Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Bertemu Kesha


__ADS_3

3 bulan berlalu usia kandungan Manda sudah menginjak 6 bulan, dan ia sangat bersyukur sudah tidak terjadi apa-apa dengannya. Aron dan Manda mengikuti apa yang di katakan dokter, dan setiap bulan di juga check up ke dokter untuk konsultasi kehamilannya yang sudah membesar itu. Bahkan jalan saja sudah semakin sulit. Terkadang harus meminta bantuan orang untuk menuntunya. 


Entah kenapa kehamilan Manda kali ini lebih besar dari kehamilan Duke dulu. Entah apa emang anaknya kembar, dia juga tidak mau usg karena bagi dia kembar atau tidak, laki atai perempuan juga ia tidak perduli yang penting anaknya sehat ia juga senang.


Dan kuliah juga berjalan dengan normal, mungkin nanti saat anaknya hamil ia sudah menginjak semester empat, dan ia akan libur lebih dulu satu semester. Ya kalau boleh, kalau tidak ya dia rela beasiswanya harus di hapus nantinya. 


Manda tidak perduli jika di hapus atau tidak lagi dapatkan beasiswa lagi, yang paling penting baginya adalah baby dalam kandungannya itu bisa lahir dengan selamat. Ia ingin memberikan asi pada babynya nanti. 


"Syang hari ini Duke dan Lia sekolah, kamu yang antar dia ya?" Ucap Manda, yang seperti biasa ia selalu terburu-buru saat pagi, karena ambil kuliah pagi jadi dia benar-benar kerepotan. Jika harus antar Duke dan Lia juga, karena mempet dengan waktunya. 


"Baiklah, emang kamu berangkat sama Vina lagi?" Tanya Aron. 


"Iya, untuk sementara aku berangkat sama dia, lagian dia gak begitu kerepotan syang. Dan nanti kalau anak kita udah lahir aku mau kamu ajari aku mengemudi mobil ya, biar kau bis kemana-mana sendiri saat kamu lagi sibuk" gumam Manda, meraih tasnya dan segera beranjak keluar. 


"Tunggu syang kamu mau kemana?" Tanya Aron. 


"Kuliah syang" gumam Manda kesal. 


"Ya, udah cepat berangkat" gumam Aron berjalan mendekati Manda, yang sudah terlihat sangat kesal. 


"iya, sekarang aku mau berangkat" ucap Manda membalikkan bandannya. Namun, langkahnya terhenti, Aron memegang tangannya sangat erat, lalu menariknya pelan, masuk dalam dekapan tubuh bugarnya, hingga benda kenyal menempel tepat di bibir mungilnya. 


Perlahan Aron melepaskan kecupannya. Memegang ke dua bahu Manda. 


"Hati-hati syang" ucap Aron dengan suara lembutnya. 


"Iya syang" gumam Manda, tersenyum tipis terpaut dari wajah cantiknya. Meski dia sudah akan punya anak lagi, dia masih terlihat sangat cantik sama seperti dul, yidak berubah sama sekali dari tubuh dan wajahnya, hanya pipi yang terlihat cabi menggemaskan.


"Mama mau berangkat?" Tanya Duke yang baru saja masuk dan berdiri tepat di depannya. 


Manda membungkukkan badanya, mengusap lembut kepala Duke dengan jemari lentik tangannya.


"Iya syang, nanti sekolah di antar papa ya" gumam manda, mengusap lembut rambut Duke. 


"Baik" ucap Duke dengan senyum tipis menyungging di bibirnya. 


Manda dengan segera pergi menuju ruang tamu, seperti biasa Vina sudah menunggunya di luar. Kali ini dia datang bersama dengan Albert. 


Manda memincingkan matanya, melihat Vina dekat dengan albert meski hanya duduknya yang berdekatan tapi itu moment yang sangat beda. Dari mereka yang sebelumnya terkenal seperti kucing dan tikus.


"Kalian datang berdua, atau jangan-jangan kalian sudah.." Manda menghentikan ucapanya dengan senyum menggoda menunjuk ke arah Vina dan Albert bergantian. 


Melihat suatu hal yang belum pernah ia lihat beberapa bulan terakhir, mereka tiba-tiba saling sapa, dekat dan bahkan sudah saling akrab satu sama lain tapi juga hanya beberapa detik saja akrabnya. Entah sejak kapan mereka bisa saling akrab begitu. 

__ADS_1


"Udah jangan bahas itu, sekarang kita ayo berangkat." ucap Vina yang merasa malu. 


"Ada yang tidak beres nih dengan kalian" ucap Manda yang masih sangat penasaran dengan hubungan mereka. Sebelum dapat jawaban ia tidak berhenti terus menggoda Vina. 


"Gak ada apa-apa antara aku dan dia, lagian aku hanya ingin bertemu denganmu" ucap Albert. Membuat Vina merasa cemburu, ia hanya diam menatap tidak suka pada Albert.


"Apaan gak jelas, udah ayo Vin pergi" ucap Manda berjalan keluar, langkah Manda sangat hati-hati, perutnya sudah semakin membesar. 


"Manda, aku bantu" ucap Vina, membantu Manda untuk naik ke mobilnya. 


"Aku kira tadi kamu naik mobil Albert, jadi kamu tadi jempuk Albert ya." Ucap Manda. 


"Iya, tapi hanya di ujung jalan" ucap Vina yang masih kesal dengan Albert. 


Meski dirinya kini bisa dekat dengan Albert tapi hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu. Bahkan saat Vina menanyakan tentang perasaan Albert pada Vina. Ia hanya jawab dengan senyuman, dan kadang hanya mengangguk saja padahal ia tidak mendengar semua apa yang di katakan dirinya. Tapi banyak marahnya jika di tanya, kalau Al lagi memang gak mood dan banyak masalah yang nengganggu pikirannya.


Hampir 30 menit perjalanan mobil Albert sudah terparkir di kampus, Manda di bantu Vina untuk turun dari mobil. 


"Kalian duluan saja, aku masih ada urusan" ucap Albert yang masih di dalam mobil. 


"Emangnya kamu mau kemana?" Tanya Vina penasaran. Ia memincingkan matanya, dengan bibir menguntup menatap sinis ke arah Albert. Meski enggak pacaran dengan Albert, Vina selalu tanya dan bahkan sudah seperti wartawan yang selalu mencari berita kemanapun pada artisnya. Vina selalu over membuat Albert risih dan berniat ingin menjauhi Vina. 


Bagi dia wanita yang selalu ingin dekat dengan lelaki, dan memaksakan sebuah perasaan yang tidak mungkin ia rasakan, seperti wanita yang murahan pengemis cinta. 


"Vin udah ayo masuk" ucap Manda, menarik tangan Vina untuk pergi dari parkiran. Ia sadar jika situasi tidak membaik sekarang. "Ya, sudah ayo" gumam Vina. 


"jangan mencariku nanti, aku gak balik lagi ke kampus. Hari ini aku hanya mau lihat Manda" ucap Albert. 


"Terserah kamu" ucap Vina, hatinya seakan di siram air panas mendegar ucapan Albert yang menusuh hatinya, menembus jantungnya, membuat hatinya semakin menciut, mendidih, ingin sekali melontarkan beberapa kata kasar padanya. Namun mulutnya tak bisa mengucapkan, seperti ada yang menahannya untuk bicara.


"Udah gak usah perduliin Albert, lebih baik kita pergi. Aku gak suka kamu dekat dengannya. Dia gak pantas buat kamu yang terlihat cantik. Pasti banyak yang suka dengan kamu, lagian banyak lelaki yang lebih tampan dari lelaki sinis, nyebelin, dan jutek seperti dia." Sindir Manda, melirik sekilas ke arah Albert yang masih di dalam mobil. 


Merasa tersindir, Albert memutar mobilnya, dan melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi. 


"Udah gak usah mikirin dia lagi" ucap Manda. Vina menuntun Manda menuju lorong kampus menuju ke arah ruang kelasnya. 


"Kenapa kamu gak bisa lepas dari dia sih" gumam Manda pada Vina di sampingnya. 


"Aku suka dengan dia" gumam Vina. 


"Suka? Kamu udah buta karena cinta, dia itu lelaki seperti apa kamu sudah paham. Kenapa kamu malah bertahan seperti dia. Aku gak mau kalau kamu terus tersakiti seperti itu" gumam Manda. 


"Udah gak apa-apa, lagian aku masih sanggup bertahan kok. Kamu tenang saja ya" ucap Vina, mencoba membuat Manda agar tidak panik. 

__ADS_1


"Ya, sudah. Aku hanya ingetin kamu. Tapi jika kamu masih ingin bertahan teraserah kamu saja Vina syang" ucap Manda, mencubit pipi Vina yang terlihat sudah memerah. 


Manda dan Vina saling jahil dan bercanda, ia segera masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran yang tak begitu lama datang dosen yang baru saja masuk dan langsung memulai jam kuliahnya. 


2 jam berlalu..


"Hari ini kamu tahu gak apa yang di maksud dosen tadi." Ucap Manda. 


"yang mana?" Tanya Vina. 


ya pelajaran tadi Vin, aku belum terlalu paham. Nanti kamu ajari aku ya, soalnya sejak hamil aku jadi gagal fokus" gumam Manda. 


"Tenang saja, nanti aku ajarin kamu di rumah kamu" ucap Vina.


"Sekarang kamu lansung pulang atau enggak" tanya Vina. 


"Eang udah selesai ya jam kuliah hari ini" tanya Manda. 


"Udah, sekarang ayo jemput anak kamu sekolah" ucap Vina. 


"Emang kamu bawa mobil?" Tanya Manda memastikan. 


"Sopir aku yang jemput, jadi nanti kita langaung ke sekolahan anak-anak kamu lebih dulu" ucap Vina. 


" Baiklah" gumam Manda. Mereka berjalan menunu ke mobil Vina yang di aman sopirnya sudah menunggu dari tadi.


"pak, langsung ke sekolahan Victoria" ucap Vina, pada sopirnya.


"Biak non" ucap sopir itu tanpa banyak tanya lagi, kenapa Vina mau ke semolahana victoria, padahal dia gak punya adik ya g sekolah di sana.


Manda yang hanya diam, memansang ke luar kaca, ia tak sengaja melihat gadia yang oernah ia temui dulu di srbuah mini market saat ia hamil Duke. Jaket yang ia kenakan masih sama, an dia juga masih menggunakan masker dan kepala tertutup topi belakang jaketnya.


"Mata itu sepertinya pernah aku lihat" ucap Manda dalam hatinya, ia mencoba mengingat siapa wanita itu. "Kesha!" ucap Manda, membuat Vina terkejut.


"Kenapa da?" tanya Vina, memegang bahu Manda. Ia mengira jika Manda tadi tertidur dan menginggau.


"Aku tadi melihat sahabat aku di sana, dia jalan sendiri" ucap manda menoleh ke belakang, dengan tubuh yang terlihat panik menunjuk ke belakang.


Vina menoleh ke bekakang, ia tidak melihat siapapun di sana. Hanya beberapa orang yang lewat ingin menyebrang jelan atau memang ada yang ingin pergi untuk bekerja.


Vina mengusap bahu Manda agar dia merasa lebih tanang, ia mengambil bitol minuman di jyrsi sampingnya. "Minumlah dulu, agat kamu lebih tanang lagi. Sekarang kamu duduklah diam dan tenang ya" ucap Vina, membuka botol minuman itu.


"Kamu tadi melihat siapa Manda, di belakang tidak ada siapa-siapa?" tanya Vina yang merasa bingung dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


Manda mencoba menarik napasnya panjang, ia menenangkan hatinya yang terasa gundah melihat kenyataan itu. Kesha benar-benar ada di sini" ucap Manda, ia menciba menoleh ke belakang mobil, namun memang benar apa yang di katakan Kesha, lagian juga mobil terus berjalan menjauh, membuat ia kehilangan jejak Kesha ksmana sekarang.


__ADS_2