
Aron masih memegang pipi Manda pandangan mereka terkunci dalam balutan asmara yang mulai berbunga-bunga dalam hati. Perasaan sudah mulai berkobar membuat ruangan itu penuh dengan bunga berterbangan.
Wajah Manda masih memerah seperti kepiting rebus dengan tatapan lembut pada Aron. " Temani aku malam ini" Ucap Aron dengan nada rendah seakan ia memohon pada Manda.
Manda masih terdiam hatinya merasa sangat bimbang menemani Aron atau tidak. Tetapi sekarang ada istrinya yang harusnya ia temani. Di lain pihak hatinya merasa ia jadi pengganggu rumah tangga Aron dan Fany tapi bukannya ia yang keganjenan dengan Aron namun Aron yang memaksanya. Hal yang tak pernah ia inginkan sebelumnya.
Dengan rasa Ragu ia mengembuskan nafasnya perlahan dan mulai membuka mulutnya.
" Baiklah" Ucapnya dengan nada lirih. Matanya beralih dari pandangan Aron seraya ia tak sanggup lagi merasakan perasaan ini yang begitu menyakitkan baginya.
Di lain sisi Manda harus membalas semuanya tapi di lain sisi ia merasakan hatinya ingin selalu bersama Aron. Namun Manda masih ragu dengan apa yang ia rasakan saat ini.
Wanita itu mulai menepis tangan Aron dari pipinya, lalu beranjak berdiri. " Aku mau pergi ke kemar dulu" Ucap Manda. Tanpa memandang sedikitpun ke Arah Aron.
" Baiklah" Aron terdiam lagi dengan tangan masih memegang kepalanya yabg terasa sangat berat. Ia mulai merasa bersalah dengan Vino adiknya. Entah apa yang ia perbuwat tadi di luar dugaannya.
Seolah tubuhnya tak bisa terkendalai karena hatinya sudah di penuhi rasa emosi yang menggebu-gebu.
Manda mulai membuka pintu perlahan lalu menutupnya kembali. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju kamarnya yang berada dekat dengannya.
" kenapa aku tak bisa berkutik lagi dengan Aron" Gumam Manda lirih dengan mata memandang ke lantai.
" aku tak bisa seperti ini. Aku tak bisa" manda menggelengkan kepalanya mencoba mengingkari hatinya yang selalu memaksanya terus bersama Aron. Mungkin hanya saat ini ia menurutinya dan bukan untuk seterusnya.
Wanita itu perlahan memutar gagang pintu berwarna perak dengan desain clasik unik dengan pandangan kosong berjalan masuk ke kamarnya. Lalu menutupnya kembali.
Ia merasakan jelas desiran ombak pantai dari kamarnya membuat pikirannya tenang. Langkahnya perlahan menuju ke balkon kamar menatap jelas pemandangan pantai di balik balkon kamarnya. Ia memejamkan matanya sejenak merasakan angin pantai sepoi-sepoi yang masuk dalam tulang sum-sumnya.
Manda merentangkan ke dua tangan mengosongkan pikiran sejenak merasakan sepenuhnya desiran ombak yang menejang bebatuan terdengar jelas di telingannya.
" Manda!"
Suara yang tak di kanal Manda itu terus memanggilnya berkali-kali. Ia merasa ada seseorang di sampingnya berdiri tegap bersamanya.
Perlahan matanya terbuka dengan pandangan samar. Ia melihat seorang wanita cantik berdiri di sampingnya.
" Manda makasih" Ucapnya dengan senyum merekah di bibir mungilnya.
" Kamu siapa?" Manda nampak bingung siapa wanita itu dan dari mana datangnya dia.
Tak menjawab wanita itu hanya tersenyum tipis. " Tolong jagalah Aron dia sebenarnya orang baik. Dia tulus jika mecintai seseorang" Ucapnya bayangan wanita itu tiba-tiba hilang begitu saja dari pandangan matanya.
__ADS_1
Manda mengusap matanya berkaki-kali mencoba memastikan siapa wanita itu. Namun dia sudah hilang begitu saja dengan desiran angin yang semakin kuat membuat rambutnya berterbangan kemana-mana.
Terlihat langit yang semula cerah tiba-tiba menjadi gelap seketika. " Sepertinya akan hujan" Gumam Manda melihat langit sudah tak bersahabat ia beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.00 sore. Aron yang semula pergi ke kantor tiba-tiba pulang dan marah-marah gak jelas pada Vino. " Sepertinya untuk hari ini aku harus nenangin dia" Gumam Manda beranjak menuju kemar Mandi untuk membasuh badannya yang terasa sangat kotor keluar seharian.
Suara guntur membuat Manda bergidik seketika. Ia masuk kamar Mandi dengan segera. Tak butuh waktu lama membasuh badanya ia keluar dengan balutan handuk handuk mrnutupi tubuh mungilnya.
Matanya terbelalak seketika ketika Ia menatap ke depan Ada Aron duduk di ranjangnya dengan wajah menunduk seakan ada masalah sangat berat mengganggu pikirannya.
Manda berjalan perlahan menghampirinya. " Apa kamu baik-baik saja?" Pungkasnya memegang pundak Aron.
Terpampang senyum samar-samar terpaksa dari bibirnya. Ia menyentuh kepala Manda mengusap lembut rambut panjangnya.
" Cepat pakai baju. Aku sudah pilihkan baju untuk kamu" Ucapnya dengan senyum nakal seolah ia akan bertindak sesuatu padanya nanti.
Aron mengangkat bajunya. " Baju apa ini?" Ucap Manda meraih baju tipis yang terlihat sangat seksi bahkan bisa menunjukan bentuk tubuhnya.
" Kamu pakai itu temani aku seharian di kamar berdua" Ucapnya.
Aron beranjak berdiri menarik helaian handuk yang menutupi tubuh mungil Manda. Dengan segera ia memakaikan baju yang ia pilihkan. Manda hanya terdiam tak tahu apa yang akan direncanakan Aron kali ini. Ia benar-benar mulai berubah. Sangat baik namun pikiran kotornya tak bisa di hilangkan dalam otaknya seraya sudah mendarah daging dalam tubuhnya.
Seakan ia tak mengizinkan hatinya untuk membalas semuanya pada Aron. Ingin mulutnya memaki-maki Aron karena perlakuannya namun sepertinya ini bukan waktunya. Emosinya sedang tidak stabil jika Manda marah entah mungkin akan di bunuhnya jika berani menetangnya apa lagi dalam keadaan dia emosi.
Aron meraih sisir di meja rias Manda. Perlahan jemarinya mulai menyisir rambut panjang Manda dengan sangat halus. Manda terdiam seketika menatap tak menyangka Aron punya sisi lembut padanya. Tetapi kini ia merasa risih dengan gaun seksi pemberian Aron tadi.
" Selesai!!" Aron meletakkan sisirnya kembali di meja rias Manda. Ia memegang tangan Manda berjalan keluar dari kamarnya. Tanpa penolakan sekalipun keluar dari mulut Manda. Ia mengikuti kemana Aron pergi dengan pandangan tak percaya.
" Sekarang kita habiskan waktu berdua" Ucapnya membawa masuk Manda ke kamarnya di sampingnya.
" Aron" suara panggilan sangat keras membuat pandangan mereka tertuju ke depan pintu.
" kenapa kamu kemari" Bentak Aron dengan nada tinggi membuat Manda yang bergidik ketakutan.
Fany hanya berdiri dengan tatapan seolah tak suka melihat Manda berdiri di samping Aron. " Sekarang aku mau nanti malam tidur denganmu" Ucap Fany berjalan memeluk tubuh Aron dari belakang.
" Maaf aku gak bisa" Ucapnya menarik tangan Fany agar menjauh dari tubuhnya.
" Kenapa apa gara-gara wanita jalang ini" ucapnya dengan tatapan tajam ke arah Manda.
" Pakaiannya saja sudah seperti wanita panggilan" Ucap fany dengan senyum sinis melipat ke dua tangannya melirik tajam tubuh Manda dari atas hingga bawah.
__ADS_1
Tak ada yang spesial darinya. Tubuhnya mungil dada datar. Dan beda jauh dengan dirinya yang jauh lebih seksi.
" Hari ini aku akan tidur dengan Manda. Jadi sekarang kamu keluar dari kamarku" Ucap Aron mulai perhalus nadanya dengan menunjuk ke arah pintu mengisyaratkan padanya untuk segera keluar.
" lebih baik kamu yang pergi dari sini pengganggu. Gara-gara kamu Aron mengusirku" Fany menarik kasar tubuh Manda. Namun langkahnya terhenti Aron memegang tangan Manda kuat.
Aron menegaskan perlahan pada Fany dengan tatapan tajamnya.
" Aku bilang kamu yang pergi bukan Manda" Ia menarik tangan Manda dari cengkraman kasar Fany.
" Kenapa kamu membela wanita jalang itu dari pada itri kamu sendiri" Ucap Fany dengan nada meninggi penuh emosi. Melihat Aron selalu mementingkan wanita itu.
" Plakkkk.." sebuah tamparan sebagai awal jawaban dari aron.
" Jangan pernah bilang dia wanita jalang. Dia itu istriku sama dengan kamu" Ucap Aron dengan nada emosi menujuk ke wajah istrinya itu.
" What?. Istri ?" Ucap Fany yang masih memegang pipinya yang terlihat memerah dengan tatapan terkejut. Metanya terbuka lebar Wajah Fany pucat pasi seketika. Ia tidak menyangka Manda juga istri ke dua Aron. Dan selama ini dirinya di madu tanpa sepengetahuannya.
" Kamu menikahi wanita jalang itu seizin aku" Lanjut Fany dengan nada penuh emoai menunjuk ke Manda berdiri dengan senyum semringai menatap mereka bertengkar.
" Kenapa? Kalau kamu tidak suka silahkan pergi dari sini" Balas Aron dengan nada semakin tinggi.
Fany tersenyum tipis menarik bibirnya sedikit ia berbalik arah menatap Manda yang hanya terdiam melipat ke dua tangannya di perut seakan menonton sebuah pertunjukan drama yang hebat di depannya.
Wanita itu menatap tajam dengan ke arah Manda dengan rahang bawah mulai menegang dan bergerak gerak seakan menahan emosi yang mulai memuncak.
" Awas kamu" Gumam Fani lirih melotot ke arah Manda.
Manda membalas tatapan tajam Fany dengan senyum semringai di wajahnya.
" Ini baru permulaan" Batin Manda menarik bibirnya sedikit.
" Kenapa kamu masih di sini? Cepat pergi!" Bentak Aron membuat suasana hati Fany semakin menjadi ia tidak terima terus di perlakukan sepeperti itu.
Mungkin saatnya nanti ia akan membalas semuanya dari Manda. Ia berdecak kesal menghentakkan kakinya beranjak pergi dari kamar Aron.
Jangan lupa klik Vote ya..dukung karya autor terus.
Terima kasih.
dan maaf jika kalian bosam dsn banyak typo bertebaran.
__ADS_1