
“Albert, turunkan aku sekarang.” Ucap Vina, yang tak
berhenti merengek pada Albert.
“Tuan, silahkan.” Ucap sopir Albert, yang sebelumnya sudah di hubungi oleh Albert. Jika dia akan pulang ke Paris. Dan dia sudah menunggu hampir satu jam di depan.
“Iya,” Albert segera menjatuhkan Vina di tempat duduk belakang mobilnya.
“Antarkan aku ke apartement” ucap Albert, duduk di samping Vina, menyandarkan punggungnya.
“Bisa pelan gak kalau jurunkan aku, sakit tahu.” Gumam Vina kesal.
“Sudah duduklah dan diam.” Ucap Albert.
“iya, aku akan diam, kalau kamu mau antarkan aku pulang ke rumah aku. Aku gak mau ikut kamu, Albert.” Ucap vina tegas.
“Aku gak mau!!” jawab Albert datar.
“kalau kamu gak mau diam, aku akan tutup mulumu nanti.”
“Coba saja kalau bisa,”
“kamu nantang aku?”
“Iya,” ucap Vina melebarkan ke dua matanya.
“Kamu itu gak bisa apa satu hari bertemu gak bikin masalah dengan aku. Kadang kamu baik, kadang ngeselin. Dan..”
Benda kenyal tiba-tiba mendarat dengan sempurna di bibir Vina, membuat mulut gadis itu terbungkam, tak bisa melanjutkan ucapannya.
“Emm.. emm..” Vina mencoba melepaskan kecupan Albert yang semakin dalam, ia memukul bahu Albert berkali-kali.
“Albert lepaskan!!” Vina mendorong keras dada Albert, menjauh darinya.
Dengan napas yang masih ngoa-ngosan ia mengusap bibirnya dengan punggung tanganya. Membuang bekas kecupan Albert yang menggila.
“Kenapa kamu mendorongku.”
“Dasar gila!!” ucap Vina kesal, mentap tajam ke ara Albert.
“Bukanya yang suruh aku untuk menutup mulutmu agar tyidak banyak bicara. Lagian aku muak mendengarkan kamu banyak bicara dari tadi.” Ucap Albert, mengusap bibirnya dan duduk kembali dengan tenang, ia mengambil ponselnya di saku jaket yang ia miliki.
Terpikir ide lagi dalam benak Vina. Sebuah ide yang memuat Albet mungkin bis akesal dengannya.
Tanganya dengan cepat meriah ponsel Albert di tanganya.
“Vina, kembalikan!!” ucap Albert, melirk tajam ke arah Vina.
“Kemablikan gak?’
"Gak mau,” Vina menyembunyikan ponsel Albert di balik punggungnya.
“Kalau kamu gak mau aku berbuat macam-macam denganmu, maka kembalikan cepat.” Ucap Albert, emngulurkan tanganya ke depan.
Vina hanya tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, kalau memang gak mau serahkan. Jamgan salahkan aku.” Ucap Albert, mendekatkan tubuhnya, ke tubuh Vina, membuat gadis itu terpojok di pinggir pintu.
“Apa yang akan kamu lakukan?” ucap Vina was-was, dengan hembusan napas semakin cepat.
Albert hanya diam, memegang paha Vina, mengusap rok pendek yang ia kenakan.
“Lepaskan tangan kamu,” ucap Vina, memegang tangan Albert.
__ADS_1
“Kalau kamu gak mau ekmbalikan, maa aku akan lebih dari ini.”
“ini di mobil, apa kamu gak malu.” Uca[ Vina, melirik ke arah sopir, yang dari tadi menahan matanya, untuk tidak melihat ke belakang.
“Kembalikan dulu, ponselku.” Ucap Albert.
“Iya, aku kenbalikan. Tapi kamu menjauh dulu dariku.”
Albert tersenyum, ia mendekatkan bibirnya, mengendus di leher Vina, gadis itu geli di buatnya.
“Albert lepaskan,” ucap Vina, mencoba mendoeong tubun Albert.
Laki-laki itu hanya diam, mengecup leher Vina.
Gadis itu mencengkram erat tangan Albert, menahan gejolak yang ia rasakan.
“Makasih,” ucap Albert, menyudahi kecupannya hingga meninggalkan bekas merah di leher Vina.
“Dasar otak mesum” umpat Vina kesal.
Albert meraih ponselnya, da mulai tak perhatiakan Vina di sampingnya. Yang terus berdecak kesal tak hentinya.
```````
Di sisi lain.
Di ruang tamu berkumpul keluarga kecil Manda, ia bermain dengan ke dua anaknya sambil menjaga dua baby kecilnya itu sendiri. Dan Aron
sudah berangkat kerja dari tadi.
“Hay, Da.” sapa Kesha, yang langsung duduk di samping Manda.
“kamu gak pergi dengan Vino, bukanya kalian akan segera menikah?” tanya Manda.
“Lebih, bak kalian secepatnya saja menikah.” Ucap Manda.
“Maunya begitu da, tapi..” ucap Kesah, mengerutkan bibirnya, dengan kepala sedikit menunduk.
“Tapi, kenapa?”
“Aku masih ragu dengannya. Lagian kalau dia memang mau ajak nikah aku. Ya, secepatnya saja menikah. Kenapa sekarang malah gantung gini kan.”
Ucap Kesha kesal.
Manda tersenyum tipis, “Lagian kamu juga. Vino sudah mau ajak kamu nikah secepatnya, tapi kamu gak jawab. Dan memberi dia kepastian mau
tidak.”
Kesha menarik satu sudut bibirnya, ia hanya diam, mendengar.ucapan Manda itu, seakan membungkam mulutnya.
“Sudah, sekarang lebih baik kamu temui Vino.” Lanjut Manda.
“Memangnya dia, di mana sekarang?” tanya Kesha antusias.
“Dia sekarang di dalam kamar, entah sudah bangun apa belum.” Ucap Manda.
“Apa kemarin dia gak langsung tidur. Sudah jam segini belum juga bangun?”
“Entahlah, aku juga gak tahu.” Ucap Manda “Sudah cepat bangunin sana, kalau memang dia belum bangun. Tapi, memang biasanya dia bangun
pagi dan kadang ikut ke kantor Aron. Dan hari ini dia belum keluar sama sekali dari kemarin,”
“Ya, sudah aku tunggu di sini saja, sambil jaga anak kamu.”
__ADS_1
“gak usah, anak-anak sudah ada baby sister mereka. Aku juga gak terlalu repot sudah ada yang bantuin aku jaga anak-anak. Sekarang kamu cepat
pergi temui Vino.” ,Anda menarik tangan Kesha agar segera berdiri.
“Baiklah, gak apa-apa kan aku tinggal.” Ucap Kesha merasa tidak enak dengan Manda.
“Sudah sana, pergi.” Jawab Manda, dengan senyum tipisnya.
Semoga kamu cepat menikah dengannya, agar tidak ada yang tersakiti lagi nantinya. Aku gak mau
melihat kalian sama-sama tersakiti nantinya.
```````
Kesha berdiri di depan pintu kamar Vino, dengan tangan yang sudah memegang gagang pintu, ia memutarnya, membuka sedikit pintu kamarnya,
dengan sebagian badanya masuk ke dalam. Pandangan mata berkeliling menatap
ruangan kamar itu, terlihat Vino, masih berbaring di ranjangnya dengan selimut tebal menutupi sebagian tubunnya.
Kesha menarik sudut bibirnnya, beberapa detik, ia
mengembangkan bibirnya membantuk sebuah senyuman.
“Dasar Vino, jam segini kamu beum juga bangun.” Gumam Kesha menggelang-gelengkan kepalanya, melangkah masuk ke dalam kamar Vino, dengan
langkah sangat hati-hati. Ia tidak mau membuat Vino terbangun lebih dulu.
Kesha duduk di samping ranjang Vino, mengusap lembut rambutnya. “Dia kalau tidur lucu juga ya. Apalagi kalau menikah nanti aku
setiap hari aku melihat wajah ini nantinya.” Gumam Kesha. Mengusap lambut wajah Vino, membuat laki-laki itu seketika sadar dan memegang tangan Kesha, meletakkan di pipi kirinya.
Kesah mencoba melepaskan tanganya. Namun, cengkraman tangan Vino semakin erat. Merlihat wajah yang menggemaskan Vino, kesah mencoba
menynetuhnya lagi, ia mengusap bibi Vino, memhecupnya perlahan. Membuat Vino
sontak terkejut dan membuka matanya lebar, menarik tubuh Kesha dalam
dekapannya.
“Vino, kamu pura-pura tidur?” tanya Kesah, mengerjapkan matanya terkejut.
Vino hanya diam, memegang pinggan Salsa semakin erat, membalikkan tubuh gadis itu di bawahnya. “Kamu beraninya, menciumku duluan
sekarang.” Ucap Vino menggoda.
“Siapa yang menciumu kamu,” jawab Kesha memalingkan pandangannya beralawanan arah.
Vino memegang dagu gadis itu, menariknya agar menatap ke arahnya. Ia mendekatkan wajahnya, merasakan hembusan napas Kesha yang berpacu
sangat cepat. “Kenapa kamu grogi. Emmm.. apa kamu takut jika aku akan menyentuhmu.” Ucap Vino menggoda.
“Enggak, siapa juga yang takut. Aku hanya...” Kesha
menghentikan ucapanya dan segera mendorong tubuh Vino menjauh darinya. Dan segera berdiri kembali dari ranjang Vino.
“Ehh.. kamu mau kemana?” Vino menarik kembali tangan Vina, hingga jatuh ke ranjangnya, lalu mengunci kembali ke dua tanganya di atas
kepala.
“Vino, apa yang kana kamu lakukan. Jangan gila ya” ucap Kesha.
Vino menautkan ke dua alisnya. “Siapa juga yang gila. Aku hanya ingin bermain sebentar, Kesha.” Ucap Vino.
__ADS_1