
Albert yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan
balutan handuk yang menutupi tubuhnya. Dan tangan mengusap rambutnya yang basah
dengan handuk kecil yang berada di tangan kananya. Ia menatap ke ranjangnya.
Seketika mengerutkan keningnya, saat melihat Vina tidak ada di atas ranjangnya.
Wanita yang sudah dua kali menaninya, membuat dirinya terbuai dalam sebuah
perbuatan yang tidak seharusnya ia lakukan dengannya. Tapi ia sudah terjebak
dalam sebuah hubungan itu, kini dia tidak akan bisa pergi, saat melihat Vina
yang selalu membuat ia tertarik.
Dan entah sejak kapan, Albert sangat tertarik dengan Vina,
hatinya selalu ingin bersamanya, meski kadang ia selalu berantem. Saling salah,
menyalahkan satu sama lain. Dan tidak pernah dalam sejarah bertemu mereka akur.
“Kemana dia pergi, kenapa dia meninggalkanku? Apa hubungan
kita tidak bisa baik lagi Vin!!” ucap Albert lirih di bibirnya. Ia menatap ke
arah ranjang di depannya, terputar kembali kenangan bersama Vina kemarin malam
membuatya tidak bisa lupa. Pertama kali juga dalam hidupnya ia melakukan itu
dengan wanita. Meski Aslbert, di cap sebagai orang yang paling play boy di
kampus.
Albert, berjalan menuju balkon hotel, memandang ke bawah. Ia
curiga jika dia sudah pergi. “Dia tidka ada,” gumam Albert semakin gelisan di
buatnya.
Aku tidak pernah se-gelisah ini sebelumnya, kenapa aku bisa
seperti ini. Kenapa aku gak bisa melupakan Vina dalam pikiranu. Kejadian se-malaman
bisa merubah segalanya, termasuk cinta dan hatinya. Dan apa mungkin benar apa
yang di katakan Vina dulu, jika aku tidak benar-benar suka dengan Kesha . Ia
hanya sebatas ingin memilikinya, terobsesi ingin memiliki tidak lebih dari itu.
Pikir Albert, yang masih berdiri di atas balkon hotel, dengan pandangan tak
berhanti memandang ke arah pantai yang terlihat jelas di depannya.
Otaknya memutar kembali, saat dia bercerita dengan Vina di
pinggir pantai menikmati sunset. Ia tersenyum tipis, membalikkan badannya masuk
ke dalam kamarya.
Ternyata kamu
ngangeninnjuga. Pikir Albert.
“Aku harus cari dia, siapa tahu dia bersembunyi di dalam
ruangan ini.” Ucap Albert, yang masih belum terima jika Vina sudah pergi dari
ruangannya.
“Dimana dia?” tanya Albert, memutar matanya melihat seisi
ruanganya.
apa dia sudah pergi, tapi kenapa dia pergi begitu saja. Tanpa bilang padaku.
Dan bajunya juga sudah gak ada semua, termasuk bajuku. Pikir Albert, seketika
ucapanya terhenti saat melihat kemejanya juga tidak ada.
“Shiittt... Dia bawa kemejaku?” gumam Albert mengumpat
kesal.
Albert duduk di
ranjangnya dengan wajah penuh frustasi. Ia bingung apa yang harus dia lakukan
__ADS_1
nanti saat Vina meminta dia tanggung jawab. Apa aku harus pergi ninggalin
Kesha, apa aku harus melupakan semuanya, yang terjadi dengan Vina. Arggg....
Semuanya bikin aku bingung, Kesha tidak mnecintaiku sama sekali, tapi aku gak
rela melepaskan dirinya. Dan Vina sangat mencintaiku dulu... Dan sekarang aku
yakin dai masih sama. Pikir Albert.
Albert beranjak berdiri mengambil bajunya yang sudah tertata
rapi di lemari. Ia memakai bajunya dan berniat untuk pergi mencari Vina di
luar. Ia ingin segera menjelaskan pada Vina, dan bebicara baik-baik dengannya.
Selesai memakai baju, ia segera pergi kaluar dari kamarnya
“Aku harus pergi cari Vina sekarang, aku gak mau mneyesal nantinya.
Aku harus bicara dengannya” Ucap Albert, menutup kembali pitu kamarnya
Ia berjalan dengan langkah cepat menuju ke receptionis. Ia
ingin bertanya nomor kamar Vina.
“permisi!!” sapa Albert.
“Iya,Tuan.” Jawab receptionis itu.
Albert menarik napasnya, mengatur napasnya yang masih
ngos-ngosan.
“Tolong lihat di mana kamar dengan nama Vina” tanya Albert.
“Iya, bentar ya tuan” ucap Receptionis itu.
“Maaf tuan dengan nama Vina gak ada, yang di sini hanya da
nama Mand ayang pesan dua kamar” ucap receptionis.
“Iya, di mana?” ucap Albert antusias.
“Ini kamarnya bersebelahan”
Seketika Albert melebarkan matanya, ia terkejut dan tidak
bersebelahan dengannya, kenapa aku tidak menyadarinya. Da Vina pasti
menyadarinya dari awal. Tapi karena kemarinm dia mabuk. Ia pasti tidak ingat. Pikirnya.
“Apa yang kamu katakan, apa benar kamar aku bersebelahan
dengannya?”tanya Albert memastikan.
“Iya”
“Iya, sudah makasih” ucap Albert, segera berlari kembali ke-kamarnya,
ia ingin mencari di mana kamar Vina, sebelum semuanya terlambat.
“Vina tunggu aku!!” gumam Albert semakin mempercepat
larinya, ia masuk ke dalam lift dan tak lama. Thingg....
Pintu lift terbuka, tanpa sadar Vina yang sudah pergi
melewatinya dengan balutan syal yang menutupi wajahnya, dan topi pantai menhiasi
kepalanya. Membuat mereka yang saling, melintas di temat yang sama tidak
mengenali satu sama lain.
----
“Aku harus pergi sekarang, sebelum Albert mencariku. Apa
yang sudah aku perbuat. Benar-benar sungguh memalukan. Aku sudah tidak punya
harga diri lagi berada di depanya.” Ucap Vina, membenarkan kaca mata hitamnya,
melangkah dengan langkah semakin cepat, menarik koper bersamanya.
Vina segera masuk ke dalam mobilnya, ia masih diam di dalam
mobilnya, menatap ke hotel. “Selama tinggal kenangan, aku harus pergi.” Ucap Vina,
__ADS_1
tersenyum tipis, melepaskan semua yang menutupi wajahnya.
Vina menarik napasnya dalam-dalam, menahannya sebentar, lalu
mengeluarkan secara perlahan.
“Dan sepertinya, aku harus melupakan Albert, mulai sekarang.
Anggap saja kita tidak saling kenal lagi, Albert. Jangan mencariku.” Gumam Vina,
menyalakan mesin mobilnya, dan perlahan keluar dari parkiran hotel.
---
Di sisi lain, di dalam hotel Albert sudah berhasil menemukan
kamar Vina, ia menconba untuk mengetuk pintunya berkali-kali, namun tidak ada
jawaban.
“Apa Vina sudah pergi?” tanya Albert pada dirinya sendiri.
“Permisi!!’ ucap seorang cleaning servis hotel.
“Eh.. apa orang yang ada di dalam sudah pergi?” tanya Albert
pada orang di depannya.
“Baru saja dia pergi”
Albert yang tak percaya, ia segera masuk mendahului cleaning
service itu, berlari mencaroi sekeliling ruangan itu. Todak ada siapa-siapa.
“Benar, dia sudah pergi.” Ucap Albert, duduk di rnajang,
dengan ke dua tangan memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Ia tidak
tahu lagi apa yang harus di lakukan, Albert mengusap wajahnya penuh frustasi.
“Shitttt... Kenapa dia harus pergi lebih dulu, aku belum
berbicara denganya.” Ucap Albert, mengepalkan tanganya.
Dua Cleaning servis berjalan masuk dan segera membersihkan
kamar hotel yang baru saja di tinggalkan pemiliknya. Dan Albert tidak
perdulikan itu, ia masih duduk dengan kepala sedikit menunduk. Ia menggelangkan
kepalanya beberapa detik. Albert menarik napasnya dalam-dalam, menahan rasa
kesalpada dirinya sendiri yang semkain menjadi.
“Pemisi tuan, saya menemukan ini” ucap pekerja cleaning
service, mengulurkan sepucuk surat padanya.
Albert mendongak, mentap seseorang memberinya surat, dengan
segera ia mengambilnya. Dan mulai membuka surat itu.
Maaf, saat kamu
mencariku dan menemukan surat ini. Mungkin aku sudah pergi, jadi jangan cari
aku. Alu minta tolong padamu jangan cari aku lagi, aku gak mau lagi bertemu
dengan kamu. Aku gak mau sakit hati untuk yang kesekian kalianya. Dan maaf aku
salah. Aku tahu kamar kita sebelahan. Tapi kamu gak pernah tanya kamar aku, dan
soal malam kemarin lupakan saja, dan anggap tidak ada hal yang terjadi di
antara kita.
Bye,,,
“Vina, Vina, Vina. Kenapa kamu pergi, kenapa kamu begitu
bodoh. Aku gak mungkin meninggalkan wanita yang sudah tidur bersama aku begitu
saja. Dan aku gak mungkin lari dari tanggung jawab. Kenapa kamu begitu bodoh,
Albert beranjak berdiri, dengan badan terasa lemas, ia
berjalan keluar dari kamar Vina. Menuju ke kamarnya. Albert juga sudah berniat
__ADS_1
untuk segera pulang. Dan membereskan semua baju-bajunya.
“Sepertinya aku harus cari Vina di rumahnya” ucap Albert.