
"Emangnya kamu suka dengan laki-laki ya?" Tanya Vino.
"Iya laki-laki, masak aku suka sesama sih, aku masih normal lagi Vin. Gila apa aku suka sejenis. Lagian banyak lelaki yang baik dan tampan di luar" ucap Vina, dengan senyum tipisnya. Ia kali ini bisa lepas saling akrab dengan Vino. Bahkan ia tidak canggung nerbicara dengan Vino, lelaki yang baru saja ia kenalnya. Bahkan dia belum kenal lama denganya. Baru bebera menit yang lalu. Tapi rasa nyaman pada Vino membuat Vina tidak bisa lepas darinya.
Tatapan mata itu seakan menarik Vina untuk tetap stay berada di depan Vino. Tapannya sangat tajam tapi dia menarik, wajahnya imut, meski sepertinya Vino lebih tua darinya 3 tahun. Vina dengan Manda saja lebih tua Manda.
"Maksud aku itu, kamu suka dengan seseorang?" Tanya Vino.
Vino tersenyum tipis,
"he.. he.. Iya, tapi dia gak balas cinta aku, bahkan menoleh ke arah aku saja tidak mau. Dia tidak mau menatap sama sekali aku. Menganggapku hanya bayangan gelap yang tak terlihat, meski aku di depannya sekalipun aku tetap gak di anggap." Ucap Vina. "Aku juga sempat tanya tentang bagaimana perasaannya padanya, namun ia hanya diam tidak menjawab.
"Lebih baik kamu pergi saja darinya. Jangan terus menggantung cinta itu padanya, lagian wanita secantik kamu. Kenapa gak cari yang lain?" Tanya Vino.
"Permisi, ini minumannya" ucap waiters itu memotong pembicaraan mereka.
"Iya makasih" ucap Vino.
"Aku mau cari yang lain jika lelaki itu baik seperti kamu" ucap Vina, menggoda.
Vino tertawa, "Kamu bisa saja" ucap Vino dengan senyum samar menyungging di bibirnya.
"Boleh tanya gak?" Ucap Vina ragu.
"Tanya apa?" Jawab Vino.
"Kamu apa sudah punya kekasih ya? Apa dia juga nyakitin kamu?" Tanya Vina, ia yang baru pertama melihat Vino, seakan sudah kenal lama dengannya. Bahkan mereka saling berbincang tanpa rasa ragu dan canggung satu sama lainnya. Dan jaket Vino juga masih ia pakai, untuk meneutupi sebagian lengannya yang sobek.
__ADS_1
"Aku memang pernah jatuh cinta, tapi itu dulu. Sekarang entah di mana cinta itu, apa dia masih setia atau mendua. Aku juga tidak tahu, kita sudah pisah lama, tidak pernah bertemu sama sekali hampir tiga tahun yang lalu" ucap Vino, dengan senyum terpaksa keluar dari bibirnya. Vina tahu jika Vino ingin menangis, tapi pasti dia malu menangis di depan wanita.
"Kamu pasti syang banget ya sama dia?" Tanya Vina.
"Sangat, sangat syang. Bahkan aku sudah melamarnya" jawab Vino, sesekali ia memejamkan matanya mengingat kejadian lalu yang terus ada di pikirannya. Hal itu tidak bisa ia lupakan sama sekali, kenangan itu masih ada dalam otak Vino. Dan apa ucapan kakaknya yang membuat ia kabur dan nemutuskan hubungan dengan kakaknya juga masih terngiang di pikirannya.
"Kenapa kamu gak mencari dia saja, minta penjelasan padanya?" Tanya Vino.
"Maunya begitu, tapi audahlah, aku gak mau cari dia. Semenjak dia bilang sudah menikah. Saat itu juga hatiku terasa di siram air panas yang mendidih. Perlahan hatiku hancur saat kenanangan itu begitu mudahnya di lupakan, denga pernikahan yang belum pernah ia tahu siapa lelakinya." Ucap Vino, raut wajah kesedihan yang terpancar di wajahnya. Meski rasa sedih itu terukir jelas di wajahnya, matanya masih terus menahan air mata yang terbendung di dalam mata sipitnya.
"Maaf aku tadi tanya itu, aku gak tahu kalau itu sangat menyakitkan. Kamu sabar ya, semoga kamu bisa bertemu dengannya nanti. Dan menjelaskan tentang hubungan kalian" ucap Vina. "Oya, kamu kuliah juga?" Lanjutnya, mencoba bertanya lebih jauh pada Vino. Ia juga ingin bisa menguatkan hati Vino lagi yang terluka. Jika di tinggal menikah dengan orang lain pasti menyakitkan.
"Iya aku kuliah sambil kerja part time. Untuk biaya hidup aku di sini, dan untuk bayar kuliah aku, meaki aku dapat beasiswa tapi setaop tugas juga mengerjakan pakai uang sendiri kan, aku juga baru pulang kerja part time tadi, saat jalan bertemu dengan para preman yang mengganggu kamu. Langsung saja aku cari balok katu dan memukulkan ke kepala belakangnya" gumam Vino, membuat Vina terkejut. Masih ada lelaki seperti dia ternyata. Berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kuliahnya sendiri.
"Apa kamu gak punya keluarga di sini?" Tanya Vina.
"Kenapa kamu melamun" ucap Vina yang mulai menyeduh caffe latte miliknya. Dengan ke dua tangan menggenggamnya agar terasa hangan di tangannya.
"Emm.. gak apa-apa kok, ayo di minum" gumam Vino.
"Iya, ini udah aku minum. Oya soal jaket kamu. Besok aku kembalikan ya" gumam Vina. "Oya ini tulis nomor ponsel kami, besok aku hubungi kamu" gumam Vina. Mengeluarkan ponselnya dalam tas, dan meja tepat di depan Vino.
"Baiklah, tapi soal jaket bawa saja gak apa-apa, besok pagi aku harus kerja gak ada waktu biat bertemu" jawab Vino, yang mulai mengambil ponsel Vina di depannya. Dan menulis nomor ponselnya.
"Makasih, aya kalau aku tawari kamu pekerjaan setiap saat apa kamu bisa. Tapi kalau kamu longgar saja" gumam Vina.
"emm.. boleh, kalau ada oekerjaan hubungi aku ya" ucap Vino, menyeduh kembali caffe latte di depannya, hingga menyisakan kumis tipis di atas bibir Vino.
__ADS_1
"Bentar" ucap Vina, segera mengeluarkan tisunya, dan mengusap lembut kumis tipis caffe di atas bibirnya.
Vino menatap mata Vina di depannya, lalu meraih tangan Vina, dan meletakkanya di atas meja. "Bisa jangan seperti itu denganku" gumam Vino.
Vino sekilas melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, pukul setengah sepuluh malam. "Sepertinya kamu harus pulang, sudah malam" ucap Vino, bangkit dari duduknya menuju ke kasir.
Ia yang bayar semua minumannya. Ia mrnarik tangan Vina, keluar daei cafe itu. Untuk mengantar Vina pulang.
Di perjalanan mereka saling berbincang satu sama lain, melupakan masa lalu yang menyakitkan sejenak. Dan Vina bisa tertawa lepas lagi saat saling bercanda dengan Vino. Meski Vino bukan kalangan atas bagi Vina, Vino itu unik dan lucu. Dia juga tampan.
"Sudah sampai, kamu cepat masuk ke rumah" ucap Vino, yang langsung membalikkan badannya saat sampai di depan gerbang rumah Vina.
"Makasih" ucap Vina, tanpa menjawab Vino melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Vina sendiri, ia menuju ke sebuah apartemen kecil yang ia tinggal sudah lama.
Vina tadi tak sadar melihat Albert yang melintas di depannya. Ia ingin menjemput Vina, namun saat melihat Vina dengan lelaki lain, ia mdngurungkan niatnya untuk menjemputmya. Dan memilih menancap gas dengan kecepatan tinggi agar Vina tidak menyadarinya.
~
Vina masuk ke dalam rumahnya, ia masih memegang jaket yang ada di belakang punggungnya. "Makasih" gumam Vina berjalan masuk ke dalam kamar, ia yidak melihat orang tuanya, jadi langsung saja masuk ke kamar, ebelum orang tuanya ngomel-ngomel gak jelas nantinya.
Vina tak berhenti tersenyum, ia mengeluarkan ponselnya, menatap nama dan nomor Vino sejenak, lalu meletakkan di atas meja. Ia belum nerniat untuk menghubunginya. Sebelum membersihkan dirinya dulu di kamar mandi.
Setelah selesai Mandai, ia berjalan menuju meja rias, duduk menatap ke cermin, meraih ponsel yang ia letakkan di atasnya. "Aku harus hubungi dia gimama dulu ya aku takut" ucap Vina, memegang erat ponselnya.
"Hai gitu"
"Em.. hapus-hapus ganti lagi saja" gumam Vina pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Vina berjalan melemparkan tubuhnya di atas ranjang, entah kenapa ia selalu senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian tadi. Meskipun itu kejadian yang tak di sangka bertemu dengannya.