
2 Bulan kemudian.
Vina yang sekarang balik lagi ke Paris bersama dengan Albert, kini dia langsung menuju ke rumah mama tiri Albert. Kali ini langkahnya sangat pasti, tak seperti pertama kali Vina masuk ke dalam rumah mewah milik Albert, seakan dia sudah terbiasa dengan statusnya sebagai nyonya Albert, orang yang paling di segani di Paris. Semua orang mengenalnya, anak dari seorang pengusaha sukses yang mampu menduduki pasar dunia.
"Syang!! Kamu kenapa berhenti di situ?" tanya Albert, membalikkan badannya. Mengulurkan tangannya ke belakang tepat di depan dada Vina.
"Aku gak nyangka kita balik lagi ke sini. Tapi di mana adik kamu sekarang?" tanya Vina, memutar matanya melihat sekelilingnya, tak ada siapapun di rumah itu. Wanita itu menarik ujung bibirnya tipis, "Kenapa aku merasa sangat aneh!! Semuanya hak ada di rumaj. Dan rumah nampak sangat sepi," gumam Vina dalam hatinya.
"Kalau sepi ini kesempatan kita syang!! Kita belum punya anak sama, padahal udah 3 bulan menunngu. Dan kita kalah dengan Kesha dan Vino yang sudah hamil 2 bulan sekarang." gumam Albert mengerutkan bibirnya kesal.
"Sabar, nanti kita juga punya anak.. Tapi tidak sekarang, mungkin Tuhan belum memberikan ijin untuk mengasuh anak. Kita masih di suruh senang-senang dan saling romantis dulu!!" ucap Vina, membuat Albert terdiam, mencubit hidung mancung mungkin milik Vina.
"Permisi tuan, saya bantu bawa kopernya ke dalam!!" ucap Seorang pelayan yang tiba-iba baru saja keluar.
"Iya, kamu dari mana. Kenapa semua sangat sepi gak ada orang sama sekali!!" tanya Albert heran.
"Eh.. nyonya besar sekarang lagi keluar, bi. Kemana? Dan dengan siapa dia pergi?" tanya Albert, beranjak duduk di sofa, menarik tangan Vina untuk duduk di sampingnya.
"Nyonya lagi pergi, tuan. Apa perlu saya telepon, nyonya besar." pelayan itu menunduk takut.
"Gak usah, cepat bawa semua koper masuk ke kamar aku."
"Baik tuan!!" pelayan itu beranjak pergi meninggalkan mereka.
"Syang!! Kamu gak capek?" tanya Albert, denga tangan di atas punggung sofa, ia memiringkan tubuhhnya, menyentuh dagu Vina yang hari ini nampak sangat cantik.
"Kamu semakin hari semakin cantik!!" ucap Albert lirih.
"Apa maksud kamu, syang!!" Vina mengusap wajah Albert, membuat laki-laki itu bergetar hatinya, tubuhnya seketika tertarik, dan langsung mengecup bibir tipis milik Vina.
"Kita lanjutkan, ya?" tanya Albert.
"Lanjutkan apa?"
"Bercinta kita yang sempat tertunda dulu!!"
"Apa? Gak mau, lagian aku udah capek!!" ucap Vina, melemparkan pandangannya berlawanan arah, membelakangi tubuh Albert, dengan ke dua tangan di lipat di dadanya.
__ADS_1
"Beneran kamu gak mau?" tanya Albert memastikan, mencolek pundak Vina dari belakang.
"Emm.. Iya!!" Vina menganggukkan kepalanya.
"Sekarang aku ingin bicara dengan kamu," Albert memegang dagu Vina dari belakang, menariknya menoleh tepat berada sangat dekat dengannya. Wajahnya sangat dekat, hembusan napas mereka saling berpacu sangat cepat.
"Bicara apa?" tanya Vina, dengan napas tersendak-sendak, menatap wajah Albert yang sangat dekat, pandangan matanya seakan memancarkan percikan cinta yang membuat hatinya merasa sangat nyaman denganya.
Meski bukan pertama kali dia pada posisi seperti ini dengan Albert, tapi hatinya kali ini berdegup lebih cepat.
Albert mengusap bibir tipis Vina, mengusap dari atas sampai menyentuh bibir bawahnya dengan ibu jarinya sangat lembut.
"Bibir yang seksi," ucap Albert dengan senyum semringainya. Ia beranjak berdiri, mengangkat tubuh Vina tanpa banyak tanya lagi, Vina hanya diam, seakan mulutnya benar-benar di bungkam dengan perlakuan dia yang membuat jantungnya berdetak takk karuan. Vina melingkarkan tangannya di leher Albert, menyandarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya itu.
"Kita mau kemana?" tanya Vina, tanpa menatap Albert.
"Kamu tidur saja dulu, aku akan buatkan kamu makanan!!"
"Aku saja yang masak!!" sambung Vina, mendongakkan kepalanya
"Gak usah! Kamu istirahat saja. Aku ingin memanjakan kamu. Jadi sekali saja!!" ucap Albert.
"Kamu gak percaya?"
"Emm.. Gimana ya, bukanya aku gak percaya sih.. Tapi..." Albert membuka pintu kamarnya, perlahan, membuat ucapan Vina terhenti, ia menatap wajah tampan laki-laki itu, setiap ukiran wajah tampannya membuat degup jantungnya semakin cepat.
Albert membaringkan tubuh Vina di ranjang, seketika wanita itu langsung menarik kerah Albert, mendekatkan wajahnya. "Kamu gak mau?" tanya Vina menggoda.
"Memangnya mau apa?" tanya Albert.
"Mau sedikit saja, " Vina mengecup bibir Albert yang dari tadi ia harus menahannya untuk mengucup lembut bibirnya.
"Nanti saja!!" Albert melepaskan ciumannya dan beranjak berdiri, dengan wajah penuh senyuman manis yang mengukir di bibirnya.
Vina tak hentinya mengumpat gak jelas dalam hatinya. "Nyeselin banget, suami gak peka... padahal aku ingin sekarang. Tapi dia nolak.. Hemm... Awas saja kalau kamu minta, ku akan menolaknya nanti... "
Albert mengusap ujung kepala Vina, dan beranjak pergi keluar dari kamarnya menuju ke dapur. Karena hari ini adalah hari ulang tahun Vina, ia ingin memberikan kejutan dengan kue buatanya tepat pada jam 12 malam.
__ADS_1
-------
"Albert syang!!" suara centik seorang wanita membuat Albert seketika mengerutkan alisnya. Suara yang sangat familiar di telinganya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Albert jutek.
"Aku kangen dengan kamu!!" wanita itu memeluk erat tubuh Albert dari belakang.
"Aira. Lepaskan pelukanmu!!" Albert mencoba menarik tangan Wanita itu.
"Gak mau!! Aku mau kamu temani aku sekarang belanja... Baru aku akan lepaskan!!"
"Kamu gila.. Istri aku di rumah. Dan aku gak akan pernah keluar sama kamu.." ucap Albert meninggikan suaranya...
"Bukanya istri kamu sudah tidur!! Ayolah temani aku sebentar saja. Aku ingin pergi sama kamu!!" ucap Aira, semakin mempererat peluaknnya, dengan kepala menyandar di punggungnya.
"Aku gak akan pernah mau!!" Albert menarik tangan Aira kasar.
"Pergi dari sini!!" bentak Albert menarik tangannya keluar dari dapurnya, melangkah semakin cepat menuju ke luar rumah.
"Albert!! Jika kamu berani mengusirku, maka kamu sendiri yanga kan tahu akibatnya. Ingat kamu dan aku dulu waktu remaja pernah berhubungan berkali-kali, dan itu terjadi sampai kamu mau menikah dengan Elis yang sekarang jadi adik kamu. Dan pada Akhirnya kamu mengajak aku pacaran, kita melakukannya lagi. Seakan sudah jadi kebiasaan kita berbuat mesum setiap hari!!"
"Jaga mulut kamu!! Aku sekarang sudah tidak seperti itu." Albert menggeram kesal, mengangkat tanganya, dengan telunjuk tangan mengarah ke wajah Aira.
Aira menepis tangan Albert, melangkah dua langkah ke depan. "Aku syang sama kamu!! Dan aku tidak akan pernah apa gang kamu lakukan. Dan dulu kamu janji mau nikahi aku setelah kamu merusak kehidupan aku!!"
"Itu dulu. Dan aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang ke dua kalinya." Albert segera menutup pintunya, dengan sigap wanita itu memeluk tangan Albert, menempelkan dadanya erat.
"Aku gak akan pergi!! Atau aku bilang pada para wartawan jika kamu pernah menodai. Dan apa jadinya jika istri kamu tahu nantinya."
"Shiittt..." umpat Albert.
"Kita pergi bersama, kamu temani aku malam.ini. Dan besok, setelah itu terserah kamu mau gimana lagi!!" ucap Aira.
"Dan aku yakin kamu akan menceraikan istri kamu itu" goda Aira, mengusap dada Albert.
"Lepaskan!! Jangan gila kamu!! Aku akan temani kamu, hanya pergi belanja gak lebih!!" ucap tegas Albert.
__ADS_1
Aira tersenyum lebar, melepaskan pelukannya di tangan kiri Albert