Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Persiapan pernikahan


__ADS_3

Keesokan harinya. Semua sudah berkumpul di ruang tamu, kecuali Kesha yang sepertinya masih di rumahnya, menyiapkan pesta pernikahan Vino dan Kesha besok.


"Vino, kamu cepat panggil Kesha, kita semua akan menyiapkan pesta pernikahan kamu. Di rumah, aku juga akan mengumumkan presdir baru di perusahaanku nanti," ucap Manda, sembari menggendong baby Axcel. Dan Brandon dalam dekepan papanya.


"Baik,!!" ucap Vino beranjak berdiri.


"Dan sekalian, nanti kalian banti kita persiapkan semuanya. Lihat mama Kesha dan papanya sudah mulai mendesain semuanya." sambung Vina.


"Iya, baiklah. Sepertinya dia bangunnya kesiangan." gumam Vino, beranjak pergi, meninggalkan mereka semua.


"Tapi kenapa mereka mengumumkan presdir baru, jika kakak mengumumkan aku yang akan jadi presdir di perusahaannya. Aku bisa apa, aku belum belajar jauh." gerutu Vino, sembari terus melangkahkan kakinya cepat menuju ke rumah Kesha.


"Aaa.. Itu pikir nanti saja, yang penting, ku menikah dulu dengan Kesha."


Tok.. Tok.. Tok..


Merasa tidak ada jawaban dari Kesha, Vino segera masuk ke dalam rumah Kesha, berjalan menuju kemarnya, dan langsung membuka pintu kamar Kesha yang tidak terkunci.


Melihat Kesha masih berbaring di ranjangnya, ia hanya bis amenghela napasnua, sembari menggelengkan kepalanya. "Jam segini masih tidur," decak kesal Vino. Terbesik dalam pikirannya, untuk menjahili Kesha, ia mengangkat tubuh Kesha, menuju kemar mandi. Ia menjeburkan tubuh kesha perlahan di damam bathup penuh, berisikan air hangat.


"happ.. happ" Kesha bergaya seperti tergelam dalam air, padahal tidak dalam.


"Tolong aku!!" ucap Kesha.


"Vina!! Bukalah matamu syang!!" gumam Vino, memegang dagu Kesha.


Seketika, membuat mata Kesha, menatap wajah Vino di depannya. Ke dua mata mereka tertuju.


"Vino!! apa yang kamu lakukan," decak kesal Vina, menarik bibirnya sinis, tiba-tiba terbayang menjahili balik Vino. Ia menarik ke dua sudut bibirnya, mengukir sebuah senyuman tipis.


"Pyuukkkk... Pyukkkk.."


"Kesha, aku sudah mandi!!" decak kesha Vino, yang langsung meloncat mundur ke belakang.


"Kau gak perduli!!" ucap Kesha, menarik ke dua alisnya ke atas. Ia terus menyirami Vino dengan tanganya.


"STOP!!" teriak Vino, dengan ke dua tangan di depan, dan tubuh terus ia tarik ke belakang.

__ADS_1


"Kalau begitu, sekarang kamu pergi. Aku mau mandi. Kalau enggak, aku akan siram kamu lagi pakai air." ancam Kesha, seketika membuat Vino berlari terbirit. Ia sudah mandi, dan malas untuk mandi lagi.


"Iya. Aku pergi sekarang!!" teriak Vino, yang sudah keluar dari kamar mandi, menunggu Kesha duduk di ranjangnya.


"Vino! Ambilkan aku handuk, sekalian pakaikan di lemari," pinta Kesha, menyembunyikan tubuhnya di balik pintu.


Tanpa menololak, Vino segera mengambil baju Kesha di lemari. Dan memberikan pada Kesha.


"Tok.. Tok..."


"Ini baju kamu, cepat buka!!"


Kesha membuka sedikit pintunya, mengeluarkan tangannya. Dan Vino mendorong pintu Kesha, untuk masuk. Dengan sifat Kesha mendorong pintunya.


"Jangan melawan, atau aku akan marah padamu!!" ancam Kesha.


Kesha menutup pintunya, tanpa sadar tangan Vino tertinggal di balik pintu.


"Aw.. Tanganku Kesha." yeriak Vino, meringis kesakitan, terjepit pintu.


"Ehh.. Maaf gak sengaja, aku mandi dulu." ucap Kesha, yang langsung mengeluarkan tangan Vino, dan menutup rapat pintu kamar mandinya.


"Untung masih tangan kamu yang kejepit. Gak burung kamu, mungkin akan lebih berbeda lagi sensasinya." teriak Kesha, sembari berendam di dalam.batup, menikmati air hangat, yang mulai menembus pori-porinya.


Mendengar kata itu, Vino memegang miliknya, menelan ludahnya kasar.


"Tega banget dia, kalau punya aku kejepit. Gimana jadinya nanti waktu menikah." gumam Vino, beranjak duduk di ranjang Kesha kembali.


-------


Sedangkan Di rumah megah, bernuansa putih, milik keluarga Albert.


Seorang laki-laki tampan, sudah terbangun dari tadi, dari tidurnya, ia beranjak, melangkahkan kakinya dengan langkah sangat cepat, menuju ke kamar Vina. Dari tadi sepertinya dia belum juga keluar, membuatnya sangat khawatir. Apalagi kemarin, ia meninggalkannya sendiri, dan memilih pergi melihat kamarnya.


Ia membuka pintu kamar Vina yang tidak terkunci, seketika ia mengerutkan keningnya, menatap kamar yang terlihat kosong, tidak ada Vina du dalam


"Di mana dia, apa dia sekarang sudah pergi? Atau berada di kamar kemarin?" pikir Albert, yang langsung berlari menuju kamar yang, kemarin terkahir dia bertemu dengannya .

__ADS_1


Ia masuk ke dalam kamar, seketika langkahnya terhenti, melihat Vina tertidur di sofa. "sudah di sediakan kamar, tapi malah tidur di sini," ucap Albert, ia menarik sudut bibirnya, dan mulai ngerjain Vina.


"Sebagi sambutan pagi, untuk wanitaku." bisik Albert, di telinga kiri Vina.


Jemari tangan Albert, menyelinap masuk ke dalam baju Vina, membuat wanita itu, yang merasa aneh, mayanya yang masih susuh terbuka, ia memiringkan tidurnya ke kanan, merasa ada cela, Albert berbaring di sampingnya, dengan tangan masih di tempatnya di dada Vina. Di sofa sempit, mereka berbaring berdua. Albert memainkannya, membuat Vina sontak bangun dari tidurnya. Dengan sigap tangan Albert merengkuh erat tubuh Vina dari belakang.


"Jangan menolak syang, aku hanya ingin menyambut pagimu," ucap Albert, mengecup tengkuk Vina, di balik helaian tipis rambut Vina.


"Albert, ini masih pagi, kenapa kamu mengejutkanku."


"Lagian kenapa kamu tidur di sini. Kenapa gak tidur di kamar syang, besok kita sudah menikah. Sekarang cepat bangun, kita persiapkan semua dekorasi bersama Elis dan mama ku. Papa aku juga sudah pulang." ucap Albert, yang mendekap semakin erat.


Vina beranjak dari tidurnya, melepaskan tangan Albert di pinggangnya, dan mulai


"Albert, kamu sudah siap semuanya?" tanya mamanya. Dan beranjak menghampiri Albert, dan Vina yang sedang berbincang berdua.


"Sudah ma, tapi aku mau bicara pada orang tua Vina, tadi baru saja dia menghubungi orang tuanya lebih dulu."


"Ya, sudah sekarang, kilian bersiap. Kita juga sudah menyiapkan semua tiket bulan madu, dan mobil. Kalian bisa tinggal di hotel milik papa kamu selama satu minggu." ucap mama Larisa. Membuat Albert seketika berbunga.


"Makasih, Ma!!" ucap Albert, memegang tangan Vina, menariknya berdiri.


"Sekarang kita pergi dulu, soal desain dan lain-lain. Aku serahkan pada kalian." ucap Albert, melangkahkan kakinya pergi.


Mama muda Albert, memang sangat syang dengannya. bahkan seperti anak kandungnya sendiri, ia memanjakan Albert, seperti dia memanjakan Elis. Namun, kakak perramanya yang memang tidak suka dengan, mama muda papanya.


Albert, berjalan menuju mobilnya. Memakaikan sabuk pengaman untuk Vina, "Kamu selalu lupa, ya." ucap Albert, mencubit pipi menggemaskan Vina.


"Kamu gak takut bertemu orang tuaku?" tanya Vina, melirik ke arah Albert.


"Enggak!! Kenapa juga harus takut, tidak ada yang perlu di takutkan syang!!" ucap Albert, yang mulai menjalankan mobilnya, keluar dari halaman rumah mewah miliknya.


Vina menghela napas lega, Albert sangat berani bertemu dengan orang tuanya. Lagian dari status dia sekarang, menjadi tuan muda. Pasti akan menjadi hal yang menarik bagi orang tuanya.


Vina melirik ponselnya, kebetulan ada sebuah pesan dari seseorang, ia segera membukanya. "Pesan dari Manda?" gumam Vina lirih. Dan segera membukanya.


"Vina, Besok Kesha dan Vino akan menikah. Apa kamu akan datang. Tapi kalau gak bisa datang tidak masalah."

__ADS_1


Vino dan Kesha menikah, mereka pasti akan menjadi pasangan yang bahagia. Akhirnya aku tidak merasa bersalah lagi, telah membuat mereka bertengkar dulu. Sekarang aku sudah punya tambatan hari baru, yaitu Albert.


Vina melirik sekilas ke arah Albert, menatap wajah tampannya dari samping


__ADS_2