
Jarum jam menunjukan pukul sebelas malam. Albert yang baru pulang, ia melemparkan jaket ke atas sofa, membaringkan tubuhnya terlentang di atas ranjang.
Dasar Vina, udah aku bilang suruh tunggu malah dia sama laki-laki lain. Tapi di sisi lain, aku bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik, sangat berbeda dengan wanita lainnya. Benar-benar sangat menaggumkan. Baru kali ini aku melihat wajah cantik wanita asia. Mata bulat, dengan bola mata hitam yang indah, rambit hitam pekat, panjang terurai lurus.
"Ah... Albert apa yang kamu pikirkan" gumam Al.
"Sepertinya aku harus cari tahu tentang dia, sebenarnya dia siapa dan apa hubungan dia dengan Manda." Ucap Al, yang mulai memejamkan matanya. Terbawa dalam mimpi indah bertemu dengan wanita yang ia kagumi.
~
Keesokan harinya..
Manda bangun lebih pagi, ia sudah menyiapkan semua baju Duke dan Lia untuk sekolah. Dan tidak lupa menyiapkan baju suaminya yang masih di kamar mandi.
Wanita itu berdiam diri, menatap dirinya di depan cermin. ia menyisir rambutnya yang terurai panjang. Tanpa sadar Aron memeluknya mesra dari belakang. Menyadarkan dagunya di pundak Manda.
"Aku ingin bilang sesuatu padamu" ucap Aron, mengecup leher belakang yang masih tersisa helaian rambut tipis Manda di belakangnya.
"Apa syang?" Tanya Manda dengan suara manjanya.
"Bisa bantu aku pakai kemeja ya, sebelum kamu berangkat kuliah" ucap Aron, membalikkan tubuh Manda menatapnya. Aron meemgang pinggang Manda sangat erat, hingga perut besar Manda membuat jarak antara mereka.
"Baiklah" ucap Manda antusias.
Ia segera memakaikan kemeja hitam milik Aron. "Syang angkat ke dua tangan kamu dulu" ucap Manda.
"Baiklah" ucap Aron, yang langsung mengangjat ke dua tangannya, merentangkan ke samping. Manda memakaikan lengannya perlahan, bergantian. Dan mengancingnya, sangat rapi.
Selesai memakaikan kemeja, Manda segera mengambil dasi dan mulai membantu Aron untuk memakainya. "Kamu harus terlihat tampan setiap hari, tapi jangan suka melirik wanita lain." Ucap Manda, memegang dada Aron lembut, mengusapnya mesra.
Aron memegang ke dua tangan Manda di dadanya. "Aku hanya ingin melihat wanita cantik aku ini" ucap Aron, melepaskan tangan Manda, dan jemarinya mulai mengusap lembut wajah Manda yang sudah terbalut dengan make up tipis.
"Sekarang aku mau berangkat duluan ya syang" ucap Manda.
"Bentar, kamu lupa sesuatu ya." Tanya Aron.
"Lupa apa?" Gumam Manda yang nampak bingung.
"Kamu duduklah dulu" ucap Aron, memapah tubuh Manda untuk duduk dulu di atas ranjang. Manda hanya diam menurut. Lalu Aron mengambil sepatu Manda tepat di bawahnya. Memakaikan sepatunya di kaki Manda, dan menalinya rapi.
"Sudah selesai syang, kamu jangan pakai sepatu sendiri sekarang. Minta bantuan aku kalau kamu gak bisa pakai sepatu. Lagian perut sudah semakin membesar buat jongkok pasti susah, jadi aku yang akan selali bantu kamu." Ucap Aron. Beranjak berdiri tepat di depan Manda.
"Ya sudah" ucap Manda bangkit dari duduknya. "Syang aku berangkat kuliah dulu ya, aku nanti sekalian mau tanya di mana Kesah berada pada Al. Siapa tahu dia mengerti di mana Kesha berada" ucap Manda, yaang sudah mulai bersiap, dan segera meraih tasnya si atas meja.
"Berhenti di situ jangan bergerak" ucap Aron, membuat langkah Manda berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
"Apa lagi syang" tanya Manda, belum sempat menoleh ke belakang, Aron memakaikan jekat di ke tubuh menyampirkan di punggungnya.
"Angkat tangan kamu syang" ucap Aron, Manda tersenyum tipis, menoleh ke belakang.
"Makasih syang, aku bisa pakai sendiri." Ucap Manda menjinjitkan kakinya, mengecup kening Aron lembut. Dan tidak lupa mengusap rambutnya yang semula terlihat rapi jadi agak berantakan.
"Hati-hati ya syang" ucap Aron, mengusap rambut Manda.
"Iya syang" gumam Manda, dengan senyum manisnya terpaut di wajahnya. Senyum pagi yang selalu memberi semangat Aron saat berangkat bekerja.
"Aku bantu kamu turun tangga" ucap Aron memegang ke dua bahu Manda, dan memegangnya erat menuruni anak tangga.
Vina yang sudah menunggunya di ruang tamu, tersenyum tipis melihat kemesraan mereka.
"Biar Manda sama aku saja, aku akan membantunya nanti" ucap Vina, yang menggantikan posisi Aron menuntun Manda masuk dalam mobilnya.
~
__ADS_1
"Da, nanti aku mau cerita padamu, pokoknya aku kemarin seneng banget" ucap Vina terpancar wajah bahagianya.
Manda menyipitkan matanya. Menatap aneh pada Vina di depannya yang tiba-tiba senyum-senyum sendiri.
"Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Manda, mencoba cek dahi Manda.
"Emangnya aku sakit, aku yuh lagi bahagia sekarang" gumam Vina, yang masih memaerkan gigi putihnya.
"Emangnya kenapa Vin?" Tanya Manda bingung dengan sahabatnya itu.
"Aku bertemu dengan seorang yang sangat tampan, hampir sama sih tampannya sama Albert, tapi menurut aku dia lebih tampan, karena hatinya juga sangat baik. Dia tidak cuek seperti lelaki nyebelin itu. Dia ramah, dia yang malaikat penyelamat aku kemarin. Meski sepertinya, umurnya lebih tua dia" Ucap Vina.
"Sepertinya kamu bisa melupakan Albert nih" ucap Manda, yang merasa sangat senang jika temannya bisa melupakan Albert lelaki yang tidak pernah membalas perasaan temannya itu.
"Iya sepertinya bergitu" ucap Vina.
"Dia kuliah di mana? Atau dia sudah kerja" tanya Manda, yang sudha mulai tertarik dengan cerita Manda.
"Sepertinya dia masih kuliah, tapi dia bukan kalangan orang punya. Dia kuliah sambil kerja part time setiap hari, bahkan sampai malam" ucap Vina.
"Tapi kalau memang cinta gak mandang status. Kalau emang kamu tertarik sama dia. Deketin saja siapa tahu dia memang jodoh kamu" ucap Manda.
"Aku berharap begitu" ucap Vina, menoleh sekilas. "Sepertinya kita sudah sampai" lanjutnya.
"Kita turun, dan antar aku bertemu dengan Albert. Aku ingin tanya sesuatu padanya" ucap Manda.
"Sepertinya kamu gak usah mencari dia. Lihatlah dia juga baru datang" ucap Vina.
Belum selesai berbicara Manda sudah turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Albert. "Tunggu!" Ucap Manda, menghentikan langkah Albert.
"Ada apa?" Tanya Albert datar.
"Kamu sudah bertemu dengan Kesha lagi belum?" Tanya Manda ragu.
"Wanita yang hampir kamu tabrak kemarin" ucap Manda.
"Oo. Wanita itu. Apa kamu tahu di mana rumahnya?" Tanya Albert.
"Aku baru mau tanya pada kamu, apa kamu juga gak tahu alamat dia tinggal" ucap Manda.
"Kalau aku tau alamatnya, gak mungkin aku tanya juga pada kamu" ucap Albert, yang langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Manda.
"Kenapa dia jadi nyeselin gitu? Gak biasanya dia seperti itu dengan kamu" tanya Vina, memegang ke dua pundak Manda.
"Entahlah, udah ayo masuk" ucap Manda.
Vina menuntun Manda berjalan ringan menuju ke lift, sambil melanjutkan cerita Vina tadi.
"Oya. Emangnya kamu kemarin malam dapat nomor teleponnya?" Tanya Manda
Thingg...
Pintu Lift terbuka, Vina segera menuntun Manda masuk ke dalam.
"Eh.. tunggu" ucap seorang ellaki yang berlari langsung masuk ke dalam lift. Dan tanpa sadae hingga pintu lift tertutup Vina tidak melihat jika di sampingnya adalah Albert. Ia fokus terus bercerita dengan Manda.
"Aku punya nomornya, tapi aku ragu mau menghubunginya. Bahkan sepertinya dia tidak semudah itu di deketin, meaki dia tipe orang yang ramah. Tapi dia sepertinya juga lagi patah hati, bahkan katanya di tinggal nikah dengan pacarnya" ucap Vina.
Hachuuu...
"Kalau bersin di tutup, pakai tangan" ucap Vina, menoleh ke samping. Ia melihat Albert tepat berdiri di sampingnya. "Kamu lagi!" Ucap Vina, yang terkejut melihat Albert.
" kenapa kamu menatapku seperti itu. Emangnya aku tukang nagih hutang" ucap Albert.
__ADS_1
"Kapan kamu ada di sini?" Tanya Vina.
"Emangnya urusan kamu, aku dari tadi di sini" ucap Albert.
"Udah-udah, kenapa kalian selalu ribut, ini lift umum siapa saja bisa masuk" ucap Manda, memcoba menengahi pertengkaran mereka.
"Itu dengar" sindir Albert.
Vina yang nampak kesal, ia memalingkan pandangannya.
Thingg.. lift terbuka di lantai 3.
"Vin aku turun dulu ya, masih ada urusan sama dosen" ucap Manda
"Apa perlu aku bantu?" Tanya Vina.
"Gak usah" ucap Manda, yang segera keluar dari lift.
Lift tertutup dan hanya menyisakan Vina dan Albert di dalamnya, tanpa saling sapa. Bahkan saling melirik saja sekaan tidak sudi.
Kratakkk... krataakk.
Lapu lift tiba-tiba mati, membuat Vina spontan memeluk tubuh Albert yang ada di depannya.
"Haa...lapunya kenapa mati, aku takut gelap, aku takut" ucap Vina, semakin mempererat pelukannya.
Albert hanya diam, iabmenatap bingung, ingin melempar tubuhnya menjauh. Tapi sepertinya dia benar-benar takut. Napasnya saja sudah tidak berturan. Tubuhnya mulai bergetar, dengan bibir yang ikut bergetar ketakutan. "Aku takut" ucap Vina, memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya di dada Albert. Hingga merasakan detak jantung Albert yang berdetak sangat cepat.
Pintu Lift tiba-tiba terbuka. Tepat di depannya berdiri seorang gadis cantik yang pernah ia temui kemarin.
"Lepaskan aku, lihatlah ke depan. Pintu lift sudah terbuka" ucap Albert, mendorong tubuh Vina menjauh darinya.
Vina menatap ke depan, ia merasa sangat malu dengan apa yang sudah ia lakukan tadi. Apalagi di depan ada banyak orang. Wajahnya mulai memerah, dan berlari meninggalkan Albert yang masih berada di dalam lift.
"Kamu wanita yang kemarin kan?" Tanya Albert, berlari mengikuti Kesha yang memutar jalannya menjauh dari Albert.
"Apa kita ada urusan lagi" tanya Kesha sinis.
"Ada?" Ucap Albert. "Bukannya kamu yang membuat mobil aku rusak, sekarang aku ingin kamu bantu aku" ucap Albert terus terang.
"Bukannya sudah lunas" ucap Kesha, menghentikan langkahnya, memutar badannya ke samping menatap ke arah Al.
Membuat langkah Al terhenti dan menatap jelas wajahnya dari depan.
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Kesha.
"Aku ingin menawarkan pekerjaan untuk kamu" ucap Albert.
"Aku gak butuh pekerjaan, lagian aku sudah punya pekerjaan" ucap Kesha, yang mulai melanjutkan langkahnya lagi.
"Aku serius, kalau kamu berminat kamu bisa hubungi aku" ucap Al, yang memasukan kartu naam di saku jaket Kesha.
"Terserah" ucap Kesha jutek, semakin mempercepat langkahnya menuruni anak tangga.
"Apa kamu kuliah di sini juga?" Tanya Al yang tak berhenti mengikuti Kesha.
"Enggak!" Ucap Kesha.
"Terus apa urusan kamu di sini?' Tanya Albert.
"Bukan urusan kamu" ucap Kesha yang sudah semakin kesal, Albert terus mengikutinya.
"Ya sudah, kalau kamu ingin pekerjaan dengan gaji tinggi hubungi aku, aku tahu kamu pasti lagi butuh uang untuk biaya kuliah kamu kan" ucap Albert yang mulai menghentikan langkahnya. Membiarkan Kesha sudah semakin pergi menjauh darinya.
__ADS_1
Manda dan vina segera melakukan jam kuliah seperti baiasanya. Dan Manda tadi sudah bilang pada Vina jika dia nanti pulang kuliah jemput anaknya dulu. Lalu mencoba mencari Kesha di tempat di mana ia pernah bertemu dengannya kemarin.