
Mentari pagi sudah menampakkan sinarya, burung-urung berkicau ria, mengelilingi atap kamarnya. Harum bunga taman menyeruak masuk dalam kamar Aron. Silauan sinar matahari kenembus langsung ke kaca mengenai wajah Manda. Namun Manda masih tetap terbaring di ranjang, memeluk tubuh Aron.
Aron sudah bangun dari tadi, menatap wajah Manda yang masih tertidur, ia mengusap lembut pipi menggemaskan Manda.
Aron menatap ke jam dinding, menunjukkan pukul 07.00. "Sudha siang, aku harus membangunkan Manda. Sebentar lagi ia melanjutkan Home Schoolingnya yang akan di mulai jam 08.00.
"Syang bangun"ucap Aron, mngusap lembut rambut Manda.
"Emm.. apa sih syang"gumam Manda, yang masih malas untuk membuka matanya.
"Syang bangun sudah siang"ucap Aron.
"Bentar syang, aku masih ingin menikmati ranjang ini"gumam Manda.
"Syang cepat bangun, kamu juga harus belajar kan nanti"ucap Aron, mengusap lembut rambut Manda.
"Masih malas syang, ku pusing sekarang"ucap Manda beralasan.
"Baiklah kalau kamu pusing aku panggil dokter ya"ucap Aron.
"Apa? Panggil dokter?"Manda sontak terkejut, setelah mendengar kata dokter. Ia membuka matanya seketika, dan beranjak duduk di ranjangnya.
Aron tersenyum melihat Manda yang panik seperti itu saat mendengar kata dokter. Karena ia sudah bosan setiap hari di periksa oleh dokter. Jadi ia malas berurusan dengan dokter sebelum kehamilannya nanti.
"Jangan panggil dokter ya syang"ucap manda, memeluk tubuh Aron, mencoba merayunya.
"Baiklah, asal kamu nanti mau check kehamilan lagi ya, satu kali saja syang. Aku mau kamu USG kehamilan kamu. Ingin melihat anak kita syang"ucap Aron. "Dan aku bisa tahu anak kita laki-laki atau perempuan nantinya"lanjutnya, mengusap lembut kepala Manda.
"Emm.. mau gak ya"ucap Manda ragu.
"Mau ya syang, kali ini saja syang. Biar entar aku bisa siapkan semua baju bayinya. Aku sudah gak sabar syang menanti baby kecil kita."Ucap Aron, yang kini duduk, mengusap perut Manda yang sudah terlihat membesar.
"Semoga anak kita laki-laki ya syang"ucap Aron.
"Kenapa harus laki-laki syang"tanya Manda bingung.
"Karena aku ingin dia nanti bisa jadi orang hebat, dan bisa membanggakan orang tuanya."ucap Aron.
"Emangnya kalau wanita kenapa syang"tanya Manda. "Bukannya dia bisa jadi seperti yang kamu inginkan"ucap Manda.
"Jangan syang, ku gak mau dia nanti menjalani kerasnya hidup. Biar yang pertama laki-laki bisa menjaga adiknya, dan bisa menasehati adiknya, agar kuat menjalani kerasnya hidup sebagai pengusaha. karena tak selamamya kehidupan akan selalu di atas syang, saat kita di bawah, anak kita bisa mengerti dan merubah hidup kita lagi nantinya. Hanya seorang lelaki yang bisa di bimbing menjadi sosok yang tegar" ucap Aron.
Ya, meski sebenarnya bukan itu yang di maksud Aron. Saat perusahaannya nanti sudah di tangan orang lain. Dia ingin anaknya bisa merebut entah bagaimana caranya. Ia yakin anaknya bisa balas dendam. Kalau perempuan, dia punya rasa iba dan kasihan pada seseorang itu yang tidak Aron inginkan.
Dan seakan Aron sudah sangat benci dengan mantan mertuanya itu, yang sudah menghancurkan kehidupannyam Dendam itu seakan kasih mendarah daging dengan dirinya.
"Aku akan balas semuanya, sampai cucumu kelak"ucap Aron lirih.
"Apa katamu syang, mau balas dendam dengan siapa?"tanya Manda bingung dengan ucapan Aron.
"Udah syang lupain, sekarang cepat bangun dan mandi sana syang, bau banget nih"gumam Aron, menutup hidungnya.
"Enggak syang, bau gimana coba deh cium"gumam Manda mendekatkan tubuhnya ke arah Aron. Dengan telunjuk menyentuh pipinya, bergarap Aron akan memberikan sebuah kecupan selamat pagi untuknya.
__ADS_1
"Udah syang cepat mandi"gunam Aron.
"Baiklah, tapi gak di cium dulu syang"ucap Manda.
Sebuah kecupan lembut di pipi Manda, membuatnya tersenyum dan segera menuju kamar Mandi.
"Syang, ku buatkan kamu teh hangat ya"ucap Aron.
"Gak usah syang, buatkan aku susu saja"teriak Manda dari dalam kamar mandi.
"Baiklah"ucap Aron. Ia segera turun menuju ke dapur, membuatkan satu gelas susu untuk Manda. Sudah satu bulan ini Manda selalu rajin minum susu, untuk menjaga kesehatan bayinya, dan untuk menjaga tumbuh kembang bayinya.
"Syang" Teriak Manda.
"Syang kamu di kuar gak?" tanya Manda.
Manda yang masih berendam di dalam bathup kamar mandi. Ia mengusap lembut perutnya. Dan di balas dengan sebuah tendangan oleh bayinya. "Wah dia mulai bisa merasakan sentuhanku"ucap Manda, yang terlihat sangat bangga, bisa meraskana anaknya sudah bisa gerak.
"Syang kemu kemana??" tanya Manda, dengan teriakan yang melengking.
Merasa tidak ada jawaban dari Aron, Manda segera meraih handuknya.
"Iya syang ada apa, aku baru saja buat susu untuk kamu"ucap Aron.
Manda membuka pintu kamar mandi melihat Aron yang sudah berdiri di depannya.
"Ada apa tadi teriak syang?" tanya Aron.
"Apa? Aku panggil dokter ya syang sekarang"ucap Aron, ia terlihat sangat panik dengan segera mengambil ponselnya.
Aron mengira jika kandungan Manda bermaslaah, ia yang sangat khawatir dengan anaknya. Tak mau terjadi apa-apa dengan anaknya nanti. berinisiatif segera menelfon dokter untuknya.
"Syang!!"ucap Manda berjalan mendekati Aron.
"Aku sudah telefon dokter sekarang kamu istirahat ya" ucap Aron, menyuruh Manda untuk duduk. Dan segera mengambil pakaian untuk Manda.
"Aku bantu kamu pakai baju ya"ucap Aron, mengambil baju terusan yang terlihat lebih longgar untuk Manda.
Aron membantu manda memakaikan bajunya, melihat Aron sangat khawatir dengannya. Manda hanya bisa senyum-senyum sendiri, menatap sajah lucu Aron, saat panik. Manda mencubit ke dua pipi Aron yang snagat nenggemaskan.
"Sakit syang, Syang kamu jangan bergerak kemana-mana"ucap Aron.
"Kamu mau kemana syang"ucap Manda, mememgang tangan Aron, yang mau pergi meninggalkanya.
"Aku mau ambilkan susu kamu syang, sekarang kamu minum susunya ya, selagi masih hangat syang"gumam Aron. Segera meraih susunya, dan membantu Manda untuk minum.
"Syang aku mau bicara padamu"ucap Manda.
"Bicara apa syang, kamu gak tau aku khawatir dengan anak kita"ucap Aron.
"Kamu ini lucu syang"ucap Manda.
"Licu gimana? Orang khawatir di bilang lucu" gumam Aron kesal.
__ADS_1
Manda meraih tangan Aron, dan segera meletakkan ke perutnya. "Rasakan syang"ucap Manda.
Sentuhan tangan Aron, di balas dengan tendangan dari perut Manda. "Syang beneran ini, bayi kita kenapa?" tanya Aron semakin khawatir.
Tok.. tokk.. tok..
"Tuan dokternya sudah datang"ucap pembantu Aron.
"Suruh masuk bi"ucap Aron.
Manda hanya menghembuskan napasnya. Lalu menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis menatap Aron.
"Permisi tuan"ucap doktet itu.
"Dik cepat periksa istri saya, bayinya tadi kenapa nendang-nendang"ucap Aron khawatir.
Manda dan dokter saling menatap tersenyum. "Syang sini deh"ucap Manda, menarik tangan Aron agar mendekat ke arahnya.
"Apa syang?" tanya Aron.
"Kamu itu bodoh atau gimana sih syang"ucap Manda, mendorong pelan dahi Aron dengan telunjuk tangannya.
"Bodoh gimana?" tanya Aron.
"Maaf tuan biar aku jelaskan pada tuan" dokter itu.
"Jika janin bergerak dalam kandungan, itu tandanya normal tuan. anak tuan berarti sehat dan aktif, jadi jangan terlalu khawatir. itu sudah wajah terjadi saat kehamilan sudah menginjak 4 bulan ke atas"ucap dokter itu.
"Oo.. jadi gitu."ucap Aron mengangguk.
"Ya sudah periksa saja dia dok, aku mau lihat bayiku laki apa perempuan"ucap Aron.
"Syang kamu ini bikin malu saja"ucap Manda.
Manda segera berbaring, dan kebertulan dokter itu membawa peralatan lengkap untuk USG Juga, di bantu dengan perawat.
Aron sudah gak sabar ingin menantikan suatu kejutan untuk dirinya. "Syang aku sudah gak sabar, ingin melihat anak kita"ucap Aron, menggemgam erat tangan Manda.
Setelah selesai memasnag semua. Dokter utu mulai melakukan USG. "Baru kali ini syang melakukan USG di rumah seperti ini, biasanta pasien sya selalu ke rumah sakut untuk USG"ucap dokter itu sambil bercerita.
"Tapi ini spesial dok, aku akan bayar berapa saja"ucap Aron, penuh semangat dalam dirinya.
"Syang lihatlah, anak kita gerak-gerak"ucap Manda.
"Wah iya syang, imut"ucap Aron.
"Dia sangat tampan"ucap Dokter itu.
"Anak aku laki-laki dok?" ucap Aron, sangat senang mendengar jika anaknya laki-laki. Seakan ia memiliki semangat hidup untuk anak dan istrinya.
"Iya tuan"ucap dokter itu.
Hingga setengah jam kemudian, dokter itu mulai berpamitan untuk pulang. Dan sesuai yang Aron janjikan. Karena kebetulan hatinya juga senang, ia membayar dokter itu 3x lipatnya.
__ADS_1