Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
kurang peka


__ADS_3

Merasa pusing dengan tingkah suaminya yang seperti anak kecil itu. Manda segera memanggilnya untuk duduk. "Sebenarnya ada apa sih?" Tanya Manda mulai menarik tangan suaminya itu, untuk duduk di sampingnya. Kalau dia terus berdiri mondar-mandir, membuat kepalanya pusing seketika.


Manda menatap Aron dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Bagaimana bisa ya, ia bisa jatuh cinta dengan seseorang yang kini terlihat lugu seperti anak kecil. Ia merasa sudah kehilangan wibawanya saat bersama dengan Manda.


Wanita itu terus berdecak gak jelas. Ia bahkan tidak cerita masalahnya, namun. Ah, entahlah.


Udah badan rasanya sakit semua, pikiran pusing. Dan di tambah tingkah suaminya. Ah, rasanya ingin sekali bisa keluar sebentar cari udara sejuk agar terbebas dari ulah suaminya ini. Atau tidur pulas tanpa mikirin sesuatu lagi.


Aron memegang ke dua tangan Manda. Ia menarik napasnya senjenak. Mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengucapkan beberapa kata. "Eh. Manda ayo kita olahraga" Ucap Aron dengan nada sangat cepat, membuat Manda bingung.


Manda mengaruk garuk kepalanya yang sebenarnya sih, tidak gatal. "Siang-siang begini olahraga" Ucap Manda, ia mencoba cek dahi Aron. Apa dia masih normal atau tidak.


"Masih normal?" Tanya Manda lirih.


Aron menepuk jidadnya, lalu beranjak berdiri. Ia tak mdnyangka Manda belum jelas juga apa yang di kode tadi.


"Emangnya aku kenapa?. Lagian kalau gak mau ya sudah" suara Aron semakin meninggi, ia melemparkan wajahnya berlawanan Arah. Ya, biasa ackting Aron unguk dapat perhatian dari Manda.


Manda melihat suaminya sepertinya ngambek, ia beranjak berdiri menuju ke lemarinya, dengan segera mengambil training untuk olahraga di siang hari.


Manda masih belum tahu apa maksud Aron, ya ia pikir Aron ajak dia joging kali ini.


Aron menatap Manda semakin bingung, "Kenapa dia mau ganti baju?" Aron mendongakkan kepalanya ke atas. Terlintas di benaknya pikiran kotornya "Emm.. pasti dia suruh bantu aku untuk melepaskannya" Aron membayangkan apa yang ia ucapkan, dengan senyum semringai di wajahnya.


"Syang, kamu aku gak punya baju lengan panjang, ku gak mau pakai baju pendek nanti kulitku hitam" Ucap Manda, tanpa menoleh ke belakang. Dan Aron masih sibuk bayangin sesuatu yang ia sangat inginkan kali ini.


"Syang, kamu denger aku gak?" Tanya Manda, yang sibuk dengan lemarinya.


Aron mulai kengen dengan permainan Manda. Tetapi apalah, Manda gak peka sih. Jadi ia hanya bisa membayangkan di nalar otaknya.


"Syang.. kamu dengar aku gak?" Tanya Manda, dengan tangan masih memilah dan memilih baju yang ada di lemarinya.


Berkali kali memanggil Aron terdiam tak ada suara sama sekali di belakangnya. "Syang!" Panggil Manda sekali lagi. Aron tetap tak menggubris panggilan Manda.


Manda yang terlihat kesal, menoleh ke belakang seketika. Ia berjalan pelan mendekati Aron.


Bruukkk.. wanita itu menjatuhkan beberapa pakaiannya di ranjang miliknya.

__ADS_1


"Puukk..pukk..."wanita itu menepuk nepuk pipi Aron. Sangat lugu bahkan seperri anak kecil tingkah mereka berdua.


"Apaan sih syang" gumam Aron dengan nada sangat kesalnya, ia selalu menganggu bayangannya.


"Kenapa dari tadi kamu tidak mendengarkan aku bicara?" Manda menarik kerah Aron mendekatkan pada wajahnya.


Pandangan mereka saling tertuju.


"Emngnya kamu bicara apa? Tanya Aron nampak bingung dengan istrinya itu, tiba-tiba istrinya marah gak jelas dengannya.


Menganggu pikiran kotornya yang masih melayang-yang bermain liar dalam otakknya.


"Aku cocok pakai baju mana?" Tanya Manda


Aron masih terdiam, ia beranjak dari duduknya. Ya, mau gimama lagi meraka merasa sudah sangat lelah karena Manda tidak bisa peka bahkna ia saja tidak tahu apa yang di maksud olahraga tubuh


"Memangnya kamu mau kemana ganti baju?" Ucap Aron wajahnya nampak linglung kali ini. Istrinya aneh, dan sekaligus dirinya. Yang tiba-tiba juga merasa sangat aneh kali ini.


"Bukannya mau olahraga?" Jawab Manda dengan sangat polosnya, seraya tak terjadi apa-apa. Dia benar-benar menampakkan ekprese wajah yang sangat polos. Dengan sigap ke dua tangan aron mencubit pipi cabi Manda.


"Sakit tahu!" Gumam Manda, mengerutkan bibirnya.


Tetapi pikiran Aron belum sampai dalam tahap hamil, ia mengira hanya Manda tambah gamuk sekarang.


Merasa Manda masih kurang peka, Aron merasa geram sendiri. Niatnya yang ingin olahraga tubuh tiba-tiba jadi males dan tidak menginginkannya lagi. Habis kelamaan sih, nunggu Manda.


"Haah.. gak jadi deh, lagi males olahraga sekarang. Kamu istirahat aja" Ucap Aron, ia beranjak pergi dari kamar Manda.


#Vino POV


Di sebuah cafe yang tak jauh dari pusat kota, Vino saling berbincang, tertawa, bercanda bersama dengan kesha. Namun semua terdiam saat Vino mulai memegang tangan Kesha yang berada di atas meja, dengan tatapan saling tertuju masing masing.


"Sha, gimana apa kamu mau balikan denganku?" Tanya Vino.


Kesha terdiam seketika, ia tak bisa mengucap kata-kata itu. Ia hanya menatap kagum saja sekarang dengan Vino, soal perasaan ia belum bisa memutuskannya. Karena sakit hati itu masih membekas belum sepenuhnya hilang dari hatinya.


"Sha kenapa kamu diam, apa kamu mau?" Ucap Vino, mengulangi kata-katanya.

__ADS_1


Kesha melepaskan tangan Vino dari tangannya. "Maaf aku lebih suka kita berteman dulu sekarang" Ucap Kesha.


Kebahagiaan yang tadi mereka rasakan seakan hanya sebuah angin lewat begitu saja. Bahkan Vino juga mencoba romantis dengannya. Saat bercanda bersama, bermain bersama, bahkan hal bahagia yang mereka rasakan tadi kini semua pecah, bercampur dengan kepingan sakit hati.


Mendengar jawaban itu, Vino hanya bisa terdiam, menunduk sejenak ke bawah. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Sebuah jawaban yang membuatnya down kali ini. Jawaban yang tidak dia inginkan sama sekali.


Namun Vino mencoba tersenyum di hadapan Kesha. Ia mendongakkan kepalanya, "Hmzz baiklah aku terima semuanya. Kalau kamu mencari teman denganku. Maaf aku sudah terlalu banyak teman wanita. Dan tak butuh teman wanita lagi sekarang. Yang aku butuh hanyalah pendamping hidup kali ini. Tetapi semua sudah tidak aku inginkan. Makasih aku sudah tahu jawabannya sekarang. Minggu depan aku daftar kuliah di Sydney. Makasih atas waktu luang yang kamu berikan padaku" Ucap Vino.


Ia beranjak berdiri, membalikan bandanya, lalu melangkahkan kakinya pergi dari hadapan kesha. Tak terasa butiran air mata keluar dari mata sipit Vino.


Kesha hanya terdiam kali ini, "Apa yang aku katakan padanya terlalu menyakitkan?" Gumam Kesha. Menatap punggung Vino yang sudah pergi menjauh darinya.


○○○


Di balik rumah besar yang begitu mewah, Manda duduk terdiam di ranjangnya, mengusap lembut perutnya berkali-kali.


Tap..tap..tap..


Terdengar langkah kaki yang sangat cepat itu menuju ke arahnya. Tanpa sepatah kata apapun tiba-tiba Aron menariknya keluar dari Kamar. Entah mau kemana Aron akan membawanya pergi kali ini.


"Kita mau kamana?" Manda nampak bingung dengan sikap Aron yang tiba-tiba muram, dan ekpresi wajahnya dingin.


Ya bagaimana gak bingung coba, dia tanpa suara bahkan menyapa saja gak, masuk ke kamarnya. Menarik tangannya keluar dari kamar, lalu suruh duduk gitu aja di kursi depan mobil.


Di tanyain juga diem saja tanpa ada respon dari Aron. "Nih orang kenapa sih, kadang diem kadang asyik, tapi kadang nyebelin seperti ini" Gumam Manda, melirik sekilas ke arah Aron.


"Ehemmm.." manda mencoba berdahem memberi kode pada Aron. Namun tetap saja Aron fokus dengan kesibukannya sendiri, mengemudi mobilnya.


"Plakkk" tamparan keras Manda di tangan kekar Aron. Membuat mobilnya oleng seketika.


Aron langsung menghentikan mobilnya di bahu jalan. Melirik sekilas ke arah Manda.


Wanita dengan balutan kaos putih itu,mengerutkan pundaknya, "Sepertinya Aron akan marah denganku" Gumam Manda, melirik ke arah Aron.


Melirik Aron saja kini ia tak berani, dari pada kena semprot seaminya nanti. Ia memalingkan pandangannya dari Aron.


Suaminya itu langsung, menarik tangan Manda menyandarkan kepalanya di atas bahunya. Aron mengusap lembut rambut atas ubun Manda.

__ADS_1


Kejadian tak terduga lagi, kenapa tiba-tiba Aron mendekapnya. "Jangan berbuwat seperti itu lagi, itu sangat bahaya syang. Jaga ini" gumam Aron, megang perut Manda.


Wanita itu sontak menatap ke arah Aron. "Apa dia tahu jika aku hamil?" Gumamnya dalam hati.


__ADS_2