
"Syang aku mau beli sayuran dan buah-buahan di sebalah sana. Kamu belanja yang lainnya ya, biar cepat selesai."ucap Manda, beranjak pergi.
"Eh syang tunggu"ucap Aron. "Syang tunggu" ucap Aron sambil mendorong keranjang dorong mengejar Manda.
"Apa sih syang, apa? Kamu gak berani belanja sendiri. Kamu belanja kebutuhan kita yang lain aku mau cari sayuran buat masak entar syang"gumam Manda, menoleh ke arah Aron malas. Ya padahal mau bagi tugas belanja. Tapi dia selalu ngikut dirinya kemana-mana. Bikin pusing saja, kalau kayak gini belanja gak cepat selesai. Belum juga antrinya di kasir.
Aron meraih tangan Manda.
"Bukan itu syang, kita belanja bersama, aku gak mau kamu cepek nantinya, angkat beberapa barang sekaligus, aku mohon kamu juga mengerti ya."ucap Aron.
Manda tersenyum, melihat wajah Aron yang sangat khawatir dengannya. Terlihat sangat nenggemaskan.
"Udah lah syang gak apa-apa kok, aku hanya ambil syuran, sama buah-buahan apa itu berat. Kamu ini ada saja kalau jhawatir"ucap Manda yang masih tersenyum memandang Aron.
"Enggak"Bentak Aron, yang memang terlihat sangat khawatir dengan kondisi Manda. Karena perutnya yang sudah semakin membesar, Aron jadi terlalu Over pada Manda. Jarang boleh bekerja keras. Jika memang boleh juga hanya beberapa saja yang boleh ia kerjakan.
Manda hanya menunduk, ia merasa kesal dengan Aron. Di saat ia ingin belanja leluasa selalu di bentak. "Syang maaf"ucap Aron.
"Gak tau"gumam Manda.
"Tadi aku itu gak mau kalau kamu kecapekkan syang, aku itu khawatir dengan kondisi kamu. Kamu sudah cepek bekerja rumah dan sekarang belanja"ucap Aron meraih tangan Manda.
"Udah jangan terlalu over gitu, lagian terlalu banyak kegiatan itu jauh lebih baik sayang, asal gak terlalu capek banget kan. Lagian kondisi aku juga sehat-sehat saja"ucap Manda menjelaskan.
Seorang laki-laki mendengar perdebatan mereka, ia berjalan menghampiri Manda dan Aron.
"Da.." Panggil seseorang yang sangat familiar di telinga Manda. Seketika Aron menoleh ke arah seorang laki-laki yang memanggil Manda.
Bahkan ia menghentikan bawelnya pada Manda. Dengan tatapan sinis ke arah seseorang lelaki tampan yang ada di depannya. "Siapa kamu?" tanya Aron dengan tatapan tajamnya.
Lelaki itu tidak perduli dengan Aron, ia tetap berjalan mendekati Manda sangat dekat semakin dekat. "Da apa kabar?" tanya Arta, mantan kekasih Manda dulu waktu ia masih sekolah, di tempat sekolah yang lama. Dan kalau sekarang ia sekolah di rumah, dan malah lebih banyak tugas, materi juga segunung.
Manda hanya meleberkan matanya tak percaya, melihat Arta ada di depannya. "Arta?" tanya Manda.
Arta mengulurkan tangan ke arah Manda, dan di balas dengan uluran tangan balik oleh Manda.
"Kamu sudah hamil sekarang?"tanya Arta yang tetlihat sangat senang, melihat Manda sudah hamil.
"Iya, baru 5 Bulan "ucap Manda penuh keraguan, ia melirik sekilas ke arah Aron yang terlihat tidak suka dengan kehadiran Arta di sana.
__ADS_1
"Udah lepaskan tangan kamu jangan terlalu lama pegang tangan istri aku"ucap Aron sinis.
Seketika Arta langsung melepaskan tangan Manda, tatapan yang sangat jelas ia masih mengharapkan cinta Manda. Karena memang dulu Manda belum sempat bilang putus dengannya, dia sudah pergi ikut dengan kakaknya ke kota besar.
Arta menoleh ke arah Aron yang dari tadi menatapnya tajam.
"Oo.. jadi ini suami kamu"gumam Arta, menatap tidak suka dengan Aron.
Ia masih ingat dulu, Manda pernah cerita soal suaminya. Saat dia pernah bertemu. Dan dia begitu menerima perlakuan kasar oleh suaminya. Hal itu yang membuat Arta masih tidak suka dengan Aron. Lelaki yang berani bertindak kasar dengan wanita.
"Apa dia masih seperti dulu Da?" tanya Arta pada Manda dengan lirikan tajam ke arah Aron yang dari tadi melitot tajam berdiri di samping Manda.
"Maksud kamu apa Ta?" tanya Manda nampak bingung.
"Suka kasar dengan kamu"ucap Arta, melirik ke arah Aron, di samping Manda.
"Sudah gak kok, dia sekarang baik banget sama aku, perhatian, lembut, dan selalu syang dengan aku, apa yang aku minta selalu di turuti. Pokoknya sekarang dia sudah berubah total deh, sudah gak kayakk suami aku yang dulu lagi, dia sudah baik denganku."Ucap Manda, meraih tangan Aron, mememeluk tangannya erat dengan kepala bersandar di bahu Aron. Terlihat Manda begitu bangga bisa dapat suami seperti Aron.
" Oya kamu belanja apa tadi?" tanya Manda.
"Belanja kebutuhan rumah, kebetulan aku pindah di sini sekarang. Agar terlalu dekat dengan tempat aku syuting."ucap Arta dengan senyum manis terpancar di wajahnya.
"Jadi kamu sekarang sudah jadi artis nih"gumam Manda, menepuk bahu Arta seperti terlihat sangat akrab.
Aron mendorong tubuh Arta, menjauh dari Manda. "Jangan pernah sentuh istri aku" ucap Aron dengan nada tinggi.
"Aku hanya memberikan sebuah salam khusus untuknya, untuk orang yang pernah ninggalin aku"bisik Arta lirih.
"Sudah apa yang kalian lakukan, jangan bikin ribut di sini. Udah sekarang aku mau terusin belanja dulu"ucap Manda yang merasa kesal dengan mereka berdua. Ribut maslaah gak penting, membuat kehebohan di dalam toserba itu. Semua pengunjung menatap ke arahnya dengan tatapan tidak suka.
"Manda tunggu"ucap Arta.
"Jangan ganggu istriku lagi"Gumam Aron, berjalan mengikuti Manda yang sudha jauh di depannya.
Arta tidak mau kalah, ia juga mengikuti Manda dan berdiri di sampingnya juga.
Manda tidak menghiraukan mereka berdua. Ia segera meraih beberapa barang belanjaan yang sudah tercatat dalam otaknya itu. Ia masih terlihat kesal.
"Manda boleh aku bantu?" tanya Arta.
__ADS_1
"Gak usah"ucap Aron yang langsung mendorong tubuh Arta menjauh darinya. Ia berdiri di tengah-tengahnya sebagai diding pemisah.
"Sekrang kamu cepat pergi"bentak Aron, membuat pengunjung lain merasa terganggu dengan keributan mereka.
Manda mulai menuju ke kasir, ia membiarkan Aron dan Arta sendiri. Dari pada melihat keributan ia sangat tidak suka, Harusnya Aron yang lebih dewasa tahu, jangan bertindak membuat keributan di tempat umum.
"Manda tunggu"ucap Arta, berlari menghampiri Manda. Dan memberikan sesuatu untuknya. "Ini buat kamu"ucap Arta. memberikan buah apukat untuknya.
"Aku tahu kamu suka jus apukat, jadi kamu bisa buat jus sendiri di rumah. Maaf aku hanya bisa kasih itu. Nanti kalau anak kamu sudah lahir, aku akan memberikan seuati hadiah buat kamu"ucap Arta, tersenyum mengang tangan Manda.
"Aku gak berharap kamu mencintaiku lagi Da, ku tahu kamu sudah suami. Aku hanya ingin kamu bahagia, dengan lelaki pilihan kamu. Jika kamu sudahmemilih dia lelaki yang pernah menyakiti kamu, aku tidak masalah. Asalkan kamu bahagia dengannya, dan dia tidak menyakitmu lagi, menyiksamu lagi"ucap Arta.
Manda melirik ke arah Aron, yang berjalan keluar dengan tatapan malasnya menyaksikan adegan itu. "Maaf Arta aku harus pergi sekarang, lain waktu jika bertemu kita bisa bicara lagi"ucap Manda, tersenyum tipis menatap ke arah Arta.
Selesai membayar di kasir, Manda segera pergi ke parkiran mobil dengan membawa beberapa belanjaan banyak.
"Manda biar aku bantu"ucap Arta. Segera membawa beberapa belanjaan Manda.
"Baiklah, makasih"ucap Manda segera menuju ke mobilnya.
"Sudah sekarang letakkan saja di sini"gukam Manda.
"Baiklah, byee.."ucap Arta.
"Iya, byee.."
Aron turun dari mobil, segera mengambil barang-barang manda dan memasukannya ke dalam bagasi mobilnya. Dan sebagian di kursi belakang.
"Syang kenapa kamu diam?" tanya Manda.
"Kamu pergi juga gak bilang aku tadi"lanjutnya.
Arin hanya diam, tak menghiraukan ucapan Manda. Ia segera menyalakan mesil mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah. Suasana hening di mobil tanpa candaan mereka lagi. Aroh hanya diam dan fokus dengan jalan di depannya.
Manda terus melirik ke arah Aron yang hanya diam dari tadi, tidak menjawab pertanyaannya.
Sampai di rumah, tanpa banyak bicara ia langsung turun dari mobilnya.
"Bi, cepat bawa belanjaan Manda ke dapur"ucap Aron pada para pembantunya.
__ADS_1
"Baik tuan"ucap pembantunya.
Aron bernajak menuju kamarnya, tanpa banyak bicara lagi dengan Manda.