
Kekesalan Fany kini semakin menjadi. Apalagi dia mengetahui jika Manda juga istri Aron. Wanita itu tak terima jika Aron menikah lagi tanpa sepengetahuannya. Ia kini berencana untuk menghubungi orang tuanya agar mereka mau membantunya menyelesaikan masalah ini. Entah apa yang akan di perbuat orang tuanya jika tahu putri kesayangannya itu di duakan oleh Aron. Pasti mereka akan terlihat sangat murka dengan Aron.
Dengan langkah cepat penuh emosi menggebu-gebu dalam hatinya. Fany membuka kamarnya dengan keras hingga menimbulkan suara yang terngiang di ruangan itu.
" arrggg.... Kurang ajar !!" teriaknya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Dengusan nafas kasar pertanda seolah ia sangat marah dan kesal.Ia mengobrak-abrik meja riasnya hingga alat meke up semuanya berserakan di lantai. Wajahnya memerah mengepalkan tangannya erat duduk di ranjangnya.
" Ternyata Diam-diam mereka menjalin cinta di belakangku. Dulu aku tak terima setiap wanita tidur dengannya dan sekarang dia malah menikah dengan wanita lain" Decak Fany sangat kesal.
Ia bahkan seperti orang kesurupan terus berteriak mengacak-acak rambutnya. Wanita itu sangat kesal, kecewa jadi satu. Seolah semua yang di rencanakan keluarganya kini telah pupus. Dan terlintas di otaknya jika Manda punya anak dari Aron maka ahli waris semua di tangan anak Manda.
Apalagi kini Aron tak pernah menyentuhnya sama sekali. Bahkan tidur seranjang saja tidak pernah. Ia tidur dengan wanita lain namun dengan dirinya seakan jijik.
Fany meraih ponselnya di ranjang. Dam Segera menghubungi ayahnya.
Tak lama Aron tiba-tiba datang tanpa menyapa ataupun mengetuk pintu lebih dulu. Dengan tatapan tajamnya ia berjalan meraih ponsel Fany sangat kasar.
" Jangan harap kamu di sini bisa seenaknya saja hubungi keluargamu" Ucap Aron dengan wajah dinginnya. Menggenggam erat ponsel Fany.
" Kembalikan ponselku" Fany mencoba meraih ponselnya namun bukannya ia mendapatkan ponselnya. Aron tiba-tiba melemparkan ponselnya sangat keras ke lantai, Membuatnya hancur berantakan hingga berserakan di lantai coklat kamar Fany.
Perasaan kesal semakin menjadi ia mengerutkan bibirnya dengan tatapan tajam seolah otaknya sudah penuh dengan rencana licik berikutnya. Aron membuat rencananya selalu gagal. Tiba-tiba sebuah rencana muncul dalam otaknya. Ia yang semula terlihat sangat marah berubah drastis seketika.
Wanita itu menarik nafasnya dalam menahan emosi yang sempat ingin memuncak. Demi memiliki semuanya dari Aron ia harus benar-benar mengontrol emosinya agar Aron bisa jatuh hati dengannya nanti.
Fany mengeluarkan nafasnya perlahan, beranjak berdiri dari duduknya. Dengan senyum tipis seolah tak terjadi apa-apa pada dirinya. Bahkan emosinya seraya sudah membaik normal kembali. " Kenapa kamu marah." Ucap Fany memeluk erat tangan kiri Aron dengan nada bicara menggoda padanya. Berharap Aron akan tergoda olehnya dan berubah baik.
__ADS_1
Merasa tak di hiraukan olehnya. Fany melepaskan tangan Aron beranjak berdiri di depannya dengan tangan menyentuh dada bidang Aron.
" Gimana kalau hari ini aku akan memanjakanmu" Fany tersenyum tipis menyandarkan tangan kiri ke pundak Aron dan tangan kanan bergerak membenarkan kerahnya.
" Tidak ada suatu yang manja untukmu" Ucap Aron singkat menepis tangan Fany di pundaknya. beranjak pergi dari kamar istrinya itu.
Di otaknya hanya ingin di temani Manda malam ini. Tak ingin wanita lain mengganggu malamnya. Termasuk istrinya sendiri. Entah kapan dia bisa menceraikan istrinya, hanya nunggu waktu yang tepat.
Aron melangkahkan kakinya ringan berjalan menuju ke kemarnya. Ia menatap Manda di kamarnya sendiri melihat desiran hujan yang tiba-tiba turun sangat deras. Di iringi dengan suara petir yang menggelegar membuat Manda terdiam membuatnya tak bisa berkutik.
" Manda !" sapa Aron memeluk erat pinggang ramping Manda dari belakang. Dengan dagu menyandar ke pundaknya.
" Apa kamu takut" Pungkas Aron seolah seperti anak kecil sedang bermanja dengan ibunya. Manda dengan penuh keraguan menyelimuti hatinya. Ia mulai mengangkat tangan mengumpulkan semua keberanianya mengusap lembut rambut Aron yang terlihat tertata rapi.
Manda menyadari jika Aron terlihat sangat gugup. Dia merasakan detak jantungnya berpacu cepat. Manda terdiam menarik tangannya kembali dari rambut Aron. Ia melepaskan rengkuhan erat Lelaki itu di punggangnya.
Ia lalu menoleh ke belakang menatap wajah Aron. Dengan tangan menyentuh pipi Aron. Pandangan mereka sangat dekat bahkan detak jatungnya beriringan seirama dengan desiran nafas mereka saling berpacu dalam sebuah persaaan yang sama.
" Apa ini benar-benar kamu" Ucap Manda menyentuh lembut pipi Aron. Hingga membuat wajahnya memerah seketika.
Tak menjawab Aron hanya mengedipkan matanya mengisyaratkan jika memang iya itu dirinya.
Dirinya yang mulai ada rasa dengan Manda. Entah sejak kapan rasa itu muncul dalam hatinya. Meski berkali-kali melawan perasaan itu namun ia tak bisa. Perasaannya kini semakin dalam bahkan perlahan ia bisa melupakan Sindy yang sudah jauh di sana hingga tak akan pernah bisa tergapai olehnya tangannya.
Manda tersenyum tipis. Ia kini tak ragu lagi hatinya merasa ada seseroang yang ada untuknya untuk menjaganya. Hatinya terasa sangat nyaman berada dalam dekapan hangat tubuh Aron. Penderitaan perlahan hilang, hanya satu masalah yang masih menyelimuti hatinya, yaitu ia hanya sebatas simpanan istri sirinya dan belum menjadi istri sah.
__ADS_1
Aron menerima pelukan Manda. Ia mengusap lembut punggung Manda dan rambut panjangnya yang terurai.
Tetesan air mata perlahan jatuh dari mata indah Manda. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Kehidupan yang ia idamkan seakan Aron sudah menjawabnya. Ia berharap Aron akan menjadi pelindungnya. Pelengkap dalam cerita hidupnya kelak.
Vino yang melihat di balik pintu kamar Aron yang memang terbuka sedikit. Karena memang Aron lupa belum sempat mengunci pintunya. Ia melihat Manda dan Aron terlihat sangat mesra. Seolah ia kenyesal jadi penghalang dan pengganggu hubungan mereka.
Ia sadar jika Manda bukan miliknya. Manda adalah istri Aron dan hanya Aron yang berhak mendapatkan hatinya. Dan sekarang perlahan pikirannya teringat tentang kesha. Ia menyesal telah melupakan sejenak kekasihnya itu. Bahkan dia yang begitu tulus mencintainya tanpa sebab tak di hiraukan dan di biarkan pergi begitu saja.
Merasa tak ingin mengganggu mereka. Vino menutup pelan pintu kamar Aron agar tak terdengar bunyi suara pintu tertutup. Yang pastinya akan mengganggu hal romanyis mereka.
Vino berjalan pergi menuju kamarnya. Ia ingin segera pergi menemui Kesha di korea dan membawanya kembali. Ia tak mau kehilangan dia lagi dan peralahan ingin menciba memperbarui hubungan mereka.
****
Aron melapaskan pelukan Manda ia melihat air mata sudah membanjiri matanya. Perlahan aron mengusap lembut air matanya dengan jemari tangannya. Dengan mata saling tertuju. Wajah Manda kini mulai memerah seketika.
" Jangan menangis lagi. Mata indahmu hanya boleh mengeluarkan pancaran kebahagiaan, jangan sebuah tangisan aku tidak suka" pungkas Aron mulai mengangkat tubuh Manda dengan ke dua tangannya ke atas ranjang miliknya.
Ia meletakkan perlahan tubuh Manda ke ranjang miliknya.
" aku hanya ingin kamu tersenyum. Hatiku merasa sakit jika sampai kamu terus menangis" Pungkas Aron menyentuh pipi Manda yang masih memerah di buatnya.
Manda hanya terdiam tak bisa mengucap sebuah kata sekalipun. Ia hanya bisa memandang kagum dan tak percaya perubahan dari Aron yang begitu drastis. Ia masih belum yakin ini benetan Aron atau bukan atau dia punya rencana yang tidak ia ketahui.
Tak mau berharap hal yang belum pasti. Manda mencoba menghilangkan kecurigaannya tentang Aron. Ia kini ingin bermanja ria dengan suaminya itu. Ia melingkarkan tangannya ke leher Aron dengan tubuh semakin mendekat ke arahnya. Tatapan mereka saling tertuju hingga detak jantung mereka perbacu dalam irama yang sama.
__ADS_1