
“Bagaimana kamu sudah siap?” tanya Albert, mengulurkan tanganya ke arah Vina. Di balas dengan senyum manis, menguntai di bibirnya. Dengan bola mata memutar, seakan ia masih berpikir, jawaban apa yang akan ia utarakan pada Albert.
“Menurut kamu dimana?” tanya Vina, mengerutkan sudut bibirnya.
“Suka banget godanya, kalau kamu masih suka menggodaku, jangan salahkan aku jika kau akan bertindak lebih dari ini.” Ucap Albert.
Vina mengernyitkan keningnya, salah satu mata menyipit, menatap aneh pada calon suaminya itu. “Emangnya.. Kamu mau bertindak apa?” tanya Vina.
“Mau cium kau,” goda Albert, menarik tangan Vina, mendekat ke tubunya. Memegang daraerah int Vina, sedikit menekannya.
“sudah, nanti saja di lanjut kalau sudah menikah.” Vina menepis tangan Albert. “Ayo pergi!!” Lanjut Vina mendorog bahu Albert, dan beranjak melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Albert.
Dengan sigap, Albert berlari, berdiri di pintu menghalangi langkah Vina. “Kita ke ruamh orang tuaku dulu,” ucap Albert.
“Bukannya kamu mau ke rumah orang tuaku, kenapa sekarang kita ke rumah orang tua kamu dulu?” tanya Vina heran. Ia sebenarnya merasa sangat ragu jika harus ke rumah orang tua Albert, apalagi pasti keluarga dia sangat terpandang, dari cara kehidupan dia saja berbeda dari laki-laki lainya.
Kenapa aku jadi takut, saat dia bilang mau ke rumah orang tuanya dulu, kakiku seakan berat untuk melangkah. Bahkan mulut aku terasa tersendak, untuk menjawab ‘iya’. Rasa takut jika tidak di terima oleh keluarganya, terbayang di pikirannya.
“Kenapa kamu diam? Kamu mau gak?” tanya Albert.
Vina menarik napasnya, dalam satu tarikan napasnya, ia mulai menbuka mulutnya.
“Iya, aku mau. Tapi bisa, kah. Sekarang kita berangkat.” Ajak Vina, menarik tangan Albert untuk segera keluar dari apartemennya.
Vina membuka pintu apartemen milik Abert, seketika bola matanya melebar, dengan tatapan terkejut, menatap seorang berdiri di depannya, wanita cantik berpenampilan sangat seksi. Hingga terlihat belahan dadanya yang menonjol keluar dari balik gaunnya, seperti wanita penggoda pada umumnya.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Albert, dan langsung di sambut dengan pulakan di tangan Albert, menempelakan dadanya, seakan dia memang berniat untuk menggoda Albert.
Vina menarik bibirnya ke dalam, menatap sinis ke arah wanita iatu, dengan tangan sudah siaga satu, bersiap ingin sekali menonjok wajah wanita ****** di depannya.
Albert melepaskan tangan gadis itu, namun dengan kuat gadis itu semakin menempelkan dadanya, membuat Albert semakin risih. Dan Vina semakin geram. “Oya, aku masuk ke dalam dulu ya, ada yang ketimggalan.” Ucap Vina, dengan senyum terpaksa, Ia membalikkan badanya dan bergegas masuk ke dalam.
Wanita itu sangat licik, aku harus balas dia dengan kelicikan, atau aku akan memebrikan dia sebuah kejutan, Pikir Vina, dengan sudut bibir tertarik sinis.
__ADS_1
“Itu, pacar kamu saja ngertiin kita, kalau kita itu butuh berdua. Apa kamu gak mau kita seperti dulu lagi, aku ingin bermanja lagi dengan kamu.” Ucap gadis itu.
“Gak!! Tolong, lepaskan!!” Albert, memegang tangan Aira, melemparkan tanganya kasar.
“Syang, kenapa kamu kasar padaku?” tanya aora dengan wajah memelasnya, memegang tanganya yang terasa sakit.
“Karena aku sudah tidak sudi lagi denganmu,” pekik Albert, membuat gadis itu semakin geram.
Ia paling tidak suka di bantah, di bentak atau di lawan, apa yang menjadi miliknya, harus menjadi miliknya lagi. Kata itunyang semakin tertanam dalam otaknya
“kenapa?Aku mau memperbaiki hubungan kita syang, aku gak mau jauh lagi!” ucap Aira, memegang tangan Albert, menggoyang-goyangkan tanganya.
“Kalau sudah bilang tidak mauiera, dengan senyum sinis, memegang botol minuman yang sudah terbuka.
Seketika ia lansgung menyiramkan air dalam botol itu di kepala Aira, hingga membasahi bajunya.
“Damn It!!” decak kesal Aira. Melotot tajam ke arah Vina.
“Dasar wanita tidak tahu diri, sudah di tlak masih saja mendekati calon suami aku.” Umpat kesal Vina.
Albert yang mengetahui hal itu hanya tersenyum, ternyata Vina bisa cemburu juga denganya. Bahkan tindakan-nya membuat ia semakin tertarik, dia tidak mudah percaya begitu saja, atau terpancing dengan godaan dia yang tertuju padanya.
“Sudah ayo kita pergi,” ucap Albert, mernegkuh pinggan Vina, menariknya segera pergi meninggalkan Aira yang masih terdiam, dengan wajah kesalnya.
“Awas kamu Albert, kamu dan pacar kamu itu akan mendapatkan akibatnya. Beraninya sudah membuatku marah,” ucap picik Aira, dengan senyum semringai, penuh dengan kelicikan di wajahnya.
````
“Silahkan masuk tuan putri,” ucap Albert yang sudah membukakan pintu untuk Vina, mempersilahkan dia masuk seperti putri raja.
Vina hanya tersenyum , ia bergegas masuk ke dalam mobil Albert yang dari awal memang di tinggalkan sopirnya di apartemen miliknya.
Albert yang sudah masuk ke dalam mobilnya, ia segera menyalakan mesin mobilnya, menjalankan mobilnua segera pergi.
__ADS_1
“Syang, kamu grogi gak?” tanya Albert, emlirik sekilas ke arah Vina.
“Grogi, sih! Tapi aku merasa senang, jika kamu memang benar akan menikahi aku, tidak hanya Cuma manis di mulut saja.” Ucap Vina.
“Gak lah!!” gumam Albert, mengusap lembut kepala Vina.
“Oya, saat menikah nanti, apa kamu tidak mengundang, atau hanya mengabari Manda dan Vino.” Ucap Albert.
Vina seketika mengernyitkan dahinya, sedikit menyipitkan matanya. “Apa memang kamu ingin bertemu dengan Kesha, ya?” umpat kesal Vina, memalingkan pandangannya berlawanan arah.
Albert menarik sudut bibirnya, mengukir sebuah senyuman tipis di bibirnya. “Apa yang kamu katakan, aku, tidak ada, niat sama sekali bertemu dengannya. Sekarang, hati aku sudah di isi wanita baru, yang juah lebih baik darinya, yang tidak pernah mencintai aku.”
“Kalau dia mencintai kamu, apa kamu mau kembali lagi dengannya?”
“Dia gak akan mungkin membuka hatinya untuk orang lain. Aku tahu, jika dia hanya mencintai Vino, dan di hatinya hanya Vino.” Jelas Albert, memegang pipi Vina, mengusapnya lembut.
“Kamu jangan cemberut begitu, kita sudah akan menikah secepatya, tapi kamu masih sering curiga denganku.” Albert kembali fokus dengan jalan di depannya.
Vina berdengus kesal, hanya diam tanpa menjawab ucapan Albert.
``````
Setangah jam perjalanan, Albert sampai di depan rumahnya. Seketika mata Vina tercengang saat melihat sebuah rumah yang berdiri megah di depannya, dengan taman yang menjulang sangat luas, kolam di depan rumahnya.
“Ini rumah kamu?” tanya Vina ragu.
“Bukan! Ini rumah orang tua aku, dan aku hanya punya apartemen, yang selama ini aku tinggal di sana. Aku tidak mau menunjukkan pada publik jika aku anak dari orang nomor satu di kota ini.” Jelas Albert.
Vina yang semula sangat percaya diri menikah dengan Albert, dan akan dengan beraninya mendekati orang tuanya. Tapi melihat status Albert, seakan nyalinya mulai menciut seketika. Ia ragu jika orang tuanya akan menirimanya. Tubuh Vina seketika lemas, ia meneggenggam jemari tanganya sendiri, mengusap-usap tangannya, yang sudha mulai basah. Karena terlalu gugup dibuatnya.
“Kenapa kamu masih berdiri diam di sini, ayo masuk.” Ucap Albert, menggenggam tangan Vina yang sudah keringat dingin.
Albert tahu, jika Vina sangat gugup, ia menggenggam semakin erat tangan Vina. Berjalan ringan masuk ke dalam rumah megah miliknya.
__ADS_1