
Tok..tok..
Manda mengetuk pintu kamar Aron berkali-kali.
"Masuklah.." ucap Aron yang masih duduk bersandar di ranjangnya. Ia seolah pura-pura baca majalah, ya aslinya sih tak minat baca majalah. Cuma buwat gaya saja kalau dia lagi sibuk sendiri di depan mata Manda.
Manda membuka pintu Aron melihatnya duduk terdiam dengan wajah serius memegang majalah. "Apa sih yang di baca. Serius amat" gumam Manda. Beranjak mendekati Aron.
"Gak baca apa-apa" jawab Aron singkat, kali ini ia benar-benar serius, dan mencoba untuk cuekin Manda, ia ingin tahu gimana reaksi Manda saat ia cuek.
Manda beranjak merangkak naik ke ranjang Aron, lelaki itu hanya meliriknya sekilas, dalam hati berharap Manda mengajaknya bermain lagi. "Coba deh aku lihat" Gumam Manda, meraih majalah itu di tangan Aron.
"Yee.. aku dapat" Gumam Manda. Dengan wajah mengejek pada Aron.
"Balikin gak??" Tanya Aron mencoba mengancam, dengan tatapan jahilnya.
Manda mencoba menghindari tangan Aron yang terus mencoba meraih majalah di tangan Manda, "aku kan hanya ingin lihat, kenapa gak boleh" ucap Manda kentus,
Tatapan jahil Aron kini semakin menjadi, ia merangkak menjulur ke atas tubuh Manda, "kamu mau kembalikan atau.." Aron mengehentikan ucapanya, membelai lembut wajah Manda dengan jemarinya.
Manda terdiam, menatap Aron di atasnya, ia hanya bisa menelan ludahnya. Wajahnya bahkan mulai memerah seperti kepiting rebus. "Kenapa sama suami sendiri gugup gini, seperti awal jatuh cinta saja"gumam Manda dalam hatinya. Ia mengedip-ngedipkan matanya menahan rasa gugup dalam hatinya.
Aron mendekatkan wajahnya ke arah Manda, seakan bibirnya mau mendarat, namun dengan sigap Manda menutup mulutnya, manarik tubuhnya ke bawah menghindari Aron,
"Jangan menciumku" gumam Manda mendorong tubuh Aron menjauh darinya. Ia merasa tidah mau menerima kecupan Aron lagi, takutnya nanti ia muntah-muntah lagi. Entah kenapa aku jadi sensitif gini ya. Gumamnya.
Blukkk.. tubuh kekar Aron mendarat di ranjang. Manda mencoba merangkak pergi, Aron mendekap tubuh Manda mengunci ke dua tangannya ke atas kepalanya agar tak bisa berkutik lagi.
"Syang, lepasin aku, perutku sakit" gumam Manda merengek, mencoba mencari alasan pada Aron, agar ia mau melepaskannya.
__ADS_1
Mendengar keluhan Manda tentang perutnya sakit, Aron langsung melepaskan dekapannya. Membalikkan tubuh Manda menatapnya.
wajah Aron kini nampak panik, ia mengusap perut Manda, "syang kamu di dalam baik-baik saja kan, sehat terus ya"gumam Aron pada perutnya. Aron yang terus mengusap lembut perutnya kini membuat Manda semakin geli.
"Jangan sentuh perutku terus, aku geli" Ucap Manda. Menggerakan tubuhnya seperti cacing kegelian di ranjang.
Aron terdiam menatap aneh pada Manda, terlinatas dalam benaknya untuk menjahili Manda kali ini. Ia menyentuh pinggang Manda, membuat Manda teriak kegelian seketika. Namun Aron semakin suka menjahilinya, "Syang hentikan, ampun-ampun, aku geli sayang" gumam Manda meringis kegelian. Bahkan ia tubuhnya seperti cacing kepanasan kali ini gara-gara ulah Aron.
"Syang lagi yuk" bisik Aron di telinga Manda. Dengan ujung bibir Aron menyentuh ujung telinganya. Desiran napas Aron terasa jelas di telinga Manda.
"Lagi apa?" Manda bingung apa yang di maksud Aron padanya.
"Lagi itu.. itu.." gumam Aron mencoba basa-basi memberi kode Manda.
"Apa sih!!" Gumam Manda kesal, ia benar-benar tidak tahu.
"Ya sudah lah kalau gak tahu" ucap Aron kesal. Ia segera duduk bersandar di ranjang. Dengan wajah cemberut mengambil majalah itu lagi. Lalu mulai membukanya selembar demi lembar.
Menatap istrinya bertindak seperti itu, ia tak bisa menahan senyumnya kali ini. Jadi Aron yang semula cemberut, tersenyum tipis memencet hindung istrinya itu. "Kamu itu gemesin, kalau kamu seperti ini, gimana aku bisa marah denganmu"ucap Aron mengusap lembut rambut Manda.
Manda tersenyum tipis, Sebuah kecupan di pipi Aron membuatnya terkejut. "Kecupan minta maaf tadi udah berbohong" ucap Manda. Beranjak dari duduknya di atas kaki Aron.
Aron menarik tangan manda. "Kamu mau kemana?" Tanya Aron. Yang semula sembujung kini di tekuk bersamaan membuat tubuh Manda benar-benar nempel pada tubuhnya. "Kamu gak bisa pergi syaang"bisik Aron, di tambah kecupan lembut di telinga Manda. Membuat Manda bergidik geli.
"Aku hanya mau...Eh...mau ke kamar mandi" ucap Manda sambil berpikir, mencoba mencari alasan untuk berbohong.
Tapi sepertinya Aron tahu jika dia bohong. Ia semakin mendekap erat tubuh istrinya itu. Tapi hari ini ia tak memaksa istrinya, ia lebih ingin menggodanya. Karena saat ngambek tu selalu bikin gemes Aron.
"Lepasin aku!" lanjut Manda mencoba melepaskan dekapan Aron, dan kaki Aron juga semakin menempel di punggungnya erat membuat ia tak bisa berkutik sama sekali.
__ADS_1
"Tenang syaang aku gak akan minta lagi kok"gumam Aron tersenyum tipi.
"Benar gak minta lagi kan" tanya Manda, Wajahnya masih cemberut menatap Aron.
"Benar, tapi kamu tetap tenang seperti ini di atasku, aku merasa nyaman seperti ini. Kali ini aku akan memberi tahu kamu sesuatu yang bagus" gumam Aron. Dengan senyum semringai yang membuat Manda menatapnya aneh.
Manda terdiam, ia yang semula meronta. Kini lebih diam dan tetap di atas pangkuan Aron. Dengan tangan kini merangkul leher Aron, ia mencoba bermanja pada Aron, tetapi dengan satu syarat tidak mau melukannya lagi. "Emangnya mau kasih tahu apa sih?" Tanya Manda penasaran.
"Dekatkan kepalamu ke sini"ucap Aron menarik kepala Manda agar menempel di kanannya, ia segera membuka bab majalah dewasa yang ia baca. "Coba lihat ini" Ucap Aron menunjuk foto gambar wanita berpakaian seksi.
Manda yang semula merangkul leher Aron seketika melepasnya, wajahnya semakin cemberut, berdengusk kesal dengan tatapan melotot ke arah Aron. "Jadi kamu mau wanita seperti itu, ya sudah sama tu wanita saja, cari dia sana. Pasti dia model terkenal. Dan juga cantik. Lebih cantik dari istrimu hang kumel ini" Ucap Manda dengan nada sangat kesal kali ini. Ia bersendekap melemparkan wajahnya berlawanan arah.
"Yah gitu ngambek sih, dengar dulu penjelasanku. Jangan ngambek dulu syang. Aku tu gak mau cari wanita lain lagi. Tak perlu wanita seksi dan cantik yang menemaniku, Karena di depan aku sudah ada bidadari terindah yang di ciptakan untukku. Jadi aku harus menjaganya, sampai kapanpun atau mungkin sampai menuntup mata nantinya"Ucap Aron, mencoba mengeluarkan jurus rayuannya.
Manda yang semula marah, ia terdiam tersenyum dalam hati, hatinya kahirnya luluh juga dengan rayuan maut Aron. "Tapi kenapa kok mungkin sih, kalau menjagaku gak mau selamanya ya sudah"Manda mencoba ngambek lagi. Meski sebenarnya dalam hati ia sudah meleleh dengan kata-kata Aron.
"Yah ngambek lagi, ya sudah aku ralat aja, gak jadi" gumam Aron menggoda Manda.
"Kenapa gak jadi?, katanya sayang tapi kok gak jadi sih" ucap Manda jutek.
"Lagian kamu ngambek terus sih, kalau kamu ngambek terus gak jadi bidadari. Tapi.. emm gak jadi deh" Ucap Aron, tersenyum samar.
Lebih tepat seperti nenek sihir, gumamnya dalam hati. Ia tak mau mengungkap itu pada Manda takut dia marah semakin menjadi padanya. Apalagi sekarang di hamil tu sensinya minta ampun deh.
"Tapi.. apa?" Tanya Manda penasaran. Matanya semakin melebar dengan ke dua tangan di tekuk ke pinggang.
"Kan aku bilang gak jadi syang"gumam Aron mengusap lembut rambut istrinya itu.
"Udah deh, gak usah ngrayu-ngrayu aku" Manda menepis tangan Aron di kepalanya.
__ADS_1
"Udah dong, syang. Jangan ngambek terus. Maaf deh..maaf" ucap Aron memegang ke dua pelipis Manda mendekatkan wajahnya tepat depan wajahnya. Hingga jarak aja 2 jari. Hembusan napas berat Aron terasa di hidung Manda. Desiran napas mereka slaing berpacu cepat.
Bahkan jantung mereka saling berirama, sebuah kecupan di bibir seketika membuat Manda membuka matanya lebar.