
“Vina, aku datang” ucap Albert beranjak turun dari mobilnya,
berjalan dengan langkah penuh keraguan, menuju rumahnya Vina.
Albert memencet tombol pintu masuk rumah Vina, merasa tidak
ada jawaban. Albert yang tidak sabar, ia mentuk pintu rumanya keras.
Tok.. tok.. tok...
Pintu terlihat terbuka perlahan, Albert, melangkahkan kakinya
mundur ke belakang, Seorang laki-laki paruh baya berdiri tepat di depannya.
“Kamu siapa?” tanya laki-laki paruh baya itu.
“Aku Albert Om” ucap Albert sangat sopan.
“Kamu cari siapa?”
“Vina, ada gak om?” tanya Albert sedikit menundukkan badannya.
“Vina, belum pulang. Dan sekarang enggak tahu dia di mana.
Aku juga masih mencoba menghubunginya” ucap laki-laki paruh baya itu.
“Bulum pulang om?” tanya Albert memastikan.
“Iya”
Ia seketika mengerutkan keningnya, mendengar Vina belum
pulang. Albert menunduk, Apa yang kamu lakukan Vina, sekarang kamu di mana.
Kamu pergi kemana Vina. Gumam Albert dalam hatinya, dengan wajah sudah terlihat
sangat gelisah.
“Apa kamu teman Vina?”
“Iya, om. Teman kuliah” jawab Albert. “Sekarang saya pergi
dulu ya, om. Saya mau cari Vina,” albert mencoba ijin pergi dari rumah Vina.
‘Iya, tolong cari Vina, saya sudah sangat khawatir dari
tadi, Vina gak bisa di hubungi sama sekali. Kmau bantu aku cari dia, temukan
Vina dan segera bawa dia pulang” ucap papa Vina, dengan mata mulai
berkaca-kaca.
“Iya, om. Saya akan segera bawa dia pulang. Saya pamit dulu
om, mau segera cari dia” ucap Albert.
“Iya, hati-hati”
Albert segera pergi dari depan pintu rumah megah Vina.
Ia segera masu ke dalam mobilnya, dan mulai menjalankn
kobilnya pergi dari halama rumah Vina.
“Arrrgggg... “ umapt kesal Albert, mengigit jarinya,
menghilangkan rasa cemas dan khawartir yang semakin menganggunya,
“Vina, semoga kamu tidak melakukan hal bodoh” ucap Albert.
Ioa terus menelusuri jalanan, dengan laju mobil semakin
pelan, dan pandnagan melirik ke kanan dan kiri. Berharap akan bertemu dengan
Vina lagi di jalan.
Shhiittt.. semua salah aku” Albert memukul setir mobilnya,
ia merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah ia perbuat dengan Vina.
Sekarang ia tidak tahu lagi, Vina ada di mana.
“Vina, kamu di mana?” ucap Albert, berkali-kali. Ia menarik
napasnya dalam-dalam, mecoba menenangkan hatinya.
\~\~\~\~
__ADS_1
Sedangkan Vino dan Kesha, sudah sampai di rumah kontrakan
Vino, mereka sudah mulai membersihkan kontrakan itu sebelum Vino meninggalkan
rumahnya. Yang selama tiga tahun ini jadi tempat tinggal Vino untuk berteduh.
Kesha membereskan ranjang Vino yang bernar-benar berantakan
seperti kapal pecah, gimana bisa dia di tinggal beberapa hatri tapi kamar masih
berantakan. Dasar menjijikkan. Pikir Kesha.
“Kamu pasti lagi mikirin aku ya, kamar aku bernatakan itu.
Karena aku belum punya istri, coba kalau aku menikah dnegn kamu. Jadi kan enak,
kamu selalu membereskan kamar kita” ucap Vino menggoda, mendekatkan wajahnya ke
arah Kesha.
Kesha, menggertakkan rahangnya, memejamkan matanya beberapa
detik, menahan emosi yang semakin menjalar naik sampai ke ubun-ubun kepalanya.
Ia mencoba untuk bersabar menghadapi Vino yang membuat dia tidak bsa berkata
apa-apa lagi ke-isengannya.
“Kamu kalau mau menikah, cari saja wanita yang sangat rajin.
Jangan seperti aku, aku itu paling malas kalau suruh bersih-bersih” uacp kesha
beralasan
“Aku gak perduli, aku mau kamu. Aku hanya mau menikah dengan
kamu, hanya dengan kamu. Gak ada wanita lain selain kamu” ucap Kesha.
“Kalau aku sudah menikah dengan orang lain gimana?”
“Aku gak perduli. Aku akan tunggu kamu sampai kamu pisah
dengan suami kamu”
Kesha menarik napasnya untuk yang ke dua kalianya. “Vino!!
menikah dengan aku” ucap Kesha, yang langsung beranjak pergi dari hadapan Vino.
Kesha segera membersihkan lantai dengan kain, dan Vino
selalu mengikuti setiap kegiatan apa yang Kesha lakukan, mereka membersikan lantai
berlawanan arah.
Buukk..
Kepala mereka benturan satu sama lain.
“Vino!! Bisa gak kalau kamu jangan terus-terusan ikuti aku”
ucap Kesal Kesha.
“Siapa yang mengikuti kamu?” ucap Vino.
Aku itu melakukan tugas yang aku harus lakukan. Udah dea
kamu gak usah bawel ucap Vino.
Kesha beranjak berdiri, melemparlan kain pel ke lantai
dnegan perasaan kesalnya. Ia berkacak pinggang, menatap tajam ke arah Vino.
“Kamu bilang aku bawel! Eh... Bukanya kamu yang bawel, kamu
selau banyak bicara dari tadi, merayuku, mengatakan hal basi yang pernah aku
dengar”
“Kesha, menghentakkan kakinya, membalikkan badnaya dan bergegas
pergi meninggalkan Vino.
Vino hanya diam tanpa ekpresi, ia berdiri menatap ke arah
Kesha. Ya... ngambek lagi, kenapa dia jadi sering marah. Apa hari ini dia lagi
M ya. Pikir Vino.
__ADS_1
Vino tersenyum dan melanjutkan kegiatanya lagi, ia seera
menyelesaikan smeuanya. Dan bergegas menuju kamar mandi, membasuh badnaya yang
terasa sangat lengket. Setengah hari membersihkan kontrakan miliknya.
Selesai mandi. Vino bergegas menuju ke depan, dengan tangan
mengusap rambutnya dengan handuk.
“Hai, kamu?” panggil Vino.
“Apa” jawab Kesha jutek.
“Kamu mandi gak?” tanya Vino.
“Gak usah, sudah jam segini jadi ke pantai ga?” tanya Kesha
dengan bibir masih manyun beberapa senti.
“Jadi, udah jangan ngambek gitu. Aku ambil beberapa barang
aku dulu” ucap Vino, mencolek pipi Kesah.
“Cantik jangan ngambek lagi ya” ray Vino, bergegas pergi
keninggalkan Vina, mengambil baranga-barangnya yang sudah ia bereskan semuanya.
“Dasar Vino, selalu kalau aku ngambek. Gak pernah kalau gak
nyentuh pipi aku” gumam Kesha, tersenyum tipis. Memegang pipinya, yang sudah
mulai memrah.
Dan Vino mengangkat kopernya masuk ke dalam mbil.
“Hanya itu saja?” tanya Kesha.
“Semua sudah aku masukan ke dalam mobil, kamu saja yang adri
tadi duduk di situ melamun, senyum sendiri.”
Kesha menunduk malu, gimana bsa Vino mengetahui jika ia
melamun.
“Udah ayo masuk ke mobil, jangan melamun lagi di situ. Aku
mau ajak kamu lihat sunset hari ini” ucap Vino.
Kesah tersneyum, ia berkari segera masuk ke dalam mobil. “Cepat,
aku gak mau kehilangan komen yang indah nantinya” ucap Kesha yang sudah memaki
seatbelt-nya.
“Pasti moment indah dengan aku ya?’ goda Vono, yang mulai
menjalankan mobilnya.
“Ihh.. jangan kepedean deh. Yang aku maksud itu momen indah
melihat sunset, dan kamu haru foto aku untuk mengabadikan momen itu”
Baiklah, bawelku” ucap Vino, membuat Kesha mengeruytkan
alisnya.
“Maksud kamu?”
“Udah sekarang diam, dan pegangan. Mungkin aku akan menambah
kecepatan”
“Awas saja kalau kemu ngebut ya” ucap Kesha.
Klinggg..
Ponsel Vino berbunyi, membuat pembicaraan mereka terhenti.
Vino segera mengurangi kecepatan, ia mengambil ponselnya di
depan dasboard mobilnya. Ia melirik sekilas di layar ponsel yang masih menyala.
Sebuah pesan dari Vina.
Kamu di mana? Bisa bertemu gak?
__ADS_1