Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Perasaan itu datang lagi


__ADS_3

"Jangan pergi!! Baiklah, aku gak akan bahas itu lagi. Tapi meski kamu hak menagnggapku ada. Setidaknya kamu mau kan di sini temani aku." ucap Vino lirih, dengan mata penuh harapan.


Manda terdiam, Benar kata dia. Kenapa aku jadi marah. Meski tidak ada hal lain. pikirnya.


Manda menoleh, membalikkan badanya seketika. Ia melangkahkan kakinya. Duduk kembali di kursi depan vino.


"Baiklah, aku temani kamu hanya untuk berbincang sebentar." ucap Kesha.


Vino tersenyum lebar, ia mengecup tangan Kesha yang masih berada dalam genggamannya. "Makasih!!" ucap Vino.


Kesha mengerutkan keningnya, gimana bisa ia harus dekat dengan laki-laki yang selalu membuatnya tak bisa lepas darinya, selalu ingin bersama dirinya. Dan tidak mau jauh darinya.


---


Tak lama waiters datang membawa minuman pesanan Vino.


"Permisi tuan, pesanannya" ucap Waiters itu, meletakkan minumannya ke meja.


"Iya, makasih" ucap Vino.


Waiters itu segera pergi, Dan Vino hanya diam menatap ke arah Kesha. Ia mengeluarkan bukunya yang sudah ia masukan ke dalam tas. "ini buku kamu, jangan lagi sampai jatuh" ucap Vino.


"Kan jatuh juga gak sengaja" jawab kesha.


"Aku udah baca buku itu, tentang sebuah cinta yang tak bisa bersatu kan. Sedih banget sih ceritanya. Tapi menarik buat di baca." ucap Vino.


"Gimana bisa kamu baca ini, emangnya kamu bisa baca satu buku tebal ini dalam satu hari?" tanya Kesha.


"Hanya baca saja gampang, aku punya banyak waktu buat baca. Tapi aku baru pertama kalia baca novel, dan itu juga terpaksa. Karena aku penasaran, apa sih yang di baca kekasihku ini" goda Vino, mencolek dagu Kesha yang terlihat menegang bicara dengannya.


"Jangan pegang-pegang deh" Kesha mengerutkan keningnya, memegang dagu bekas colekan Vino.


"Kenapa, lagian juga masih utuh dagu kamu. Gak ada yang berlubang kan" goda Vino lagi.


Kesha menarik napasnya kesal. "Udah sekarang langsung pada intinya, apa maksud kamu bicara dengan aku. Dan kenapa aku gak boleh pergi sekarang?" tanya Kesha dengan wajah datarnya.


"Aku hanya ingin berbincang berdua, menatap wajah indah di depan aku" gumam Vino, menyangga dagunya menatap wajah Kesha. Ia menatap detail wajah Kesha.


"Sekarang apa yang ingin kamu katakan, cepetan aku gak punya banyak waktu lagi" ucap Kesha,


Vino memegang ke dua tangan Kesha di atas meja.


"Sha, aku hanya ingin bicara denganmu. Jika aku tidak mau kita menjauh seperti ini. Meski aku tidak bisa memiliki kamu, setidaknya aku masih bisa berteman denganmu" ucap Vino, yang mulai serius.


Kesha hanya diam, ia bingung harus jawab apa lagi. Vino terlihat sangat tulus berbicara seperti itu.


"Sha, mungkin aku banyak salah padamu. Tapi setidaknya kamu beri kesempatan aku untuk menjadi teman kamu" lanjut Vino.


Kesha menarik napasnya, "Baiklah, aku mau jadi teman kamu, tapi hanya sebatas teman" ucap Kesha.


"Makasih!!"


Mereka segera menikmati minuman yang ada. Dan Kesha mencoba menjadi teman baik Vino. Meski emang ja masih punya perasaan tapi ia tidak mau kembali lagi.


Jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas malam Vino dan Kesha berjaaln keluar dari Cafe, mereka memilih jalan kaki menuju ke rumahnya. Hari sudah sedah semakin gelap, langit yang awalnya cerah penuh bintang, berubah menjadi tumpukan awan hitam.


"Sepertinya sudah mau hujan!!" ucap Kesha.

__ADS_1


"Kenapa memangnya, lagian rumah kamu juga masih sepuluh menit lagi sudha sampai." ucap Vino, mendongakkan kepalanya menatap ke atas, dan. Tes...


Butiran hujan tiba-tiba turun mengenai wajahnya. "Tuh kan, baru saja aku bilang." ucap Kesha.


Hujan semakin lembat. Vino melepaskan jaket yang membalut tubuhnya. Ia memayungkan di atas kepala Kesha, berjalan menuju ke halte yang tak jauh dari pandangannya. Kesha tak berhenti menatap Vino, yang masih sama seperti dulu. Perhatiannya tidak bisa hilang dan masih melekat pada dirinya.


Vino, makasih. Perhatian kamu masih sama. Perasaan kamu masih sama padaku. Setidaknya, aku juga masih sama. Tapi kita tidak bisa bersama. Jika tetus seperti ini apa aku bisa melupakkanya. Pikir Kesha.


"Sudah sampai!!" ucap Vino, mengibaskan jaketnya yang sudah basah.


"Vino!!" ucap kesha, mengambil sapu tangan di dalam tas selempang yang tergantung di pundaknya.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Vino.


Kesha hanya diam, ia melangkahkan kakinya semakin dekat. Mengusap wajah Vino, yang di penuhi dengan tetesan air hujan, membasahi sekujur tubuhnya.


Vino, menatap mata Kesha dalam, memegang tangan Kesha yang mengusap lembut pipinya dengan sapu tangan. "Kesha!! Makasih.." ucap Vino, memegang pipi Kesha, mengusapnya lembut.


"Harusnya, aku yang berterima kasih padamu. Kamu memberikan jaket kamu agar aku tidak kehujanan. Tapi kamu malah hujan-hujan" ucap Kesha.


"Aku mau selalu melindungi orang yang aku sayang" ucap Vino, mengakhiri pandangannya. Dan beranjak duduk.


"Sampai kapan hujan ini reda" gumam Kesha, duduk di samping Vino.


"Ini buat kamu!!" Kesha mengulurkan sapu tangannya ke arah Vino. Dan hanya di balas dengan sebuah tatapan bingung.


Kesha tersenyum, memegang tangan Vino, membuka telapak tangannya, lalu meletakkan sapu tanganya di atas telapa tangan Vino.


"Pakai buat usap kepala kamu yang basah, meski kescil tapi setidaknya berguna sementara" ucap Kesha, kembali menatap ke depan.


Vino, segera mengusap rambutnya. "Kamu kenapa masih perduli denganku?" tanya Vino.


Vino menatap ke depan. Memang hujan sudah reda. Meski amsih terlihat rintik-rintik. Ia segera beranjak berdiri. Memegang tangan Kesha, berjalan beriringan. Mata kesha tertuju pada Vino, wajah yang terlihat pucat.


Tangannya sangat dingin, tapi kenapa dia diam saja tadi.


"Sudah sampai?" ucap Vino.


"Makasih!!" ucap Kesha.


"Iya, udah aku pergi dulu. Kamu segera mandi dan ganti baju" gumam Vino, membalikkan badanya.


"Tunggu!!" Kesha memegang lengan Vino. Membuat langkahnya terhenti.


"Vin, kamu masuk dulu ke rumah aku. Kamu mandi saja di sini. Tangan kamu sangat dingin, aku akan buatkan kamu teh hangat" ucap Kesha.


"Gak usah gak apa-apa" Jawab Vino.


"Udah, aku mohon. Kamu mau kan" ucap Kesha segera menarik tangan Vino masuk ke dalam rumahnya. Ia tahu Vino pasti tahu untuk bilang iya.


"Vino, Kesha kalian baru pulang?" tanya Mama kesha.


"Iya ma, boleh kan Vino di sini dulu. Kita kehujanan tadi saat pulang dari cafe." ucap Kesha.


"Ya, sudah Vino kamu mandi dulu di kamar Kesha. Tante akan buatkan minuman hangat buat kalian" pinta mama Kesha.


"Iya tante" ucap Vino ragu, ia tidak bisa menolak apa yang di katakan mama wanita yang ia syang.

__ADS_1


"nanti soal baju aku bisa minta tolong Manda untuk ambilkan baju Aron"


"Baiklah!!" ucap Vino.


Ia segera beranjak menuju ke kamar Kesha dan mulai mandi. Dan Kesha segera pergi ke rumah Manda. Ia berharap jika Aron masih belum tidur. Jadi ia bisa minta baju untuknya.


---


Sudah selesai ambil baju Kesha segera pergi, masuk ke kamarnya.


Aaa...


"Eh.. Kenapa kamu masuk duluan? Apa gak bis akeguk pintu dulu." tanya Vino yang hanya terbalut handuk.


"Ini baju buat kamu" ucap Kesha. "Lagian tadi aku ketuk pintu tapi kamu gak buka-buka" ucap Kesha.


"Baiklah, makasih!!" ucap Vino.


"Apa kamu gak mau pergi" ucap Vino.


"Iya pergi... Aku akan ambilkan minuman hangat buat kamu" ucap Kesha.


"Tunggu!! aku bisa mabil sendiri. Lebih baik kamu sekarang mandi juga." ucap Vino.


Kssha terdiam, menganggukan kepalanya dan segera beranjak mandi. Dan Vino bergegas memakai baju dan mengambilkan teh hangat untuk Kesha. Meletakkan teh itu di meja samping kamarnya.


Vino meneguk teh hangat sedikit, melegakan tenggorokannya. "Tante aku pulang dulu ya, aku tidur di rumah Aron. Dan bilang pada Kesha makasih tante" ucap Vino.


"Iya, nanti aku bilang pada Kesha. "


Vino segera pergi, menuju rumah Aron. Ia tidak mau jika lama-lama di rumah Kesha malam-malam begini.


 


"Ma!! Vino kemana?" tanya Kesha menatap mamanya hanya diam duduk di ranjangnya.


"Bilang sja akalau kamu jngin dekat dengannya ya" goda mamanya.


"Apaan sih ma, Aku hanya khawatir dengannya." ucap Kesha.


"Khawatir apa masih cinta"


"Mama, kenapa mama malah bilang gitu" ucap Kesha kesal.


"Udah minum dulu tehnya"


"Iya!!" kesha mengambil tehnya dan segera meminumnya perlahan.. ia melihat sepucuk surat di meja kecil sampingnya. Kesha segera mengambilnya, membaca isi surat itu.


"Oya buku kamu tadi aku taruh di meja depan. Maaf aku gak bisa nunggu kamu mandi. Aku pualng ke rumah Aron jika mau bertemu denganmu" Dengan emoji senyum.


"Dasar Vino, nyebelin" ucap Kesha tersenyum lebar.


"Udah , kamu celat tidur. Mama tinggal dulu" suruh Mamanya yang beranjak pergi daei kamarnya.


Kesha hanya diam, ia tak berhenti tersenyum sendiri, membalikkan badanya. Menatap ke atap langit kamarnya. Ia terus membayangkan di mana saat bersama dengannya. Kenangan yang tidak akan bisa aku lupakan.


"Arggg.. Kenapa aku masih mikirin Vino. Apa benar aku gak bisa lupa dengannya?" gumam Kesha, yang mulai memejamkan matanya perlahan.

__ADS_1


Namun, ia masih belum bisa tidur. Bayangan wajah Vino selalu menghantui pikirannya. Dan begitu juga dengan Vino yang tidur di rumah Aron, ia memandang ke langit, memutar kejadian tadi yang masih melekat di otaknya.


 


__ADS_2