Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Rencana Aron untuk Adiknya


__ADS_3

Manda dan Aron baru saja pulang dari rumah Kesha, anak mereka sudah tidur lebih dulu. Dan Aron sekarang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aron sibuk dengan laptopnya. Dan dia juga belum sempat bicara dengan Manda soal rencananya tadi. Ia sudah memikirkan matang-matang rencana itu, meski tanpa persetujuan Kesha dan Vino. 


Jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Langit sudah semakin gelap, Manda masih tetap di atas ranjangnya, duduk bersandar dengan pandangan menatap ke arah tv di depannya. Ia bahkan sampai tertawa, menangis, baper sendiri menatap drama yang ia tonton. Dan Aron selalu menggelangkan kepalanya melihat Manda yang semakin hari semakin aneh. 


Kini Aron hanya diam tidak perdulikan Manda. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya yang memang sudah menumpuk beberapa hari. sudah dua hari ia tidak pergi ke kantornya. Ia juga tahu kebiasaan Manda yang setiap hari selalu saja nonton drama selalu nangis, ketawa sendiri. 


Huuhhhh... 


"Emmmm akhirnya selesai juga semua pekerjaan buat raat evaluasi besok!!!" Ucap Aron, menarik tangannya ke atas, merenggangkan ototnya yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk di sofa. Ia segera menutup laptopnya dan membereskan semua berkas yang ada di meja. Lalu segera beranjak menuju ke ranjangnya, duduk di samping Manda. 


Ia berusaha untuk mendekati Manda, dan biacara soal apa yang ia pikirkan dari tadi. Dari pada ganjal terus di pikirannya. 


"Syang!!"


Manda yang masih terfokus dengan tv di depannya. Dan tidak lupa cemilan di dekapannya. 


"Apa syang?" 


"Aku mau bicara dengan kamu syang!!" 


"Bicara apa? Kalau mau bicara ya bicara saja" ucap Manda. 


"Baiklah, gimana kalau kita nikahkan Kesha dan Vino. Tapi jangan bilang mereka berdua." Ucap Aron seketika membuat Manda menghentikan makanayanya. Ia menggerakan kepalanya menatap Aron yang sudah duduk di sampingnya. 


"Menikah? Tapi bukannya--" 


"Sudah!! Ku tahu mereka masih saling mencintai, jika mereka menikah akan jadi hal lebih baik lagi. Dan Kesha juga gak akan menolaknya. Mereka jangan sampai tahu" ucap Aron. 


"Terus gimana caranya biar mereka tidak tahu, pernikahan tanpa tahu mereka emangnya bisa terjadi. Rencana kamu pasti gagal aku yakin mereka tidak akan mau" Ucap Manda yang bingung dengan keadaan hubungan Vino dan Kesha. Tadi Kssha juga sudah curhat dengannya. Jika dia menerima lamaran Albert.


"Sudahlah soal itu biar aku saja yang mengaturnya, kamu tinggal mengikuti apa yang aku katakan hanya diam saja, jangan sampai mereka semua tahu. Aku gak mau jika mereka semua tahu"

__ADS_1


Manda menarik napasnya, meletakkan cemilannya di atas meja. Ia belum bisa menangkap apa yang di maksud suaminya itu. Ia bingung gimana caranya merahasiakan, dan apa mereka mendadak menikah gitu. 


"Aku masih belum paham apa yang kamu katakan syang" ucap Manda membalikkan badanya mentap ke arah Aron. 


Aron menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba menjelaskan semuanya pada Manda. "Gini syang!! Aku mau kita nikahkan mereka, kita yang atur semuanya diam-diam. Tapi nunggu sampai mereka selesai ujian semester. Kita yang menyebar undangan ke semua gemannya, dua hari sebelum mereka menikah. Dan saat itu kita beri tahu mereka." Ucap Aron menjelaskan. 


"Tapi apa itu malah memperburuk suasana, mereka pasti akan sangat marah syang. Apalagi kita rencanain diam-diam. Dan hubungan kamu dengan Vino juga akan semakin memburuk. Aku yakin mereka pasti akan marah besar" ucap Manda, yang tak bisa membayangkan gimana kemarahan mereka nantinya di saat ia dan Aron menyiapkan pernikahannya dalam waktu dekat ini. 


Aron terdiam sejenak, ia bingung apa lagi yang harus ia lakukan. "Apa kamu gak sebaiknya bilang dengan Vino." Ucap Manda mencoba memberi saran pada suaminya. Agar tidak menimbulkan permasalahan baru lagi.


"Iya kalau aku beri tahu dia semuanya akan berakhir syang. Dia gak akan mau nantinya. Dan Kesha juga begitu. Mereka itu masih labil dalam masalah cinta. Hal sepele di besar-besarkan. Lebih baik kita yang bertindak agar mereka tidak saling marahan lagi" ucap Aron, memyandarkan kepalanya di pundak manda dengan mesranya, ia mengusap lembut perut Manda yang kini sudah masuk usia kandungan delapan bulan. 


"Baiklah, aku akan pikirkan juga nantinya. Aku juga tidak mau mereka terus marahan. Mereka itu saling mencintai. Bukan malah saling berjauhan seperti ini. Dan Kesha juga begitu, diam-diam dia juga menerima lamaran Albert padahal aku tahu dia tidak suka dengannya. Hanya untuk melupakan Vino ia rela mengorbankan hatinya sendiri. Akan menikah dengan orang tidak sama sekali ia cintai." Gumam Manda


"Iya, maka dari itu aku ajak kamu untuk melakukan ide ini. Agar mereka bisa bersatu lagi. Dan Vino mau tinggal lagi di sini, tapi dia bisa tinggal di sebelah kita dengan suaminya. Soal orang tuanya kemarin aku juga sudah bilang padanya. Jika mereka setuju saja, demi kebaikan anaknya. Dan orang tua Kesha tidak melarangnya" ucap Aron. 


"Tapi aku punya cara lain agar mereka bisa dekat. Gimana kalau minggu depan kita jalan, ajak Vino dan Kesha juga"ucap Manda, tersenyuk membayangkan mereka bisa bermesraan lagi seperti dulu.


"Sepertinya baguj juga apa yang kamu katakan syang" gumam Aron. "Oya syang anak kita gerak-gerak terus" 


"Tapi kamu jangan terlalu dekat dengannya" ucap Aron penuh kecemburuan dalam hatinya. 


"Gak lah syang, kenapa juga aku dekat dengannya. Gak terlalu penting juga aku cemburu dengannya syang. Yang paling penting sekarang adalah gimana hubungan Vino dan keaha bersatu." Ucap Manda mengusap lembut pipi Aron. "Udah ayo tidur jangan banyak bicara lagi" lanjutnya. 


Manda segera menarik selimutnya dan berbaring membiarkan Aron yang masih duduk di ranjang. 


Untuk adikku apapun akan aku lakukan, meski dia marah lagi denganku gak masalah, yang penting mereka bisa menikah dengan cepat. Untuk menebus kesalahanku yang lalu. 


 


Di sisi lain, 

__ADS_1


Kesha berbaring di kamarnya ia belum bisa menutup matanya. Rasa menyesal telag menerima lamaran Albert menghantui hatinya. 


Ia masih teidak bisa menghilangkan bayangan wajah Vino di pikirannya. Vino selalu menghantuinya. 


Drrrttttt... drrrtttt. 


Kesha menatap layar ponsrlnya yang terus menyala, ia tahu jika dari tadi ponsenya bergetar. Albert terus menguubunginya, namun ia bingung mau angkar atau tidak. Ia tidak mencintai Albert sama sekali. 


Tapi Albert tak berhenti menghubunginya, membuat ia terpaksa mengangkat panghilan darinya. 


Kesha meraih ponselnya, dan mengangkat telepon dari Albert. 


"Ada apa?" 


"Kamu sibuk?" 


"Enggak kok!! Baru saja selesai makan tadi"


"Oo. Kenapa kamu jam segini baru makan!!" 


"Habisnya tadi sudah kenyang makan sama kamu!!" Ucap Kesha membuat Albert tersenyum. 


"Oya, mulai besok aku akan selalu jemputg kamu, setiap kamu pergi kerja pergi kuliah dan kemanapun. Aku siap jadi sopir pribadi kamu" ucap Albert. 


"Kenapa kamu bialng begitu, ku itu gak butuh supir. Kamu juga ada kegiatan sendiri. Jangan memaksakan hal yang tidak bisa kamu paksakan. Lebih baik kamu kerja dari pada mengantar aku" ucap Kesha. 


"Emangnya kenapa jika aku antar kamu!! Aku juga bisa Kesha ngantar kamu. Lagian antar kamu itu gak lama. Hanya beberapa menit saja dan terus pulang gak mengikuti kamu kerja syang!!" Gumam Albert, ia tahu jika Kesha pasti tidak suka dengannya. Ia yakin jika dia selalu menghindar darinya. 


"Baiklah terserah kamu!!" Kesha terpaksa menuruti apa kata Albert. Lagian ia juga mau menunjukan pada Vino jika dia juga bisa melupakannya. 


"Ya, sudah. Sekarang kamu lebih baik tidur syang. Jangan tidur malam\-malam gak baik bagi wanita." Gumam Albert. 

__ADS_1


"Iya deh!!" Ucap Kesha dengan nada lemah lembut, seakan malas berbicara dengannya. Kesha segera mematikan panggilannya lebih dulu. Sebelum Albert menyelesaikan pembicaraannya. 


 


__ADS_2