
Kecupan lembut di telinga Manda membuatnya geli. Hebusan napasnya kini mulai tak beraturan.
Manda memegang tangan lelaki itu yang menyangkut di matanya. membuatnya tak bisa berkata apa-apa, kehangatan tubuhnya bisa ia rasakan jelas. Desiran napas berat yang terdengar jelas di telinganya. "Aron?" Ucap Manda.
Ia bisa menebak jika itu adalah Aron dari tangannya, tangan yang biasa menyentuhnya. Tangan yang biasa mendekapnya dulu. Dan napas ini adalah yang sama saat mereka bersama dalam setiap malam.
Aron melepaskan tangannya.
"Kenapa kamu bisa menebakku" gumam Aron beranjak duduk di samping Manda.
Wanita itu hanya terdiam, ia menatap ragu pada Aron, apa ini mimpi, apa aku sekarang sedang tidur, gumamnya lirih.
Manda tak henti menatap wajah Aron di sampingnya, yang duduk santai bersandar dengan tangan terlentang di atas sofa dan kaki menyilang.
Tess.. butiran air mata jatuh tepat mengenai ujung bajunya. Di saat ia memutuskan untuk pergi Aron kembali membaik. "Tapi kenapa?, Kenapa dia kembali lagi! Kenapa?" Ia terus bertanya-tanya dalam dirinya.
Aron yang sudah 3 hari cuek, berubah drastis menjadi Aron yang biasanya lembut, romantis dan juga menyayanginya. Kelembutan yang sebenarnya sangat ingin ia rasakan saat ia sedang hamil seperti ini. Tetapi ia masih tak menyangka, Ini benar-benar seperti mimpi bagi Manda.
Lelaki itu mengangkat satu kakinya ke atas sofa, duduk miring menghadap ke arah Manda. Ia memegang ke dua bahu Manda.
"Maaf ya!" Pungkas Aron lirih, sembari melayangkan kecupan lembut di pipi Manda.
Manda masih tak percaya dengan semuanya, ia mencubit ke dua pipinya, masih sakit. Namun ia masih tak percaya, ia cubit lagi ke tangannya lebih keras. Baru ia yakin jika ini nyata.
"Aww.. ternyata ini bukan mimpi"gumamnya.
Ia mencoba tersenyum lagi pada Aron, meskipun terasa berat, karena begitu sakitnya kemarin yang ia rasakan. Padahal itu hanya di cuekin, bukan di tinggalkan selamanya. Namun rasa takut itu masih terasa membekas dalam hatinya.
Manda menepis tangan Aron dari bahunya, ia menyeka air mata yang tiba-tiba menetes, karena terbawa suasana hatinya saat ini.
Perasaan yang senang kini, menjadi sebuah Amarah, saat Manda ingat gimana di saat ia sedang sakit Aron pergi entah kemana.
"Kenapa kamu kembali lagi?, apa sudah lupa dengan semua yang kamu lakukan 3 hari kemarin?, atau kamu sudah berubah oikiran sekarang!, Atau Fany sudah menyakitimu dan sekarang kamu seenaknya balik lagi denganku!."ucap Manda beranjak berdiri. Dengan tangan punggung tangan menyeka air matanya.
Aron tersenyum tipis, ia memegang ke dua tangan Manda. Mencium lembut tangannya.
__ADS_1
"Sekarang aku akan selalu bersamamu, di manapun dan sampai kapanpun"gumamnya. Dengan tangan kanan memegang pipi Manda.
Lelaki dengan balutan kemeja hitam itu, beranjak berdiri, memegang pipi Manda yang masih terasa basah karena tetesan air matanya.
"Sekarang jangan pernah meneteskan
air mata kesedihanmu itu lagi, semua yang aku lakukan hanya untuk kamu. Aku melakukan itu untuk menjebak Fany, dan maaf aku harus mengorbankan hati dan perasaanmu. Tapi setidaknya kita sekarang akan selalu bersama dan bahagia" gumam Aron, memeluk erat tubuh Manda.
Dekapan hangat ini ia rasakan lagi, saat 3 hari ia tidak merasakan belaian tangan kekar Aron. Kini semua terulang lagi, semoga ini bukan mimpi dan akan selamamya hubungan kita seperti ini, gumam Manda.
Manda tak bisa menahan kesedihannya lagi kali ini. Air matanya semakin tumpah tak terbendung. "Kenapa kamu tidak bilang dari awal" gumamnya.
Aron melepaskan peluakannya, ia masih memegang ke dua bahu Manda. "Sudah jangan bahas itu lagi, aku akan cerita nanti tapi tidak sekarang. Aku ingin sekarang ajak kamu jalan-jalan"Ucapnya dengan raut wajah penuh dengan senyuman lebar.
Manda terdiam, tiba-tiba ia teringat dengan bayi di perutnya nanti. "Apa dia tidak tahu jika aku hami?"batin Manda dalam hatinya, ia terus menunduk dan beranjak duduk di sofa kembali.
Aron nampak bingung dengannya, tadi ia menangis, sekarang raut wajahnya terlihat muram. "Sebenarnya kenapa dengannya" lian yin terus bergumam dalam hatinya. Menatap aneh wajah istrinya itu.
"Apa kamu gak mau?"tanya Aron, duduk di samoing Manda.
Aron tiba-tiba memegang perut Manda, msmbuTnya sontak terjingkat dari duduknya. "Apa yang kamu lakukan?" Bentak Manda refleks, karena rasa takutnya jika baby dalam kandungannya kenapa-napa nantinya. Apa lagi Aron belum tahu jika di dalamnya ada anaknya.
"Kenapa kamu menyembunyikannya?" Tanya Aron.
Manda bingung seketika, apa maksud kata-kata Aron. Apa dia sudah tahu semuanya?. Tapi dari mana dia tahu? Apa diam-diam dia mengikutiku dan cari tahu sendiri?. Banyak pertanyaan muncul di dalam diri Manda.
Berbagai pertanyaan tentang Aron. Ifatnya yang tidak bisa di tebak itu. "Apa maksudmu?" Ucap Manda.
"Syang, jujurlah sekarang apa yang kamu sembunyikan dariku"Ucap aron menarik tangan Manda, agar duduk di sampingnya.
Manda masih terdiam, ia ragu jika cerita dengan Aron, ia takut jika Aron suatu saat akan melakukan hal yang sama dengannya kemarin. Ia ingin membesarkan dia sendiri nantinya. "Aron tidak boleh mengetahuinya, cukup aku dan kesha, sebaiknya aku rahasiakan ini dulu pada Aron" gumamnya.
"Kenapa kamu diam?" Ucap Aron menarik dagu manda, untuk menatap Matanya.
Manda mencoba tersenyum kali ini, gar dia tak curiga. "Oh maskud kamu rahasia saat tadi di rumah sakit" ia berpikir sejenak "hm.. itu aku hanya periksa kenapa tidak datang bulan bulan lalu. Eh. Tapi ternyata itu hal yang wajar bagi wanita suka telat datang bulan" lanjut Manda tersenyum lebar, bersandar di sofa dengan tangan meraih sebuah majalah di meja, lalu membukanya , lembar demi lembar. Tetapi ia tidak membacanya. Hanya melihat gambar yang terlihat dewasa membuat matanya terbelalak seketika. ia mencoba menghilangkan rasa ragunya, eh, malah dapat gambar hoy membuat ia merasa malu kali ini.
__ADS_1
Aron mengerutkan keningnya, ia tersenyum tipis melihat wajah Istrinya itu yang nampak sudah mulai memerah kali ini, melihat majalah itu.
"Apa benar?" Ucap Aron, Ia masih napak ragu dengan apa yang di ucapkan istrinya itu.
Manda menutup majalahnya, yang dari tadi hanya ia lihat-lihat saja si. Ia mendekatkan wajahnya hanya berjarak 2 jari dari hadapan Aron. "Apa kamu tidak percaya dengan istrimu sendiri?" Gumam Manda lirih. Dengan kedipan mata menggoda ke arah Aron.
Bukan jawaban yang manda dapatkan namun sebuah kecupan bibir, membuatnya ya terdiam seketika. Ia mengedipkan matanya tak terduga. Ingin rasanya meronta kali ini. Entah kenapa ia rasanya ingin sekali muntah, jika menerima bibir Aron.
Wajah Manda mulai memerah tak bisa menahan rasa ?mual perutnya yang semakin menjadi, rasanya mulut sudah penuh ingin muntah kali ini, ia mendorong tubuh Aron menjauh darinya, hingga terpental, bersamdar di sofa.
Manda beranjak berdiri menutup mulutnya, ia berlari sekencang mungkin nenuju ke kamar mandi. "Kenapa aku jadi sensitif gini"gumam Manda.
Brookk...
Suara keras Manda menutup pintu kamar Mandi ruang tamu, sontak membuat Aron terjingkat dari duduknya.
"Kenapa dia?" Gumamnya.
Lelaki dengan mata bulat itu beranjak berdiri mencoba melihat keadaan Manda.
Hueekk....hueekk..
Merasa sedikit lega, manda mengusap lembut dadanya berkali kali, dengan punggung bersandar di wastafel belakangnya.
"Kesha mana lagi sih!, kenapa dia belum pulang?, kemana Vino mengajaknya pergi" gumam Manda tak hentinya. Ia ingin cerita dengan Kesha dan berharap ia tahu kenapa kondisinya jadi gampang muntah kini. Ia merasa perutnya terasa mual-mual, dan agak sedikit pusing.
Brokk..brokk..
"Manda kamu kenapa?" Aron terus menggebrak pintu kamar mandi itu dengan keras, seakan mau merobohkan sekalian pintunya. Membuat Manda yang tadinya melamun, terjingkat dan tersadar dari lamunannya.
"Aku gak papa" teriak Manda di dalam kamar Mandi itu.
"Kalau gak kenapa-napa, sekarang cepat keluar. Aku mau lihat kondisimu" Teriak Aron. Ia terus menggedor pintu kamar Mandi Manda.
"Iya sebentar, aku masih mau buang air kecil" Manda mencoba berbohong kali ini. Perutanya masih terasa sangat mual takutnya nanti di depan Aron ia muntah lagi. Jadi tambah bingung entar tu laki.
__ADS_1