akan menyelesaikan masalah. Kamu harus tenang hadapi Fany dan Aron pakai pikiran. Kita harus cerdik hadapi mereka" ucap Kesha mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Manda.
Manda terdiam, ia menyeka air matanya dengan punggung tangannya. " Benar apa yang kamu bilang" Ucap Manda. Ia masih sesegukan, hingga suaranya tak terdengar jelas.
__ADS_1
" Dimana Vino?" Tanya Manda. Ia dari kemarin tidak pernah melihat Vino lagi. Bahkan saat makan malam ia juga tidak melihatnya.
" Vino pergi ke suatu tempat, katanya si menyelidiki sesuatu. Entah apa itu aku juga tidak tahu" Kesha nampak manis dengan senyumnya. Ia mengusap lembut rambut Manda yang masih merasa sangat sedih itu.