
#Kesha POV
Kesha menatap bingung ke arah Vino, Ia mengajaknya ke suatu tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya, yaitu di pasar tradisional, entah apa yang akan di beli Vino di sana. Namun setidaknya ia tidak membuatnya bosan hari ini. Tetapi pikirannya masih tertuju pada Manda yang sendiri di rumahnya. Ia takut jika Fany pulang dan cari gara-gara dengan Manda.
Kesha berjalan di samping Vino tanpa saling sapa, saling tegur, apalagi pegangan tangan. Satu sama lain merasa sangat canggung, dan lebih memilih untuk diam dan berjalan di pusat keramain para pejalan kaki yang hendak membeli sesuatu di pasar itu.
Langkah Vino terdiam, melihat topi yang menarik, lumayan lah, untuk menutupi wajah mereka darinpara pencRi gosip keluarga Vino nantinya. Ya sebagai anak orang paling kaya, pasti banyak watawan yang mengejarnya untuk mencari berita.
"Bu ini berapa?" Tanya Vino pada menjual topi di sampingnya.
"100rb satu biji, apalah tuan mau beli yang ini, jika beli dua saya akan kasih discon sebuah penak-pernik yang cocok di kasih dengan pasangannya" Ucap penjual itu.
Vino mengerutkan keningnya, bisa saya lihat seperti apa?" Tanya Vino, penjual itu segera mengambilkam sebuah pernak pernik yaitu sebuah tas kecil hiasan yang bisa di kasih nama pasangannya.
"Ini tuan, di kasih nama siapa pasangan tuan dan nama tuan"lanjut penjual topi itu.
"Kesha dan Vino, dan boleh saya minta satu topi itu di jahit dengan namaku" Gumam Vino lirih.
"Boleh tuan, boleh. Tunggu sebentar ya tuan" gumam penjual itu.
Kesha yang merasa di kacangin hanya bisa diam menghentak hentakkan kakinya , ia sangat kesal dengan Vino dari tadi di abaikan. Bahkan dia sibuk sendiri, mezki bukan kekasihnya lagi, tapi di kacangin tu sakitnya di sini.
"Ehemmm.."kesha mencoba berjalan mendekati Vino, memberi kode pada Vino, agar ia mengajaknya berbicara lebih dulu.
Tetapi sepertinya usahanya sia-sia kali ini. Kesha menelan ludahnya, an mencobanya lagi. "Ehemm..." kini deheman Kesha semakin keras. Tetapi bukanya merespon malah diam sembari melihat suatu barang di depannya.
Vino mengambil dua gelang yang di bilang sih, gelang biasa saja, tak ada istimewanya sama sekali. Ia menyodorkan pada kesha.
"Gelang!" Gumamnya.
Ya, Vino membeli dua buah gelang sederhana dari penjual itu. Tanpa basa-basi bertanya pada Kesah. Ia meraih tangan kanan kesha dan memakaikannya di pergelangan tangannya.
"Ini apa?" Tanya kesha nampak bingung, "Sebanarnya buwat apa juga gelang ini, apa kita kembaran gelangnya" lanjutnya meraih tangan kanan Vino yang juga memakai gelang itu. Ia menyandingkan tangannya dan menatap detail gelang itu.
__ADS_1
"Iya memang sama." gumamnya, ia berusaha mencopot gelang itu, dengan sigap tangan Vino mencegahnya. "Jangan copot gelang itu sampai kapanpun, meskipun itu hanya gelang murahan, ini lambang jika kamu akan selalu takdirkan untukku. Tapi setidaknya gelang itu nanti membuatmu mengingat kenangan tantang aku, jika suatu saat kamu melupakan kenangan yang pernah kita lakukan" Vino tersenyum tipis.
Kesha bingung apa yang di bicarakan Vino, otaknya benar-bemar tak nyampai di situ. apa dia benar-benar tulus sekarang atau hanya pura-pura tulus, terus ujung-ujungnya akan nyakitin lagi. Ah, mungkin yang terbaik sekarang aku hanya diam tanpa menjawab perasaan Vino lagi. Aku ingin tahu sampai di mana perjuangannya"gumam Kesha terus menatap wajah Vino, yang sibuk tersenyum menyapa penjual lainya.
"Tuan sudah jadi" gumam penjual di sampingnya
" Berapa total semua bu, sama gelang yang kita pakai ini" tanya Vino, segera meraih pesananya.
"Semua 250 ribu tuan" penjual itu menunduk.
Vini dengan segera mengulurkan uang 300 rb untuk penjual itu dan berjalan pergi.
"Tuan-tuan kembaliannya" teriak penjual itu.
"Buwat ibu aja" Balas Vino.
Mereka terus berjalan beriringan, hingga kebetulan tangan mereka bersentuhan. Membuat pandangan mereka saling tertuju dan melirik sekilas ke arah tangannya.
Hatiku kenapa lagi, apa aku amsih suka dengannya atau aku.., Ah, entahlah aku gak tahu, gumam kesya dalam hati.
Vino ingin memegang tangan Kesha namun nampak sangat ragu-ragu. Ia takut jika Kesha marah, dan pergi ninggalin dia.
Tiba-tiba ada seseorang yang menaiki sepeda dengan kecepatan tinggi.
"Minggir-minggir remnya blong" teriak orang itu dengan tangan menjulur ke depan memberi kode agar semuanya minggir.
Kesha yang masih melamun tak mendengar teriakan orang itu, dengan sigap Vino manarik tangan kesha terjatuh ke pinggir jalan dalam dekapannya. "Kamu gak papa kak?"Vino menyilakan rambut panjang Kesha yang menutupi matanya.
Orang yang menaiki sepeda itu juga ikut terjatuh. "Maaf ya" Perempuan itu menunduk ke arah mereka dan beranjak pergi dengan mengayuh sepeda terburu-buru lagi.
Kesha hanya tersenyum mendengar permintaan maafnya, bagi dia tak masalahkan itu semua. Lagian juga dirinya gak papa, meski hanya luka kecil sih.
Kesha beranjak berdiri, mengusap-usap bajunya, dari debu yang menempel akibat terjatuh. "Aku gak papa"Ia memalingkkan pandangannya dari Vino.
__ADS_1
Aku tak bisa terus bergini, perasaanku sangat kacau, benar-benar kacau, napasku terasa sangat sesak. Kenapa ada moment seperti ini, sih. Jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, gumam Kesha. Yang masih membersihkan bajunya.
Vino beranjak berdiri, tanpa seucap kata keluar dari bibirnya, ia hanya menatap sekilas pelipis kesha mengeluarkan darah segar, tanpa banyak bicara ia segera berlari mencari plaster ke sebuah toko terdekat tepat di belakangnya.
Kesha senyum semringai, memegang keningnya yang terasa sakit. "Kemana lagi tu, kenapa ninggalin aku sendiri sih" gumamnya.
"Aww..." ia melihat tangannya yang terkena darah.
Vino berlari mendekati kesha mengusap darah Di pelipis Kesha dengan sapu tangan yang sengaja ia bawa dari tadi. "Sakit gak?" Tanya Vino menempelkan plester di pelipisnya.
Kesha terdiam seketika, ia tadi mengira jika Vino tak perdulikan dia, anmun ternyata dia masih sama sangar perduli dengannya. "Lain kali jangan melamun lagi di pinggir jalan"Ucap Vino.
Ia segera memegang tangan Kesha rapat. "Tetaplah dalam genggamanku, jangan pergi lagi, aku takut kamu entar nglamun lagi kayak tadi"gumam Vino dengan lirikan menggoda pada Kesha.
Kesha masih tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa tersenyum tipis.
****
Di balik rumah mewah miki Aron. Manda duduk sendiri di sofa, sembari meluruskan kakinya ke atas meja, yang terasa sangat capek. Padahal hanya berjalan dari pi tu gerbang rumahnya, masuk ke dalam. Serasa kaki udah mau copot saja. Mana menepuk-nepuk kakinya.
Ia tak menyangka seseorang menutup matanya dari belakang. "Siapa ini?" Manda memegang tangan kekar lelaki di belakangnya itu.
"Coba tebak aku siapa?" Tanya lelaki itu, ia memang memeberikan kejutan untuk Manda.
Manda mencoba meraba tangan kekar milik lelaki itu, ia mencoba merasakan kehangatan suhu tubuhnya. Apa itu benar Aron atau bukan.
"Kamu..!" Lelaki itu menutup mulut Manda untuk tidak mengucapkan kata apapun dari mulutnya.
Ciuman lembut di ubun Manda, membuat ia meriding kegelian.
Jangan lupa Votr yuk kak, dukung terus Author ya..😘😘
biar semakin semangat nanti buwat up semakin banyak.
__ADS_1