Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kehidupan baru


__ADS_3

"Syang"panggil Manda, berjalan menghampiri Aron yang sibuk dengan laptopnya, duduk di ruang kerjanya.


"Iya syang ada apa?" tanya Aron, ia sibuk menyiapkan berbagai proposal yang akan di ajukan pada Clientnya nanti. Karena yang ia rintis adalah perusahaan baru, ia tidak mau salah dalam menarik investor ke perusahaannya. Aron benar-benar bekerja keras membangun perusahananya. Ia berjuang dadi nol lagi, merintis usaha baru.


"Kamu mau gak, aku buatkan kopi syang?" tanya Manda, menyentuh pundak Aron.


Aron menatap ke arah Manda, memegang tangan Manda di pundaknya.


"Gak usah syang, aku sudah mau selesai kok. Tinggal beberapa saja yang harus aku selesaikan. Dan setelah itu aku mau ajak kamu jalan-jalan nanti, keliling kota"ucap Aron, tersenyum memandang istrinya itu.


"Beneran syang?"ucap Manda yang terlihat sangat gembira melihat Aron yang tiba-tiba ingin ajak dia jalan-jalan. Sudah hampir 3 bulan ia pindah belum sama sekali Aron ajak dia jalan-jalan. Dan Aron juga sangat sibuk dengan pekerjaannya yang semakin menumpuk. Dan jarang ada wakyu buat dia.


"Iya syang, aku mau ajak kamu jalan-jalan melihat kota, kasihan kamu di rumah terus belum pernah keluar. Pasti kamu bosen kan?"ucap Aron, mengusap pipi Manda yang menggemaskan.


"Wah.. makasih syang. Tau saja kalau aku bosan di rumah. Tapi aku mau foto-foto juga ya syang. Dan sekalian entar belanja kebetuhuhan buat anak kita, dan kebutuhan stok makanan di rumah kita yang sudah hampir habis"ucap Manda, pada Aron seakan sudah mencatat semua kebutuhan mereka di otaknya.


"Baiklah syang, sekarang kamu mandi dulu, dan ganti baju, aku akan segera ke kamar nanti"ucap Aron.


"Baiklah"ucap Manda mengecup pipi Aron, dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke  kamarnya, yang tidak jauh dari ruang kerja Aron.


Aron terdiam, ia mengingat tentang Vino, bagaimana kabar dia sekarang, apa dia baik-baik saja sekarang, atau dia dan Kesha memang sudah menikah meski tanpa restu dari kakanya. Sudah 3 bulan Vino tidak memberi kabar, dan Aron tidak tahu di  mana tempat tinggal Vino di Sydney. Dan Kesha juga tidak pernah menghubungi Manda, dan sekalian ia ajak jalan-jalan Manda untuk mencari Vino di kota. Siapa tahu memang mereka bertemu Vino di jalan nantinya.


"Maafin aku Vin"gumam Aron, penuh penyesalan dalam dirinya.


Aron bangkit dari duduknya, berjalan menuju ke kamarnya. Yang hanya berjarak 10 langkah dari ruangan kerjanya.


"Syang kamu sudah siap?" tanya Aron. Karena memang ini hari minggu, Aron bebas dari kerjaan kantor, jadi ia bisa jalan-jalan keluar dengan Manda. Dan kebetulan juga sekarang tidak ada lembur pekerjaan yang menumpuk.

__ADS_1


Aron memegang dadanya, yang terasa melilit lagi.  menusuk ke lambungnya. "Kenapa lagi, kenapa sakit banget"ucap Aron, menundukkan kepalanya menahan sakit yang semakin menjadi.


Karena tidak pernah terapi atau melakukan pengobatan khusus ke rumah sakit. penyakitnya sering kambuh dan lagi ia hanya menghilangkan rasa nyerinya dengan obat. Dan itu juga tidak bertahan lama.


Aron tidak mau ke dokter, karena memang ia tidak mau membuat Manda khawatir dengan kondisinya yang semakin buruk. Sebenarnya penyakitnya bisa di atasi jika dia dapat di tangani dokter dengan baik, di rumah sakit. Namun Aron lebih memilih terapi obat agar dia bisa menjaga Manda dan kerja untuk menghidupi istrinya.


Manda membuka pintunya, melihat Aron yang measih menundukkan kepalanya. "Syang kamu kenapa?" tanya Manda, memegang tangan Aron.


"Gak apa -apa syang, aku ambilkan air"ucap Aron lirih.


Manda segera menuntun tubuh Aeon duduk di ranjangnya. Dengan segera ia mengambil air putih di dapur. Saat Manda pergi ini kesempatan Aron untuk minum obat, agar rasa nyerinya bisa hilang lagi.


"Syang ini airnya"ucap Manda.


"Hati-hati syang jangan lari-lari, ingat kandungan kamu sudah semakin membesar tu"ucap Aron, yang masih memegang perutnya kali ini.


"Syang aku panggil dokter ya"ucap Manda, yang masih panik. Dengan segera ia membuka lemarindan ambil jaket untuk ia kenakan ke pada Aron.


Aron memegang tangan Manda. Mengusap lembut pipi kirinya.


"Jangan syang, aku gak apa-apa kok"gumam Aron dengan senyum tipisnya.


"Udah ayo kita pergi"lanjut Aron.


"Tapi syang kamu masih sakit, besok saja ya perginya."ucap Manda. Bahkan Aron hanya menyapanya bingung dengan istrinya itu.


"Besok aku kerja syang, dan hanya hari ini aku ada waktu. Gimana kamu mau keluar sekaranga tau enggak?" tanya Aron, menatap ke arah Manda, ia menahan sakitnya demi ajak Manda jalan-jalan. Ia tidak mau membuat istrinya itu stres di rumah terus dengan pekerjaan rumahnya.

__ADS_1


"Gak usah, kamu sakit gitu. Lebih baik kamu periksa ke dokter syang"ucap Manda, yang duduk di samping Manda.


"Syang aku gak sakit, aku hanya nyeri saja gak apa-apa kok, sudah sekarang ayo pergi, keburu siang nanti."ucap Aron, memegang tangan Manda, mengajaknya berdiri dan segera melangkahkan kakinya pergi dari kamarnya.


"Tapi syang benar kamu gak apa-apa. Aku gak mau kamu kenapa-napa nantinya"gumam Manda, yang tak berhenti memandang Aron.


"Syang, aku itu ingin belanja kebutuhan anak aku juga. Aku dan desain kamar buat anak kita. Besok akan segera di lakukan renovasi jadi aku juga harus memilih apa yang cocok syang untuk hiasan kamarnya"ucap Aron, memegang ke dua pipi Manda. "Sudah syang jangan khawatir lagi, aku gak apa-apa kok. Aku sekarang sudah sehat kembali"Manda hanya diam, menatap Aron yang terlihat begitu lesuh, entah ia mungkin terlalu capek atau punya penyakit lainnya.


"Baiklah, aku harap kamu benar-benar sehat beneran ya syang"gumam Manda.


"Iya, syang."ucap Aron.


Mereka segera masuk ke dalam mobilnya. Pergi berkeliling kota Sydney, mereka berharap ingin melihat kita yang baru beberapa bulan ia tempati itu.


"Kita kemana syang?" tanya Manda menatap pemandangan sekitar, kita yang begitu nyaman baginya.


"Kita ke jembatan Harbaur ya syang, sekalian ke gedung opera, kamu bisa foto-foto di sana, pemandangannya bagus syang. Kalau mau ke tampat lainnya. Lain waktu kalau aku ada cuti ya syang. kita keliling lagi."ucap Aron.


"Baiklah syang, aku ikut kamu. Bisa pergi berdua jalan-jalan dengan kamu saja aku sudah senang, karena kamu bisa memberi waktu luang kamu untuk keluarga kecil kita"ucap Manda, tersenyum menatap Aron di sampingnya. Yang masih fokus mengemudi.


"Oya, syang gimana Vino? Apa dia belum menghubungi kamu?"Tanya Manda, yang tiba-tiba teringat dengan Vino.


"Belum syang, entah kemana perginya dia. Kita di kita yang sama, tapi aku belum pernH melihat Vino di sini. Nomor ponselnya juga tidak bisa di hubungi."ucap Aron, yang terlihat pasrah dengan adiknya itu.


Manda menepuk pundak Aron, menvoba menguatkan suaminya itu. "Aku yakin Vino pasti baik-baik saja syang, jangan terlalu khawatir dengan dia. Aku yakin dia pasti semakin hari semakin tubuh jadi dewasa."ucap Manda.


"Iya syang semoga saja dia bisa mengerti"ucap Aron.

__ADS_1


__ADS_2