
Keesokan harinya, Manda yang dari kemarin membiarkan Kesha
sendiri, kini ia berniat untuk menghampiri Kesha. Dan mencoba berbicara dari harti ke hati
dengannya. Agar salah paham ini tidak terjadi lagi padanya. Meski dia tidak
berhak untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi setidaknya, ia ingin menghibur Kesha, agar tidak terlalu lama larut dalam kesedihan.
Sejak kejadian kemarin Kesha tidak keluar sama sekali dari
kamarnya. Entah apa yang ia lakukan dalam kamar. Langit yang masih gelap,
bahkan belum sama sekali menapkkan sinarnya, Manda bangun lebih dulu dan
mencoba melihat Kesha dari lantai atas depan kamarnya, yang langsung tertuju tepat di kamar Kesha. ia berharap jika Kesha segera keluar dari kamarnya.
Tetapi, Ia tidak menemukan batang hidung Kesha sama sekali.
Kali ini ia ingin turun namun ia tidak mau meninggalkan Aron yang masih
terbaring di ranjangnya. dengan terpaksa ia harus minta ijin dulu pada Aron, atau menunggunya bangun. Kalau dia tiba-tiba pergi gak bilang, dia selalu marah-marah karena terlalu khawatir dengannya.
Manda yang semula berdiri, mandar-mandir gak jelas. Dengan
pikiran semakin berkecamuk. Jika masalah ini belum selesai, ia tidak bisa
begitu saja tidur tenang.
Manda, terdiam. Ia terp[kirkan untuk menghubungi Vina, agar
nanti dia datang ke rumahnya untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Kesha,
sebelum salah paham mereka berkelanjutan.
Manda meraih ponselnya di meja kecil samping ranjangnya,
dengan segera ia menghubungi Vina.
“Ada apa, Da?” ucap Vina, dari seberang sana.
“Vin, aku gak bisa tenang, apa kamu nanti bisa datang ke
rumah aku. Kalau Vino mau ikut dengan kamu juga datang ke sini, itu lebih baik. Aku mau kalian
semua jelasin, agar hubungan Vino dan Kesha semakin membaik. Aku gak mau mereka
terus bertengkar.” Ucap Manda dengan penuh dramatis, ia menggigit jarinya,
mencoba menahan rasa khawatir yang semakin memuncak dalam tubuhnya.
“Iya Da, aku juga berencana seperti itu, akibat kejadian
kem,arin aku belum bisa tenang jika tidak jelasin semuanya pada mereka, tapi
aku coba hubungi Vino nanti. Entah, dia mau bertemu lagi dengan aku atau tidak. Aku berharap bisa ajak dia.” Ucap Vina yang tak kalah dramatis, ia mengungkappkan isi hatinya selama ini.
“Baiklah, kalau gitu aku tunggu kamu nanti. Tapi kalau Kesha
nanti pergi ya kalian bisa jelasin nanti malam. Aku akan bawa Kesha keluar dan
kamu ajak Vino untuk keluar.” Gumam Manda dengan mata penuh khawatir memandang
Aron, ia takut jika tidurnya terganggu.
“Manda!!” ucap Aron yang masih berbaring di ranjangnya,
dengan mata masih tertutup rapat.
“Aku akhiri dulu ya Vin, nanti di sambung lagi, Bye” Manda
memutuskan sambungannya begitu saja. Sebelum mendengarkan balasan dari Vina. Ia
berjalan menuju ke ranjangnya, naik ke atas ranjang, mencoba membangunkan Aron.
__ADS_1
“Syang, kamu sudah bangun?” tanya Manda, yang masih berbaring
di ranjangnya.
“Iya, syang! Ada apa?” tanya Aron yang masih malas untuk
bangun, matanya seakan masih lengket dan susah sekali terbuka.
“Aku ke kamar Kesha dulu ya”
“Sendirian!!”
“Iya, sendiri! Emangnya mau sama siapa syang, kamu saja
tidur.”
Aron menarik tangannya ke atas, merenggangkan ototnya yang
terasa sangat kaku,tidur semalan.
“Emmm... Tapi apa kamu bisa turun tangga sendiri syang?’
tanya Aron yang masih memejamkan matanya, dan tangan mendarat di perut besar
Manda dan mengusapnya lembut.
“Bisa syang, hanya turun tangga saja. Lagian kehamilan aku
juga gak jadi penghambat. Kalau lari baru aku gak bisa syang, tapi kalau hanya
jalan aku bisa” ucap Manda, dengan tangan mencubit hidung Aron, dan salah satu
tangannya memegang tangan Aron di perutnya.
Aron, menaikan kepala di kedua paha Manda dengan tangan
memainkan rambut Manda. Di balas dengan sentuhan lembut dari jemari tangan
Mnada mengusap kepala Aron.
dulu” Aron merengek manja pada Manda, dengan ke dua tangan memegang tangan
Manda, lalu meletakkan di dadanya.
“Syang kamu ini ya!! Sekarang manja banget dengan aku,
padahal yang seharusnya manja itu aku” gumam Manda, menyutuh hidung Aron dengan
telunjuk tanganya.
“Udah, aku mau ke kamar Kesha dulu, aku mau lihat dia syang,
dari kemarin malam kita pulang, dia belum juga keluar kamar. Aku takut dia
kenapa-napa” ucap Manda.
Aron beranjak berdiri, dengan tangan memegang tangan Manda,
dan mengusapkannya berkali-kali di pipinya. Aron memejamkan matanya, menikmati
sentuhan tangan lembut Manda.
“Syang kamu seperti kucing saja!!” ucap manda, menatap aneh
pada suaminya itu.
“Aku kangen sentuhan tangan kamu sentuhan tangan kamu syang,
sudah lama kamu gak pernah membelaiku sama sekali. Suami kamu ini kangen syang,
belaian tangan kamu.” Ucap Aron, duduk mentap ke arah Manda.
“Iya, nanti saja syang. Ini darurat!! Aku mau lihat Kesha
__ADS_1
lebih dulu”
Aron menghembuskan napasnya, dengan terpaksa ia mengijinkan
Manda pergi ke kamar Kesha lebih dulu.
Mnada tersenyum, dan beranjak berdiri dari ranjangnya. “Syang
aku pergi dulu ya!!” ucap Manda.
“Iya udah syang, hati-hati kalau turun tangga” ucap Aron.
“Iya syang!!”
“Jangan buru-buru.”
“Iya bawel aku” Manda mendekati Aron yang masih duduk di
ranjang, lalu mencuboit hidungnya gemas.
“Oya syang, kapan kita jemput orang tua Kesha, hari ini
bukannya pesawat mereka suda take off” ucap Manda.
“Iya, sebentar lagi syang. Aku juga mau Mandi dulu bersiap,
kalau kamu mau ke kamar Kesha melihat dia dulu gak apa-apa, pesawatnya juga
pasti tiba satu sampai dua jam lagi”
Mnada mengangukkan kepala berkali-kali, solah ia paham yang
di katakan Aron.
“Ya, sudha kamu buruan cepat mandi sana syang” Manda menarik
tangan aron agar cepat berdiri,
“Iya syang!!” ucap Aron malas, ia beranjak berdiri dengan
tubuh gemuainya malas untuk berdiri.
“Aku tunggu kamu di luar syang” ucap manda yang mulai
melangkahkan kakinya pergi.
Aron mengerutkan keningnya, menatap punggung manda ynag
mulai melangkah.
“Emangnya kamu sudah mandi?” tanya Aron, seketika Manda
menghentikan langkahnya, dengan tangan yang sudah memegang knop pintu. Ia
menoleh ke arah Aron. “ Aku sudah mandi tadi, sekarang kamu pergi saja dulu ke
kamar mandi, jangan tanya kagi syang. Nanti bisa kelamaan tanya aku gak jadi
pergi ke kamar Kesha.” Pekik Manda kesal, ia memnuka pintunya dan melangkahkan
kakinya keluar dari kamarmya, tanpa perdulikan perkataan dan pertanyaan Aron
yang tidak ada habisnya untuknya.
Manda segera berjalan, menuju ke kamar Kesha.
ia mengetuk pintu kamar Kesha berkali-kali namun tidak ada jawaban darinya. tapi, ia tidak putus asa, ia terus mengetuk pintu kamar Kesha.
"Sha!! kamu di dalam?" ucap Manda berdiri bersandar di pintu kamar Kesha. "Sha, buka pintunya dulu, aku ingin bicara dengan kamu, setelah itu kita pergi untuk jemput orangbtua kamu"
" buka saja da" ucap Vina yang masih berada di dalam kamarnya.
Manda tersenyum, memegang knop pintu, dan membukanya , lalu melangakahkan kakinya masuk perlahan, ia terdiam sejenak. Melihat Kesha duduk di depan cermin dan sudah berdandan rapi. membuat Manda terheran-heran, gimana tidak kemarin dia marah, dan sedih. tapi, seklarang seolah dia meluoakan semuanya, dan bisa tersentyum tipis di depan cermin.
__ADS_1
"Ada apa da? Kenapa kamu diam di situ?" tanya Kesha yang masih menyirsir rambutnya.
Manda hanya diam mematung, ia bingung apa yang sebenarya terjadi dengan temannya itu.