Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kesha & Vino part 2


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok..


"Siapa ya?" tanya Mama Kesha, membuka pintu rumahnya.


" Sore tante.. kesha ada?" tanya Albert.


"Dia gak ada, baru saja pergi." jawab mama kesha jutek.


"Terus Vino tadi ke sini ada apa ya tante?" tanya Albert penuh ragu.


"Dia cari Kesha juga, tapi Kesha gak ada dia kerja" mama Kesha seegra menutup pintunya kembali, tanpa persilahkan Albert untuk masuk lebih dulu.


“Dimana aku? Kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Kesha dalam hatinya, ia melihat sekelilingnya, ia berada di kamarnya sendiri.


“Siapa yang membawaku ke sini?” Apa Manda? tapi gak mungkin, Manda lagi hamil besar Atau Vino?"


"Arrggg.. Itu gak mungkin" Kesha mengacak-acak rambutnya kasar, ia terus bergumam dalam hatinya.


wanita itu beranjak dari ranjangnya, menatap ke cermin. Melihat wajahnya yang tiba-tiba memerah dengan pikiran melayang memikirkan Vino.


“Kesha kamu harus bisa melupakan Vino, jangan sampai kamu terbuai lagi oleh cintanya. Dan kamu gak boleh luluh dengan pesonanya lagi” Ucap Kesha tegas pada cermin di depannya.


Gadis itu mengusap matanya berkali-kali, yang terasa masih lengket. Dan bergegas pergi menemui mamanya.


Kesha yang baru bangun dari tidur siangnya, ia berjalan keluar menemui mamanya yang duduk di ruang keluarga sendiri. “Ma, kenapa aku bisa ada di kamar?” tanya Kesha, duduk di samping mamanya.


Mama Kesha tersenyum, menepuk pundak Kesha. “Kamy tadi di antar Vino, dia yang membawa kamu ke kamar”


Kesha mendekatkan wajah terkejut, “Apa Ma, dia yang bawa aku. Terus sekarang dia di mana? Apa dia masih berada di sini juga?” tanya Kesha, memutar badanya melihat sekeliling ruangan rumahnya.


“Tenang, dia sudah pergi. Dan tadi Albert ke sini. Ya, aku bilang kalau kamu kerja”


“Mama!! Kenapa gak bilang, kenapa mama gak bangunkan aku tadi... Aku sudah ada janji dengannya mau pergi sekarang.” Ucap Kesha, menunduk lemas. Ia segera bergegas berdiri menuju ke kamarya.


“Ehh.. Kesha kamu mau ke mana?” tanya Mamanya.


“Aku mau ambil ponsel aku, mau hubungi Albert. Aku takut jika dia marah nantinya. Aku akan suruh Albert ke sini lagi” Ucap Kesha tanpa menatap mamanya.


“Kenapa kamu hubungi dia, sekarang kamu di rumah saja temani mama. Kalau kamu menolak mama akan pergi dari rumah” Ancam mamanya.


Kesha menoleh ke belakang, dengan tubuh menunduk sedikit lunglai.”Ma!!!! Kenapa mama ancam aku seperti itu.”


“Mama, mau kamu di rumah. Kamu selalu kerja tidak pernah ada waktu buat mama. Sekarang kamu di rumah temani mama” ucap Mama Kesha tegas.


Kesha menarik naapsnya kesal, dengan teroaksa ia menurut apa kata mamanya kali ini. Ia juga jarang ada waktu buat mamanya.


“baiklah, tapi aku ambil ponsel dulu. Nanti kembali lagi” Kesha segera masuk ke dalam kamarnya, mengambil ponselnya. Pandangannya tertuju pada buku yang seseorang berikan kemarin, ia ingat buku yang baru ia baca kemarin di bawa olehnya. Ia segera mengambil nomor ponsel yang ada di buku itu, dan menyimpanya di kotak ponselnya.


Kesha kembali duduk di samping mamanya, dengan mata tertuju pada ponsel yang ada di genggamanya. Ia mencoba mengirimkan Chat pada nomor di buku itu.


“Kamu yang ada di bus kemarin ya.. Bisa minta tolong kembalikan buku ku”                                                     


“Hubungi siapa?” tanya mamanya, mencoba mengintip chat Kesha.


Kling....


Tak lama Kesha menerima balasan dari chatnya.


“Temui aku nanti malam... Aku tapi kamu harus datang sendiri...”


“Kenapa harus sendiri?”


“aku ga mau nanti ada pacar kamu, dan pacar kamu marah-marah, karena salah paham”


“Baiklah, temui di mana?”


“Di Cafe, Mizan. Aku tunggu, bya..”


Kesha meletakkan ponselnya di atas meja, dengan wajah terlihat kesal.


“Kenapa kamu?” tanya mamanya. 


“Gak apa-apa ma.” jawab Kesha jutek.


~~


Di balik rumah sederhana. Suasana ramai ke dua anak Manda terdengar hingga ke luar rumahnya.

__ADS_1


Mereka saling bertengkar, merebutkan laptop yang di berikan ayahnya untuk mereka.


“Kalian kenapa pada ribut?” tanya Aron, berjalan menghampiri anaknya.


“Lia pa, dia merebut laptop aku.” Ucap Duke kesal.


Duke yang sudah mahir beberapa cara menggunakan laptop di usianya yang masih sangat belia, Aron yang selalu mengajari dia, agar dia bisa ahli dalam IT.


Aron berjalan mendekati ke dua anaknya. Menghentikan pertiakaian antar adi kakak itu.


“sudah jangan bertengkar.. Nanti mama kamu bangun” ucap Aron. 


“Syang, mana Kesha?” tanya Manda yang baru saja bangun dari tidur siangnya.


“Dia sudah pulang syang, dan Vino tadi yang antar dia saat dia ,masih tertidur.” Jawab Aron. Manda mencoba untuk berdiri dentan tangan memegang perutnya yang seakan kini sudah mau melahirkan, perut Manda kini terlihat semakin ke bawah.


“Kok Kesha gak marah?” tanya Manda


“Lagian tadi tidur syang. Dan tidurmnya juga terlalu pules. Mungkin terlalu lama dalam dekapan Vino”


“Hehe.. Mereka itu cocok sebenarnya. Tapi Kesha benar-benar keras kepala.” Ucap Manda menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Makanya, kita harus jodohkan mereka, biar mereka bisa saling sadar lagi dengan perasaan masing-masing”


Manda terdian, dengan kepala sedikit mengangguk, mencoba berpikir sejenak. “ Gimana caranya bisa membuat Albert mundur, dan meninggalkan Kesha” ucap Manda.


“Gampang, kamu harus buat Vina dan Albert bisa terus bersama. Agar mereka bisa merasakan cinta. Lagian sebuah perasaan cinta akan timbul dengan sendirinya saat mereka saling bersama” Manda yang semula ke dua matanya masih sayu, ia melebarkan matanya. Wanita itu punya ide cemelang untuk membuat Albert dan Vina bisa selalu dekat.


“apa kamu punya cara syang?” tanya Aron.


“Punya, sekarang kamu ambilkan ponsel aku” pinta Manda, dan Aron segera mengambilkan ponsel Manda.


“Syang kamu segera pesan hotel di dekat pantai bondi beact”


“Buat apa syang? Apa kamu mau ke sana?” tanya Aron yang bingung dengan keinginan istrinya itu.


Manda mengehla napasnya kesal, “Syang, katanya kamu mau mereka dekat. Jadi kamu pesan dua kamar yang berbeda tapi bersebalahan” ucap Manda menjelaskan.


“OO.. iya, baiklah. Aku akan segera pesan sekarang” ucap Aron, yang langsung booking dua kamar sekaligus.


Tak lama Aron sudah mendapatkan dua kamar di sana dan kebetulan itu bersebelahan, seperti apa yang di bilang Manda.  “Sudah syang!!” ucap Aron.


“Kamar nomor berapa syang?” tanya Manda.


“106 dan 105 syang” jawab Aron.


Jemari tangan Manda mulai mengetik sebuah pesan yang akan di kirimkan pada temannya itu.


“Aku mau bertemu denganmu sekarang, aku dan keluarga mau adakan liburan selama dua hari di sebuah pantai bondy beach. Kamu harus datang kalau tidak aku dan keluarga pasti akan sangat kecewa” Manda segera mengirimkan pasanya pada Albert dan Vina bergantian.


“Gimana syang?” tanya Aron.


“Sudah syang” Jawab Manda.


Terus soal Kesha dan Vino gimana?” tanya Aron lagi.


“Kalau soal mereka!! Vino sudah mengaturnya sendiri, ia itu tidak mau menyerah. Bahkan cara apapun ia tempuh agar bisa dekat dengan Kesha”


"Ya sudah kalau gitu aku mau siapkan makanan buat kalian." ucap Aron.


"Aku mau makan di sini saja syang sama anak-anak. lagian malas juga turun. Kalau di gendong si mau" goda Manda.


Aron melebarkan matanya. "Berat syang!!"


"Bwrat dikit, katanya cinta. Masak gitu saja berat" ucap Manda menggoda.


"Udah makan di sini saja, Aku mau ambilkan makanannya sekarang." Aron segera pergu dari kamar Duke, menuju ke dapur.


 


Hari sudah menjelang malam, Matahari sudah mulai bersembunyi di balik lingkaran bumi. Jarum jam sudah menujukan pukul tujuh malam.


Kesha pergi ke sebuah cafe sendiri, ia berjalan kaki menuju cafe yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Suasana ramai jalanan masih terdengar jelas di telinganya.


“kenapa dia ajak aku ke cafe segala?” Tanya kasha pada dirinya sendiri.”


Kesha seakan mempercepat langkahnya untum segera sampai ke cafe, dan. Brukkk…

__ADS_1


Prakkk..


Ia menabrak seseorang di depanya.  Mmbuat ponsel yang ada di genggamanya terjatuh ke bawah.


“Apa kamu gak punya mata?” Tanya Kesha dengan nada meninggi. Ia sudah kesak di tambah jadi kesal lagi.


“Maaf!!” ucap laki\-laki di depannya yang masih menunduk.


“Lihat, gara\-gara kamu ponsel aku jatuh” ucap Kesha semakin kesal.


Lak\-laki itu mendongakkan kepalanya, “Kesha?” ucap Vino dengan wajah terkejut.


"Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Vino, seolah ia tidak tahu jika Kesha akan pergi ke sebuah cafe.


"dan maaf soal ponsel kamu, nanti aku akan menggantnya” lanjutnya, mengambil ponsel Keha yang terjatuh tepat di depanya.


“Kenapa aku harus bertemu dengan kamu lagi di sini? Atau mungkin kamu memang sengaja mengikutiku ya?” ucap Kesha mendekatkan wajahnya.


“Siapa yang mengikuti kamu, aku ke sini mau bertemu dengan seseorang. Dan bukan bertemu dengan kamu” jawab Vino tidak mau di sudutkan.


“Emangnya bertemu dengan siapa? Laki\-laki atau perempuan? Dan bertemu di mana?” Tanya Kesha berutun, seakan menandakan jika dia curiga dengan Vino.


Vino tersenyum saat Kesha terlihat perduli dengannya, ia mendektakan wajanya, membuat kasha menarik badannya agak ke belakang, “apa kamu cemburu ya denganku?” goda Vino, menari ke dua laisnya kea as.


“Siapa juga yang cemburu denganmu” ucap Kesha, dengan mata memutar mencoba menghilangkan dirinya yang merasa sanga gugup.


“gak usah bohong, lihat wajah kamu sudah mulai memerah dari tadi, ak tahu kamu pasti masih suka dengan aku. Tapi kamu mau mengucapkanya.” Ucap Vino.


“Siapa\-\-”


“Sudah jangan banyak bicara lagi. Ku sudah tahu semuanya. Dan sekarang aku pergidulu. Bye..” vino melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Kesha sendiri.


“Ihh.. dasar laki\-laki nyebelin. Kenapa dia selalu bertemu dengan aku. Dan selalu mengikutiku. Entah kenapa dia selalu ada di mana aku menginjakkan kaki”  ucap Kesha kesal, ia mengentakkan kakinya, berjalan prig menuju sebuah café, yang masih lima menit lagi perjalanan dari tempat ia berdiri.


Kesha terus mentap laya ponselnya, yang terlihat retak. "Ini semua gara\-gara Vino” umpat Kesal kasha, mencengkram erat ponselnya.


di sebuah cafe kecil yang juga sangat ramai pengunjung itu. Kesha terdiam, menghentikan langkahnya di depan cafe, ia melihat seluruh ruangan cafe. “di mana dia?” tanya Kesha, menatap ke setiap pengunjung yang datang.


Kling..


Sebuah pesan masuk. Kesha melirik isi pesan yang tertera di ponselnya. ‘jalan lurus, aku berada di meja 13 dekat dengan jendela’’


Kasha menarik napasnya, dan segera menguju ke meja nomor 13, terlihat ada sosok laki\-laki menghadap ke depan, ia merasa sangat gugup harus bertemu dengan laki\-laki lain selain dengan Vino. Entah enapa perasaan gugup dan ragunya semakin menjadi, mebat kakinya merasa maju, mundur kembali.


Kesha menepuk pundak laki\-laki itu, dngan tangan yang seman bergetar, saat laki\-laki itu memegang tangannya, dan menoleh perlahan ke arahnya.


Kesha melebarkan matanya terkejut, saat ia tahu siapa laki\-laki di depannya itu. “Vino!!” ucap kasha dengan bibir sedikit terbuka, ia mencubit pipinya. Apa ini ini mimpi, kenapa aku harus bertemu dengan Vino lagi di sini. Apa bumi ini sempit sekali, aku harus puluhan kali bertemu dnengannya dalam satu hari.


“Kenapa kamu juga ada di sini?” tanya Kesha.


“Duduklah dulu, ba aku beri tahu. Dan kamu pesan apa biar aku yang traktir nanti” ucap Vino.


“bentar, sebenarnya kamu I sini apa ada hubungannya dengan buku.”


“SSttt… Jangan banyak bicara lagi, aku mau kamu diam sekarang. Dan aku ingin kamu pesan sesutu dulu. Baru nanti aku jawab” Vino memanggil waiters yang ada di depannya.


“Aku gak mau lama\-lama di sini, aku mau kamu\-\-”


Vino menutup mulut Kesha, “ Saya pesan orange juice dan capucino” ucap Vino tanpa mengijinkan Kesha untuk berbicara.


“Lepaskan tangan kamu!!” uacap Kesha, menepis tangan Vino di bibirnya.


“Apa kamu memang sengaja sudah merencanakan ini semuanya?” tanya Kesha memastikan, ia mendekatkan wajahnya sedikit condong ke depan. Dan Vino, mendekatkan wajahnya juga sedikit menyondong. Membuat tatapan merekasa sangat dekat, hembusan napas mereka saling berpacu dalam sebuah perasaan yang sama.


“Kalau emang iya kenapa?” tanya Vino, kmenraik ke dua alisnya ke atas, dengan senyum tipis terukir di bibirnya.


“Apa maksud kamu merencanakan ini semua?” tanya Kesha semakin kesal, ia mentjamkan pandangannya.


Vino manarik tubuhnya ke belakang, duduk bersandar di tempat duduknya. “Awalnya aku hanya ingin mengembalikan buku itu. Dan kamu pasti ingat dengan orang yang pernah kamu temui di bus, duduk di sebelah kamu menggunakan topi dan masker, dan kamu juga pasti tidak menganalinya” ucap Vino menjelaskan.


“Oo.. kenapa dulu kamu tidak menyapaku?” tanya Kesha.


“Dulu aku takut jika kamu sudah punya suami, jadi aku lebih memilih untuk diam. Dan gak mau mengganggu kamu.” Vino memegang tangan Kesha, di atas meja. “Sha, dengarkan isi hati kamu, apakah kamu masih ada perasaan denganku?” tanya Vino.


“Gak ada” jawab Kesha tegas, memalingkan pandangannya berlawana Arah


Vino tersenyum tipis, “Gak mungkin jika kamu gak punya perasaan sama seklai, kamu bohong sha” ucap Vino melepaskan tangan Kesha. 

__ADS_1


“Jika kamu  masih bahas itu lagi aku akan pergi dari sini” ancam Kesha, beranjak berdiri, dengan sigap Vino meraih tangan Kesha, mencegahnya untuk pergi.


 


__ADS_2