
Di sebuah hotel dengan pemandangan pantai yang indah, dan angin sepoi pantai membuat suasana menjadi lebih fresh.
Vina berjalan keluar mencoba mencari Manda, ia berdiri di
depan holtenya, dengan wajah cemas khawatir jadi satu. Ia sudah mencoba menghubunghi Mnada
berkali-kali namun tidak ada hasilnya juga. Ponsel manda malahb tidak aktif,
membuat Vina semakin bingung.
Vina berdiri di depan pintu masuk hotel, ia terus memandang
ke depan dengan wajah nampak sangat cemas. Hingga, ia tak sadar ada yang
memperhatikannya dari tadi.
“Ehem... Ngapain kamu di sini?” tanya Albert, yang kebetulan
dia juga lewat mau mencari Kesha. Karena tunangannya itu tidak bisa di hubungi
dari kemarin, dan ian berpikir jika Manda pasti mengajaknya juga. Ia juga berharap
jika Kesha akan ikut seperti yang di pesan Manda.
Vina menggerakkan kepalanya ke belakang, menatap tajam ke
arah Albert di belakangnya. Ia menarik
napasnya kesal. “Kenapa lagi ini, mahkluk astral ini selalu mengganggu aku”
ucap Vino, dengan ekspresi wajah mengejek.
“Apa makhluk astral katamu,. Eh harusnya yang bilang begitu
itu aku. Ada makhluk tak kasat mata berdiri di depan aku menghalangi jalanku ”
ucap Albert tak mau kalah.
Vina menguntupkan bibirnya, dengan tatapan semakin menajam.
“Kenapa kamu
menatapku seperti itu” ucap Albert, memandang Vina sangat menyeramkan, ia
berjalan semakin dekat, dan semakin dekat. Dengan hembusan napas berat seperti
orang kerasukan. Membuat Albert mengangkat ke dua tanganya ke depan was-was, ia
melangkahkan kakinya mundur ke belakang.”
Vina mengepalkan tanganya,. “ Apa kamu mau pukul aku di
keramaaian” ucap Albert.
Brrrukkkkk....
Seseorang berlari kencang dan menabrak Vina, membuat dia
terjatuh tepat di dekapan Albert.
“Maaf aku gak sengaja, aku buru-buru” ucap orang itu dan
segera belari kembali.
Vina yang semula mentap tajam pad aorang itu, ia menarik
lagi tatapanya. Semakin memperlembut pandangannya, saat melighat seorang
laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca.
Mau sampai kapan kamu di dekapanku seperti ini” Ucap Albert.
Vina menggerakkan kepalanya, perlahan menatap ke arah Albert
di depannya. Wajah mereka semakin dekat, hembusan napas berat mereka saling
berpacu dalam tatapan yang sama.
Duuukkkk...
Vina membenturkan dahinya tepat di dahi Albert sontak
membuat Albert melepaskan tangannya, dan berjalan mundu memegang dahinya yang
terasa sakit.
“Apa kamu sudah gila?” bentak Albert, dahinya mengeluarkan
darah segar.
“Makanya jangan cari ke semopatan untu memegangku. Aku tahu
tangan kamu tadi nakal kan di belakang” ucap Vina, makanya itu rasain dasar
otak mesum” ucap Vina kesal.
__ADS_1
Albert hanya mengela napasnya, mencoba bersabar menghadapi
makhluk aneh ini terus-terusan.
“Apa yang kamu bilang, aku mesum?” tanya Albert memastikan,
ia berdiri tegap menatap ke depan, melangkahkan kakinya semakin mendekati Vina.
Vina yang was-was Albert akan berbuat mesum lagi padanya, ia
melangkahkan kakinya mundur. “Apa yang akan kamu lakukan Albert. Jangan bodoh,
ini di luar hotel banyak orang. Jangan macam-macam denganku” ucap Vina, memutar
matanya melihat sekelilingnya, banyak lalu lantang pengunjung keluar masuk
hotel. Membuat ia semkain malu.
Albert hanya diam, ia semakin melangkah mendekati Vina.
Hingga, Vina hampir saja melangkan sebuah pukulan ke arah wajah Albert. Tapi
dengan mudahnya dapat di tepis oleh Albert.
Albert hanya diam, tidak membalas sedikitpun, ia memegang
erat pergelangan tangan Vina, yang melayang di atas kepalanya. Yang membuatnya
semakin geram dengan tingkah lakunya.
“Albert berhenti!! Aku bilang kamu berhenti!! Aku gak mau
jika kamu bertindak bodoh” ucap Vina, Al semakin mencengkram erat tangan Vina. Mendekatkan
wajahnya dengan badan sedikit condong ke depan. “Diamlah!!” ucap Albert.
Vina yang gugup, ia menarik napasnya, memejamkan matanya
rapat-rapat, seakan berharap jika Albert akan menciumnya.
“Darah keluar dari pelipismu!!” ucap Albert, mengusap darah
di pelipis kanan Vina, memegangnya beberapa detik. Seketika Vina membuka mata
lebar, menatap wajah Albert yang tepat berada di depannya, hembusan napas
beratnya terasa di hidungnya.
“Sekarang kamu ikut aku!!” ucap Albert, menarik tangan Vina,
“Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Vina, memukul lengan
kekar Albert.
“Sudah diamlah, aku mau bicara sesuatu dengan kamu nantinya,
sekarang yang oenting luka kamu” ucap Albert, masuk ke dalam lift yang terlihat
ramai orang di dalamnya, ia harus rela berdesakan di dalam.
Tubuh Vina semakin di desak, membuat ia semakin menempel ke
tubuh Albert.
Apa-apaan ini orang, kenapa semuanya semakin mendesak tubuhnya
ke arahku dan Albert, sangat sesak sekali di dalam Lift. Pikirnya dalam hati.
Albert yang menyadari jika Vina tidak suka terus di desak
dengan pria di sampingnya, ia menarik tangan Vina, hingga jatuh dalam
dekapanya. Albert berjalan ke belakang hingga mentok pada dinding Lift.
Tubuh Albert semakin ke desak, membuat ia tidak bisa menahan
tanganya yang bertumpu di dinding Lift. Vina menatapnya kagum, ternyata di sisi
lain laki-laki nyebelin di depannya itu. Punya sifat baik yang membuat dia
terkagum-kagum. Sisi baik yang belum pernah sama sekali keluar darinya selama
ini.
“Maaf!!” ucap Albert.
“Maaf untuk apa?” tanya Via yang memelankan satu oktaf
suaranya.
“Aku gak bisa menahan desakan para orang di sini. Bukanya aku
ambil kesempatan denganmu” ucap Albert, mengernyitkan matanya. Menahan desakan
para orang di dalam yang semakin membuatnya tertekan, dan. Thinggg..
__ADS_1
Pintu lift terbuka, semua berhamburan keluar. Vina dan
Albert seakan bisa menarik napasnya lega, ia bisa lolos. Seakan napasnya sangat
berat harus berdesakan beberapa orang di lift.
Albert menarik tangan Vina, keluar segera dari dalam Lift,
melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Vina yang hanya dian, menatap Albert,
mengikuti begitu saja kemana Albert membawanya.
Albert segera membuka pintu kamar hotelnya, dan. Vina tidak
menyadari jika kamarnya berada di sebelah Albert.
Pandangan mata Vina ke Albert terdiam, ia mentap
sekelilingnya. Dimana ini?” gumamnya dalam hati.
“ia melihat sebuah ranjang di depan”, pikiranya langsung berterbangan
memikirkan hal yang enggak-enggak.
“kamu mau apakan aku?” tanya Vina menatap was-was pada
Albert.
Albert melepaskan tangan Vina, “duduklah, dan diam, jangan
banyak bicara lagi. Lagian aku gak akan menyentuh kamu sedikitpun” Gumam
Albert.
Laki-laki itu berjalan menuju ke sebuah laci, mengambil
kotak obat yang memang selalu ia bawa kemana-mana.
Vina mengerutkan keningnya, menatap Albert berjalan
mendekatinya membawa kotak obat.
“Buat apa?” tanya Vina.
“Buast kamu?” ucap Albert.
Ia segera membuka kotak obat, dan mengambil beberapa obat
untuk membersihkan luka pada pelipis Vina.
“Awww sakit!!” ucap
Vina, mengerutkan ieningnya, menahan rasa skait.
“Emangnya dari tadi kamu gak merasa sakit sama sekali?”
tanya Albert.
“Enggak!!” jawab Vina, menggelengkan kepalanya.
“Aneh!!” Vina menatap Albert yang begitu perhatian, sifatnya
berubah seratu delapan puluh derajat. Baru kali ini ia melihat sisi baik
Albert, yang di luar nalar pikirannya.
Albert segera memberi obat merah, seteklah itu membalut
lukanya dengan palster.
“Udah” ucap Albert.
Makasih”
“Untuk apa?”
“ kamu mau meluangkan waktunya kamu untuk mengobatiku” gumam
Vina, menundukkan kepalanya.
“Iya. Sekarang kalau mau pergi silahkan” ucap albert dengan
suara lembut, membuat Vina semakin bingung dengannya. Dewa apa yang membuat dia
jadi pria yang lembut dan baik hanya dalam hitungan detik.
Vina tak berhenti memandang Albert di depannya, yang
membereskan kotak obatnya.
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Vina.
“Mau ngembaliin kotak obat, emangnya aku mau ngapain kamu.
Berduaan dengan kamu juga gak mungkin.” Jawab Albert tanpa mentap ke arahnya.
__ADS_1
Ooo..