Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Episode 224


__ADS_3

Di sebuah hotel dengan pemandangan pantai yang indah, dan angin sepoi pantai membuat suasana menjadi lebih fresh.


Vina berjalan keluar mencoba mencari Manda, ia berdiri di


depan holtenya, dengan wajah cemas khawatir jadi satu.  Ia sudah mencoba menghubunghi Mnada


berkali-kali namun tidak ada hasilnya juga. Ponsel manda malahb tidak aktif,


membuat Vina semakin bingung.


Vina berdiri di depan pintu masuk hotel, ia terus memandang


ke depan dengan wajah nampak sangat cemas. Hingga, ia tak sadar ada yang


memperhatikannya dari tadi.


“Ehem... Ngapain kamu di sini?” tanya Albert, yang kebetulan


dia juga lewat mau mencari Kesha. Karena tunangannya itu tidak bisa di hubungi


dari kemarin, dan ian berpikir jika Manda pasti mengajaknya juga. Ia juga berharap


jika Kesha akan ikut seperti yang di pesan Manda.


Vina menggerakkan kepalanya ke belakang, menatap tajam ke


arah Albert di belakangnya.  Ia menarik


napasnya kesal. “Kenapa lagi ini, mahkluk astral ini selalu mengganggu aku”


ucap Vino, dengan ekspresi wajah mengejek.


“Apa makhluk astral katamu,. Eh harusnya yang bilang begitu


itu aku. Ada makhluk tak kasat mata berdiri di depan aku menghalangi jalanku ”


ucap Albert tak mau kalah.


Vina menguntupkan bibirnya, dengan tatapan semakin menajam.


“Kenapa kamu


menatapku seperti itu” ucap Albert, memandang Vina sangat menyeramkan, ia


berjalan semakin dekat, dan semakin dekat. Dengan hembusan napas berat seperti


orang kerasukan. Membuat Albert mengangkat ke dua tanganya ke depan was-was, ia


melangkahkan kakinya mundur ke belakang.”


Vina mengepalkan tanganya,. “ Apa kamu mau pukul aku di


keramaaian” ucap Albert.


Brrrukkkkk....


Seseorang berlari kencang dan menabrak Vina, membuat dia


terjatuh tepat di dekapan Albert.


“Maaf aku gak sengaja, aku buru-buru” ucap orang itu dan


segera belari kembali.


Vina yang semula mentap tajam pad aorang itu, ia menarik


lagi tatapanya. Semakin memperlembut pandangannya, saat melighat seorang


laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca.


Mau sampai kapan kamu di dekapanku seperti ini” Ucap Albert.


Vina menggerakkan kepalanya, perlahan menatap ke arah Albert


di depannya. Wajah mereka semakin dekat, hembusan napas berat mereka saling


berpacu dalam tatapan yang sama.


Duuukkkk...


Vina membenturkan dahinya tepat di dahi Albert sontak


membuat Albert melepaskan tangannya, dan berjalan mundu memegang dahinya yang


terasa sakit.


“Apa kamu sudah gila?” bentak Albert, dahinya mengeluarkan


darah segar.


“Makanya jangan cari ke semopatan untu memegangku. Aku tahu


tangan kamu tadi nakal kan di belakang” ucap Vina, makanya itu rasain dasar


otak mesum” ucap Vina kesal.

__ADS_1


Albert hanya mengela napasnya, mencoba bersabar menghadapi


makhluk aneh ini terus-terusan.


“Apa yang kamu bilang, aku mesum?” tanya Albert memastikan,


ia berdiri tegap menatap ke depan, melangkahkan kakinya semakin mendekati Vina.


Vina yang was-was Albert akan berbuat mesum lagi padanya, ia


melangkahkan kakinya mundur. “Apa yang akan kamu lakukan Albert. Jangan bodoh,


ini di luar hotel banyak orang. Jangan macam-macam denganku” ucap Vina, memutar


matanya melihat sekelilingnya, banyak lalu lantang pengunjung keluar masuk


hotel. Membuat ia semkain malu.


Albert hanya diam, ia semakin melangkah mendekati Vina.


Hingga, Vina hampir saja melangkan sebuah pukulan ke arah wajah Albert. Tapi


dengan mudahnya dapat di tepis oleh Albert.


Albert hanya diam, tidak membalas sedikitpun, ia memegang


erat pergelangan tangan Vina, yang melayang di atas kepalanya. Yang membuatnya


semakin geram dengan tingkah lakunya.


“Albert berhenti!! Aku bilang kamu berhenti!! Aku gak mau


jika kamu bertindak bodoh” ucap Vina, Al semakin mencengkram erat tangan Vina. Mendekatkan


wajahnya dengan badan sedikit condong ke depan. “Diamlah!!” ucap Albert.


Vina yang gugup, ia menarik napasnya, memejamkan matanya


rapat-rapat, seakan berharap jika Albert akan menciumnya.


“Darah keluar dari pelipismu!!” ucap Albert, mengusap darah


di pelipis kanan Vina, memegangnya beberapa detik. Seketika Vina membuka mata


lebar, menatap wajah Albert yang tepat berada di depannya, hembusan napas


beratnya terasa di hidungnya.


“Sekarang kamu ikut aku!!” ucap Albert, menarik tangan Vina,


“Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Vina, memukul lengan


kekar Albert.


“Sudah diamlah, aku mau bicara sesuatu dengan kamu nantinya,


sekarang yang oenting luka kamu” ucap Albert, masuk ke dalam lift yang terlihat


ramai orang di dalamnya, ia harus rela berdesakan di dalam.


Tubuh Vina semakin di desak, membuat ia semakin menempel ke


tubuh Albert.


Apa-apaan ini orang, kenapa semuanya semakin mendesak tubuhnya


ke arahku dan Albert, sangat sesak sekali di dalam Lift. Pikirnya dalam hati.


Albert yang menyadari jika Vina tidak suka terus di desak


dengan pria di sampingnya, ia menarik tangan Vina, hingga jatuh dalam


dekapanya. Albert berjalan ke belakang hingga mentok pada dinding Lift.


Tubuh Albert semakin ke desak, membuat ia tidak bisa menahan


tanganya yang bertumpu di dinding Lift. Vina menatapnya kagum, ternyata di sisi


lain laki-laki nyebelin di depannya itu. Punya sifat baik yang membuat dia


terkagum-kagum. Sisi baik yang belum pernah sama sekali keluar darinya selama


ini.


“Maaf!!” ucap Albert.


“Maaf untuk apa?” tanya Via yang memelankan satu oktaf


suaranya.


“Aku gak bisa menahan desakan para orang di sini. Bukanya aku


ambil kesempatan denganmu” ucap Albert, mengernyitkan matanya. Menahan desakan


para orang di dalam yang semakin membuatnya tertekan, dan. Thinggg..

__ADS_1


Pintu lift terbuka, semua berhamburan keluar. Vina dan


Albert seakan bisa menarik napasnya lega, ia bisa lolos. Seakan napasnya sangat


berat harus berdesakan beberapa orang di lift.


Albert menarik tangan Vina, keluar segera dari dalam Lift,


melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Vina yang hanya dian, menatap Albert,


mengikuti begitu saja kemana Albert membawanya.


Albert segera membuka pintu kamar hotelnya, dan. Vina tidak


menyadari jika kamarnya berada di sebelah Albert.


Pandangan mata Vina ke Albert terdiam, ia mentap


sekelilingnya. Dimana ini?” gumamnya dalam hati.


“ia melihat sebuah ranjang di depan”, pikiranya langsung berterbangan


memikirkan hal yang enggak-enggak.


“kamu mau apakan aku?” tanya Vina menatap was-was pada


Albert.


Albert melepaskan tangan Vina, “duduklah, dan diam, jangan


banyak bicara lagi. Lagian aku gak akan menyentuh kamu sedikitpun” Gumam


Albert.


Laki-laki itu berjalan menuju ke sebuah laci, mengambil


kotak obat yang memang selalu ia bawa kemana-mana.


Vina mengerutkan keningnya, menatap Albert berjalan


mendekatinya membawa kotak obat.


“Buat apa?” tanya Vina.


“Buast kamu?” ucap Albert.


Ia segera membuka kotak obat, dan mengambil beberapa obat


untuk membersihkan luka pada pelipis Vina.


“Awww  sakit!!” ucap


Vina, mengerutkan ieningnya, menahan rasa skait.


“Emangnya dari tadi kamu gak merasa sakit sama sekali?”


tanya Albert.


“Enggak!!” jawab Vina, menggelengkan kepalanya.


“Aneh!!” Vina menatap Albert yang begitu perhatian, sifatnya


berubah seratu delapan puluh derajat. Baru kali ini ia melihat sisi baik


Albert, yang di luar nalar pikirannya.


Albert segera memberi obat merah, seteklah itu membalut


lukanya dengan palster.


“Udah” ucap Albert.


Makasih”


“Untuk apa?”


“ kamu mau meluangkan waktunya kamu untuk mengobatiku” gumam


Vina, menundukkan kepalanya.


“Iya. Sekarang kalau mau pergi silahkan” ucap albert dengan


suara lembut, membuat Vina semakin bingung dengannya. Dewa apa yang membuat dia


jadi pria yang lembut dan baik hanya dalam hitungan detik.


Vina tak berhenti memandang Albert di depannya, yang


membereskan kotak obatnya.


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Vina.


“Mau ngembaliin kotak obat, emangnya aku mau ngapain kamu.


Berduaan dengan kamu juga gak mungkin.” Jawab Albert tanpa mentap ke arahnya.

__ADS_1


Ooo..


__ADS_2