
“Vin!” sapa Kesha, berjalan menghampiri Vino, yang duduk
santai di balkon kamarnya sambil menikmati pemandangan terik matahari siang. Ia
menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya dengan senyum manisnya.
“Tanya apa?” ucap Vino.
“Kenapa Manda melakukan semua pekerjaan rumah seperti
memasak dan mengurus anak sendiri. Padahal mereka punya beberapa pembantu dan
baby sister. Dan padahal di rumah semua ada. Apa yang dia inginkan?” tanya
Kesha duduk di depan Vino.
“ya, aku juga gak tahu. Tapi mungkin dia mau jadi istri yang
mau memanjakan suaminya. Mengusur semua kebutuhan suaminya sendiri. Jadi gak
mau merepotkan semuanya. Hanya saja soal masak dan urus anak. Ia memang tidak
pernah mengijinkan orang lain yang mengurus. Itu dari pandangan aku sendiri,
tapi gak tahu kalau menurut mereka bagaimana.” Gumam Vino.
“Susah juga ya, kalau aku jadi Manda, aku gak mau urus
semuanya sendiri. Masih ada pembantu. Ngapin juga capek-capek.” Ucap Kesha,
meli[pat ke dua tangannya, di atas atas dadanya dengan duduk menyandar di
kursi.
“Emangnya kamu gak mau usur suami kamu sendiri nantinya.
Nanti kalau suami kamu di urus orang lain bagaimana, bahkan lebih di manjakan
orang lain.” Ucap Vino, sedikit menyondongkn tubunya ke depan.
Kesah hanya diam, ia mencoba memutar otaknya utuk berpikir
tantang hal itu. Dalam urusan menjaga anak. Ia masih bisa, kalau mengurus istri
untuk masak dan laian-lain, ia masih belum bisa sama sekali, sifatnya yang
manja dari dulu tidak pernah berubah. Meski Kesha pernah tinggak di kontrakkan
kecil. Ia hanya bisa mencuci bajunya. Dan mengerjakan pekerjaan rumah yang
membuat ia sangat malas. Ia hanya bisa memasak mie dan air.
“Aku tetap gak mau,” ucap Kesha tegas.
“Tapi, aku mau kalau kita nikah nanti, kamu urus semuanya
sendiri tanpa pembantu dan lain-lain.” Ucap Vino, menarik ke dua alisnya.
“Ihh.. memang siapa yan mau menikah dengan kamu?”
“Memang kamu gak mau menikah dengan aku?”
“Gak mau!!”
“Baik kalau kamu gak mau menikah dengan aku, berrati aku
menikah dengan Vina bagaimana?”
Mendengar nama Vina, Kesha beranjak berdiri dengan wajah
terlihat sangat kesal, dan mulai memerah, ia menggertakkan rahangnya. Dengan tatapan
tajam mengarah pada Vino. “Oke, silahkan saja!!” ucap Kesha kesal, ia
melemparkan pandangannya berlawanan Arah.
Vino memegang tangan Kesha, sontak langsung di tepis
olehnya. “Kalau marah sudah ngalah-ngalahin nenek sihir tahu gak,” goda Vino.
“Biarin!!” gumam Kesha, menguntupkan bibirnya beberapa senti
maju ke depan.
“Sudah jangan cemberut terus, anak Manda nangis tu.” Vino
__ADS_1
tersenyum, bergegas berdiri, mencolek bibir Kesha yang masih manyun beberapa
senti.
“Mana enggak” Kesha menggerakan kepalanya ke samping,
menatap ke ranjang Vino, Menatap anak Manda yang masih tenang di ranjangnya.
Sepertinya mereka itu pulas ya tidurnya.” Ucap Vino,
berjalan mendekati Kesha, merengkuh pundak Kesha dari belakang.
“Membuat gadis itu sontak menjatuhkan tangan Vino dari
pundaknya. “singkirkan tangan kamu, sudah sekarang aku mau masuk” ucap Kesha,
dengan senyum tipis terpaut di wajahnya, melangkahkan kakinya mendekati anak
Manda. Melihat lagi wajah menggemaskan anak Manda di ranjang Vino.
“Dasar Kesah, darin dulu masih saja sama, malu-malu. Padahal
aku ingin lebih romantis lagi dengan kamu, tapi kenapa kamu selalu menjauh dari
aku. Tapi, tidak masalah bagi aku, aku akan selalu mengejar kamu, sampai ikamu
benar-benar selalu lengket dengan aku. Da tidak mau jauh lagi dari ku, Kesha.” Batin
Vino, menatap ke arah punggung Kesha yang sudah berjalan menjauh darinya.
-----
Berbeda dengan pasangan suami istri yang lagi sibuk memasak
di dapur.
“Syang!!” ucap Aron, merengkuh pinggang Manda dari belakang,
dengan dagu menyandar di pundaknya. Di balas dengan sentuhan lembut dari jemari
tangan Manda di ujung kepala Aron.
“Kamu ya, selalu saja manja gini. Gak enak syang nanti di
Wajah suaminya itu yang sangat dekat dengannya. Bahkan hembusan napas berat
suaminya itu terasa di wajah Manda.
“Aku mau meluangkan waktu aku buat kamu, sekarang hari
libur. Aku mau bermesraan dengan kamu. Gak apa-apa mereka tahu. Nanti juga
dewasa sama seperti kita” ucap Aron, seketika di balas dengan ikutan manja
Manda di perut Aron.
“Sakit syanga!” gumam Aron.
“Biarin, kamu sih. Anak kita masih kecil gak boleh di
ajarkan seperti ini. Lagian aku juga gak akan bolehkan mereka menikah muda nantinya.
Mereka harus menikah saat mereka semua sudah tubuh dewasa dan Mapan. Jangan
sampai seperti ibunya, yang pernah putus sekolah gara-gara di paksa menikah
dengan orang jahat seperti kamu” ucap Manda, dengan senyum tipisnya.
Aron mengigit manda telinga kanan Manja, dengan tangan
semakin mempererat rengkuhannya. “Siapa bilang aku jahat? Meski aku jahat tapi
sekarang aku tanggung jawab dengan kamu, aku menikahi kamu secara sah dan sampai
punya anak banyak seperti ini” goda Aron, menggoyangkan rengkuhanya manja.
“Iya, deh iya. Tapi meski dulu jahat, aku juga perlahan juga
suka dengan kamu. Sampai aku menikah dnegan orang yang paling jahat yang pernah
menyiksa aku” ucap Manda.
“Syang, nanti ke kamar ya?” bisik Aron lembut.
“Apa syang?” tanya Manda bingung.
__ADS_1
“Mau seperti tadi pagi syang” ucap Aron, dengan jemari
tangan mengusap perut Manda.
“Tangan kamu syang, bisa di kondisikan enggak. Aku lagi
masak. Jadi tolong singkirkan tangan kamu dulu” ucap Manda, memukul tangan Aron
yang sudah mulai merayap nakal.
“Dikit saja syang” ucap Aron.
“Malu syang, nanti kalau ada pembantu kita lewat bagaimana.
Ini di dapur. Nanti saja ya!” ucap Manda malu-malu.
“Baiklah, aku mau lepaskan. Asalkan nanti malam kita lanjut
lagi ya syang. Aku sudah kangen dengan suasana seperti ini syang” ucap Aron,
mengecup pipi istrinya dari samping.
“Iya, deh. Sekarang lepaskan dulu tangan kamu. Aku malu”
gumam Manda.
Aron segera melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya,
ia kembali memegang tangan Manda, membantunya memotong sayuran utuk buat soup
ke dua anaknya itu yang sekarang lagi sibuk main dengan baby sister mereka.
Manda melirik ke belakang, memandang wajah Aron yang semakin
dekat dengannya. “Jangan selalu menoleh ke belakang syang. Fokus ke depan,
berdua bersama aku menjalani masa depan bahagia bersama” ucap Aron, membuat
Manda tediam, dan hanya bisa senyum-senyum malu di buatnya.
“Kalau kamu seperti ini terus, aku gak jadi masak syang,”
gumam Manda.
“Kenapa?”
“Lihat tangan kamu, sentuhan lembut tangan kamu mengalihkan
duniaku. Membuat aku terbuai dalam belaian lembutmu syang. Kamu membuat aku
terasa sesak napas, kalau kamu terlalu dekat denganku.”
“Kenapa kamu masih merasa canggung dengan suami kamu sendiri.
Kita sudah sama menikah sudah hampir lima tahun, dan kamu masih saja menganggap
aku seperti orang lain.” Ucap Aron, berdiri disamping Manda. Ia mulai mebantu
Mnada menyiapkan bahan-bahan yang akan ia buat bumbu untuk masak.
“Ya, karena sekarang kamu gak ada waktu lagi dengan aku.
Waktu kamu selalu tersita oleh pekerjaan” gumam Manda kesal, dengan bibir
sedikit manyun beberapa senti.
“Iya, kalau ada waktu juga belum juga bisa dapat jatah
harian. Buat hilangin rasa jenuh syang, capek pulang kerja. Harusnya suami di
puasin” ucap Aron menggoda.
“Iya, kalau sudah sembuh ya. Aku masih belum berani syang.
Habis melahirkan”
“janji ya!!” ucap Aron ekmbali merengku mesra pinggang Manda
dari belakang.
“Janji, janji seperti anak kecil saja” gumam Manda.
Manda dan Aron segera menyelesiakan masakannya, sebelum ke
dua baby mereka nantinya terbangun, minta asi pada mamanya.
__ADS_1