
Keesokan harinya.
Manda, ku buatkan kamu pancake coklat ala Aron, aku buat ini khusus buat kamu. Kamu coba ya!!" ucap Aron, yang mendadak jadi chef hari ini. Ia mengulurkan pancake pertama buatanya untuk Manda.
"Kamu sebelumnya sudah pernah buat pancake syang?" tanya Manda yang ragu dengan makanan Aron ini.
"Belum pernah, tapi coba dulu ya, aku yakin sih kayaknya enak" ucap Aron, memotong sedikit. Dan mulai menyuapi istrinya itu.
"Buka mulut" ucap Aron.
Manda menarik napasnya, Membuka mulutnya. mengunyah, merasakan masakan Aron. Raut wajah yang semula menikmati berubah seketika.
"Kenapa syang gak enak ya?" tanya Aron. "Di buang saja ya?" Aron, menraih panceke-nya kembali dan mencoba membuangnya.
"Padahal tadi aku itu bikin udah sepenuh hati tali masih tetap gak enak." gerutu Aron.
"Syang bentar!! Kamu juga harus coba dulu dong kalau kamu gak coba juga gak bakalan tahu gimana rasanya" Manda menyuapi satu sendok masuk ke dalam mulut Aron yang masih setengah terbuka.
Aron terdiam, merasakan masakannya.
"Enak!!" gumam Aron.
"Gimana rasanya?" tanya Manda dengan senyum tipisnya.
"Lumayan!! Tapi kenapa wajah kamu tadi gitu." ucap Aron.
"Aku mau ngerjain kamu.." ucap Manda.
"Kita makan bersama ya syang, lagian juga aku gak habis kalau makan sendiri" lanjutnya.
"Kamu makan sendiri saja syang." jawab Aron.
"Mama!! Papa!! Teriak Duke dan Lia kompak, berjalan masung dengan tangan memegang satu piring pancake yang sama dengannya.
"Duke, Lia kalian dari mana?" tanya Manda.
"Dari kamar, tadi bibi anterin ini buat aku dan Duke jadi Lia langsung ke sini ma" ucap Lia.
"Gimana enak gak?" tanya Aron, mengusap kepala anaknya bergantian.
"Enak banget pa!! Ini buatan papa ya, makasih ya sudah buatkan Duke dan Lia kue enak ini" ucap Duke melanjutkan makanya menikmati kue buatan Aron.
"Kalau kalian suka, papa kapan-kapan akan biatkan lagi untuk kalian" ucap Aron.
Manda yang semula tersenyum, ia terdiam, memegang perutnya yang tiba-tiba merasa sangat mules. Aron segera meletakkan kuenya di atas meja, lalu memegang ke dua bahu Manda.
"Syang, sakit banget" ucap Manda, yang semakin tidak bisa menahan rasa sakitnya.
"Syang perut aku kenapa mules" lanjut Manda terus mengusap, perutnya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
"Apa kamu mau lahiran syang?" tanya Aron yang sudah mulai panik.
"Gak tau syang, lebih baik kamu panggil dokter saja syang. Aku gak mau lahiran di rumah sakit. Aku lahiran di rumah saja ya" ucap Manda.
Aron mulai panik, melihat Manda terus menjerit kesakitan, ia segera menghubungi Kesha untuk membawa Duke dan lia lebih dulu. Agar tidak terlalu khawatir dengan mamanya.
"Baik, tahan syang. Aku akan segera telpon dokter." ucap Aron, segera meraih ponselnya menghubungi Dokter langganan Manda biasanya.
"Pa!! Mama kenapa?" tanya Lia.
"Kalian jaga mama sebantar ya syang, papa mau menyiapkan semuanya" ucap Aron dengan langkah terburu-buru keluar. Mereka segera bilang pada para pembantunya untuk menyiapkan keperluan lahiran Manda.
Selesai semuanya Aron segera kembali, sembari nunggu dokter. Ia memegang tangan Manda erat. Dan lengan kirinya jadi tumpuan kepala Manda.
Jemari tangan Aron tak berhenti mengusap kepala Manda.
"Syang sakit!! Mana dokternya" ucap Manda.
"Iya, bentar syang. kamu sabar ya. Tarik napas dulu, keluarkan pelan-pelan." ucap Aron memberi aba-aba pada Manda. Napas Manda semakin tak bisa beraturan, rasa sakitnya semakin menjalar di seluruh tubuhnya. Kontraksi demi kontraksi terjadi, membuat nyawa Manda semakin di ujung tanduk.
"SYANG SAKIT!!!" ucap Manda memegang erat tangan Aron, mencengkramnya sangat erat.
Tak lama dokter perempuan yang biasa jadi langganan Manda untuk check up, ia datang dengan dua perawat yang menemaninya. "Dok cepat!! Manda sudah kesakitan dok. Tolong cepat tangani dia dok" ucap Aron, yang sudah tidak tega melihat istrinya yang terus merintih kesakitan.
"Pa!! Mama kenapa? Mama gak papa kan pa" tanya Lia, dan Duke yang menangis memegang tangan Aron.
"Mama kamu mau lahiran syang, jadi adek baru kalian akan keluar. Sekarang kalian ikut lapa kaluar dulu ya, kalian sama tante Kesha." ucap Aron, ia segera mengirimkan pesan pada Kesha untuk segera datang.
"Dia masih di dalam, semoga cepat lahiran. Aku mau temani dia. Kamu jaga Duke dan Lia di luar" ucap Aron, yang tidak bisa tenang, ia langsung masuk kembali ke kamarnya. Menemani Manda melahirkan untuk yang ke dua kalinya.
Setengah jam berlalu, teriakan demi teriakan Manda terdengar, membuat anak-anak Manda, yang berdiri di luar. Semakin menangis sejadi-jadinya. Kesha segera membawa anak-anak Manda ke rumahnya.
"Tante, mama sudah selesai melahirkan. Kenapa mama teriak kesakitan tante?"tanya Lia, yang masih menangis tidak tega, ia kehilangan ibu kandungnya. Ia juga tidak mau kehilangan mamanya yang selalu menyanyanginya.
Setelah melewati perjuangan panjang, yang membuat nyawa Manda di ujung tanduk. Suara tangisan bayi terdengar lantang di seluruh penjuru rumah. Tangisan kerasnya membuat Duke dan Lia tersenyum gembira.
"SAKIT!!!" Teriak Manda membuat seisi rumah tangisan anak ke dua manda mulai pecah, menggelegar setiap sudut rumah.
"Tante adim Duke ada dua?" tanya Duke polos.
"Sepertinya begitu syang" ucap Kesha.
"Tante, Aku boleh melihat mama sekarang? tanya Lia, "Lia sudah gak sabar mau lihat adik baru" lanjutnya.
"Entar dulu syang, kita nunggu dokter pulang dulu ya" Kesha tersenyum tipis.
Kesha terdiam, memikirkan nasib cintanya yang entah di bawa kemana. Di usianya yang lebih tamua dari Manda. Tapi ia masih juga belum menikah dan punya anak. Sedangkan Manda sudah punya tiga anak dan satu anak angkat. Keluarga mereka sudah lengkap.
"Kesha!!" panggil Vino, berlari ke arah kesha, membuat ia tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Vino!! Kenapa kamu bisa tahu jika aku di sini?" tanya Kesha.
"Aku tanya pembantu tadi, dan aku dengar suara tengisan bayi. Apa Manda sudah lahiran" tanya Vino.
"Sudah, dari tangisannya. Anak Manda kembar" ucap Kesha, menundukkan kepalanya.
Di sebuah pantai, Sesuai isi pesan dari Manda Vina dan Albert sampai di hotel di mana dia akan menginap. Vina berjalan dengan santainya, tangan kanan memegang ponselnya, ia mencoba menghubungi Manda dari tadi. Namun tidak ada jawaban sama sekali.
Bruukkkkk..
Pyukkkk
Satu gelas kopi hangat di tangan seorang pria tumpah di bajunya.
"Shittt.. Apa kamu gak punya mata?" Ucap Vina meninggikan suaranya.
"Kamu yang gak punya mata, mata itu buat lihat ke depan bukan lihat ke ponsel" ucap Albert meninggikan suaranya.
"Kamu lagi, kamu lagi" ucap Vina, menggertakkan rahanya menatap tajam ke arah Albert.
"Kamu pasti mengikutiku ya?" tanya Albert, menarik alisnya ke atas.
"Eh.. Jangan percaya diri ya, siapa juga yang mengikutimu. Dasar cowok nyebelin" ucap Vina, menghentakkan kakinya, pergi meninggalkan Albert dengan baju yang di yang sudah kotor, tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Arrgggg... Dasar cewek murahan, aku benar\-benar kesel banget selalu bertemu dengan dia" ucap Albert kesal.
Vina berjalan masuk ke dalam hotel.yang sudah di pesan oleh Aron.
__ADS_1
"Manda di mana ya? Kenapa dia gak ada di sini. Apa dia belum datang?" tanya Kesha, membaringkan tubuhnya