
#Flash Back 1 hari sebelumnya.
Aron berdiam diri di ruang kerja rumah barunya. Ia mengolak alik dokumen tentang manda yang di serahkan pegawainya kemarin. Tenyata orang tuanya adalah hasil dari pembunuhan.
Dan yang membunuh adalah dirinya sendiri. meskipun tidak dengan tangannya tapi ia menyuruh seseorang untuk membunuh mereka. Namun data itu nampaknya belum lengkap. Aron masih mencari data yang lengkap atas dasar apa dia membunuh orang tuanya.
Karena sejak awal ia tak pernah membunuh seseorang jika tidak mengenali orang itu. Dan apa lagi ia tak punya masalah dengannya. Aron segera meraih ponsel di samping meja nya menelpon menajernya untuk segera mencari tahu tentang masalah keluarganya sebelumnya.
" Iya tuan" Sapa manajer
" Kamu harus cari tahu tentang pembunuhan di desa Manda sekitar 4 bulan yang lalu"
" Baik tuan"
Aron segera mematikan ponselnya. Kini ia merasa sangat bingung jika Manda tahu yang sebenarnya tentang siapa pembunuh ke dua orang tuanya. maka dia akan sangat marah dengannya. Dan kejadian pembunuhan dulu sepertinya ada masalah tentang keluarga. Ia mencoba mengingat semuanya apa yang sebenarnya terjadi. Dari keterangan data dia sudah mengantongi nama keluarga Manda yang terasa sangat familiar di pikirannya.
" Keluarganya??" Batin Aron mulai meraih sebotol minuman Cocktail miliknya di rak depan meja kerjanya.
Ia mulai meneguknya perlahan dengan memikirkan masalah yang telah lalu itu. Di sisi lain ia teringat tentang pembunuhan mama nya yang terjadi saat ia kecil. Yang membuat dia harus hidup sendiri berjuang sendiri membesarkan adiknya.
" apa ada sangkut pautnya dengan kematian mamaku??" Gumam Aron lirih. Namun kejadian pembunuhan itu beda jauh . Mamanya meninggal pada waktu ia masih SMA sementara orang tuanya baru 4 bulan lalu. Tidak mungkin ada sangkut pautnya.
Kini pikirannya semakin pusing. Ia menuangkan lagi Cocktail di gelas kosong miliknya. Lalu mulai meneguknya habis.
" Gadis kecil itu lama lama membuatku gila" Gumam Aron menggebrakan gelas minumannya ke meja.
Hampir 4 botol Cocktai ia munum habis. Kini matanya sudah mulai berkunang kunang. Ia samar samar melihat bayangan Sindy di depannya.
" Aron.. !!" Panggil Sindy dengan senyum manis kasnya.
" Sindy..!!" Aron yang semula tersungkur di meja terbangun dari duduknya meskipun ia tak sanggup lagi berdiri. Matanya masih menyipit, ia terus mengusap ke dua matanya memlihat kenyataan di depannya itu benar Sindy atau bukan.
" Aron kamu jangan menyakiti gadis itu. Kasihan dia" Pungkas Sindy membuat Aron mengernyitkan dahinya.
" Kenapa? Aku tidak suka ada yang sama dengan matamu selain kamu" Ucap Aron dengan nada tinggi. Ia mencoba berdiri dari duduknya dengan langkah seolah berat ia ingin mendekati bayangan Sindy.
" Aron dia punya mata sama denganku karena itu sudah takdirnya. Dan dia juga kini adalah takdir kamu jadi cintailah dia" Pungkas Sindy yang perlahan bayangan itu mulai menghilang.
__ADS_1
Aron ingin memeluk bayangan Sindy namun tak sampai mendekatinya bayangan itu hilang seperti cahaya.
" Sindy !! Aku tidak bisa mencintai orang kain kecuali kamu?" Teriak Aron membuat suaranya terngiang di ruangan itu.
" Aku tak bisa Sindy !! Aku hanya mencintai kamu gak ada yang lain" Ucap Aron lirih ia tersungkur ke lantai. Tubuhnya seolah tak bisa tertahan lagi untuk berdiri tegap.
#Back Story
Manda berdiam diri menatap pintu kamar Mandi. Ia belum juga melihat Aron keluar.
Manda sudah tak sabar di temani Aron lagi kali ini. Kelembutannya kini membuat ia betah di sampingnya.
" kenapa Om Aron hari ini terlihat sangat berbeda dari sebelumnya" Batin Manda menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
Ia memiringkan badannya ke kanan. Pikirannya melayang kemana mana. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan lagi sebagai istri. Ia juga Ingin sekali memasak sendiri untuk suaminya namun apa daya Manda tak pernah belajar memasak sebelumnya.
Kini ia terbayang ingin memajakan suaminya itu. Tak hanya dengan kasih sayang tapi dengan kehangatan dalam rumah tangga.
Manda mencoba membuang rasa dendamnya dan memulai hidup baru bersama Aron. Tapi entahlah apa dia bisa membuang semuanya dengan mudah. Tapi jika Aron seperti itu terus padanya pasti akan dengan mudah menghilangkan rasa dendamnya pada seseorang yang tidak ia ketahui.
" Kamu mikirin apa?" Bisik Aron. Yang tiba tiba berbaring di sampingnya merengkuh tubuhnya erat.
" Om!!" Ucap Manda nampak masih sangat ragu ragu.
"sekarang jangan panggil aku Om, panggi saja namaku" Pungkas Aron membalikkan tubuh Manda ke kiri tepat di dalam dekapanya. Kini ke dua mata mereka saling menatap membuat jantung manda sangat sesak. Ia kini semakin sulit bernafas harus berhadapan sangat dekat dengan Aron apalagi kini aron memeluknya erat hingga ia merasakan dada bidang Aron.
Mulutnya seakan tertutup rapat rapat. Tak bisa mengucap sepatah katapun pada Aron.
"krukkkkk..." bunyi perut Manda membuat Aron mengeryitkan keningnya.
"Kamu lapar?" Tanya Aron.
" Kenapa kamu gak bilang dari tadi" Aron melanjutkan ucapanya.
" Iya Om..hm eh... Aron maksud ku" pungkas Manda dengan nada terpotong potong. Ia sangat gugup kali ini tak bisa berkutik lagi.
" Baiklah aku akan pesan Delivery untuk kamu. Kamu mau makan apa?" Tanya Aron segera meraih ponselnya di meja kecil samping kiri Aron.
__ADS_1
" Ter..terserah" Manda terlihat masih sangat gugup hembusan nafasnya sangat tak teratur di buatnya. " Apa ini di Namakan Cinta dadakan" Batin Manda menatap wajah tampan Aron di sampingnya.
" Baiklah aku akan pesankan" Aron mulai sibuk dengan ponselnya untuk memesan makanan untuk mereka berdua. Ya meskipun sebenarnya Aron juga lapar dari kemarin ia juga belum makan. Apa lagi para pelayan ia liburkan semua agar bisa berduaan dengan Manda.
Selesai memesan Via App ia merebahkan tubuhnya lagi ke ranjang dengan kepala bersandar ke perut Manda. " Om boleh tanya?" Manda nampak sangat serius.
"Boleh tanya apa??" Pungkas Aron menatap wajah istrinya itu ya meskipun hanya terlihat dagunya.
"Kenapa Om berubah baik padaku" Pungkas Manda terlihat lebih berani bertanya pada Aron.
"Entahlah.." Jawab Aron memmbuat Manda menundukkan kepalanya kecewa.
"Bentar Om aku mau duduk" Pungkas Manda sangat polos. Kepala Arin di perutnya membuat ia tak bisa bergerak sama sekali. Dengan memberanikan diri ia meminta izin padanya untuk duduk bersandar.
"Baiklah"
Manda segera duduk. Pundaknya sudah terasa sangat capek harus berdiam dengan beban kepala Aron di atas perutnya.
Aron kini mulai usil pada Manda kepalanya masuk ke dalam selimut tebal.
"Sudah hentikan" ucap Manda.
"Bentar, Baru juga mulai" Ucap Aron melanjutkan lagi permainannya.
Manda hanya berdiam menikmati permainan Aron . Erangan manda terdengar jelas di telinga Aron. Membuat ia semakin semangat .
Ia bermain dengan tubuh Manda di dalam selimut hingga tak terasa sudah hampir 20 menit. Terdengar suara ponsel Aron berbunyi. Membuat ia berhenti sejenak dengan permainannya.
"Siapa??"
"Saya tukang antar pesanan" Ucap seseorang di balik telfon itu.
"Baiklah tunggu di depan aku akan segera keluar" Aron mulai beranjak dari ranjang hanya dengan memakai boxer ia berjalan keluar dengan langkah terburu buru.
"Ini pak pesananya" ucap orang itu dengan mata melihat detail tubuh lelaki di depannya yang penuh dengan bekas merah tak tanggung ia keluar hanya mengenakan Boxer.
"Maaf pak apa lagi main ya" lelaki di depannya itu memberanikan diri bertanya pada Aron.
__ADS_1
" Iya , masih belum puas" Jawab Aron membuat Lelaki itu tercengang. Ia mengira masih pagi sudah bermain. Ia seolah menatap ilfil ke arah Aron.
" ini uangnya, kembaliannya buwat kamu" Aron segera menutup pintunya kembali tanpa kata lain yang terucap dari bibirnya.