
Kesha berjalan perlahan menuju ke pintu, ia memegang tangannya menghilangkan rasa ragunya.
Perlahan Kesha membuka pintu dengan kepala menunduk ke bawah. "Sha!! Kamu di sini ternyata"Vino menarik tangan Kesha keluar dari kamar Manda.
"Da, aku ajak kesha keluar dulu ya, maaf aku pinjam kesha sebentar saja" Teriak Vino, segera menutup pintunya kembali. Kesha terdiam menatap wajah Vino, ia bingung apa yang harus ia jawab Nantinya. Apa harus sebuah keputusan untuk memulainya lagi atau tidak, entahlah.
#Flash Back
Sebelumnya Kesha bertemu dengan Vino tengah malam, di taman belakang rumah Vino, di balik paviliun kecil. Dengan Pemandangan lampu kelip dan kolam renang yang sangat luas di desain seunik mungkin. Sambil duduk menatap pemandangan indah lampu kemerlap, di paviliun kecil itu. Mereka saling berbicara tentang perasaan mereka masing-masing.
"Sha!! Apa kamu tidak mau balikan denganku"Gumam Vino terus terang pada Kesha, dengan tangan memegang ke dua tangan Kesha.
Kesha hanya terdiam, ia tidak tahu sekarang apa yang harus ia katakan, apa harus menerima begitu saja, balikan dengan Vino dan mulai memberi dia kesempatan satu kali lagi.
"Entahlah." beri aku kesempatan untuk jawab semuanya, aku sudah terlanjur sakit hati dengan dirimu. Aku tidak mau hal itu terulang lagi, mungkin aku bisa kasih jawaban iya atau tidak entar juga tergantung bagaimana sikap kamu" kesha memalingkan pandangannya dari Vino.
Vino tersenyum tipis, "Baiklah, aku akan memberimu kesempatan sampai besok, ku harap kamu kasih jawaban yang terbaik buat hubungan kita" Vino beranjak berdiri, ia meraih sebuah bunga mawar merah di dekat taman samping tepat Paviliun, lalu Memutiknya, dan memberikan pada Kesha. "Bawalah itu bunga, putik saja satu persatu kelopaknya, saat kamu bingung menjawab semuanya. Putuskan saja jawabannya sampai kelopak itu habis, jika memang tidak mau aku juga tidak akan memaksamu" Vino menyodorkan bunga itu ke arah Kesha. "Aku berharap bunga itu memberikan jawaban iya nanti"lanjutnya.
Kesha menatap bingung, ia menerima bunga itu, tanpa seuntai kata keluar dari mulutnya. Kali ini baginya belum terlalu penting memikirkan perasaannya, ia hanya butuh ketenangan, ingin sendiri dan mencoba melupakan semua yang terjadi pada Vino dulu.
Hatinya terasa sudah mati sekarang, tak bisa di taburi binih cinta lagi. Meskipun dengan perawatan khusus.
#Back Story.
Manda berdiam diri di kamarnya, ia merasa sangat bosan, kali ini Manda beranjak menuju ke lemari putih dengan kaca menjukang panjang. Ia mengambil jaket untuk menutupi perutnya agar tidak terlalu terlihat saat bertemu dengan Aron nantinya.
Namun ia lebih berharap tidak bertemu dengannya. Apalagi saat ia dengan Fany, itu akan membuat masalah tambah panjang nantinya.
Manda membereskan bajunya dan mulai memasukannya ke dalam koper besar miliknya. Selesai memasukan semua ke koper.
Manda berjalan keluar dari rumah mengenakan jaket tebal untuk menutupi kehamilannya, ia mendekap perutnya berjalan dengan langkah pelan. Ia memang sengaja memelankan langkahnya, agar tidak terdengar oleh Aron, karena kamar dia tepat di sebalahnya. Meski terlihat sepi gak ada orang, tetapi Manda tetap jaga-jaga. Ia tak mau bayi dalam kandungannya kenapa-kenapa. Apalagi Fany sangat licik, jika dia tahu entah apa yang akan ia perbuwat untuk kandungannya.
__ADS_1
Merasa sudah aman tak ada yang mencurigainya, baik pelayan maupun pejaga di rumah itu. Manda menghentikan langkahnya di depan pintu, sekilas menatap ke arah kamar Aron, tepat di sebelah atas kanan ia berdiri. Kamar yang nampak sangat sepi, dari kemarin tak ada gerak-geriknya sama sekali. Bahkan Manda mencoba melihat di balik balkon kamarnya, juga tak terlihat dia, kamarnya tertutup rapat, dan lampunya juga selalu mati. Apa dia ada kerjaan di luar kita, gumamnya
Pikiran wanita itu mulai melayang-layang gak jelas lagi. Ia berpikir lagi tentang Fany. Ia berpikir jika Fany mengentahuinya. Maka ia pasti akan mencelakainya, seraya dalam hati Manda selalu berkata,Jangan sampai, itu gak boleh terjadi, gumamnya.
Ia berniat untuk meninggalkan Aron dan fany, Manda tidak mau menganggu kebahagiaan mereka kali ini, apalagi jika Aron tahu dia mengandung. Meskipun ia akan berubah menyayanginya lagi. Sekarang Manda tak berharap itu. Selagi Fany ada di rumah itu ia tak bisa hidup tenang dengan bayinya nanti. Masalah demi masalah akan datang jika wanita itu masih ada.
Kring...
Sebuah pesan Masuk dari Jack membuat Manda terbangun dari lamunanya. Dengan segera Manda membacanya.
Sebuah pesan tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya, Jack berpikir apa tidak ada jalan lain selain pergi dari rumah, meninggalkan suaminya sendiri, dengan kondisi hamil.
Manda mengiyakan apa yang di bilang Jack. Dan kini Dia juga sudah mengurus keberangkatan dia ke indonesia. Ia mau pergi ke sana untuk menenangkan diri. Dan Jack membantunya, dia menyuruhnya untuk tinggal sementara bersama teman perempuannya di sana. Namun ia bisa berangkat Besok.
Manda melihat taxi sudah di depan gerbang, ia segera naik tanpa bertanya lebih dulu. Ya, lagian siapa juga yang memesan taxi kalau bukan hanya dirinya. Fany punya mobil sendiri. Tak mungkin memesan sebuah taxi, untuk mengantarnya pergi kemana-mana.
"Pak ke rumah sakut dekat sini saja"Manda menepuk pundak sopir taxi itu. Dengan pandangan masih tertuju dengan ponselnya. Maklum Manda bisa menggunakan ponselnya, namun ia tak bisa terlalu canggih lagi.
Taxi itu berhenti tepat di deoan rumah sakit. Sekilas ia seperti melihat Aron masuk ke rumah sakit di depannya.
"Ah.. gak mungkin, mungkin itu hanya bayangan dia kali.
"Non uangnya" Manda yang dari tadi terus melamun ia segera menyodorkan uang pada sopir taxi yang sudah sampai mengantarkan.
Manda mengusap perutnya. Manda berjalan dengan langkah cepat menuju ke rumah sakit, sebelumnya ia sudah memesan taxi sekalian untuk mengankut semua koper dan barang-barang yang ia bawa nanti. Dan di titipkan ke rumah Jack.agar saat ia pergi besok semua rumah tidak curiga.
Manda kini mulai ingin periksa kandungannya lagi, karena ia tak tahu gimana kondisi dia, di dalam sehat atau tidaknya. Ia tak mau terjadi apa-apa nanti dengan kandungannya. Manda benar-benar sangat hati-hati merawat kandungannya yang kini menginjak hampir 2 bulan.
Manda langsung masuk ke ruang perawatan dokter kandungan. Dokter itu denga sigap segera memeriksanya. Tak butuh waktu lama, dokter utu beranjak duduk di meja kerjanya.
"Gimana dok apa kandungan saya sehat" Tanya Manda. Ia baru saja di periksa oleh dokter kandungan.
__ADS_1
" Kandungan ibu baik-baik saja. Namun ibu Manda harus selalu makan-makanan yang bergizi. Jangan terlalu capek, dan jangan terlalu stres ya bu. Kandungan ibu sangat rentan sekali jadi harus hati-hati" Ucap Dokter itu sembari menulis resep obat vitamin untuk Manda.
" Baik bu pasti saya akan hati-hati" pungkasnya.
Manda terlihat lebih ceria dari biasanya. Kini ia tak terlihat sedih meskipun Aron tak menganggapnya. Karena hatinya merasa gembira ada malaikat kecil yang akan menemani harinya nanti.
Malaikat yang sudah manda idam-idamkan untuk kelahirannya. Rasanya ingin sekali ia memeluknya, mendekapnya, berbagi cerita dengannya. Mungkin akan terasa menyenangkan, jika sosok malaikat kecil yang kan merubah hidupnya nanti.
Manda tersenyum dengan tangan terus menggosok perutnya. Semoga kamu baik-baik saja di dalam ya sayang, gumamnya dalam hati.
" oya ini resep vitamin untuk kamu, ingat jaga kandungannya ya bu" Ucap Dokter itu dengan senyum ramahnya pada para pasienya.
Manda mencoba tersenyum dengan ramah, membalas semyuman dokter di depannya itu. " Baik dok. Aku permisi dulu" Ucap Manda beranjak dari duduknya.
Mamda menundukan badanya berpamitan dengan Dokter itu, lalu ia bernajak keluar dari ruangan itu untuk menebus vitamin yang di berikan dokter.
Manda terus menggosok perutnya, tanpa sadar Aron berjalan melewatinya.
"Tunggu!" Ucap Aron yang terus melihat Manda berjalan menundukkan kepalanya.
Langkah wanita itu terhenti seketika, tubuhnya mulai mengigil ketakutan mendengar suara Aron yang begitu terngiang di telingannya.
Apa dia mengetahuiku di sini, apa dia tahu aku hamil. Aku harus gimana sekarang, ku bingung, gumamnya dengan penuh perasaan cemas.
Manda mencengkram erat jaketnya, menutup matanya menghilangkan ketakutan di wajahnya. Ia melanjukan langkahnya kembali.
" Manda tunggu!!" Aron meraih tangan manda yang terlihat sudah mulai memucat.
Manda hanya diam menundukkan kepalanya.
Apa yang harus aku katakan dengannya nanti, gumamnya.
__ADS_1
" Kenapa kamu berada rumah sakit. Apa yang kamu lakukan di sini?"
Aron mencengkram erat tangan Manda, seakan ia mencegahnya untuk pergi