Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Biang lala


__ADS_3

Aron dan Manda berdiri, menatap di kerumunan orang yang sedang mebawa lilin di atas piring kecil, ia terus merangkul Manda dengan saling berbicara agar tidak terlihat bosan saat fokus melihat ke depan, jika hanya diam bersama makan akan saling bosan gak ada romantisnya sama sekali bagi Aron. Karena sekarang ia ingin memperbaiki hubungannya dengan manda seromantis mungkin agar Manda nantinya tidak berniat sama sekali menjauh ataupun meninggalkan dirinya nanti. Ia ingin anti sipasi soal hal tersebut agar tidak terjadi pada dirinya.


“Sayang, aku benar-benar gak menyangka bisa seperti ini denganmu. Aku baru sadar jika di dalam diri kamu ada sisi kelembutan pada istri kamu. Dan aku gak tahu kenapa kamu gak menunjukan ini dengan ku dulu waktu pertama kali kita bertemu, dulu kamu sangat kasar denganku, bahkan hampir saja membunuhku. Tapi meskipun aku melawan kamu juga tetap semakin kasar denganku Taka da lembutnya sama sekali”ucap manda, dengan pandangan tertuju ke depan orang yang mula meletakkan lilinya.


Aron mengusap usap bahu Manda lembut, dengan senyum samar terpapang di wajahnya. “Dulu terkadang aku merasa kasihan dengan kamu, saat melihat kamu sedang tidur terlelap di kamar, aku merasa sangat sakit, terus menyiksamu. Tapi sekarang kamu pasti tahu kenapa aku melakukan itu semua, Vino sudah cerita semua pada kamu kan?” Tanya Aron.


“Vino pernah bilang dulu, tapi aku lupa. He.. he..”Manda menatap ke arah Aron ,di balas dengan sentuhan lembut ubun kepala Manda.


“Kamu ini syang, apa sih yang kamu ingat, kamu itu sering banget lupa. Gitu kamu kuliah nanti ingin ambil beasiswa. Kalau kamu pelajaran sering lupa juga gimana jadinya nanti”ucap Aron, mengusap lembut rambut Manda.


“Kalau soal itu aku akan berjuang mati-matian dan terus belajar demi mendapatkan beasiswa, aku juga ingin membuktikan padamu jika aku bisa mandiri kelak nanti, dan bisa kerja sendiri membantu kamu untuk menghidupi anak kita nanti. Aku gak mau kamu berjuang sendiri membangun perusahaan baru kamu di tempat baru nantinya.”ucap Manda, menatap ke arah Aron, dengan senyum merekah di wajahnya.


“Baiklah terserah kamu”ucap Aron, mengusap rambut manda lembut.


“Syang, kita coba yuk”Ucap manda, melepasakn tangan Aron yang masih mencengkram lengannya.


“Coba apa syang?”Tanya aron, memegang tangan Manda agar tak pergi jauh.


“Naik itu yang di sana, aku belum pernah sama sekalai naik itu”ucap manda menunjuk ke biang lala yang nampak sangan tinggi di pinggi danau yang indah.


“Biang lala itu, kenapa kamu mau naik itu? Tapi apa kamu yakin mau naik syang? Kamu gak takut kan?”Tanya Tanya Aron, yang terlihat ragu dengan Manda, ia takut jika nanti Manda di tengah merasa takut dan minta turun.


“Yakin sayang, seribu yakin deh”ucap manda, menarik tangan Aron untuk segera ke sana.


“Yahh..”gumam Manda nampak lesu, melihat antrian panjang yang mau naik biang lala.


“Sekarang kamu yakin masih mau naik itu syang?”Tanya Aron lagi memastikan. “Lihatlah, tinggi banget sayang”lanjutnya.

__ADS_1


“Udahlah syang, aku yakin. Meskipun kamu Tanya seribu kali-pun aku tetap yakin pkoknya. Gak mau pindah dari sni sebelum aku bisa naik biang lala ini. Ya meskipun aku harus antri panjang. Bagi aku tidak masalah. Lagian anak ini sepertinya juga mau sayang naik biang lala melihat indahnya danau ini dari atas-kan. Lagian kita juga bisa melihat pemandangan kota ini”gumam manda yang mulai masuk ke dalam baris antrian.


Dan Aron langsung mengikuti Manda dan berdiri di belakangnya. Ia tidak mau jauh dari Manda. Kalau dia mau naik, dengan terpaksa Dia juga harus naik, meskipin belum pernah naik sebelumnya. Dan hatinya Nampak ragu juga, karena biasanya ia takut dengan ketinggi-an.


“Syang sepertinya kita akan segera naik, kurang satu antrian lagi nih”ucap Manda.


Aron hanya diam berdiri di belakang Manda, dengan menatap ke arah biang lala itu.


“Syang kamu kenapa diam?”Tanya Manda menoleh ke belakang, melihat suaminya yang dari tadi hanya diam di belakang tidak menghiraukan ucapannya dari tadi.


“Syang”panggil manda dengan nada tinggi, menepuk pundak Aron.


“Eh., Iya syang, ada apa?”Tanya Aron, yang baru sadar dari lamunannya.


“kenpa kamu diam sih”Tanya Manda, mengerutkan bibirnya kesal ke arah Aron.


Manda memegang tangan Aron di perutnya, Dengan sentuhan lembut jemarinya. “Sayang, apa yang kamu lakuakn, malu tahu, ini di tempat umum syang, jangan memelukku seperti ini”gumam manda.


“Emangnya kenapa, aku tidak perduli dengan pandangan mereka, aku mau memelukmu setiap saat apa gak boleh. Lagian kamu juga istriku. Gak ada yang larang juga kan sayang.”gumam Aron, ia seakan tak mau melepasakan pelukannya dari pinggang Manda.


“tapi malu syang”ucap Manda lirih.


“kenapa harus malu sih syang”ucap Aron.


“gak apa-apa sih syang, hanya malu saja. Aku gak pernah seperti ini sebelumnya”gumam Manda.


“Giliran kamu, cepat naik”ucap penjaga biang lala itu.

__ADS_1


“Udah syang lepaskan ayo kita naik”ucap Manda melepaskan tangan Aron di pinggangnya dan segera menarik tangan suaminya itu menuju ke dalam biang lala. Aron hanya diam, menundukkan kepalanya. Ia sebanarnya merasa takut. Namun demi Manda ia melawan rasa takutnya. Agar bisa menemani manda menuruti keinginan anaknya untuk naik biang lala. Ia juga tidak mau mengecewaan Manda nantinya.


Manda segera duduk di depan Aron, dengan pandangan ke arah luar memandang ke arah danau.


Biang lala mulai berjalan memutar secara perlahan. Dan Aron hanya duduk terdiam tak berani memandang ke luar. Sedangkan Manda menatap ke arah luar Memandang danau yang terlihat indah dari atas, dan melihat indahnya kota di malam hari.


“Wah… sangat indah, syang coba lihat deh”ucap Manda meraih tangan Aron.


Namun Aron hanya diam tak perdulikan Manda yang menatap kagum dari tadi melihat pemandangan yang sangat indah dari atas biang lala.


“Syang, kenapa kamu diam lagi sih”gumam Manda yang semakin kesal. Ia melihat Aron hanya menunduk dari tadi.


“Syang kamu takut?”Tanya Manda, ,memegang tangan Aron.


“Aku gak mau lihat syang takut tinggi”ucap Aron.


“Kenapa kamu takut, coba lihat syang, bagus lho janan sampai menyesal nantinya”gumam Manda, menolehkan wajah Aron agar mentap ke luar biang lala. “ Lihatlah syang pemandangan danau di luar, bagus kan, Kita juga bisa melihat pemandangan kota dari atas yang begitu indah syang kalau di lewatkan”lanjut Manda yang mash memegang rahang Aron untuk menatap ke luar, ia tidak mau jika Aron terus-terusan takut tinggi. Manda mendekatkan pipinya ke arah Aron, dengan pandangan sama tertuju ke luar.


Aron menatap indahnya peandangan itu, ia baru kali ini melihat indahnya kota dari atas, dengan pemandangan danau dan kota yang terlihat jelas di atas. “Syang, benar-benar sangat indah, baru kali ini aku melihat pemandangan indah di sini”gumam Aron.


“Apa aku bilang, sekarang jangan takut lagi ya syang”ucap Manda menatap ke arah Aron yang terus menganggumi keindahan di depannya.


Ia mengecup pipi kiri Aron lembut. Aron yang tadinya tak melihat Manda di sampingnya. Kini pandangannya tertuju pada Mnada, ia menatapnya dengan penuh perasaan. Mendekatkan wajahnya dengan jemari tangan menyentuh pelipis Manda lembut.


Tiba-tiba sebuah benda kenyal, menempel di bibir tipis Manda. Gadis itu tidak menolak kecupan Aron dan membalasnya dengan penuh perasaan, ia memegang leher Aron dan semakin mendalamkan ciumannya tepat di atas biang lala.


Mereka saling berpadu dalam perasaan yang sama, dengan detak jantung yang berpacu tak beraturan. Ciuman yang semakin dlama tanpa penolakan dari Manda.

__ADS_1


 


__ADS_2