Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
KeLuar kota


__ADS_3

Hari ini Manda tidak masuk sekolah, dirinya memilih untuk tetap stay di rumah, Aron tidak mengijinkannya untuk pergi keluar. Sedangkan Aron hari ini sedang ada meeting di luar kantornya. Tapi hanya sekedar makan dan membicarang bisnis dengan orang yang entah siapa. Manda juga tidak kenal dengannya. 


Namun meski ada meeting, selalu saja bangunya kesiangan. Tidak pernah bangun pagi. Ya, atau memang karena kebiasaannya mengerjakan kerjaan kantor sampai larut pagi. 


"Syang bangun" ucap Manda mencoba membangunkan Aron, yang masih tertidur pulas di ranjangnya dengan tangan merengkuh perutnya. Sudah berkali-kali Manda mencoba membangunkan Aron namun tetap saja Aron belum juga bangun dari ranjangnya. Bahkan Ia masih tertidur pulas di ranjangnya merengkuh bantalnya sangat erat. 


"Syang bangun!" gumam Manda memdorong tubuh Aron. "Ayolah syang bangun, sudah siang nih" lanjutnya.


"Iya syang, kenapa kamu bangunkan aku?" Tanya Aron yang masih susah untuk membuka matanya. Ia hanya membalikkan badannya dan tidur terlentang tidak menggunakan baju atasan sama sekali. 


"Katanya kamu sekarang ada meeting, apa jadi meeting kamu? Atau di tunda ya." Tanya Manda. 


"Emm.. meeting entar syang jam sembilan, lagian ini masih jam berapa sih syang. Masih pagi kan, mataharinya juga belum nampakkan sinar panasnya" ucap Aron, yang masih belum juga membuka matanya. 


"Sekarang sudah jam tujuh syang, apa kamu gak mau mandi dulu, atau makan dulu nantinya. Lagian juga sudah siang cepat bangun. Sebelum anak-anak bangun nantinya."ucap Manda mendorong-dorong tubuh Aron. Agar dia cepat bangun dari ranjangnya. 


"Iya syang, ini aku bangun" gumam Aron, yang mulai duduk. Namun, matanya masih susah untuk terbuka. 


"Buka mata kamu syang" ucap Manda, mencoba membuka mata Aron lebar-lebar dengan ke dua tangannya. 


"Akhirnya bisa ke buka juga mata kamu syang" gumam Manda yang merasa sangat senang, bisa ngerjain Aron setiap pagi. Membohongi dia jika bangun ke siangan "Akhirnya bangun juga, sekarang masih jam enam syang" ucap Manda sambil tertawa lepas melihat Aron yang sudah membuka mata ke coklatan miliknya, meski terasa sangat berat untuk terbuka. Bahkan matanya seakan di penuhi dengan lem yang terasa lengket. 


"Syang kamu ini ya, udah sekarang kamu juga bangun" ucap Aron. 


"Emangnya kenapa syang?" Tanya Manda bingung. 


"Aku mau ajak kamu jalan-jalan pagi, sekalian menghirup udara pagi, lagian sinar matahari pagi sangat baik bagi tubuh. Dan sekalian ajak anak-anak" ucap Aron. 


"Ya, sekarang giliran kamu syang yang bangunkan anak-anak. Lagian mereka juga masih di kamarnya. Belum ada yang terbangun dari tidurnya. Aku mau jalan jalan saja rasanya sangat susah sayang. Kaki aku jadi berat. Bahkan tubuh aku juga seakan tidak bisa berjalan jauh. 


"udah nanti kamu di kursi roda saja ya syang." Ucap Aron. Mengusap rambut Manda dengan jemarinya "Sekarang aku akan bangunkan anak-anak dulu. Kamu di sini saja. Atau kamu aku antar kamu mandi nanti ke kamar mandi. Sampai dalam bathup. Dan setelah itu aku tinggal. Kalau kamu sudah selesai mandi teriak panggil aku. Jangan keluar sendiri bahaya, nanti kalau lantainya licin gimana, aku kan takut syang" lanjut Aron, yang sangat bawel itu. Membuat Manda hanya diam mendengarkan apa yang di katakan Aron panjang lebar.


"Iya bawelku" ucap Manda, Aron segera membantunya untuk ke kamar mandi, dan menggendongnya masuk dalam bathup. Setiap hari Aron memang selalu membantunya. Ia tidak bisa membiarkan istrinya keliaran sendiri di kamar mandi. Pikirannya selalu nehatif, jika Manda terpeleset dalam kamar mandi giman, itu yang ia takutkan sekarang, di saat kehamilan besarnya.


Setelah membawa Manda ke kamar mandi, Aron turun ke bawah mengambil beberapa makanan untuk anaknya dan juga untuk Manda meski ia tidak jadi masak sendiri, karena para pembantunya sudah masak banyak untuk keluarganya. Jadi dari pada di buang juga, lebih abik di makan. 


Dan Aron juga tidak lupa membuatkan susu untuk ibu hamil. "Bi Duke dan Lia sudah bangun belum?" Tanya Aron pada pembantunya yang memang masih bersih-bersih di dapur. 

__ADS_1


"Sudah tuan, sepertinya baru selesai mandi juga" ucap pembantu Aron. 


Aron dengan segera membawa makanan ke kamarnya dulu dan meletakkan makan dan susu untuk manda di meja. 


TOK... TOK..


"Syang sudah belum?" Tanya Aron, di depan kamar mandi. 


"Bnetar lagi syang, kamu ambilkan aku baju" teriak Manda. 


"Baiklah" jawab Aron yang tanpa pikir panjang ia segera mengambil baju untuk Manda. Dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. 


"Udah-kan syang mandinya?" Tanya Aron, yang sudha berdiri di samping Manda memegang handuk di tangannya. 


"Sudah syang" ucap Manda. Mencoba untuk berdiri dengan sangat hati-hati. 


Aron memapah tubuh Manda dan segera memakaikan bajunya, bagi Manda sudah biasa Aron selalu membantu dia memakai baju. Tapi ya saat Manda hamil besar, biasanya Manda selalu memakai bajunya sendiri. 


"Syang nanti kamu ajak aku jalan-jalan gak?" Tanya Manda dengan lirikan menggoda, berharap Aron membawanya keluar dari rumah yang membuatnya sangat bosan itu.


"Syang pelan-pelan" ucap Manda. 


"Ini sudah pelan syang, oya besok kamu kerja gak syang?" Tanya Manda, berjalan ringan menuju ke kamarnya. 


"Ya, kerja syang."ucap Aron. 


KRIIINGGG.. 


Ponsel Aron berbunyi, mendengar itu, ia segera melangkahkan kakinya di samping ranjangnya, dengan tangan meraih ponselnya di ranjang. 


" Siapa syang?" Tanya Manda berjalan pelan mendekati Aron, memegang punggungnya yang terasa sakit. 


"Manajer aku syang" ucap Aron. "Aku angkat dulu ya" lanjutnya.


Aron segera mengangkat telepon dari manajernya, dan melangkah agak jauh dari Manda. Membuat Manda mengerutkan bibirnya kesal, ia duduk di ranjang. Sambil menunggu Aron selesai telepon manajernya. 


Padahal dia bisa telepon di samping aku, kenapa malah dia menjuah seakan tidak mau aku mendengar apa yang di katakan pada menajernya, seolah itu yang ada dalam hatinya sekarang.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Aron. 


"Tuan besok kita ada meeting di California" ucap manajer Aron. 


"Baiklah, besok jam berapa" tanya Aron, yang langsung menerima tawaran manajernya. Nanti ia bisa belakangan bicara dengan Manda, dan berharap dia bisa menerimanya. 


"Besok jam sepuluh tuan, dan tiket lesawat juga sudah saya siapkan, seta hotel di sana untuk tuan menginap satu malam juga sudah siap" 


"Baik, jangan bilang pada siapun tentang hal ini, aku tidak mau nantinya ada musuh yang sengaja memanfaatkan kepergianku untuk menyakiti anak dan istriku" ucap Aron yang ajdi terlalu paranoit, terhadap sesuatu. Ia tidak mudah percaya dengan orang jika tidak benar-benar menguntungkan baginya. 


Aron mematikan ponselnya dan meletakkan ke meja kecil samping ranjangnya. "Ada apa syang?" Tanya Manda, yang masih menatap bayangan wajah cantiknya di depan cermin. Mengusap lembut rambut panjangnya dengan jemari tangannya. 


Aron melangkahkan kakinya mendekati Manda, ia berdiri di belakang Manda, dengan tangan meraih sisir di meja rias. Jemari tangan Aron sangat lihai menyisir pelahan rambut panjang Manda. 


"Syang, boleh nanya gak?" Tanya Aron mencoba basa-basi dengan Manda. 


"Nanya apa syang?" Tanya Manda nampak bingung. 


"Jika aku ada meeting di luar negeri, apa kamu marah denganku?" Tanya Aron ragu, ia takut Manda akan marah-marah dengannya nanti, karena mengambil keputusan tanpa tanya lebih dulu padanya tadi.


"kalau hanya satu atau dua hari gak masalah syang, tapi kalau lama gak boleh. Nanti siapa yang nemenin aku, siapa yang ajak jalan-jalan anak-anak. Lagian nanti baby aku diperut kalau minta di pegang kamu gimana" ucap manda, meraih sisir di tangan Aron, dengan tubuh langsung menoleh ke belakang, menatap wajah Aron di depannya. Dengan kepala agak mendongak ke atas menatap wajah yang lebih tinggi darinya. 


"Jadi kamu ijinin aku syang?" Tanya Aron memastikan dengan senyum semringai di wajahnya. 


Manda hanya tersenyum, menganggukan kapalnya pelan. "Makasih syang" ucap Aron, memeluk tubuh Aron. Lalu melepaskan perlahan. Dengan tangan memegang ke dua bahunya. 


"Aku kerja keras seperti ini agar bisa se-sukses usaha aku yang dulu syang, aku ingin bisa menunjukan pada anak-anak aku nantinya. Jika begitu susahnya bekerja keras mulai dari nol. Itu yang aku ingin ajarkan pada anak-anak kita. Dan ini juga demi kebahagiaan anak kita juga syang" ucap Aron, mencubit ke dua pipi Manda, lalu membungkukkan badanya, mengusap perut besar manda sebentar, kemudian mengecupnya lembut. 


"Syang sepertinya dia lebih aktif dari Duke" ucap Aron. 


Manda terdiam, menarik tangan Aron agar berdiri di depannya lagi. 


"Sepertinya begitu syang, aku mengira jika anak kita kembar syang" gumam Manda.


"Semoga laki sama perempuan ya syang" gumam Aron.


"Iya syang, aku juga ingin begitu" ucap Manda.

__ADS_1


__ADS_2