
Di balik meja makan yang terlihat berantakan akibat ulah Aron. dia mengira Manda sengaja untuk membuat masakan seperti itu. Padahal emang aslinya Manda gak bisa masak sama sekali. Meskipun hidup di desa, orang tuanya selalu memanjakan dia. Dia hanya sibuk dengan sekolahnya. Bahkan terkadang main dengan teman teman sebayanya. Namun kini kehidupannya berubah Semua kebahagiaan Manda perlahan sudah hilang menjauhinya. Hanya deretan air mata yang terus menemani hari harinya.
Kini Aron dengan tatapan sangat tajam, dia terlihat sangat marah bahkan wajahnya sudah mulai memerah otot rahangnya menengang seketika. Dia berjalan perlahan mendekati Manda tanpa banyak bicara sebuah tamparan Mendarat di pipi kanan Manda sangat keras..
" Plakkk...." sebuahntamparan keras mendarat di pipi kanan Manda.
Manda mengerutkan bibirnya menatap tajam Aron. Dia semakin marah bahkan mungkin kini bisa di bilang dia semakin benci dengan Aron. wanita itu mencoba tersenyum tipis mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. lalu ia memegang pipinya yang terasa sakit. bamun dia tetap tersenyum seolah dia menganggap tak terjadi apa apa.
Dia mencoba tegar, dan tetap tersenyum meski berbagai tamparan selalu ia terima.
Melihat Manda hanya terdiam seolah hasratnya mulai bangkit.
Aron menarik tangan Manda ke dalam pelukanya. Dia memegang pinggang ramping manda masuk ke dalam kehangatan tubuh Aron. Dan mulai menyentuh benda kenyal milik manda. Hingga Manda menvoba menghindar berjalan mundur terpojok ke tembok. wanita itu terus mencoba melawan Aron dan dia tak mau terus mengalah dengan Aron. Dia memang menghargai Aron karena dia lebih tua darinya. Namun jika Aron kasar padanya maka dia juga akan lebih kasar dengannya.
Tangan Aron tak berhenti di situ, dia mulai bermain turun ke bola kenyal Manda memainkannya sangat kasar. Manda tak terima selalu di perlakukan seperti itu dia mengumpulkan semua tenaga dan keberaniannya mengigit mulut Aron, lalu menampar keras wajah Aron.
"plakk..." tamparan sangat keras dari tangan mulus Manda untuk Aron. itu sebagai balasa dari apa yang Aron perbuwat padanya.
"OM jangan mentang-mentang lebih tua dariku. om bisa berbuwat seenaknya padaku. aku memang menghargai om sebagai orang yang lebih tua tapi bukan untuk pelampiasan nafsu Om" Aron nampak terdiam seketika memegang pipi bekas tamparan Manda yang masih membekas.
Dia tak habis pikir Manda sekarang mulai berani menentangnya.
Manda terlihat terdiam menatap Aron yang masih mematung. Dia tak percaya dengan apa yang dia lakukan pada Aron. Namun apa yang dia lakukan akan berimbas pada dirinya. Kini Aron nampak amarahnya sudah mulai memuncak terlihat percikan kemarahan berkobar di mata tajam Aron. Namun Manda tak perdulikan itu lagi. Dia Tersenyum tipis mendorong bahu Aron menjauh darinya. Dengan segera Manda meraih tas yang ada di dapur berjalan keluar tanpa sepatah katapun pada Aron yang masih diam membisu dengan amarah yang masih bekorbar di tubuhnya.
Astmosfer ruangan itu berubah seketika menakutkan dan mencengkam bahkan udara di dalam terasa sangat panas meskipun semua Ac menyala.
Namun Manda tak perduli dia segera pergi menuju ke sekolah. Dia perlahan membuka pintu dan menutupnya kembali. Berjalan keluar menuju depan rumah namun karangan Aron sangat luas membuat dia harus ekstra berjalan kaki jauh menuju ke jalan untuk menunggu bis lewat.
Aron yang masih terdiam kini mulai meluapkan amarahnya pada meja makan di belakangnya.
__ADS_1
" BRAAAKKKK..."
Aron memukul keras meja itu hingga wadah berisi masakan Manda tumpah kemana mana.
Dia masih tak menyangka Manda semakin lama semakin berani malawannya bahkan dia 2 kali menamparnya. Dan satu kali mengigit nya hingga tangan kanan penuh dengan luka gigitan membuat dia harus di perban. Aron masih tak terima dengan semua itu ia berniat akan mengincar Manda dan akan menyakiti Manda lebih ganas lagi.
Selama ini dia hanya diam tanpa memukul manda berlebihan. Namun perlakuan Manda membuat Aron berubah fikiran jauh lebih ganas lagi.
" Sialan gadis itu sekarang berani melawanku. kita lihat saja sampai di mana perjuangannya" pungkas Aron dengan tatapan tajamnya menatap ke depan pintu.
Mulai terlintas di benak Aron ingin mengikuti gadis itu pergi. Dia bergegas keluar dari rumahnya dengan langkah terburu buru membuka pintu sangat kasar Lalu masuk ke dalam mobil yang memang semula sudah di siapkan Sopir untuk dia pergi ke kantor.
" Aku akan berangkat sendiri" Ucap Aron pada sopir yang berdiri di depan mobilnya.
" Baik tuan" sopir itu menundukan badannya.
Aron segera masuk ke dalam mobil, mulai menyalakan mesinnya lalu menjalankan mobilnya perlahan. ia ingin melihat perjuangan Manda sampai di sekolah sampai mana. Karena rumahnya yang sangat terpencil jauh dari kota tak mungkin dia bisa menemukan bis lewat di depan rumahnya.
Aron mengurangi kecepatan mobilnya mengikuti Manda dari belakang. Manda benar benar nekat untuk pergi ke sekolah.Bahkan rela harus capek jalan kaki ke sekolah yang jaraknya 20 km. Bisa bisa sampai besok baru sampai di sekolahan jika dia terus nekat jalan kaki.
lelaki itu mulai mendekati Manda perlahan. Membuka kaca pintu. " Cepat masuk!! "
Manda masih terdiam dia terus melanjutkan jalan nya tanpa menggubris Aron yang masih di dalam mobil.
"Sialan !!" Aron nampak tak sabar lagi menghadapi Manda. Dia bergegas turun menutup kasar mobilnya.
"BRAAAK...." suara keras pintu sontak membuat Manda menoleh ke belakang.
"Kamu mau kemana gadis bodoh??"
__ADS_1
Manda tetap terdiam Ia tidak menggubris Aron sama sekali hanya senyuman tipis mentap Aron sekilan, lalu melanjutkan jalan kakinya lagi. Dia mencoba melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 07.00.
"Hmmzzz" mengeluarkan nafas panjangnya .
" Aku telat lagi??. Kalau nanti memang tak bisa masuk lebih baik aku kerja menghilangakan rasa jenuh" Batin manda tersenyum dengan pandangan tertuju langsung ke pantai di sampingnya.
Aron berjalan Cepat meraih tangan Manda yang sudah berjalan jauh di depannya. Dia menarik kasar tangan Manda untuk masuk ke dalam mobil.
" lepaskan aku!!" Manda mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Aron yang semakin erat.
" Aku tidak akan melepaskanmu" Aron nampak sangat marah terlihat wajahnya sudah mulai memerah. Manda juga tak hentinya memcari gara gara pada Aron.
" Sebenarnya apa mau Om?" Ucap Manda menvoba melepaskan tangannya.
" Aku hanya mau kamu menurut padaku dan jangan pernah memberontak" Aron mulai membuka pintu depan mobil dan meleparkan tubuh manda kasar di kursi samping dia mengemudi,Lalu menutupnya kembali. Ia dengan langkah cepat masuk ke dalam Mobil dan mulai menjalankan mobilnya.
Manda mencoba berkali kali untuk membuka pintu keluar dari mobil itu. Bahkan dia akan berbuwat nekat jika Aron tidak menurutinya. Namun Aron tak tinggal diam dia menarik tangan Manda mencengkramnya erat agar tak berbuwat nekat. Dia terus mengemudi dengan Satu tangan dia tak bisa membiarkan manda terus memberontak dan berbuwat nekat.
30 menit perjalanan Aron suasana dalam mobil nampak panas dan hening. Manda terus berdiam diri di kursinya. jika ia bergerak sedikit saja cengkraman Aron semakin menguat membuat ia meringis kesakitan. Mobil Aron berhenti tepat di depan sekolah Manda. Terlihat pintu gerbang sudah tertutup rapat dan tidak ada sama sekali anak yang baru berangkat.
TIT...TIT...
Aron mencoba memanggil satpam untuk segera membuka gerbang sekolahnya. Tak menunggu lama perlahan pintu gerbang sekolah terbuka. Aron yang masih mencengkram erat lengan Manda melaju pelan masuk ke dalam sekolahan.
" pagi tuan!!" Sapa satpam itu .
lelaki itu tak menggubris sapaan satpam padanya, mobilnya tetap melaju dengan wajah datarnya ia mengemudi perlahan hingga berhenti tepat di parkiran sekolahan.
"Turunlah !" ucap Aron melepaskan tangan Manda yang sudah membiru akibat cengkramannya. Wanita itu hanya terdiam dengan perlakuan Aron yang begitu gila padanya. dalam hatinya ingin sekali membalas namun di sekolah bukan tempatnya.
__ADS_1
Dengan wajah nampak memerah penuh dendam dan amarah yang mengobar bagai api dalam diri Manda. Tatapannya semakin tajam menatap Aron di sampingnya dengan memegang tangannya yang masih terasa sangat sakit. wanita itu bergegas turun mengentakan kakinya berdecak kesal dengan penuh amarah yang mulai memuncak dalam dirinya.