Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kelembutan Aron


__ADS_3

“Vin!” sapa Kesha, berjalan menghampiri Vino, yang duduk


santai di balkon kamarnya sambil menikmati pemandangan terik matahari siang. Ia


menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya dengan senyum manisnya.


“Tanya apa?” ucap Vino.


“Kenapa Manda melakukan semua pekerjaan rumah seperti


memasak dan mengurus anak sendiri. Padahal mereka punya beberapa pembantu dan


baby sister. Dan padahal di rumah semua ada. Apa yang dia inginkan?” tanya


Kesha duduk di depan Vino.


“ya, aku juga gak tahu. Tapi mungkin dia mau jadi istri yang


mau memanjakan suaminya. Mengusur semua kebutuhan suaminya sendiri. Jadi gak


mau merepotkan semuanya. Hanya saja soal masak dan urus anak. Ia memang tidak


pernah mengijinkan orang lain yang mengurus. Itu dari pandangan aku sendiri,


tapi gak tahu kalau menurut mereka bagaimana.” Gumam Vino.


“Susah juga ya, kalau aku jadi Manda, aku gak mau urus


semuanya sendiri. Masih ada pembantu. Ngapin juga capek-capek.” Ucap Kesha,


meli[pat ke dua tangannya, di atas atas dadanya dengan duduk menyandar di


kursi.


“Emangnya kamu gak mau usur suami kamu sendiri nantinya.


Nanti kalau suami kamu di urus orang lain bagaimana, bahkan lebih di manjakan


orang lain.” Ucap Vino, sedikit menyondongkn tubunya ke depan.


Kesah hanya diam, ia mencoba memutar otaknya utuk berpikir


tantang hal itu. Dalam urusan menjaga anak. Ia masih bisa, kalau mengurus istri


untuk masak dan laian-lain, ia masih belum bisa sama sekali, sifatnya yang


manja dari dulu tidak pernah berubah. Meski Kesha pernah tinggak di kontrakkan


kecil. Ia hanya bisa mencuci bajunya. Dan mengerjakan pekerjaan rumah yang


membuat ia sangat malas. Ia hanya bisa memasak mie dan air.


“Aku tetap gak mau,” ucap Kesha tegas.


“Tapi, aku mau kalau kita nikah nanti, kamu urus semuanya


sendiri tanpa pembantu dan lain-lain.” Ucap Vino, menarik ke dua alisnya.


“Ihh.. memang siapa yan mau menikah dengan kamu?”


“Memang kamu gak mau menikah dengan aku?”


“Gak mau!!”


“Baik kalau kamu gak mau menikah dengan aku, berrati aku


menikah dengan Vina bagaimana?”


Mendengar nama Vina, Kesha beranjak berdiri dengan wajah


terlihat sangat kesal, dan mulai memerah, ia menggertakkan rahangnya. Dengan tatapan


tajam mengarah pada Vino. “Oke, silahkan saja!!” ucap Kesha kesal, ia


melemparkan pandangannya berlawanan Arah.


Vino memegang tangan Kesha, sontak langsung di tepis


olehnya. “Kalau marah sudah ngalah-ngalahin nenek sihir tahu gak,” goda Vino.


“Biarin!!” gumam Kesha, menguntupkan bibirnya beberapa senti


maju ke depan.


“Sudah jangan cemberut terus, anak Manda nangis tu.” Vino

__ADS_1


tersenyum, bergegas berdiri, mencolek bibir Kesha yang masih manyun beberapa


senti.


“Mana enggak” Kesha menggerakan kepalanya ke samping,


menatap ke ranjang Vino, Menatap anak Manda yang masih tenang di ranjangnya.


Sepertinya mereka itu pulas ya tidurnya.” Ucap Vino,


berjalan mendekati Kesha, merengkuh pundak Kesha dari belakang.


“Membuat gadis itu sontak menjatuhkan tangan Vino dari


pundaknya. “singkirkan tangan kamu, sudah sekarang aku mau masuk” ucap Kesha,


dengan senyum tipis terpaut di wajahnya, melangkahkan kakinya mendekati anak


Manda. Melihat lagi wajah menggemaskan anak Manda di ranjang Vino.


“Dasar Kesah, darin dulu masih saja sama, malu-malu. Padahal


aku ingin lebih romantis lagi dengan kamu, tapi kenapa kamu selalu menjauh dari


aku. Tapi, tidak masalah bagi aku, aku akan selalu mengejar kamu, sampai ikamu


benar-benar selalu lengket dengan aku. Da tidak mau jauh lagi dari ku, Kesha.” Batin


Vino, menatap ke arah punggung Kesha yang sudah berjalan menjauh darinya.


-----


Berbeda dengan pasangan suami istri yang lagi sibuk memasak


di dapur.


“Syang!!” ucap Aron, merengkuh pinggang Manda dari belakang,


dengan dagu menyandar di pundaknya. Di balas dengan sentuhan lembut dari jemari


tangan Manda di ujung kepala Aron.


“Kamu ya, selalu saja manja gini. Gak enak syang nanti di


Wajah suaminya itu yang sangat dekat dengannya. Bahkan hembusan napas berat


suaminya itu terasa di wajah Manda.


“Aku mau meluangkan waktu aku buat kamu, sekarang hari


libur. Aku mau bermesraan dengan kamu. Gak apa-apa mereka tahu. Nanti juga


dewasa sama seperti kita” ucap Aron, seketika di balas dengan ikutan manja


Manda di perut Aron.


“Sakit syanga!” gumam Aron.


“Biarin, kamu sih. Anak kita masih kecil gak boleh di


ajarkan seperti ini. Lagian aku juga gak akan bolehkan mereka menikah muda nantinya.


Mereka harus menikah saat mereka semua sudah tubuh dewasa dan Mapan. Jangan


sampai seperti ibunya, yang pernah putus sekolah gara-gara di paksa menikah


dengan orang jahat seperti kamu” ucap Manda, dengan senyum tipisnya.


Aron mengigit manda telinga kanan Manja, dengan tangan


semakin mempererat rengkuhannya. “Siapa bilang aku jahat? Meski aku jahat tapi


sekarang aku tanggung jawab dengan kamu, aku menikahi kamu secara sah dan sampai


punya anak banyak seperti ini” goda Aron, menggoyangkan rengkuhanya manja.


“Iya, deh iya. Tapi meski dulu jahat, aku juga perlahan juga


suka dengan kamu. Sampai aku menikah dnegan orang yang paling jahat yang pernah


menyiksa aku” ucap Manda.


“Syang, nanti ke kamar ya?” bisik Aron lembut.


“Apa syang?” tanya Manda bingung.

__ADS_1


“Mau seperti tadi pagi syang” ucap Aron, dengan jemari


tangan mengusap perut Manda.


“Tangan kamu syang, bisa di kondisikan enggak. Aku lagi


masak. Jadi tolong singkirkan tangan kamu dulu” ucap Manda, memukul tangan Aron


yang sudah mulai merayap nakal.


“Dikit saja syang” ucap Aron.


“Malu syang, nanti kalau ada pembantu kita lewat bagaimana.


Ini di dapur. Nanti saja ya!” ucap Manda malu-malu.


“Baiklah, aku mau lepaskan. Asalkan nanti malam kita lanjut


lagi ya syang. Aku sudah kangen dengan suasana seperti ini syang” ucap Aron,


mengecup pipi istrinya dari samping.


“Iya, deh. Sekarang lepaskan dulu tangan kamu. Aku malu”


gumam Manda.


Aron segera melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya,


ia kembali memegang tangan Manda, membantunya memotong sayuran utuk buat soup


ke dua anaknya itu yang sekarang lagi sibuk main dengan baby sister mereka.


Manda melirik ke belakang, memandang wajah Aron yang semakin


dekat dengannya. “Jangan selalu menoleh ke belakang syang. Fokus ke depan,


berdua bersama aku menjalani masa depan bahagia bersama” ucap Aron, membuat


Manda tediam, dan hanya bisa senyum-senyum malu di buatnya.


“Kalau kamu seperti ini terus, aku gak jadi masak syang,”


gumam Manda.


“Kenapa?”


“Lihat tangan kamu, sentuhan lembut tangan kamu mengalihkan


duniaku. Membuat aku terbuai dalam belaian lembutmu syang. Kamu membuat aku


terasa sesak napas, kalau kamu terlalu dekat denganku.”


“Kenapa kamu masih merasa canggung dengan suami kamu sendiri.


Kita sudah sama menikah sudah hampir lima tahun, dan kamu masih saja menganggap


aku seperti orang lain.” Ucap Aron, berdiri disamping Manda. Ia mulai mebantu


Mnada menyiapkan bahan-bahan yang akan ia buat bumbu untuk masak.


“Ya, karena sekarang kamu gak ada waktu lagi dengan aku.


Waktu kamu selalu tersita oleh pekerjaan” gumam Manda kesal, dengan bibir


sedikit manyun beberapa senti.


“Iya, kalau ada waktu juga belum juga bisa dapat jatah


harian. Buat hilangin rasa jenuh syang, capek pulang kerja. Harusnya suami di


puasin” ucap Aron menggoda.


“Iya, kalau sudah sembuh ya. Aku masih belum berani syang.


Habis melahirkan”


“janji ya!!” ucap Aron ekmbali merengku mesra pinggang Manda


dari belakang.


“Janji, janji seperti anak kecil saja” gumam Manda.


Manda dan Aron segera menyelesiakan masakannya, sebelum ke


dua baby mereka nantinya terbangun, minta asi pada mamanya.

__ADS_1


__ADS_2