Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Episode 242


__ADS_3

“Syang, mereka manis sekali ya. Hubungan yang menggemaskan”


ucap Manda, mendekati Aron.


“Sekarang pergi ke kamar dulu. Aku mau lihat anak kita, jangan biarkan mereka sendiri Manda.” ucap Aron, yang mulai teringat dengan anaknya, yang masih tidur di ranjangnya.


“Eh,, iya syang. Oya aku tadi sudah buatkan bubur buar Duke


dan Lia kamu simpan ya. Biar nanti bisa di panaskan lagi saat di makan. Setelah


itu kamu bawa soup dan nasi ke atas dan jangan lupa buatkan aku teh hijau, bawa


juga ke kamar ya.” Pinta Manda, membuat Aron hanya diam, mengangguk-anggukan


kepalanya, seolah dia paham dengan apa yang di katakan Manda.


“Sudah, istri aku yang cantik, dan bawel. Cepat masuk ke kamar. Takutnya anak kita nangis nanti, kalau kamu terus ngoceh di bawah, kamu gak


tahu kalau anak kita nangis.”


“Iya, iya” Manda segera bergegas naik ke kamarnya, sesuai


perintah Aron.


-----


Vino segera mengantarkan Kesha ke  sebuah cafe dekat dengan rumah Vina yang dulu


pernah pertama kali Vino ajak Vina ke Cafe. Saat tak sengaja bertemu dengannya


“Kita bertemu siapa sekarang?” tanya Aron.


“Pastinya kita bertemu orang, dan bukan hantu” gumam Kesha,


dengan nada sedikit bercanda, ia menggandenga tangan Duke dan Lia masuk ke


dalam Cafe.


“Sudah tahu, emang siapa juga yang mau bertemu hantu Kesha,


syang” ucap Vino penh Mnaja, tanpa rasa malu pada Duke dan Lia.


Pandangan Kesha, memutar melihat seluruh sudut cafe itu.


Seakan memang ia sedang sibuk mencari seseorang.


“Sha, kamu mau bertemu dengan siapa?” tanya Vino, bingung dengan Kesha yang


dari tadi diam, dan ia hanya menoleh ke kanan dan ke kiri.


Apa Albert belum datang ya, kenapa dia tidak ada. Tadi


katanya dia sudah datang. Tapi kenapa sekarang dia gak ada. Hmmm... mungkin


memang dia belum datang, sepertinya aku harus menunggunya dulu beberapa menit


saja. Gumam Kesha dalam hatinya, dan segera mencari tempat duduk yang kosong.


“Sha, kenapa kamu diam? Di tanya malah diam,” ucap Kesal


Vino.


“Kak, ayo duduk” ucap Duke menarik-narik tangan Vino.


“Iya, bentar nunggu kak Kesha ya.”


“Nanti kamu juga akan tahu, sekarang kita duduk saj dulu


kalau gitu. Kasihan Duka dan Lia yang terus berdiri dari tadi.” Gumam Kesha.


“Lagian kamu yang dari tadi melamun, menatap sana, menatap


sini. Akukira cari tempat dduduk. Ternyata cari seseorang. Lia dan Duke terus


minta duduk kamu diam saja.” gumam Vino, melirik ke depan, menarik tangan Vina.


Dan mengandengnya untuk segera duduk meja tak jauh dari tempat dia berdiri


tadi.


“Kalian pedan saja dulu. Oya, Vin. Pesankan makanan untuk


Duke dan Lia, kasihan dia belum makan. Dan pesankan juice buat mereka dan aku”


ucap Kesha, dengan pandnagan ata yang masih berkeliaran.


“Baiklah!!” ucap Vino terpaksa, menuruti ratu bawelnya itu.


Dari pada nanti dia ngomel-ngomel lagi, dan marah gak jelas bikin malu entar.


“Duke, sama Lia. Mau makan apa?”


“Terserah om” Ucap Duke dan Lia kompak.


Vino segera memsankan beberapa makanan, cemilan serta


minuman untuk ber-empat. Setelah, selesai pesan. Aron melirik ke arah Kesha


lagi, yang masih memutar matanya entah pandanganya kemana.


Tak lama sosok Albert datang, berjalan masuk ke dalam cafe,


ia langsung menuju ke tempat duduk Kesha Aton dan ke dua anak Manda.


Melihat laki-laki itu, seketika membuat Vino, menggertakkan


rahanya, dengan tangan mengepal di alik meja. Ia terasa sangat marah, kenapa


Kesha malah ajak dia kencan dengan calon suaminya.


Apa dia memang sengaja


mau membuat aku cemburu, menunjukan kemesraan mereka nanti. Terus kenapa


kematin Kesha memberiku harapan, kalau pada ujungnya, akan berakhir seperti ini...


Rasanya sakit banget aku, Sha. Pikir Vino, menatap ke arak Kesha.


“Kamu lama nunggu ya?” tanya Albert, mentap ke arah Kesha.


“Ehh.. Ini anak Mnada ya, Sha,”


“Iya, masak anak aku” ucap kesha.


“Kamu kenpa di sini?” tanya Vino kesal, dengan tatapan tajam


ke arah Albert.


“Ehh... tyeryata ada mantan pacar Kesha di sini,” ucap


Albert, semakin membuat hati Vino terasa meluap-luap penuh dengan amarah dan


emosi semakin mengobar dalam dirinya.


“Udah, kaliann jangan berante di sini. Ada anak kecil, dan

__ADS_1


lagian ini di cafe, dan banyak pengunjung di sini. Jadi kalian jangan bikin


malu aku.” kata Kesha tegas pada mereka berdua, yang mulai kesal melihat Albert


dan Vino saling menatap tajam, seolah ingin meluapkan emosinya masing-masing.


“Tak lama pesanan merek adatang.


“Permisi, tuan.” Ucap Pelayan, yang mulai meletakkna


semuapesanan Vino tadi.


“Bak, pesan ornge juice, ya.” Ucap Albert pada pelayan di


samoingnya.


“Iya, tuan” ucap pelayan itu ramah.


“Duke, Lia kalian makan dulu ya. Kakak mau bicara dengan kak


Albert” ucap Kesha, menatap ke arah Duke dan Lia yang mulai menyantap makannya.


“Iya, tante.” Ucap Duke dan Lian kompak.


“Apa, yang kalian bicarakan.” Tanya Vino sinis.


“Nanti kamu juga tahu, diam saja temani Duke dan Lia makan


dulu” gumam Kesha, seketika membuat Vino terdiam,.


Ia menarik napasnya dalam-dalam menahan emosi yang paling


dalam di lubuk hatinya, mencoba untuk sabar menghadapi Kesha saat ini.


“Apa yang kamu mau bicarakan?” tanya Kesha.


“Kamu saja duluan” ucap Albert.


“Baiklah!!’ gumma Kesha.


“Aku hanya ingin bicara dengan kamu, tentang sebuah perasaan


aku. Dan kamu pastinya tahu kan apa yang aku rasakan sekarang” ucap Kesha.


“Aku tahu, tapi aku gak bisa kmeninggalkan kamu” ucap Albert,


membuat Vino yang berada di samping Kesha, melotot tajam ke arahnya. Hari ini


benar-benar hatinya sedang di uji kesabaranya mengadapi Albert yang tidak tahu


diri, memaksa orang jatuh cinta dengannya.


“Maaf, bukannya aku gak maumnikah dengan kamu. Tapi ini soal


hati, jangan paksakan cinta jika kamu tidak bisa mendapatkan cinta itu. Lebih


baik cari tahu siapa dalam hati kamu, aku gak mau jika kamu menyesal nanyinya”


ucap Kesha, mencoba berbicara pelan dengan Albert, agar tidak melukai hatinya.


“Permisi tuan, minumannya” ucap pelayan, memotong


pembicaraan mereka.


“Iya, makasih” ucap Albert, kembali menatap ke arah Kesha.


“Sha, aku ingin sekali menikah dengan kamu. Dan aku janji akan


membahagiakanmu”


Vino beranjak berdiri, menatap tajam ke arah Albert.


tidak mencintaimu. Dan Gimana bisa kamu gak mikir tentang perasaan orang yang


mencintai kamu. Yang sudah kamu lukai” potong Vino, dengan nada penuh emosinya.


Ia teringat tentang chat dari Vina kemarin malam yang membuat ia merasa semakin


geram dengan Albert saat ini.


“Vino, duduk” ucap Kesha lirih, menarik tangan Vino, agar


segera duduk. Ia merasa sangt malu semua orang mentap ke arahnya.


Vino menarik napasnya, mencoba untuk sabar, dan kembali


duduk lagi. Albert tidak menanggapi apa yang di katakan Vino, ia menatap ke


arah Kesha, meraih tangannya.


“Apa kamu tidak pernah ada rasa sama sekali denganku?” tanya


Albert memastikan Ia meraih minuman di depannya, meneguknya perlahan. Lalu


meletakkannya kembali di meja.


Kesha hanya menundukkan keplanya, tanoa berani mentap Albet.


Lalu menggelengkan keplanya pelan.


Albert seketika tersenyum tipis, mendengar jawaban itu. “Baik,


kalau memang kamu tidak pernah menyukai aku, maka aku akan meninggalkanmu” ucap


Albert, seakan sudah menerima dengan lapang dada.


Dan Kesha, melepaskan cincin Albert di jari manisnya,


meletakkan di meja, dan mendorongnya oelan ke arahnya. “Kasih pada orang yang


kamu cintai sekarang, jangan salah gunakan cincin ini untuk wanita yang


sembarangan.” Ucap Kesha.


“Sekarang lebih baik pergi dan kejar cinta kamu” ucap Vino,


memotong pembicaraan mereka.


Alebrt hanya diam, ia meraih cincin itu. “Makasih.. Aku


pergi dulu” ucap Albert, bergegas pergi meninggalkan Vino dan Kesha.


“Kesha, makasih” ucap Vino, tersenyum tipis dengan ke dua


mata saling memandang.”


“Cie... cie..” ucap Lia, membuat Kesha dan Vino tersipu


malu.


“Kapan nikah kak?” tanya Duke terus terang.”


`````


Hari ini, seteah pergi dari cafeAlbert memutuskan untuk

__ADS_1


pergi ke rumah Vina saat mendapatkan sebuah jawaban dari Kesha tadi. Ia


sekarang sudah yakin, jika akan menikahi Vina. Tapi aku harap Vina sekarang ada


di rumah. Dan dengan bangga menermia apa yang akan aku bicarakan padanya nanti.


Gumam Albert, berjalan penuh dengan kebahagiaan menuju ke depan pintu megah


rumah Vina.


Ia sudah tidak sabar lagi untuk bicara dengan Vina.


Tok.. Tok.. Tok...


Albert mengetuk pintu rumah Vina sangat antusias, menunggu


pinti itu terbuka.


“Siapa?” tanya seorang yang berjalan, perlahan membuka


pintunya.


Seketika Albert, mengerutkan keninganya. Saat melihat wanita


paruh baya dengan pakaian lusuh membuka pintu rumah Vina.


“Tuan, siapa?” tanya pembantu Vina.


“Bibi siapa ya?” tanya Albert yang tahu siapa orang di


depannya.


“Sya pembantun non Vina. Apa taun temannya non Vina?”


“OO.. Iya, bi. Saya temannya”


“Kebetulan sekalian. Non, Vina. Kemarin bilang jika ada


orang yang mencarinya ia sekarang sudah pergi ke paris dengan tuan besar, dan


nyonya besar. Dan saya yang di tugaskan untuk merawat rumah ini”


Albert semakin terkejut di buatnya. Ia tidak begitu paham


dengan apa yang di katakan pembantu Vina di depannya itu.


“Maksud bibi apa?” tanya Albert.


“Non, Vina dan keluarga besar. Tadi pagi pindah Tuan ke


paris.”  Seketika tubuhnya terasa lemas,


mendengar hal itu. Gimana bisa, saat dia baru sadar akan sesuatu. Vina pergi ke


luar negeri


“Kapan bi perginya dari tadi pagi atau baru saja?” tanya


Albert yang masih tidak percaya, ia menahan dalam-dalam rasa sedih hantinya


yang semakin menjadi. Albert menarik bibirnya ke dalam, dengan kepala sedikit


mendongak, menahan air mata syang seakan sudah ingin keluar dari matanya.


“Dari tadi pagi sekitar jam empat tuan”


Mendengar hal itu seketika tubuh Albert lemas, lunglai tanpa


tulang. Ia baru saja mau mengungkapkan kabar gembira pa Vina, tapi dia sudah


pergi gitu saja meninggalkkanya. Albert memegang kepalanya yang terasa sangat


penat.


“Bi, apa mereka tidak akan kembali lagi?” tanya Albert yang


ingin memastikan lagi.


“mereka memang sepertinya lama tinggal di sana tuan, dan non


Vina juga mau mengurus perpindahan kuliahnya ke sana juga. Jadi ia bakalan


sering bolak-balik ke rumah tuan.


Albert, menarik napasnya dalam-dalam. “makasih bi,” ucap


Albert, beranjak pergi meninggalkan rumah Vina. Pria itu segera masuk ke dalam


mobil dan menancap gas dengan kecepatan tinggi keluar dari halaman rumah Vina.


```


“Bi, gimana apa dia sudah pergi?” tanya Vina, yang memang


sengaja bersebunyi. Ia tidak mau lagi bertemu dengan Albert, selama masih dalam


tahap mengurus surat pindah. Vina selama dua hari akan tetap tinggal di Sydney.


Sampai semua masalah surah pindah beres. Dan ia juga ingin melihat baby baru


manda sebelum pergi. Vina juga ingin berpamitan pada keluarga Manda semua. Yang


selama ini sudah baik denganya.


“Dia sudah pergi non” ucap pembantunya.


“Baik, Bi. Makasih..”  Ucap Vina, mebtap ke halaam rumahnya.


Maaf Al, aku gak bisa


menmeuimu. Mendingan lebih baik kita berpisah. Kita punya jalan hidup


sendiri-sendiri. Dan punya kebahagiaan masing-masing. Dan kita juga gak akan


mungkin bisa bersatu, mulai sekarang aku akan melupakan semuanya yang terjadi.


Dan mulai legi lembaran baru. Pikir Vina.


Ia masih melamun memandang ke depan beberapa detik. Dan


segera bergegas masuk ke kamarnya. Ia sudah berencana untuk pergi ke rumah


Manda. Vina juga sudah memberikan sebuah esan pada manda, jika ada Albert di


sana ia tidak jadi ke sana.


“Bi, aku pergi dulu ya. Nanti jika ada yang mencariku lagi.


Bibi harus bilang seperti tadi ya” ucap Vina. “Aku mau pergi ke rumah teman


dulu, Bi. Jadi jaga rumah ya” lanjut Vina.


“Iya, non.”


Vina bergegas pergi, mengha,piri mobilnya dan segera masuk

__ADS_1


ke dalammnya. Menyalakan mesin mobilnya. Lalu membawa mobilnya pergi dari


halaman rumahnya.


__ADS_2