
Jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Aron yang baru saja pulang dari kantor. Karena pekerjaan
yang menumpuk membuat Aron harus pulang telat gak seperti biasanya. Jam sore, ia biasanya sudah pulang. Ia melihat
istrinya sudah menidurkan ke dua anaknya. Dengan langkah sangat hati-hati, ia
ingin memberi kejutan sebuah pelukan mesra untuk Manda. Sebelum Mnada
tmenegyahui dirinya.
“Kamu selalu membuat aku terkejut, ya “ gumam Manda yang
memang ternyata sudah menyadari langkah kaki Aron.
“syang!!” sapa Aron, memeluk pinggang Manda dari belakang
sangat erat, menggoyangkan tubuhnya sangat mesra, dengan pandangan mata manda menatap
ke samping. Ke dua pipi mereka saling menempel, Aron menciumi leher belakang
Manda yang tertutup dengan helaian rambut tipisnya, ia menjalar mengecup
belakah telinga kanan Manda. Mengigitnya penuh dengan kemesraan.
Manda memegang tangan Aron yang melingkar di perutnya,
dengan sambutan mesra darinya
“Apa syang, tumben kamu mesra
gini” tanya Manda. Mengangkat tanganya ke atas, mengusap lembut rambut Aron,
dengan sedikit mengacak-acak rambutnya. “Kenapa kamu juga baru pulang syang,
jam segini. Apa ada kerjaan banyak, meeting, atau bertemu dengan client?” tanya
Manda tanpa rasa curiga, ia hanya ingin tahu dari mana saja suaminya itu bisa
sesibuk itu sampai larut malam.
“Aku hanya ingin selalu mesra saja syang sama kamu. Sudah
lama gak pernah seperti ini. Aku rindu saat seperti ini, waktu pertama aku suka
dnegan kamu. Dan lagian masak kita kalah dengan Vino dan Kesha. Aku yang sudah
jadi suami. Harusnya bisa lebih romantis lagi dengan istrinya.” Jawab Aron “Aku
tadi ada pekerjaan yang menumpuk syang. Membuat aku harus memenyelesaikan
segera di sana. Agar esok bisa sedikit lnggar, dan bisa meluangkan waktu lagi
untuk Excel dan Brandon.
Manda memegang pipi kiri Aron mesra, mengecup bibir Aron
dari samping. “Kamu ya, gak mau kalah dnegan yang masih muda” ucap manda.
“Kamu dan kau juga masih muda syang. Jadi jangan berpikir
kita tua, karena sudah punya empat anak”
“Hehe.. Udah sekarang lepaskan dulu pelukan kamu, gak enak
kalau di lihat Duke dan Lia nantinya.” Ucap Manda, mencoba melepaskan tangan Aron
yang semakin merengkuhnya semakin erat.
“gak mau, aku mau seperti ini terus, Lagian baru pertama
gini lagi syang. Kalau aku minta lagi, kamu juga masih baru saja selesai
melahirkan. Aku gak mau buat kamu sakit lagi nantinya. Lagian udah jam segini.
Duke dan Lia sudah tertidur pulas di ranjangnya” ucap Aron, mengangkat tubuh
Manda.
“Ya, kita berhenti hubungan selama satu bulan syang. Setelah
itu terserah kamu, kalau aku sudah benar-benar sudah baik. Gak ada rasa nyeri
atau sakit lagi. Kamu boleh ajak aku hubungan lagi. Tapi pakai pengaman ya!!”
“Benar syang bole? Kamu gak marah kan? Tapi kalau aku inta
jangan nolak lagi ya!!” ucap Aron antusias.
__ADS_1
“Iya, beneran syang. Aku mau jadi istri yang selalu memenuhi
kebutuhan biologis suaminya. Aku gak akan menolak lagi. Dan ingat jangan nambah
anak lagi, aku sudah capek syang melahirkan.” Ucap Manda. “Urus empat anak
saja, sekan buat rambutku rontok syang. Benar-benar stres. Apalagi satat
satunya minta perhatian, satunya minta susu.” Lanjut Manda menggelengkkan kepalanya.
Aron meletkan Manda di kasur lipat miliknya, yang tepat di
ranjang anaknya di atas.
Aron, membiarkan tangannya, di buta tumpuan kepala Manda.
Mereka saling mentap satu sama lain, dengan tangan yang tak berhenti saling
memegang pipi, dagu rambut bergantian.
“Siap tenang saja syang, aku akan pakai pengaman. Nanti kalau
kamu sudah benar-benar sembuh. Aku beli pengaman yang banyak sekalian. Biar aku
bisa kapan saja minta sama kamu” ucap Aron.
“Jangan syang, aku gak suka pakai pengaman. Biasa saja ya”
ucap Mnad amenggoda, ia memgang dagu Aron mesra.
Aron menatap ke arahnya, ia mengusap wajah putih tanpa
balutan make up milik, Manda. Dengan jemari tangannya lembut, Aku akan selaku
menuruti apa yang di inginkan istri aku ini.” Gumam Aron, mendekap tubuh Mnada berbaring
di sampingnya. Aron menenggelamkan wajah Manda dalam dekapan hangatnya.
“Syang, bentar” ucap Manda, mendorong tubuh Aron menjauh
darinya.
“Kenapa syang?” tanya Aron heran, membaringkan tubuhnya di
samping Manda dengan ke dua tangan terlentang, dan pandnagan mata mentap ke
atap langit kamarnya.
ingat dengan kakak aku.” Ucap Manda, seketika membuat Aron yang terbaring
terlentang beranjak duduk di belakang Manda.
“Syang, kenapa kamu bisa ke-ingat mereka. Kamu tahu sendiri,
sifat mereka padamu, gimana. Bahkan mereka mau menukarkan kamu dengan aku.” Ucap
Aron, memeluk tubuh Manda, dari belakang sangat erat, menyandarkan dagunya di
pundak kirinya. Dengan kepala menempel ditelinga Manda.
“Syang, tapi begitupun juga, mereka itu kakak aku. Dan aku
gak mungkin melupakan merka. Meski aku tahu penyebab semuanya adalah mereka.
Tapi, karena merekalah, aku bisa bertemu dengan kamu. Dan sekarang bisa menjadi
istri kamu” ucap Manda.
“Ya, sudah aku akan bantu kamu cari kakak kamu di mana ya”
ucap Aron. Menciumi pipi Manda dari samping
Manda melepaskan tangan Aron di pinggangnya, membalikkan
badannya mentap ke belakang. Memegang ke dua pipi Aron lembut, agak menekannya
keras, membuat bibir Aron agak amnyun beberapa senti. Pandangan mereka saling
tertuju, dengan hembusan napas berat saling berpacu cepat. “Syang, aku
beruntung dapat suami seperti kamu, **** aku sempat menyesa dulu” uvap Manda,
mengecup bibir Aron lembut berkali-kali. Lalu mencubit ke dua pipi Aron yang
semakin membuat ia tertarik untuk terua mengecupnya.
Aron tidak mau kalah dengan Manda, ia melingkarkan tanganya
ke pinggang Manda, menarik pingganganya masuk dalam dekapan hangat tubuhnya. Pria
__ADS_1
itu, membalas kecupan Manda begitu mesra, dengan sedikit terlalu kasar. Mereka
saling membalas, membuat Aron yang tidak bisa menhahan hasratnya, ke dua
tanganya memeluk pinggang Manda, semakin mempererat pelukannya.
Manda memegang pipi Aron, membalas kecupan Aron semakin
menjadi, dengan salah satu tangan melingkar di leher Aron. Mereka saling
berpacu dalam kecupan mesra sangat dalam.
Tokk. Tok.. Tok..
“siapa?” tanya Aron, mengakiri kecupan mesranya.
“Vino kak”
Aron menarik napasnya, mencoba bersabar. Ia harus menunda
lagi kemesraanya dengan Manda.
“Haduh.. Vino ganggu saja” gumam Aron kesal, beranjak
berdiri.
“Syang, buka sana” pinta Manda.
“Iya, tapi nanti di lanjut lagi ya, entar syang,” gumam Aron,
menggoda.
“Udah buka sana pintunya syang. Kasihan Vino kelamaan
menunggu” ucap Manda.
Aron segera berjalan menuju ke pintu, memegang gagang pintu,
memutarnya. Kemudian membukanya perlahan.
“Hehe... sepertinya aku ganggu kalian ya?” ucap Vino,
tersenyum tipis.
“Iya, kamu ganggu. Aku lagi enak-enakkan kamu malah ganggu.
Udah sekarang ada apa, apa ada hal yang ingin kamu bicarakan?” tanya Aron.
“Vino, kamu baru pulang dengan Kesha?” saut Manda berjalan
mendekati Vino dan Aron di depan pintu.
“Iya, da. Tadi aku ke pantai. Nuruti permintaan Kesha, yang
ngeyel banget mau ke sana. Setelah itu ajak dia makan. Ya, Dari pada dia bosan
di rumah,” ucap Vino.
“Oya, aku bawa kabar baik buat kalian. Jika Kesha mau
meberiku kesempatan lagi. Bahkan dia sudah memberiku kode jika dia mau balikan
lagi dengan aku” ucap Vino dengan senyum kebahagiaan yang terpancar di raut
wajahnya.
Manda dan Aron ikut senang melihat kabar itu. Aron menepuk
pundak Vino, Mulai munggu depan kamu kerja di tempat aku. Dan kita akan kerja
sama salam perusahaan. Kalau kamu sudah mahir, kamu bisa mengembangkan
perusahaan kamu sendiri” ucap Aron.
“Iya, kak. Aku juga ingin membahagiakan Kesha nantinya. Aku
gak mau membuat dia merasa menderita dengan kehidupannya sekarang, apalagi
harus kerja part time segala” gumam Vino.
“Iya, makanya kamu harus bisa bangkit dari sekarang.
Sekarang kamu harus tidur, sudah malam” ucap Aron.
“Baiklah, kalian lanjutkan saja. Aku juga besok ada janjian
dengan kesha.” Gumam Vino, membalikkan badannya beranjak pergi meninggalkan
Manda dan Aron yang masih berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Dasar Vino,” ucap Aron, menggelengkan kepalanya, dan segera
nenutup pintunya kembali.