
Jam kuliah sudah berakhir, Manda segera pulang dengan Vina. Dengan langkah cepat ia menuju ke parkiran mobil. Di mana Vina memakir mobilnya. Kali ini mereka tidak melihat Albert, bahkan mobil Albert sudah pergi lebih dulu.
"Sepertinya Al sudah pergi, mobilnya juga sudah gak ada di samping mobil kamu" ucap Manda, membuka pintu mobil Vina, lalu segera masuk ke dalam.
"Mungkin, aku beruntung tidak bertemu dengannya lagi" ucap Vina, dengan wajah yang masih terlihat memerah.
"Emangnya kenapa? Apa kamu takut jika cinta kamu tumbuh lagi" goda Manda.
"Apaan sih enggak" ucap Vina mengelak.
"Oya, Da. Aku mengalami kejadian yang sangat-sangat memalukan tadi, bahkan aku tidak mau mengingatnya lagi." ucap Vina, menggelengkan-gelengkan kepalanya. Membayangkan kejadian yang benar-benar membuat dia sangat malu.
"Emangnya kejadian apa?" Tanya Manda, yang mulai serius mendengarkan apa yang Vina katakan.
"Tadi kamu, biarin aku di Lift berdua dengan Albert, saat itu kamu keluar lift mulai jalan, kamu tahu gak lampu tiba-tiba mati, aku yang takut kegelapan. Spontan memeluk tubuh Al" ucap Vina, seketika membuat Manda menatapnya tak percaya.
Manda terdiam sejenak, memegang lengan Vina yang masih fokus mengemudi, dengan tatapan masih tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Vina. Tiba-tiba Manda tertawa, " Ha.. ha..ha.. apa yang kamu lakukan Vin? Kamu berani memeluknya? Benar-benar hebat kamu" Tanya Manda yang masih tak berhenti tertawa.
"Manda kenapa kamu malah tertawa, aku mau tau" ucap Vina kesal, menguntupkan bibirnya. Pandangannya masih fokus ke depan.
"Habis kamu lucu, bikangnya udah lupa. Tapi kamu sudah main peluk saja, kamu sekarang bermain semakin berani dengannya" gumam Manda menggoda.
"Ya, mau gimana lagi. Aku phobia dengan kegelapan Da, aku takut dalam ruangan gelap. Apalagi sangat sempi dan tertutup. Aku takut benar-benar takut tadi, di pikiranku hanya ketakutan tidak berpikir jika itu adalah Albert. Sekarang aku sangat malu jika bertemu dengannya" ucap Vina yang masih menguntupkan bibirnya.
"Aku gak bisa bayangin wajah Albert tadi gimana? Wajangnya malu, senang atau malah marah?" Tanya Manda.
"Apaan, udah gak usah bahas itu. Nyesel aku tadi bicara sama kamu. Malah di ketawain dan terus memojokkan ku juga" gumam Vina kesal.
"Udah gitu saja kenapa ngambek" gumam Manda, merengkuh bahu Vina.
"Lepaskan tangan kamu Manda, ini aku lagi nyetir jangan ganggu dulu. Ini menyangkut keselamatan kita lo" ucap Vina.
"Eh.. kita cari teman kamu atau ke sekolahan anak kamu dulu?" Tanya Vina.
"Langsung ke sokolahan anak aku. Aku takutnya nanti anak-anak sudah nunggu lama" ucap Manda.
"Baiklah" ucap Vina.
__ADS_1
Manda mengeluarkan selembar foto Kesha yang ber-pose berdua dengannya, yang berada di dalam tasnya. Ia melihat foto mereka berdua, dengan pikiran melayang membayangkan saat mereka bersama, bergitu tanang tidak ada masalah yangbtidak bisa di selesaikan.
Vina melirik ke arah foto itu. "Itu foto teman kamu itu" tanya Vina, meraih foto itu di tangan Manda.
"Iya, dia teman aku" ucap Manda lirih, menundukkan kepalanya. Menahan rasa sedihnya.
Vina terdiam, melihat wajah yang sangat familiar di matanya. "Sepertinya aku pernah lihat dia tapi di mana ya" gumam Vina lirih, memutar otak ya untuk berpikir. Ia teringat dengan wanita yang di kejar-kejar Albert tadi bahkan sampai ke lantai bawah. Demi berbincang dengannya.
"Aku ingat sekarang" ucap Vina, memegang bahu Manda.
Manda menatap Vina bingung. "Ingat apa? Apa kamu tahu dia? Apa kamu pernah bertemu dengannya? Sekarang di mana dia?" Tanya Manda yang seolah ada jawaban dari penatiannya ingin bertemu dengan sahabatnya. Wajah yang semula sedih, kini terlihat raut wajah bahagia di wajahnya.
"Kamu tenang dulu Da, aku akan ceritakan" ucap Vina, mencoba untuk menenangkan hati Manda.
Manda menarik napasnya dalam-dalam, menahannya sejenak. Lalu mengeluarkan secara perlahan.
"Aku tadi lihat Albert mengejar dia, entah apa yang mereka bicarakan aku juga tidak tahu" ucap Vina.
"Albert?" Ucap Manda terkejut.
"Sekarang bawa masuk anak kamu dulu, nanti aku ceritakan lagi. Kasihan itu ke Duke sudah di kelilingi wanita" ucap Vina, melirik ke arah ke dua anak Manda yang sudah menunggunya di depan.
"Baiklah, aku akan bawa mereka masuk dulu. Tapi kamu kanji cerita padaku ya" ucap Manda, yang mulai membuka kaca mobilnya. Menatap ke dua anaknya. Belum sempat turun Duke dan Lia belari menuju mobil Vina.
"Ma, ayo cepat pulang" ucap Duke, selalu mengerutkan bibirnya saat pulang sekolah. Seakan kini sudah jadi kebiasaan rutinnya. Pulang sekolah selalu cemberut. Karena ulah para gadis kecil yang selalu mengganggunya.
"Bentar ya Duke, kita akan cari tante dulu. Kalau kita bertemu dia. Mama mau ajak tante tinggal sama kita" ucap Manda.
"Wahh.. Duke dan Lia pinya tante dong" ucap Lia antusias.
"Iya syang" Manda mengusap lembut rambut panjang Lia.
"Oya, gimana soal Kesha tadi ucap Manda pada Vina yang mulai menjalankan mobilnya lagi pergi dari depan sekolahan anak Manda.
"Aku tadi melihat dia di kampus, tapi aku gak tahu dia kuliah di sama atau tidak. Tapi emangnya dia semester berapa, kalau dia kuliah?" Tanya Vina, menoleh sekilas ke arah Manda yang duduk di sampingnya.
"Kalau gak salah sudah semester tujuh kalau enggak enam, aku juga lupa" ucap Manda.
__ADS_1
"Tapi kalau dia sudah semester tujuh pasti kita sudah sering bertemu dia jika di kampus. Gak mungkin kan sudah satu tahun kita kuliah tidak bertemu dengannya. Jika kita sama dia satu kampus" ucap Vina.
"Jadi maksud kamu?" Tanya Manda.
"Aku yakin jika dia itu tidak kuliah di sini, dia pasti kuliah di dekat sini. Dan bentar lagi acara kampus, dan pasti akan mengundang dari kampus lainnya untuk berpartisipasi untuk meramaikan acara kampus kita" ucap Vina yang baru teringat tentang acara itu.
"Jadi maksud kamu dia daftar untuk ikut acara di kampus kita." Ucap Manda.
"Ya, tepat sekali. Kalau kamu ingin melihat dia, lebih baik jangan pas acara kampus. Karena acara sangat ramai, kamu kalau hamil besar gini bahaya. Lebih baik kamu sewa paparazi untuk mengikuti wanita itu. Dan menangkapnya diam-diam saat acara selesai" ucap Vina, memberikan sebuah ide pada Manda.
Manda terdiam sejenak, ia berpikir tentang ide yang di berikan Vina. "Kalau aku culik dia, nanti aku di kira penculik lagi" gumam Manda.
"Terus gimana, hanya itu satu-satunya jalan. Atau kamu minta bantuan Albert untuk menculik dia" ucap Vina.
"Albert? Mendingan gak usah deh. Nanti malah Albert yang beneran menculiknya dan di bawa ke rumah." Ucap Manda.
Dia itu calon istrinya adik ipar aku, yang entah kemana sekarang perginya.
"Oo. Jadi wanita itu sudah mau menikah?" Tanya Vina.
"Iya, tapi entahlah jadi enggak" gumam Manda. "Udah sekarang fokus dulu dengan jalan di depan kamu, sambil lihat sekeliling jalan. Ada Kesha tidak, siapa tahu nanti kita bertemu di jalan." Lanjutnya.
"Ma kita mau cari tante siapa?" Tanya Duke yang mulai mau membuka suaranya.
"Tante Kesha, dia akan jadi tante kamu ayang" ucap Manda pada ke dua anaknya.
"Di mana dia sekarang ma?" Tanya Duke.
"Entahlah, mama juga masih nyari syang" ucap Manda.
"Baiklah, kalau begitu kita segera cari ma" ucap Lia.
"Oya gimana kalau kamu bilang pada suami kamu dulu saja" sambung Vina.
"Sepertinya ide bagus, nanti aku akan cari cara sama suami aku. Siapa tahu dia tahu gimana cara mengajak Kesha. Tapi emangnya acara di kampus kapan, kenapa aku tidak tahu?" Tanya Manda.
Mobil Vina sampai di rumah Manda, Manda segera masuk ke dalam rumah menggandeng ke dua anaknya masuk.
__ADS_1