
Vino meletakkan kembali ponselnya, tanpa membalas pesan dari
Vina. Ia tidak mau membuat Kesha cemburu lagi nantinya, dan mengira jika dia
masih cowok Play boy seperti dulu.
“Siapa?” tanya Kesah jutak.
“Cie... Mulai cemburu ya?” gada Vino.
“Siapa juga yang cemburu” ucap Kesal Kesha, memalingkan pandangnnya berlawanan Arah.
Vino melirik ke arah Kesha, ia tahu jika wanitanya itu cemburu.
Tak lama perjalanan, mereka sampai di sebuah pantai. Dan tepat pemandnagna sunset masih terlihat jelas.
“Cepat turun!!” ucap Kesha, yang masih terlihat jutek. Ia bergegas turun lebih dulu.
Vino, bergegas turun dan berdiri di samping Kesha. Tanpa
banyak bicara lagi Kesha, menarik tangan Vino menuju ke pinggir pantai dengan
langkah kaki semkain cepat. Vino hanya diam, menatap dari samping wajh Kesha
yang membuatnya berhari-hari tidak bisa tidur jika dia belum jadi miliknya.
“Jangan terllau epat kalau jalan” resah Vino.
“Kamu nanti kelamaan jalannya, saku gak mau kehilanga omen
ini. Dan kamu sudha bawa ponsel kamu an. Aku mau kamu dsegera foto aku” ucap
Kesha.
“kalau kamu mau foto, kenapa gak bawa camera sekalian, biar
gambarnya lebih bagus dan hidup” ucap Vino.
“Kalau gambarnya hidup, aku takut.” Ucap Kesha.
Vina, hanya diam. Bisa-bisanya Kesha di saat serius ia sambil
bercanda seperti itu. Tapi gemesin juga sih. Pikirnya.
“Kamu mau pakai hp atau pakai camera?” tanya Vino
memastikan.
“Udah, pakai yang ada saja. Kamu gak bawa camera, apa mau ambil
pulang dulu baru foto, Nanti keburu malam” ucap Kesha, yang sudah berdiri di pinggir pantai.
“Permisi, maaf ganggu. Bisa fotokan kita gak?” ucap Kesha,
pada seorang yang lewat di depannya.
“Baiklah” degan antusias orang itu mau menolongnya.
“mana ponsel kamu?” tanya Kesha mengulurkan tanganya ke arah
Vino.
Vino langsung memberikan begitu saja ponselnya.
Kesha menarik tangan Vino, untuk foto dengannya. Ia yang
tadinya mengira Kesha bakalan foto sendiri, ternyata dia masih romantis juga. Pikir Vino.
Vino da Kesha melakukan berbgaai pose, yang berbeda dari
pasangan lainnya. Mereka berpose seperti pasangan yang selalu berantem, dan
asik. Dengan pandangan mata saling menajam, dan berbagai pose lucu lainya. Merasa
sudah lelah Kesha mengahiri fotonnya
“uda, makasih ya” ucap Kesha segera mengambi ponsel Vino.
“Iya, sama-sama”
“Nih ponsel kamu” Kesha melemparkan ponsel Vino, membuat
Vino terkujut dan sontak langsung menangkapnya
Hari sudah menjelang malam, matahari sudah terbenam dengan
__ADS_1
sempurna. Kesha menatap ke arah Vino yang duduk di atas pasir, d bawah pohpn
kelapa, menatap ke arahnya.
“Kamu gak ikut menikmati ombak?” ucap Kesha dengan nada
keras.
“enggak, kamu saja” ucap Vino, tersenyum melihat Kesha,
bermaiin ombak, menendang air, dan berlair megejar ombak. Dengan senyum lepas
terlihat di raut wajahnya.
Bagi Vino melihat Kesha bisa tersenyum ia sudah bahagia.
Kesha berlari, bermain air dengan tangannya, di balik sinar
rembulan yang terlihat cerah, dengan gemerlap bintang yang menghiasi wajah indah
Kesha. Kesah yang sudah merasa capek, ia kembali dan duduk di samping Vina.
“Kenapa berhenti?” tanya Vino, menatap ke arah Kesha di
sampingnya.
“Aku capek” ucap Kesha, menyandarkan kepalanya di bahu Vino.
Sontak, membuat laki-laki itu terkejut, saat dia tadi marah-marah dengannya
tidak mau ia sentuh. Sekarang wanita yang ia perdulikan bersandar di bahunya.
Vino mengangkat tanganya, ia ragu ingin mengusap kepala
Kesha. Ia menurunkan kembali tanganya, mengurungkan niatnya untuk membelai
lembt rambut Kesha.
“Sha, apa kamu sadar.
Selangit pun tersenyum, sat melihat kamu bosa tersenyum” ucap Vino. “Lihatlah
ke atas” lanjutnya.
keplanya menatap ke atas.
“Kamu lihat gak, ada apa saja di atas” tanya Vino.
“Ada bintang dan bulan” ucap Kesha.
“Lihat mereka semua sekarang terlihat sangat cerah, bahkan
lebih cerah dari biasanya. Karena bertambah satu cahata paling terang yang
membuat langit bisa tersenyum lebar”
“Maksud kamu?” tanya Kesha bingung.
“Melihat kamu tersenyum, langit, laut semua terlihat
bahagia. Dan satu yang paling bahagia, yaitu aku” ucap Vino dengan senyum tipis
terukir di bibirnya, ia memegang tangan Kesha. Sedikit terangkat, ke depan
dadanya. Membuat Kesha menatap ke arahnya.
Sha, aku tahu. Kamu pasti sangat-sangat membenciku. Tapi
beri aku kesempatan padamu. Untuk membuktikan ketulusan cintaku padamu. Aku
akan segera menikahi kamu, sebagai bukti jika aku serius padamu, dan gak pernah
main-main lagi. Karena bagiku pernikahan itu hanya satu kali seumur hidup. Dan tidak
akan terulang lagi, jadi aku gak akan mungkin menghianatimu. Aku akan selalu
ada buat kamu, menjaga kamu sepanjang hidupku” ucap Vino, seketika membuat
Kesha terdiam, ia menatap mata Vino penuh dengan ketulusan.
Sepertinya memang dia tulus, dia gak mungkin bohong padaku.
Tapi aku masih balum tahu Vino. Pikir Kesha.
“Sha, kenapa kamu diam?” tanya Vino, dengan telaak tangan
__ADS_1
memegang pipi Kesha.
“Aku sudah terlanjur menerima Albert, dan aku belum
menemuinya untuk bicara. Dan gak mungkin aku meninggalkanya begitu saja tanpa
sebab. Apalagi dia juga baik padaku” ucap Kesha, seketika membuat Vino menarik
tanganya kembali, membalikkan badanya mentap ke pantai yag menjulang luas di
depannya.
“Tapi aku akan memberimu kesempatan” ucap Kesha, membuat
Vino langsung membalikkan badannya, menatap ke arah Kesha, ia meraih tangan
Kesha kembali, dengan senyum bahagia terpancar di wajahnya. Dan Kesha hanya
tersipu malu, menatap ke arah Vino.
“Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan itu?” tanya
Vino memastikan.
Kesha hanya tersenyum, menganggukan keplanya. Vino seakan
tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia sangat bahagia. Pria itu langsung mencium
lembut ke dua tangan Kesha.
“Makasih, aku akan bantu kamu membuktikan siapa Albert, aku
yakin akmu akan langsung memutuskan hubungan dengannya nanti” ucap Vino,
mengusap kepala Kesha lembut. Menarik kepalanya, menyandarkan ke bahunya.
“Aku tahu Sha, perasaan kamu masih sama, kamu masih
mencintaiku. Dan kamu gak akan mungkin bisa melupakan ku” ucap Vino, yang terus
mengusap kepala belakang Kesha.
Kesha hanya diam, dengan senyum yang entah tidak bisa ia
bayangkan, kebahagiaan sesungguhnya pada dirinya adalah laki-laki yang ia
cintai. Dari raut wajah Vino, ia memahami jika dia benar-benar tulus dengannya.
Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Vino, dengan ke dua
tangan merengkuh erat tubuh Vino.
Vino menarik napasnya dalam-dalam, ia masih tidak menyangka
dengan semua ini. Ia masih ragu, ini mimpi atau gimana. Vino menerima pelukan Kesha, mereka saling
merengkuh, hingga mwajah Kesha tenggelam dalam dekapan hangat tubuh Vini, yang
sudah lama ia rindukan.
“Aku rindu pelukan hangat ini” ucap Kesha.
“Aku juga, sangat merindukan dekapan hangat darimu, aku
sangat merindukanmu” ucap Vino, melepaskan pelukan Kesha, memegang ke dua pipi
Kesha, dengan pandangan saling mentap satu sama lain.
“Sha, apa aku kimpi. Bisa mneyentuhmu lagi, bisa mendekapmu?’
ucap Vino.
Kesha mengerutkan alisnya. Melepaskan tangan Vino dari
pipinya. “Kamu gak percaya jika ini nyata” ucap Kesha, membalikkan bdanya,
dengan bibir manyun bebebrapa senti.
“Sha, bukannya gitu aku percaya. Tapi aku ingin memastikan. Jika
aku tidak menghayal sekarang” ucap Vino
Kesha membalikkan badanya cepat, mencubit ke dua pipi Vino.
“Awww.. Sakit Sha” ucap Vino, mengusap ke dua pipinya.
__ADS_1