Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Episode 233


__ADS_3

Albert yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan


balutan handuk yang menutupi tubuhnya. Dan tangan mengusap rambutnya yang basah


dengan handuk kecil yang berada di tangan kananya. Ia menatap ke ranjangnya.


Seketika mengerutkan keningnya, saat melihat Vina tidak ada di atas ranjangnya.


Wanita yang sudah dua kali menaninya, membuat dirinya terbuai dalam sebuah


perbuatan yang tidak seharusnya ia lakukan dengannya. Tapi ia sudah terjebak


dalam sebuah hubungan itu, kini dia tidak akan bisa pergi, saat melihat Vina


yang selalu membuat ia tertarik.


Dan entah sejak kapan, Albert sangat tertarik dengan Vina,


hatinya selalu ingin bersamanya, meski kadang ia selalu berantem. Saling salah,


menyalahkan satu sama lain. Dan tidak pernah dalam sejarah bertemu mereka akur.


“Kemana dia pergi, kenapa dia meninggalkanku? Apa hubungan


kita tidak bisa baik lagi Vin!!” ucap Albert lirih di bibirnya. Ia menatap ke


arah ranjang di depannya, terputar kembali kenangan bersama Vina kemarin malam


membuatya tidak bisa lupa. Pertama kali juga dalam hidupnya ia melakukan itu


dengan wanita. Meski Aslbert, di cap sebagai orang yang paling play boy di


kampus.


Albert, berjalan menuju balkon hotel, memandang ke bawah. Ia


curiga jika dia sudah pergi. “Dia tidka ada,” gumam Albert semakin gelisan di


buatnya.


Aku tidak pernah se-gelisah ini sebelumnya, kenapa aku bisa


seperti ini. Kenapa aku gak bisa melupakan Vina dalam pikiranu. Kejadian se-malaman


bisa merubah segalanya, termasuk cinta dan hatinya. Dan apa mungkin benar apa


yang di katakan Vina dulu, jika aku tidak benar-benar suka dengan Kesha . Ia


hanya sebatas ingin memilikinya, terobsesi ingin memiliki tidak lebih dari itu.


Pikir Albert, yang masih berdiri di atas balkon hotel, dengan pandangan tak


berhanti memandang ke arah pantai yang terlihat jelas di depannya.


Otaknya memutar kembali, saat dia bercerita dengan Vina di


pinggir pantai menikmati sunset. Ia tersenyum tipis, membalikkan badannya masuk


ke dalam kamarya.


Ternyata kamu


ngangeninnjuga. Pikir Albert.


“Aku harus cari dia, siapa tahu dia bersembunyi di dalam


ruangan ini.” Ucap Albert, yang masih belum terima jika Vina sudah pergi dari


ruangannya.


“Dimana dia?” tanya Albert, memutar matanya melihat seisi


ruanganya.


apa dia sudah pergi, tapi kenapa dia pergi begitu saja. Tanpa bilang padaku.


Dan bajunya juga sudah gak ada semua, termasuk bajuku. Pikir Albert, seketika


ucapanya terhenti saat melihat kemejanya juga tidak ada.


“Shiittt... Dia bawa kemejaku?” gumam Albert mengumpat


kesal.


Albert duduk di


ranjangnya dengan wajah penuh frustasi. Ia bingung apa yang harus dia lakukan

__ADS_1


nanti saat Vina meminta dia tanggung jawab. Apa aku harus pergi ninggalin


Kesha, apa aku harus melupakan semuanya, yang terjadi dengan Vina. Arggg....


Semuanya bikin aku bingung, Kesha tidak mnecintaiku sama sekali, tapi aku gak


rela melepaskan dirinya. Dan Vina sangat mencintaiku dulu... Dan sekarang aku


yakin dai masih sama. Pikir Albert.


Albert beranjak berdiri mengambil bajunya yang sudah tertata


rapi di lemari. Ia memakai bajunya dan berniat untuk pergi mencari Vina di


luar. Ia ingin segera menjelaskan pada Vina, dan bebicara baik-baik dengannya.


Selesai memakai baju, ia segera pergi kaluar dari kamarnya


“Aku harus pergi cari Vina sekarang, aku gak mau mneyesal nantinya.


Aku harus bicara dengannya” Ucap Albert, menutup kembali pitu kamarnya


Ia berjalan dengan langkah cepat menuju ke receptionis. Ia


ingin bertanya nomor kamar Vina.


“permisi!!” sapa Albert.


“Iya,Tuan.” Jawab receptionis itu.


Albert menarik napasnya, mengatur napasnya yang masih


ngos-ngosan.


“Tolong lihat di mana kamar dengan nama Vina” tanya Albert.


“Iya, bentar ya tuan” ucap Receptionis itu.


“Maaf tuan dengan nama Vina gak ada, yang di sini hanya da


nama Mand ayang pesan dua kamar” ucap receptionis.


“Iya, di mana?” ucap Albert antusias.


“Ini kamarnya bersebelahan”


Seketika Albert melebarkan matanya, ia terkejut dan tidak


bersebelahan dengannya, kenapa aku tidak menyadarinya. Da Vina pasti


menyadarinya dari awal. Tapi karena kemarinm dia mabuk. Ia pasti tidak ingat. Pikirnya.


“Apa yang kamu katakan, apa benar kamar aku bersebelahan


dengannya?”tanya Albert memastikan.


“Iya”


“Iya, sudah makasih” ucap Albert, segera berlari kembali ke-kamarnya,


ia ingin mencari di mana kamar Vina, sebelum semuanya terlambat.


“Vina tunggu aku!!” gumam Albert semakin mempercepat


larinya, ia masuk ke dalam lift dan tak lama. Thingg....


Pintu lift terbuka, tanpa sadar Vina yang sudah pergi


melewatinya dengan balutan syal yang menutupi wajahnya, dan topi pantai menhiasi


kepalanya. Membuat mereka yang saling, melintas di temat yang sama tidak


mengenali satu sama lain.


----


“Aku harus pergi sekarang, sebelum Albert mencariku. Apa


yang sudah aku perbuat. Benar-benar sungguh memalukan. Aku sudah tidak punya


harga diri lagi berada di depanya.” Ucap Vina, membenarkan kaca mata hitamnya,


melangkah dengan langkah semakin cepat, menarik koper bersamanya.


Vina segera masuk ke dalam mobilnya, ia masih diam di dalam


mobilnya, menatap ke hotel. “Selama tinggal kenangan, aku harus pergi.” Ucap Vina,

__ADS_1


tersenyum tipis, melepaskan semua yang menutupi wajahnya.


Vina menarik napasnya dalam-dalam, menahannya sebentar, lalu


mengeluarkan secara perlahan.


“Dan sepertinya, aku harus melupakan Albert, mulai sekarang.


Anggap saja kita tidak saling kenal lagi, Albert. Jangan mencariku.” Gumam Vina,


menyalakan mesin mobilnya, dan perlahan keluar dari parkiran hotel.


---


Di sisi lain, di dalam hotel Albert sudah berhasil menemukan


kamar Vina, ia menconba untuk mengetuk pintunya berkali-kali, namun tidak ada


jawaban.


“Apa Vina sudah pergi?” tanya Albert pada dirinya sendiri.


“Permisi!!’ ucap seorang cleaning servis hotel.


“Eh.. apa orang yang ada di dalam sudah pergi?” tanya Albert


pada orang di depannya.


“Baru saja dia pergi”


Albert yang tak percaya, ia segera masuk mendahului cleaning


service itu, berlari mencaroi sekeliling ruangan itu. Todak ada siapa-siapa.


“Benar, dia sudah pergi.” Ucap Albert, duduk di rnajang,


dengan ke dua tangan memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Ia tidak


tahu lagi apa yang harus di lakukan, Albert mengusap wajahnya penuh frustasi.


“Shitttt... Kenapa dia harus pergi lebih dulu, aku belum


berbicara denganya.” Ucap Albert, mengepalkan tanganya.


Dua Cleaning servis berjalan masuk dan segera membersihkan


kamar hotel yang baru saja di tinggalkan pemiliknya. Dan Albert tidak


perdulikan itu, ia masih duduk dengan kepala sedikit menunduk. Ia menggelangkan


kepalanya beberapa detik. Albert menarik napasnya dalam-dalam, menahan rasa


kesalpada dirinya sendiri yang semkain menjadi.


“Pemisi tuan, saya menemukan ini” ucap pekerja cleaning


service, mengulurkan sepucuk surat padanya.


Albert mendongak, mentap seseorang memberinya surat, dengan


segera ia mengambilnya. Dan mulai membuka surat itu.


Maaf, saat kamu


mencariku dan menemukan surat ini. Mungkin aku sudah pergi, jadi jangan cari


aku. Alu minta tolong padamu jangan cari aku lagi, aku gak mau lagi bertemu


dengan kamu. Aku gak mau sakit hati untuk yang kesekian kalianya. Dan maaf aku


salah. Aku tahu kamar kita sebelahan. Tapi kamu gak pernah tanya kamar aku, dan


soal malam kemarin lupakan saja, dan anggap tidak ada hal yang terjadi di


antara kita.


Bye,,,


“Vina, Vina, Vina. Kenapa kamu pergi, kenapa kamu begitu


bodoh. Aku gak mungkin meninggalkan wanita yang sudah tidur bersama aku begitu


saja. Dan aku gak mungkin lari dari tanggung jawab. Kenapa kamu begitu bodoh,


Albert beranjak berdiri, dengan badan terasa lemas, ia


berjalan keluar dari kamar Vina. Menuju ke kamarnya. Albert juga sudah berniat

__ADS_1


untuk segera pulang. Dan membereskan semua baju-bajunya.


“Sepertinya aku harus cari Vina di rumahnya” ucap Albert.


__ADS_2