Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Mengancam


__ADS_3

Aron yang merasa sangat terganggu dengan pesan itu. Ia segera mengirimkan nomor itu pada Manajernya. Agar dia menyelidiki siapa yang nengirim chat padanya. Dan beraninya dia mengancam Aron. Yang membuat hatinya merasa terganggu dan tidak tenang saat bersama Manda kali ini.


Lelaki itu yang semula hilang wajah kasar dan bengisnya saat bersama Manda, tiba-tiba mulai muncul lagi. Gara-gara sebuah pesan yang membuatnya pusing. Di saat kebahagiaan datang padanya di saat itu ada saja orang yang berniat menghancurkan kebahagiaan itu. Ia terus mencengkram erat ponselnya saat ia selesai memberikan sebuah pesan pada manajernya. Hingga ia lupa dengan makanan di depan mejanya.


"Syang kenapa kamu terus memegang ponsel kamu?" Tanya Manda bingung melihat suaminya yang terus diam dari tadi. "Apa kamu gak makan??" Lanjutnya.


Aron tersadar dari lamunannya, ia mencoba tersenyum di hadapan Manda.


"Iya syang bentar lagi aku makan"gumam Aron memasang senyum lebarnya pada Manda. Ia tak mau Manda curiga nantinya dengan apa yang ia pikirkan saat ini.


Manda menatap aneh pada Aron. Kenapa sebenarnya suamiku ini, apa dia lagi ada masalah yang mengganggunya atau dia lagi menyembunyikan sesuatu dariku, gumam Manda dalam hati.


"Ya, udah sekarang cepat makan, dan letakkan dulu ponsel kamu itu di meja"gumam Manda. Namun Aron kembali terdiam dengan wajah muramnya.


Manda segera berdiri dan meraih ponselnya. Seketika lelaki itu tersadar lagi dari lamunannya. Jantung Aron dag dig dug ponsel itu berada di tangan Manda.  Namun Manda tak membukanya ia hanya meletakkan disampingnya.


Untunglah dia tidak membuka ponsel itu, entah apa yang akan dia lakukan jika tahu tentang pesan itu. Pasti dia akan marah besar denganku, gumam Aron.


"Sekarang kamu makan dulu, kalau masalah pekerjaan di pikir nanti saja." Ucap Manda mengalihkan pikiran Aron.


"Baiklah"ucap Aron terpaksa mulai memegang sendok makan dan mulai memasukan suapan pertama ke dalam mulutnya. Dan tatapan mata masih tertuju pada ponsel di samping Manda. Meski ia merasa lega Manda tidak membuka ponselnya tapi ia belum lega jika ponsel itu masih berada dekat Manda.


Manda yang sudah selesai makan duluan, ia  meraih tisu di meja dan membersihkan mulutnya. Mata Manda tertuju pada Aron di depannya. "Kamu kalau makan jangan melamun terus, lihatlah bibir kamu belepotan"ucap Manda membersihkan bibir Aron dari sisa makanan yang menempel dengan tisu.


Aron memegang tangan Manda, menatap wajah Manda yang begitu polos itu. Ia terbayang saat bagaimana reaksi dia tahu semua tentang masa lalunya dulu.


"Syang ..kenapa kamu terus menatapku?" Tanya Manda mengibaskan tangannya ke wajah Aron yang yak hentinya melamun dengan pandangan kosong menatapnya.


"Eh.. iya syang, ada apa?" Tanya Aron melepaskan perlahan tangan Manda dan menaruhnya di atas meja.

__ADS_1


Manda mengerutkan bibirnya. "Kenapa kamu melamun terus, sekarang aku ngomong saja gak pernah di gubris"gumam Manda kesal.


"Maaf syang, aku terlalu banyak pikiran kali ini ada pekerjaan kantor yang membuat aku pusing. Tapi sekarang manajer aku sudah berusaha menanganinya"gumam Aron dengan tangan kanan memegang tangan Manda dan tangan kiri mengusap lembut rambut Manda.


"Oo.. ya sudah, tapi lain kali jangan gitu lagi. Aku mau kamu dan aku tu saling terbuka. Jika ada masalah kita bisa saling curhat kan bisa sayang"ucap Manda dengan senyum manisnya.


"Baiklah, aku janji kalau ada masalah aku akan selalu bilang sama kamu"ucap Aron seolah membuat hati Manda di depannya itu luluh.


Manda yang semula kesal sih tak di anggap oleh Aron sekarang berubah luluh dan mulai manja lagi dengannya.


"Oya aku ke kamar mandi dulu ya, kamu jangan kamana-mana"ucap Manda beranjak berdiri.


Aron memgang tangan Manda.


"Eh.. tunggu!! Kamu berani sendirian" tanya Aron memastikan. Biasanya Manda selalu minta antar kemanapun kalau di tempat asing. Karena dia belum terbiasa dengan semuanya. Tapi sekarang tumben-tumbenan Manda mulai berani sendiri.


"Berani lah sayang"ucap Manda dengan nada centilnya. "Oya ingat jangan main mata dengan wanita lain ya, awas saja kalau mata kamu keliaran keman-mana. Aku gak rela tahu gak" ucap Manda dengan wajah seriusnya.


"Gak usah lah. Emang aku anak kecil kemana-mana selalu di antar"ucap Manda merasa malu. Ia memutar matanya menatap raut wajah mereka di dalam restaurant itu tertuju padanya.


Wanita itu kembali lagi menatap Aron, yang masih diam menatapnya. Dan bahkan dia masih memegang tangannya. Seakan tak mau lepas dari Manda.


Aron mencubit hidung Manda yang semakin menggemaskan di depannya itu.


"Ya sudah hati-hati ya, jangan lama-lama di kamar mandi. Entar takutnya kamu tertidur lagi di sana. Aku kan gak bisa masuk ke toilet wanita"ucap Aron dengan nada bercanda.


"He..he siap suamiku yang bawel"gumam Manda melepaskan tangan Aron dan mulai melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Aron.


Melihat punggung Manda sudah melangkah semakin jauh darinya. Ia segera meraih ponselnya tepat di depan tempat duduk Manda tadi. Dan ia tak lupa segera menghubungi nomor itu.

__ADS_1


ternyata nomornya masih nyambung. Kalau dia ada rencana lain pasti nomornya di matiian atau di nonaktifkan. Ada yang aneh dengan semua ini, gumam Aron.


"Ha..ha..ha.. Ada apa mencariku" ucap seorang lelaki di balik telfon itu.


"Siapa kamu?" Bentak Aron. Membuat semua mata memandang Aron bingung dengannya.


"Tenang..tenang.. jangan telalu emosi. "Ucap lelaki itu santainya.


"Gak usah banyak basa basi"ucap Aron lirih.


"Baiklah, apa kamu mau barter sesuatu denganku. Aku menginginkan Manda dan bayinya segera menjauh dari kamu dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Aku sudah medapatkan semua bukti itu dari seseorang yang pernah jadi istri kamu. Dan setelah ketahuan selingkuh kamu tega ninggalin dia"ucap lelaki itu seakan dia tahu semuanya tentang kehidupannya.


"Gak usah bercanda bukti itu sudah aku bakar, tidak ada yang tahu lagi selain aku. "Ucap aron dengan senyum semringainya.


"Baiklah kalau kamu gak percaya besok aku akan kirim bukti itu ke kamu" lelaki itu langsung mematikan telponnya.


Sialan beraninya bermain-main denganku dan mengancam ku. aku tidak akan tinggal diam. Akan menghabisi dia saat siapa tahu siapa dia sebenarnya. Dan tak ada kata maaf pagi bagi dia da Fany. Aron menggenggam tangannya erat seakan mau mengobrak abrik meja di depannya. Namun dia masih bisa menahan emosinya. Ia takut jika Manda tahu nantinya saat dia emosi.


Tak lama Manda datang melihat Aron sudah berdiri dari duduknya. Ia berjalan menghampiri dan memegang bahumya "Syang kamu mau kamana?" Tanya Manda.


Aron sontak terkejut dan memegang dadanya.


"Manda.. aku kira kamu siapa." Ucap Aron.


"Kamu kenapa sih, dari tadi melamun terus"tanya Manda penasaran.


"Gak napa-napa, sudah ayo pulang sekarang"ucap Aron ia segera meletakan uangnya di samping nota bill yang sudah di berikan pada waiters tadi.


"Baiklah"Manda memeluk tangan kanan Aron berjalan beriringan menuju ke hotel. Seolah seperti anak baru pacaran Manda terus menempelkan kepalanya ke bahu Aron sangat mesra. Tak perduli dengan tatapan orang sekitarnya.

__ADS_1


Meski Manda sempat curiga dengan Aron namun dia menghilangkan rasa curiga itu sejenak. Dan kembali mesra dengannya agar tak menimbulkan pikiran negatif padanya.


Aku menginginkan terus seperti ini, hubungan tanpa masalah seperti ini. Aku akan janji padamu akan menghilangkan semua penganggu hubungan kita, gumam Aron dalam hati, dengan tangan kiri mengusap lembut ubun rambut Manda.


__ADS_2