Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Suasana Canggung


__ADS_3

Manda berjalan ringan menuju ke kamar Vino yang hanya beberapa langkah dari kamarnya. Ia berdiam diri seakan masih ragu mengetuk pintu putih bernuansa klasik yang menjulang tinggi di depannya.


" Aku ketuk pintunya gak ya?" Gumam Manda masih menimang-nimang rencananya. Ia takut nanti malah mengganggu Vino.


" Hmmzz gak pa lah sekali saja ganggu dia" Gumamnya mulai mengangkat tangannya akan mengetuk pintu kamar Vino. Namun belum sempat ia mengetuk. lelaki itu sudah keluar lebih dulu berdiri menatap Manda di depannya dengan tangan masih memegang gagang pintu berwarna emas dengan satuntangan menyangga tembok.


" Manda!" Ia sontak mebelalakkan matanya terkejut Manda sudah ada di depannya. Padahal ia berencana ingin menemui Manda namun sepertinya rencananya ketunda. Duluan Manda yang datang menemuinya.


Vino senyum-senyum gembira dalam hatinya. Seorang Manda datang menemuinya. Bahkan sepertinya dia butuh Dia untuk tetap di sisinya. Ngarepnya Vino sih gitu tapi gak tau lagi Manda gimana.


Manda hanya melempar senyum manis menatap Vino yang tiba-tiba mengejutkannya. Ia menarik nafas lalu mengeluarkannya perlahan.


" Kamu kenapa kemari?" Tanya Vino dengan wajah seolah nampak bingung tiba-tiba Manda datang ke kamarnya. Padahal sih ia pura -pura bingung agar tidak erlalu canggung berhadapan dengannya.


" Gak papa! Kita bisa keluar sebentar gak?" Vino terlihat masih terdiam memandang Manda. Belum ada jawaban dari Vino ia merasa kelamaan jika harus menunggu. Wanita itu menarik tangan Vino keluar dari kamarnya. Berjalan dengan langkah terburu-buru menuruni anak tangga.


" Kalian mau kemana?" Suara sangat familiar itu menghentikan langkah mereka seketika. Manda dan Vino Sontak menoleh secara bersamaan menatap Aron sudah berdiri tepat di belakangnya.


" Kak Aron?" Ucap Vino. Bola matanya seakan melebar melihat Aron berdiri di belakangnya.


Aron menunjukan wajah dinginnya menatap mereka. Bahkan kini lelaki itu terlihat sangat marah melipat ke dua tangan di dada dengan tatapan tajamnya. Seraya ia memergoki istrinya sedang berduaan dengan lelaki lain. Aura tubuh Aron seakan memancarkan api yang sudah membara menatap mereka. Tatapan tajamnya bahkan seperti elang yang ingin menerkam habis mangsanya.


Namun sepertinya berbeda dengan Manda yang hanya terdiam memutar mata malas menatap Aron berdiri di depannya. Setaya ia tak mau menatap wajah yang membuat dua merasa ilfil melihatnya. Wanita itu mendengus kesal mengehentakan kakinya beranjak pergi tanpa perdulikan Aron di belakangnya. Ia bersifat seperti anak kecil yang ngambek tak di beri uang jajan. Memang sifat Manda tak bisa dewasa saat marah. Ia masih menunjukan sifat anak kecilnya.


Aron hanya menatapnya lucu suasana hatinya berubah seketika. Seakan ia ingin tersenyum jika melihat Manda menunjukan sifat kanak-kananknya. Dia terlihat menggemaskan bahkan ingin sekali Aron mencubit pipi tembemnya itu.


" aku tunggu kamu di depan" ucap Manda dengan nada tinggi. Berjalan ringan menuju ke teras rumah. Di depan sudah ada mobil yang terparkir di depan teras. Wanita itu segera masuk duduk di kursi belakang menunggu Vino yang masih berbincang dengan kakaknya.


Wanita itu masih nemasang wajah cemberutnya. Melipat ke dua tangan di perut dengan hidung terus berdengus kesal. Tatapannya tertuju ke pintu melihat Vino terasa yang lama sekali berbincang dengan kakaknya. Pikirannya melayang layang memikirkan apa mereka berantem di dalam atau berdebat. Tetapi suara mereka tak terdengar dari luar jika memang mereka berantem.

__ADS_1


" Lupain lah. Aku yakin Vino gak akan berantem dengan kakaknya lagi" Gumam Manda memalingkan pandangnnya.


***


Di lain sisi di sebuah ruangan. ruang tamu yang sangat luas hanya berdiri dua orang lelaki yang saling menatap tanpa seuntai kata keluar dari mulut mereka. Suasana canggung di antara mereka membuat mereka hanya saling memandang dalam diam.


Wajah Vino mulai menegang. Ia mencoba memulai pembicaraan lebih dulu. Agar tidak terjadi salah paham dengannya.


" Kak a--aku bisa jelasin semuanya" pungkas Vino terlihat gugup melihat kakaknya dengan wajah sangat memerah kelihatanya seperti sangat marah padanya.


Dengan tangan ke depan dengan langkah kaki senagaja ua pelankan seakan ia ingin menjelaskan sesuatu padanya. Vino sepertinya sudah tahu apa yang ada di pikiran Aron sehingga dia menatapnya seperti itu. Dia sepertinya sangat curiga jika Vino ada hubungan dengan Manda.


" kenapa wajah kamu tegang gitu?" Ucap Aron menepuk pundaknya sontak membuat Vino bingung. Bagaimana tidak ia terlihat sangat marah tadi. Bahkan wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Hidungnya terus berdengus kesar. Dan kini dia tiba-tiba tersenyum manis seolah tadi hanyalah candaannya. Entah apa Vino kena prank dia?.


" Kakak gak marah?" Ucapnya dengan wajah masih lilung kebingungan dengan apa yang terjadi pada Aron yang tiba-tiba baik padanya. Ia tak percaya suasana hati kakaknya tiba tiba berubah 180° derajat.


" Apa nih orang kesambet setan apaan kenapa tiba-tiba berubah baik" Gumam Vini lirih melirik ke arah kakanya yang masih merangkul pundaknya.


Vino menarik nafas lega. Ia memegang dadanya. " Syukurlah" Ucapnya mengusap dadanya berkali kali.


tak mau kakaknya tambah curiga. Ia mencoba menawari kakanya untuk ikut. Jika sepertinya dia ingin sekali dekat dengan Manda. Dan gak ada salahnya sekali-sekali mendekatkan mereka. Meski entah bagaimana dengan hatinya yang masih gundah itu.


Atau nanti akan terjadi perseteruan besar. Entahlah..


Ia bisa pikirkan nanti yang penting dia bisa menghilangkan rasa canggung di antara Aron dan Manda.


" Kakak ada waktu luang tidak?" Tanya Vino mencoba basa basi pada kakaknya.


" gak ada kenapa?" Sambung Aron datar.

__ADS_1


" ya sudah kakak sekarang ikut kita" Tanpa menunggu persetujuan dari Aron. seolah Vino sudah tahu apa yang ada dalam hatinya. Ia menarik tangan Aron masuk ke dalam mobil yang di dalamnya memang sudah ada Manda duduk di belakang dengan wajah di tekut terlihat sangat kesal sudah menunggunya lama.


Vino tersenyum tipis mendorong tubuh aron agar mau duduk di belakang bersama Manda.


" Kalau dia di sini aku akan turun?" Ucap Manda dengan wajah nampak sangat kesal dengan tangan sudah memegang pegangan pintu mobil.


" kamu diam di situ bukannya kamu yang mengajak keluar tadi. Sekali-kali gak papa kan kan Aron ikut kita" ucap Vino menoleh ke belakang menatap Manda.


Jika bukan karena Vino yang menyuruhnya ia seakan malas duduk bersama dengan Aron lagi. Bahkan melirikpun ia tak sudi sama sekali. Dengan terpaksa Wanita itu mensetujui ucapan Vino.


" baiklah" Ucapnya lirih. Ia terlihat sangat kesal mengerutkan bibirnya melipat ke dua tangannya memalingkan pandangannya ke arah jendela mobil menatap ke luar.


Perlahan mobil itu melaju dengan kecepatan standart. Aron sejak tadi hanya terdiam ia tahu jika Manda pasti tak mau bicara dengannya. Namun sesekali ia melirik ke arahnya. Hingga 20 menit perjalanan suasana masih hening dalam mobil tak ada yang mau memulai pembicaraannya lebih dulu.


mereka sampai di suatu restauran terdekat dari rumahnya. Aron bergegas turun lebih dulu mencoba membukakan pintu mobil untuk Manda. Meski dapat penolakan darinya wanita itu turun juga namun ia mengalihkan pandangannya dari tatapan Aron. Seolah ia sangat jijik menatap wajahnya.


" Tunggu!" Aron memegang tangan Manda mengenghentikan langkah Manda untuk mengikuti Vino yang sudah masuk terlebih dulu ke restauran di depannya.


Vino memang sengaja membiarkan Aron untuk bisa dekat dengan Manda. Membiarkan mereka berduaan dan berjalan terburu-buru masuk ke dalam restauran itu.


Manda mencoba menepis tangan Aron.


" lepaskan aku!" Bentak Manda tak membuat Aron bergeming sedikitpun.


Manda memukul tangan Aron berkali-kali namun apalah daya Aron mencengkram tangannya lebih kuat. Ia menarik tangan Manda menyandarkan ke pinggir mobil . Dengan menyangga badannya dengan ke dua tangan di mobil. Tatapan mereka saling tertuju tapi entah apa yang terjadi dengan Aron ia menatap manda dengan kelembutan tak seperti biasanya yang selalu menatapnya tajam dengan wajah dinginnya.


Manda terus memukul dada Aron. " Minggir dariku" Bentaknya. Aron masih tetap tak bergeming sedikitpun meski dapat penolakan dari Manda yang terus memukul dadanya berkali kali ia tidak goyah sedikitpun. Hingga benda kenyal saling menempel aron melumat bibir Manda lembut membuat Manda terdiam seketika matanya berkedip kedip seakan ia tak percaya tubuhnya tak bisa menolak kelembutan itu.


Aron menghentikan permainan bibirnya.

__ADS_1


" Ma-maaf" pungkas Aron gugup memegang tangan Manda yang masih menatap bingung tak percaya. Ia mengusap bibir Manda bekas kecupannya mata mereka saling tertuju terkunci menatap dalam diam. dan tatapan cinta yang seolah keluar dari mata Aron


Manda masih berdiam diri kaku menatap mengingat apa yang terjadi tadi pagi.Ia menggandeng tangan Manda berjalan perlahan masuk ke dalam restauran. Ia hanya diam tanpa menolak Aron kali ini. Kecupan itu membawa kenikmatan tersendiri saat Aron mengecupnya lembut dengan perasaan yang terasa mendalam terbawa dalam larutan bibir mereka.


__ADS_2