
“Syang, mereka manis sekali ya. Hubungan yang menggemaskan”
ucap Manda, mendekati Aron.
“Sekarang pergi ke kamar dulu. Aku mau lihat anak kita, jangan biarkan mereka sendiri Manda.” ucap Aron, yang mulai teringat dengan anaknya, yang masih tidur di ranjangnya.
“Eh,, iya syang. Oya aku tadi sudah buatkan bubur buar Duke
dan Lia kamu simpan ya. Biar nanti bisa di panaskan lagi saat di makan. Setelah
itu kamu bawa soup dan nasi ke atas dan jangan lupa buatkan aku teh hijau, bawa
juga ke kamar ya.” Pinta Manda, membuat Aron hanya diam, mengangguk-anggukan
kepalanya, seolah dia paham dengan apa yang di katakan Manda.
“Sudah, istri aku yang cantik, dan bawel. Cepat masuk ke kamar. Takutnya anak kita nangis nanti, kalau kamu terus ngoceh di bawah, kamu gak
tahu kalau anak kita nangis.”
“Iya, iya” Manda segera bergegas naik ke kamarnya, sesuai
perintah Aron.
-----
Vino segera mengantarkan Kesha ke sebuah cafe dekat dengan rumah Vina yang dulu
pernah pertama kali Vino ajak Vina ke Cafe. Saat tak sengaja bertemu dengannya
“Kita bertemu siapa sekarang?” tanya Aron.
“Pastinya kita bertemu orang, dan bukan hantu” gumam Kesha,
dengan nada sedikit bercanda, ia menggandenga tangan Duke dan Lia masuk ke
dalam Cafe.
“Sudah tahu, emang siapa juga yang mau bertemu hantu Kesha,
syang” ucap Vino penh Mnaja, tanpa rasa malu pada Duke dan Lia.
Pandangan Kesha, memutar melihat seluruh sudut cafe itu.
Seakan memang ia sedang sibuk mencari seseorang.
“Sha, kamu mau bertemu dengan siapa?” tanya Vino, bingung dengan Kesha yang
dari tadi diam, dan ia hanya menoleh ke kanan dan ke kiri.
Apa Albert belum datang ya, kenapa dia tidak ada. Tadi
katanya dia sudah datang. Tapi kenapa sekarang dia gak ada. Hmmm... mungkin
memang dia belum datang, sepertinya aku harus menunggunya dulu beberapa menit
saja. Gumam Kesha dalam hatinya, dan segera mencari tempat duduk yang kosong.
“Sha, kenapa kamu diam? Di tanya malah diam,” ucap Kesal
Vino.
“Kak, ayo duduk” ucap Duke menarik-narik tangan Vino.
“Iya, bentar nunggu kak Kesha ya.”
“Nanti kamu juga akan tahu, sekarang kita duduk saj dulu
kalau gitu. Kasihan Duka dan Lia yang terus berdiri dari tadi.” Gumam Kesha.
“Lagian kamu yang dari tadi melamun, menatap sana, menatap
sini. Akukira cari tempat dduduk. Ternyata cari seseorang. Lia dan Duke terus
minta duduk kamu diam saja.” gumam Vino, melirik ke depan, menarik tangan Vina.
Dan mengandengnya untuk segera duduk meja tak jauh dari tempat dia berdiri
tadi.
“Kalian pedan saja dulu. Oya, Vin. Pesankan makanan untuk
Duke dan Lia, kasihan dia belum makan. Dan pesankan juice buat mereka dan aku”
ucap Kesha, dengan pandnagan ata yang masih berkeliaran.
“Baiklah!!” ucap Vino terpaksa, menuruti ratu bawelnya itu.
Dari pada nanti dia ngomel-ngomel lagi, dan marah gak jelas bikin malu entar.
“Duke, sama Lia. Mau makan apa?”
“Terserah om” Ucap Duke dan Lia kompak.
Vino segera memsankan beberapa makanan, cemilan serta
minuman untuk ber-empat. Setelah, selesai pesan. Aron melirik ke arah Kesha
lagi, yang masih memutar matanya entah pandanganya kemana.
Tak lama sosok Albert datang, berjalan masuk ke dalam cafe,
ia langsung menuju ke tempat duduk Kesha Aton dan ke dua anak Manda.
Melihat laki-laki itu, seketika membuat Vino, menggertakkan
rahanya, dengan tangan mengepal di alik meja. Ia terasa sangat marah, kenapa
Kesha malah ajak dia kencan dengan calon suaminya.
Apa dia memang sengaja
mau membuat aku cemburu, menunjukan kemesraan mereka nanti. Terus kenapa
kematin Kesha memberiku harapan, kalau pada ujungnya, akan berakhir seperti ini...
Rasanya sakit banget aku, Sha. Pikir Vino, menatap ke arak Kesha.
“Kamu lama nunggu ya?” tanya Albert, mentap ke arah Kesha.
“Ehh.. Ini anak Mnada ya, Sha,”
“Iya, masak anak aku” ucap kesha.
“Kamu kenpa di sini?” tanya Vino kesal, dengan tatapan tajam
ke arah Albert.
“Ehh... tyeryata ada mantan pacar Kesha di sini,” ucap
Albert, semakin membuat hati Vino terasa meluap-luap penuh dengan amarah dan
emosi semakin mengobar dalam dirinya.
“Udah, kaliann jangan berante di sini. Ada anak kecil, dan
__ADS_1
lagian ini di cafe, dan banyak pengunjung di sini. Jadi kalian jangan bikin
malu aku.” kata Kesha tegas pada mereka berdua, yang mulai kesal melihat Albert
dan Vino saling menatap tajam, seolah ingin meluapkan emosinya masing-masing.
“Tak lama pesanan merek adatang.
“Permisi, tuan.” Ucap Pelayan, yang mulai meletakkna
semuapesanan Vino tadi.
“Bak, pesan ornge juice, ya.” Ucap Albert pada pelayan di
samoingnya.
“Iya, tuan” ucap pelayan itu ramah.
“Duke, Lia kalian makan dulu ya. Kakak mau bicara dengan kak
Albert” ucap Kesha, menatap ke arah Duke dan Lia yang mulai menyantap makannya.
“Iya, tante.” Ucap Duke dan Lian kompak.
“Apa, yang kalian bicarakan.” Tanya Vino sinis.
“Nanti kamu juga tahu, diam saja temani Duke dan Lia makan
dulu” gumam Kesha, seketika membuat Vino terdiam,.
Ia menarik napasnya dalam-dalam menahan emosi yang paling
dalam di lubuk hatinya, mencoba untuk sabar menghadapi Kesha saat ini.
“Apa yang kamu mau bicarakan?” tanya Kesha.
“Kamu saja duluan” ucap Albert.
“Baiklah!!’ gumma Kesha.
“Aku hanya ingin bicara dengan kamu, tentang sebuah perasaan
aku. Dan kamu pastinya tahu kan apa yang aku rasakan sekarang” ucap Kesha.
“Aku tahu, tapi aku gak bisa kmeninggalkan kamu” ucap Albert,
membuat Vino yang berada di samping Kesha, melotot tajam ke arahnya. Hari ini
benar-benar hatinya sedang di uji kesabaranya mengadapi Albert yang tidak tahu
diri, memaksa orang jatuh cinta dengannya.
“Maaf, bukannya aku gak maumnikah dengan kamu. Tapi ini soal
hati, jangan paksakan cinta jika kamu tidak bisa mendapatkan cinta itu. Lebih
baik cari tahu siapa dalam hati kamu, aku gak mau jika kamu menyesal nanyinya”
ucap Kesha, mencoba berbicara pelan dengan Albert, agar tidak melukai hatinya.
“Permisi tuan, minumannya” ucap pelayan, memotong
pembicaraan mereka.
“Iya, makasih” ucap Albert, kembali menatap ke arah Kesha.
“Sha, aku ingin sekali menikah dengan kamu. Dan aku janji akan
membahagiakanmu”
Vino beranjak berdiri, menatap tajam ke arah Albert.
tidak mencintaimu. Dan Gimana bisa kamu gak mikir tentang perasaan orang yang
mencintai kamu. Yang sudah kamu lukai” potong Vino, dengan nada penuh emosinya.
Ia teringat tentang chat dari Vina kemarin malam yang membuat ia merasa semakin
geram dengan Albert saat ini.
“Vino, duduk” ucap Kesha lirih, menarik tangan Vino, agar
segera duduk. Ia merasa sangt malu semua orang mentap ke arahnya.
Vino menarik napasnya, mencoba untuk sabar, dan kembali
duduk lagi. Albert tidak menanggapi apa yang di katakan Vino, ia menatap ke
arah Kesha, meraih tangannya.
“Apa kamu tidak pernah ada rasa sama sekali denganku?” tanya
Albert memastikan Ia meraih minuman di depannya, meneguknya perlahan. Lalu
meletakkannya kembali di meja.
Kesha hanya menundukkan keplanya, tanoa berani mentap Albet.
Lalu menggelengkan keplanya pelan.
Albert seketika tersenyum tipis, mendengar jawaban itu. “Baik,
kalau memang kamu tidak pernah menyukai aku, maka aku akan meninggalkanmu” ucap
Albert, seakan sudah menerima dengan lapang dada.
Dan Kesha, melepaskan cincin Albert di jari manisnya,
meletakkan di meja, dan mendorongnya oelan ke arahnya. “Kasih pada orang yang
kamu cintai sekarang, jangan salah gunakan cincin ini untuk wanita yang
sembarangan.” Ucap Kesha.
“Sekarang lebih baik pergi dan kejar cinta kamu” ucap Vino,
memotong pembicaraan mereka.
Alebrt hanya diam, ia meraih cincin itu. “Makasih.. Aku
pergi dulu” ucap Albert, bergegas pergi meninggalkan Vino dan Kesha.
“Kesha, makasih” ucap Vino, tersenyum tipis dengan ke dua
mata saling memandang.”
“Cie... cie..” ucap Lia, membuat Kesha dan Vino tersipu
malu.
“Kapan nikah kak?” tanya Duke terus terang.”
`````
Hari ini, seteah pergi dari cafeAlbert memutuskan untuk
__ADS_1
pergi ke rumah Vina saat mendapatkan sebuah jawaban dari Kesha tadi. Ia
sekarang sudah yakin, jika akan menikahi Vina. Tapi aku harap Vina sekarang ada
di rumah. Dan dengan bangga menermia apa yang akan aku bicarakan padanya nanti.
Gumam Albert, berjalan penuh dengan kebahagiaan menuju ke depan pintu megah
rumah Vina.
Ia sudah tidak sabar lagi untuk bicara dengan Vina.
Tok.. Tok.. Tok...
Albert mengetuk pintu rumah Vina sangat antusias, menunggu
pinti itu terbuka.
“Siapa?” tanya seorang yang berjalan, perlahan membuka
pintunya.
Seketika Albert, mengerutkan keninganya. Saat melihat wanita
paruh baya dengan pakaian lusuh membuka pintu rumah Vina.
“Tuan, siapa?” tanya pembantu Vina.
“Bibi siapa ya?” tanya Albert yang tahu siapa orang di
depannya.
“Sya pembantun non Vina. Apa taun temannya non Vina?”
“OO.. Iya, bi. Saya temannya”
“Kebetulan sekalian. Non, Vina. Kemarin bilang jika ada
orang yang mencarinya ia sekarang sudah pergi ke paris dengan tuan besar, dan
nyonya besar. Dan saya yang di tugaskan untuk merawat rumah ini”
Albert semakin terkejut di buatnya. Ia tidak begitu paham
dengan apa yang di katakan pembantu Vina di depannya itu.
“Maksud bibi apa?” tanya Albert.
“Non, Vina dan keluarga besar. Tadi pagi pindah Tuan ke
paris.” Seketika tubuhnya terasa lemas,
mendengar hal itu. Gimana bisa, saat dia baru sadar akan sesuatu. Vina pergi ke
luar negeri
“Kapan bi perginya dari tadi pagi atau baru saja?” tanya
Albert yang masih tidak percaya, ia menahan dalam-dalam rasa sedih hantinya
yang semakin menjadi. Albert menarik bibirnya ke dalam, dengan kepala sedikit
mendongak, menahan air mata syang seakan sudah ingin keluar dari matanya.
“Dari tadi pagi sekitar jam empat tuan”
Mendengar hal itu seketika tubuh Albert lemas, lunglai tanpa
tulang. Ia baru saja mau mengungkapkan kabar gembira pa Vina, tapi dia sudah
pergi gitu saja meninggalkkanya. Albert memegang kepalanya yang terasa sangat
penat.
“Bi, apa mereka tidak akan kembali lagi?” tanya Albert yang
ingin memastikan lagi.
“mereka memang sepertinya lama tinggal di sana tuan, dan non
Vina juga mau mengurus perpindahan kuliahnya ke sana juga. Jadi ia bakalan
sering bolak-balik ke rumah tuan.
Albert, menarik napasnya dalam-dalam. “makasih bi,” ucap
Albert, beranjak pergi meninggalkan rumah Vina. Pria itu segera masuk ke dalam
mobil dan menancap gas dengan kecepatan tinggi keluar dari halaman rumah Vina.
```
“Bi, gimana apa dia sudah pergi?” tanya Vina, yang memang
sengaja bersebunyi. Ia tidak mau lagi bertemu dengan Albert, selama masih dalam
tahap mengurus surat pindah. Vina selama dua hari akan tetap tinggal di Sydney.
Sampai semua masalah surah pindah beres. Dan ia juga ingin melihat baby baru
manda sebelum pergi. Vina juga ingin berpamitan pada keluarga Manda semua. Yang
selama ini sudah baik denganya.
“Dia sudah pergi non” ucap pembantunya.
“Baik, Bi. Makasih..” Ucap Vina, mebtap ke halaam rumahnya.
Maaf Al, aku gak bisa
menmeuimu. Mendingan lebih baik kita berpisah. Kita punya jalan hidup
sendiri-sendiri. Dan punya kebahagiaan masing-masing. Dan kita juga gak akan
mungkin bisa bersatu, mulai sekarang aku akan melupakan semuanya yang terjadi.
Dan mulai legi lembaran baru. Pikir Vina.
Ia masih melamun memandang ke depan beberapa detik. Dan
segera bergegas masuk ke kamarnya. Ia sudah berencana untuk pergi ke rumah
Manda. Vina juga sudah memberikan sebuah esan pada manda, jika ada Albert di
sana ia tidak jadi ke sana.
“Bi, aku pergi dulu ya. Nanti jika ada yang mencariku lagi.
Bibi harus bilang seperti tadi ya” ucap Vina. “Aku mau pergi ke rumah teman
dulu, Bi. Jadi jaga rumah ya” lanjut Vina.
“Iya, non.”
Vina bergegas pergi, mengha,piri mobilnya dan segera masuk
__ADS_1
ke dalammnya. Menyalakan mesin mobilnya. Lalu membawa mobilnya pergi dari
halaman rumahnya.