
Manda menatap tajam ke arah Aron. "Lepaskan tanganku" Manda menarik tangannya, namun cengkraman Aron masih sangat kuat membuatnya tak bisa berkutik lagi. Malah membuat pergelangan tangannya semakin sakit.
"Diamlah!" Ucap Aron.
Manda terdiam seketika menatap wajah Aron tepat di atasnya, karena dia terlalu tinggi membuatnya harus mendongakkan kepalanya, saat menatapnya.
"Kamu kenapa?, apa kamu sakit, kenapa pakai jaket tebal seperti ini di siang hari" Aron memeriksa kening, dan pipi Manda berkali-kali. Badannya tidak demam, membuat Aron menurunkan tangannya.
Pertanyaan Aron seakan menunjukan jika dia masih perduli dengan Manda. Bahkan wajahnya terlihat sangat cemas memikirkan kondisinya saat ini, apa aku harus bicara semuanya dengannya, juka aku hamil,gumamnya.
Manda menghela napas panjangnya, ia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu semua pada Aron. Karena ini belum saatnya ia tahu, jika dia sudah pisah dengan Fany, ia sudah berencana untuk cerita. Fany pengahalang hubungan mereka. Bukannya ia perusak hubungan Aron dan Fany tapi setidaknya anak ini lahir annti ia akan tahu siapa ibu kandungnya, dan papanya.
"Emangnya apa urusanmu, kalau aku sakit atau gak itu juga bukan urusanmu"ucap Manda dengan perasaan kesalnya. Menepis tangan Aron dari tangannya.
Aron memegang ke dua bahu Manda menariknya mendekat tepat ke tubuhnya. "Kenapa kamu bilang itu bukan urusanku, sampai kapanpun masalah kamu, kesehatan kamu, itu urusanku kamu istriku jadi aku berhak tahu semua urusanmu"Ucap Aron dengan nada semakin meninggi. Semua orang di rumah sakit baik nenek, kakek yang duduk di ruang tunggu, dan anak-anak, serta semua orang yang melewatinya menatap bingung padanya.
Manda terdiam, mendengar ucapan keras Aron membuatnya mengigil takut, ia hanya bisa menunduk, hingga tak terasa tetesan air mata keluar dari mata bulatnya. Ia merasa Aron diam-diam masih perhatian dengannya. Meskipun dia mengorbankan hatinya.
Tapi Manda mencoba membuang jauh-jauh pikiran itu tentang Aron. Lelaki itu telah menyakitinya. Ia tak boelh memikirkannya lagi. Apalagi merasa kasihan ataupun ingin kembali dalam dekapannya.
Manda menutup matanya sejenak, lalu membukanya lagi.
"Kamu bisa bilang seperti itu, tapi apa kenyataannya. Kamu pergi dengan Fany, menghilang beberapa hari tidak pernah perhatian denganku. Sampai aku jatuh pingsan kesha yang membawa ku ke rumah sakit. Di mana kamu saat itu, Dimana?" manda meninggikan suaranya. Mendorong dada Aron sangat keras.
Hiks..
Air matanya meluap luap. Ia ingin sekali benar-benar Aron mengerti dengan keadaanya.
Tanpa sepatah kata dari Aron, ia langsung mendekap erat tubuh istrinya itu. Kali ini ia benar-benar merasa rindu dengan pelukan hangat darinya. Bahkan sudah 2 hari ini tak pernah ia rasakan. Dekapan Aron semakin erat, mengusap lembut rambut panjang, lurus jatuh ke punggungnya. "Maafkan aku"gumam Aron lirih.
Manda masih menangis sesegukan di balik pelukan hangat tubuh Aron. Ia merindukan moment seperti ini lagi. "Kamu bersabar ya, aku akan menyelesaikan semuanya. Lalu kita akan pergi berdua ke tempat di aman tidak ada orang yang akan mengganggu kita" tangan Aron memegang ke dua kening Manda. Sebuah kecupan tak terduga Manda terima di keningnya.
Hati Manda yang semula marah, kecewa teraduk jadi satu. Kini sekaan sudah mulai rontok bersama kepingan ciuman Aron di keningnya. Kelembutan ini sangat ia rindukan, ingin sekali ia membalas pelukannya namun pikirannya terus menolaknya. Tapi hatinya bahkan memberontak ingin memeluknya.
Tatapi moment itu tak berjalan lama, saat Manda melihat Fany berjalan mendekat ke arahnya. Ia tahu jika Fany akan mencegah Aron dekat dengannya.
"Syang, kenapa kamu di sini" Fany menarik tangan Aron menjauh dari Manda.
Aron melepaskan pelukannya. Manda tetsenyum tipis, ternyata benar kan, Aron kamu memang jahat di saat seperti ini aku bilang seperti itu. Tetapi kamu juga bersama dengan Fany. Pandangan Manda pada Fany yang terus mengusap lembut perutnya, gumamnya, "Apa dia hamil?, tetapi bukannya setauku Aron hanya sekali tidur dengannya dan itu belum ada satu bulan. Kenapa dia bisa hamil, tidak mungkin sepertinya aju harus cari tahu" gumam Manda dalam hatinya. Ia bertanya-ranya keanehan dalam kandungan Fany itu.
__ADS_1
Hatinya kini mulai yakin ingin mencari tahu kebenaran itu, agar Aron tahu siapa yang berkhianat sebenarnya. Sepertinya ia harus menghubungi Jack untuk membantunya dan membatalkan kepergiannya besok.
"Eh.. wanita jalang, kanapa kamu di rumah sakit, apa kamu juga periksa kandungan sama sepertiku, tapi anak siapa di perut kamu"Fany menatap sinis dengan senyum licik terpaut di wajahnya.
Manda tertawa kecil, mendekatkan wajahnya ke arah Fany, "Kita akan lihat seberapa buruk permainanmu nyonya Fany" ucap Manda kirik beranjak pergi, ia masih tertawa kecil menyembunyikan kesedigan di hatinya. Sampai halaman ia berhenti tertawa, dan wajahnya mulai murung, ya bagaimana bisa ia melihat suaminya mangantar wanita lain periksa kehamilan sedangkan dia berjuang sendiri.
Butiran air mata keluar di mata indahnya, ia mengusap lembut air matanya dengan punggung tangannya. "Manda kamu harus kuat, kamu harus bisa buktiin semuanya" gumamnya memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Di sisi lain Aron yang daei tadi hanya diam, ia membentak Fany di depan umum, hingga semua mata mengarah padanya. "DASAR KURANG AJAR" Bentak Aron
Plakkkk...
sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Kesha.
"Kenapa kamu menamparku" Fany memegang pipi kirinya, dengan bibir ditarik sedikit. Menatap tajam ke arah Aron.
Wajah Aeon mulai memerah, rahanya mulai menggertak, dengan api kemaran berkobar ke sekujur tubuhnya.
"Karena kamu berani menyakiti hati Manda lagi, dan ingat aku seperti denganmu karena bayi itu, setidaknya jangan harap aku akan mencintaimu. Tapi jika bayi itu bukan anakku. Maka aku akan menceraikanmu, lalu mengusirmu keluar dari rumahku." Ucap Aron dengan nada semakin meninggi.
Fany meraih tangan Aron, memegangnya erat.
Aron menepis tangan Fany, "Kita tunggu sampai tes itu keluar. Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Sekarang kamu pergi dari hadapanku. Dan jangan ambil tes itu sendiri. Jika kamu tidam mau ceari masalah denganku" ucap Aron dengan tangan menunjuk ke wajah Fany. Kencengkram erat rahang Fany, lalu melemparnya kasar.
Aron bahkan tak perdulikan membuat kegaduhan, pertengkaran itu di depan umum. Bahkan ada orang yang nyinyir tentang dirinya ia juga tak perdulikan itu. Baginya itu adalah angin lewat, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan hanya tahu dari apa yang mereka lihat sekarang.
Tak perdulikan Fany, ia melangkahkan kakinya pergi.
"Aron tunggu dengarkan aku dulu, tolong percayalah ini adalah anak kamu"Fany berlutut, memegang lutut Aron. Ia berharap Aron mengakui anak di dalam kandungannya.
Aron mengibaskan kakinya, membuat Fany tersengkur ke lantai putih di rumah sakit itu. Dengan butiran air mata palsu yang ia keluarkan.
Aron tetap pergi meninggalkannya, meskipun dia berlutut di depannya, menangis merengek, ia tak perdulikan itu semua. Karena ia sudah membuat surat perceraian padanya.
Melihat punggung Aron sudah pergi menjauh, Fany yang duduk di bawah lantai, mengusap air mata palsu itu, dengan jemarinya. Ia tersenyum tipis, "Lihat saja Aron siapa yang akan menang nanti, apa kamu pikir orang tuaku tidak bisa menggungcang perusahaanmu" Ucapnya beranjak berdiri dengan senyum licik terpaut di wajah cantiknya.
#Flash Back
Sebelumnya Aron tidak pulang 2 hari memang sengaja menghindari Fany, namun apa yang ia lihat, dia melihat seorang lelaki menjemput Fany, tepat di belakang rumahnya. Itu yang membuat Aron menghubungi adiknya segera untuk mengikuti mobil yang bersama dengan Fany. Aron bekerja sama dengan Vino untuk menyelidiki tentang hubungan Fany dan lelaki itu.
__ADS_1
Lelaki yang snagat tidak asing baginya.
"Sepertinya aku harus bertindak sekarang"gumam Aron. Segera meriah ponselnya, untuk menghubungi manajernya.
"Manajer Jung, cepat cari tahu orang ada di foto, yang baru saja aku kirmkan padamu" Ucap Aron dengan mata terus menatap ke arah Fany dan lelaki itu masuk ke dalam mobilnya.
Tak lama Vino datang mdngahmoiri kakanya.
Tok..tok..
Ia mengetuk pintu jendela kaca mobil Aron.
"Kak!" Panggilnya, wajah Vino tertutup helm full ficenya.
Aron membuka kaca jendala mobilnya.
"Kamu cepat ikuti dia, ambil gambarnya apa saja yang mereka lakukan. Dan gunakan oenyadap untuk merekam apayang mereka bicarakan. Secepatnya kirim ke ponselku" ucap Aron.
"Baik kak, kamu cepat temui Manda besok saat aku pergi dengan Kesha. Dia akan sendirian di rumah. Aku mau kakak jaga dia. Jangan sakiti Manda lagi Kak. Dia itu tulus sayang dengan kakak" Ucap Vino mdnutup kembali kaca helmnya. Dan mulai menNcap gas mengikuti laju mobil itu pergi.
Aron terdiam, benar sudah dar kamarin ia bahkan tidak menemui Manda. Saat ia pergi ia malah menyakiti Manda dan membuatnya menangis. Sekarang sepertinya waktu yang tepat untuk perbaiki hubungan dengan Manda, tapinsetelah masalah Fany ini selesai. Dan semoga Manda bisa bersabar menunggunya.
Vino yang mengendarai montor, bisa mengikuti laju mobilnya tepat di belakangnya. Aron sudah memberi tahu plat mobil lelaki yang membawa Fany itu. jadi ia sudah tahu tepat di depannya adalah mobil lelaki itu.
Mobil itu berhenti tepat di sebuah restauran mewah di pusat kota. Bahkan Vino tak menyangka kakak iparnya itu bersama dengan lelaki lain. Dan mereka terlihat sangat mesra. Fany memeluk tangan kiri lelaki itu, dengan penuh canda dan senyum merekah di wajahnya. Berjalan masuk ke dalam restaurant. Vino tak sebodoh itu hanya melihat. Ia segera mengabadikan moment itu dan segera mengirimnya ke ponsel Aron.
Ternyata tak tik Aron, untuk memancing Fany tidak salah. Sebelumnya Aron bilang pada Fany jika dia ingin pergi ke luar kota untuk penyelesaian kerja sama perusahaan. Namun bukannya pergi keluar negeri ia hanya tinggal sementara di hotel dan diam-diam mengamati rumahnya dari kejauhan.
ternyata dugaannya benar, ia bermain di belakang Aron. Ya, untung saja Aron tidak begitu mencintai Fany, ia melakukan itu untuk melindungi Manda.
Kring...
Sebuah pesan Masuk dari Vino, ia membuka ponselnya, terlihat jelas Vidio yang di kirim kan Vino padanya. Dan bukti-bukti foto lainya. Tinggal sebuah percakapan yang belum Vino kirimkan padanya.
Aron senyum semringai, ini sudah bukti di pengadilan nanti untuk memceraikannya. Ia tidak mau terlibat masalah lagi dengan wanita jalang itu.
Jangan lupa yuk kak Vote jika kalian suka, dan dukung terus author. kali ini author janji bakal up lebih dari 3 eps setiap harinya.
Vote ya kak.. Sayang Deh sama kalian semua yang sudah dukung author๐๐๐
__ADS_1