Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Pernikahan part 2


__ADS_3

"Manda, syang!! Melihat mereka menikah. Aku merasa ingin sekali muda lagi. Merasakan hal bahagia seperti mereka!" ucap Aron, memeluk tubuh Manda dari belakang.


"Iya, tapi kita sudah punya anak sayang. Kita juga sudah bahagia. bersama. Punya anak yang sudah menginjak dewasa juga.


"Tapi mereka masih kecil syang," ucap Aron, mengecup pipi Manda dari samping.


"Iya, bentar lagi juga dewasa, kalau sudah waktunya." ucap Aron, merengkuh erat tubuh Manda dari belakang, tanpa perdulikan para tamu yang masih ada di sana. Seakan dunia milik berdua, mereka selalu menikmati kemesraan bersama meski di depan orang, untuk menunjukan hubungan yang harmonis di depan mereka semua.


"Syang Axcel tidur?" tanya Aron, menatap Axcel dalam dekapan Manda yang masih tertidur lelap. Dan baby Brandon masih di dekapan mama Kesha.


"kak!!" oanggil Vino, berjalan menxekati akaknya, seketika membaut Aron melepaskan pelukannya. Bsrdiri tegap menayap Vino.


"Ada apa?" tanya Aron.


"Oya, kak. Nanti aku mau pergi ke Vila. Sebelumnya aku sudah memesan Vila di pinggir pantai. Dan karena perjalan masih besok pagi, aku dan Kesha berencana menginap di sana malam ini. Agar besok bisa langsung berangkat." jelas Vino.


Aron hanya menganggukkan kepalanya, seakan paham dengan apa yang di katakan Vino. "Oya, jangan buat anak banyak-banyak!!" goda Aron.


Vino mendekatkan tubuhnya, dan berbisik lirih.


"Wah.. kalau itu, aku mau buat baby yang banyak sekalian kak, biar rumah aku nanti rame."


"Eh.. Kesha!" ucap Aron, yang menatap Kesha sudah berdiri di belakang Vino, engan tatapan tajamnya.


"Apa yang kamu katakan?"


Mendengar suara Kesha, Vino menggerakkan kepalanya, seratus delapan puluh derajat, menoleh ke belakang. Dengan senyum semringai.


Kesha hanya diam, dengan bibir manyun beberapa senti, ke dua tangan besendekap. Dan terlihat sangat, menakutkan!


"Syang!! Kenapa kamu ada di sini?" tanya Vino, dengan senyum terpaksa, ia menggerakkan tubuhnya menatap Vina, memegang ke dua bahu Vina.


"Aku tidak amu buat anak banya, aku hanya ingin satu atau dua saja," ucap Kwsha datar.

__ADS_1


Vino menelan ludahnya kasar, dengan dahi sedikit mengernyit.


Kenapa dia mendengar apa yang aku katakan? Ternyata pendengarannya sangat tajam.


Kesha, mengutupkan bubirnya, menarik telinga Vino, berjalan menuju ke ruang keluarga. Tanpa perlawanan dari Vino. Seakan seperti suami-suami takut istri.


Aron yang melihat tingkah mereka hanya bis menggelengkan kepalanya, dan tersenyum tipis.


"Syang sakit!!" rengek Vino.


Kesha melepaskan tangannya, dan kembali bersendekap menatap Vino.


"Syang, kenapa kamu galak sih!" umpat Vino kesal.


Kesha hanya tersenyum, menarik sudut bibirnya sedikit. Melingkarkan ke dua tangannya di leher Vino, sedikit menjijitkan kakinya. Menatap manja pada suaminya itu.


"Syang, kapan kita ke Vila?" tanya Kesha.


"Nanti, lebih baik kita di sini dulu, lagian masih banyak tamu. Yang menikmati jamuan, pesta pernikahan kita. Gak enak kalau meninggalkan mereka, syang!" Jelas Vino, memegang ke dua pinggang Kesha.


"Apa kamu sudah gak sabar ay, mau bulan madu dengan aku syang!" goda Vino, mencubit ke dua pipi menggemaskan Kesha.


"Menurut kamu gimana syang!!" Ucap Kesha, menarik ke dua alisnya ke atas.


"Baiklah, nanti aku akan puaskan kamus yang. Sekarang kamu pergi dulu ya, temui terman-teman kamu." gumam Vino.


"Iya syang!" Kesha menarik tangannya kembali, membalikkan badannya, melangkahkan kakinya pergi, dengan ke dua tangan mengangkat gaun panjang, yang menghalangi jalannya.


--------


Berbeda dengan Vina, yang belum memulai mengucapkan ikrar janji pernikahan dengan Albert.


Vina masih duduk di depan tempat rias, ia menatap wajahnya yang tampak begitu berbeda. Namun pandangannya terhenti, seketika, ia tersenyum. Saat melihat langkah kaki suaminya itu, dari pantulan cermin, berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Syang! Kenapa kamu ada di sini?" tanya Vina, tanpa menatap ke belakang.


"Aku mau melihat wajah cantik, calon istri aku ini," ucap Albert, mendekatkan pipinya, tepat di pipi kanan Vina. Saling menatap wajah mereka di depan cermin.


"Oya, Syang!! Gimana kamu sudah siap?" tanya Albert, menatap istrinya itu dari balik pantulan cermin di depannya.


"Sangat siap syang!! Tapi aku sangat gugup, kamu pegang tanganku ya, tunyun aku berjalan melewati para tamu," ucap Vina, beranjak berdiri, meletakan jemari lentiknya, di wajah Albert, mengusapnya lembut.


"Pernikahan akan segera di mulai, dan Vina merangkul tangan Albert, berjalan keluar dari tempat rias dengan tangan kanan, memegang bunga, berjalan menuju para tamu undangan yang suda bersiap menaburkan bunga untuk mereka.


Semua tamu undangan menatap kearahnya. Tanpa terkecuali sorang wanita cnatik, mantan Albert, Elis dan Aira, yang duduk bersebelahan, dengan tatapan tidak suka.


Aira lebih tidak suka lagi dengan pernikahan mereka. Namun ini bukan akhir baginya, dia akna terus menganggu kehidupan rumah tangganya.


"Syang! Sepertinya mantan kamu itu tidak suka dengan pernikahan kita," ucap Vina, melirik sekilas ke arah Aira, yang terua menatapnya sinis.


"Jangan perdulikan dia! Lagian aku tidak akan tinggal diam, jika dia berani mengusik keluarga kita." gumam Albert tegas. "Lagian, bagi aku sekali aku kenikah, aku akan menjaga pernikahan aku selamanya. Karena penikahan bukalah sebuah permainan, yang bisa seenaknya di mainkan," jelas Alberta, dengan tatapan masih fokus ke deoan, dan tangan kanan memegang tangan Vina yang merengkuh tangan kirinya.


Mereka sampai di depan, dan mulai mengucapkann beberapa janji pernikahan secara bergantian. Dan Vina menatap ke arah Albert, sembari mengucapkan sebuah janji untuknya.


"Aku berjanji akan selalu mencintai Albert, dalam suka maupun duka. Tidak perduli dengan harta, ketampanana, dan derajatnya. Aku mencintai dia karena hati, dan akan selaku menjaga hati ini untuknya." ucap Vina.


"Dan aku juga berjanji akan menjadi istri yang baik untuknya." lanjutnya.


"Aku juga akan selaku mencintai kamu syang, selamanya. Sampai ke dua nata aku tertutup. Dan selama aku masih ada di sini. aku akan selalu menjaga, dan melindungimu." janji Albert, meraih tangan kanan Vina, lalu mengecup punggung tangannya, lembut.


Ia segera meriah cincin yang sudha di siapkan di sebuah nampan kecil, i hiasi pita dan kain putih di bawahnya. Albert memasangkan sebuah cincin berlian di jari manis Vina. Di sambut dengan sorak ria dan tepuk tangan dari para tamu, undangan yang ada.


Albert, memegang pinggang Kesha, menariknya masuk ke dalam dekapan hangatnta, dengan tangan kanan, memegang kepala belakang Vina, menariknya lebih kendekat, membuat sebuah kecupan mesra mendarat dnegan sempurna, Albert ******* dalam bibir Vina, di balas dengan lumatan oleh Vina, dengan ke dua tangan memegang memeluk tubuh suaminya, mengusapnya lembut.


"Makasih syang!!" ucap Albert, melepaskan kecupannya. menatap ke dua mata istrinya itu.


Vina menautkan ke dua alisnya.

__ADS_1


"Makasih, untuk apa?" tanya Vina heran.


"Makasih, karena kamu mau jadi istri aku." ucap Albert, lalu mengecup pipi Vina.


__ADS_2