
“Maaf non, sya baru bilang pada non dan tuan. Jika tadi ada seseorang yang mengirimkan ini.” Ucap Pembantu Aron, mengulurkan sebuah surat berwarna putih, yang ia temukan di depan rumahnnya.
Aron dan Manda saling menatap bingung, mereka melihat depan surat itu, yang di tunjukan untuk Kesha. “Ini untuk Kesha syang” gumam Manda.
“Apa kita buka apa isinya” ucap Aron yang sangat penasaran dengan apa yang ada dalam surat itu.
Manda menatap tajam ke arah Aron, “Jangan buka punya orang semabrangan. Ini punya Kesha, biar dia sendiri yang baca” ucapnya menajam. “Jangan sekali-kali ikut campur urusan orang syang, kalau itu masalah pribadinya gimana. Kita gak boleh ikut campur. Kecuali kalau memang dia mau bercerita dengan kita dan minta tolong pada kita. Maka kita juga harus bantu dia sebisa kita” lanjutnya, yang mulai menurunkan pandangannya. Kepala Manda bergerak pada pembantunya, yang masih berdiri di depannya, dengan kepala yang masih menunduk hormat.
“oya tadi apa kamu juga melihat siapa yang mengirimkan surat ini?” tanya Manda.
"Tidak non, surat itu di letakkan di depan pintu. Saat bel berbunyi saya langsung keluar tapi di luar tidak ada orang sama sekali, dan saat saya mau coba menutup kembali pintunya, saya menemukan surat itu tergeletak.” Ucap pembantu Manda dengan penuh ragu dan kepala yang masih tidak mau menatap ke arah majikannya itu.
“Ya, sudah. Kamu pergi sekarang” ucap Aron.
“Iya tuan, saya permisi dulu” pembantu itu segera pergi, meneruskan tugasnya yang belum selesai.
Aron lansung memegang tangan Manda dan segera menuju ke kamar anaknya.
Kesha menoleh ke arah pintu, melihat Manda dan Aron berjalan masuk. “Ehh, da kamu sudah datang.” Ucap Kesha.
“Iya, ada surat dari seseorang, buat kamu.” Ucap Manda, berjalan mendekati Kesha.
“Oya, syang kamu bisa pergi dulu ajak anak-anak pergi ke luar sebentar. Aku dan Kesha di sini dulu, aku mau bicara dengan Kesha dulu.
__ADS_1
“Baiklah!” gumam Aron, menghelal napasnya dan segera mengajak anak-anaknya keluar.
“Ayo Duke, Lia kita keluar dulu. Tante sama mama kamu mau bicara berdua” ucap Aron lembut, menggendong ke dua anaknya.
“Ada apa Da?”tanya Kesha, menatap ke arah Manda.
Manda tersenyum duduk di samping Kesha, ia mengulurkan sebuah surat yang dari tadi ia bawa.
Kesha mengerutkan keningnya, tidak tahu kenapa dia langsung saja menerima surat itu begitu saja. Tanpa tahu dari siapa dan apa isi di dalamnya. “Ini apa da?” tanya Kesha.
“Aku juga tidak tahu Sha, lebih baik kamu buka saja dulu. Kamu baca siapa tahu ini penmting juga.” Gumam Manda.
Kesha terdiam, ia segera membuka surat itu dan mulai membacanya setiap huruf yang tertulis.
Selamat tinggal.
Wajah yang semula ceria, penuh senyum. Seakan, senyum itu mulai memudar, dari wajah cantik Kesha. Rintikan tetesan air mata keluar tertahankan dari mata bulat Kesha. Dengan tangan masih bergetar, tak menyaka dirinya begitu kejam. Dan ia tidak menyangka jika selama ini Vino setia menunggunya. Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menghianati hati aku sendiri, pikirnya dalam hati, ia menyandarkan kepalanya pundak Manda. Tetesan air mata jatuh membasai secarik kerta di tangannya.
Maaf!! Aku telah berbohong padamu Vin, bukan maksud aku untuk meninggalkanmu!!
kepala Kesha bergerak menatap ke arah Manda.
“Da!! Apakah aku salah? Apa aku telah menyakiti Vino?” ucapnya, dengan tangan masih memegang kertas itu.
__ADS_1
Manda memegang tangan Kesha, mencoba menenangkan hatinya. “Sha, kalau boleh aku memberi saran padamu, aku ingin kamu bicara berdua dengan Vino. Kalau kamu gak punya nomor ponselnya, biar aku tanyakan pada Vina. Aku sudah bayangkan dari kemarin malam, kamu dan Vino itu hanya salah paham. Kalian berdua itu saling mencintai. Aku mau kamu jelaskan apa kondisi kamu saat ini. Aku yakin Vino bukan laki-laki yang perdulikan kamu punya harta atau tidak, yang ada dalam hatinya hanya cintanya yang terlalu besar padamu.” Ucap Manda.
Kesha, duduk tegap, menyeka air matanya. “Apa aku bisa memperbarui hubungan aku dengannya, semua sudah berlalu da. Apa hubungan aku akan bisa seperti dulu lagi?”
Manda tersenyum tipis, memegang ke dua bahu Kesha. “Sha, yakinlah cinta kalian itu kuat, kalain pasti bisa bersatu lagi!! Sekarang kita pergi dulu, jemput ke dua orang tua kamu. Takutnya nanti mereka menunggu kita lama.
Kesha mencoba mengeluarkan senyum terbaiknya, dengan punggung tangan menyeka air matanya.
“Udah ayo pergi, Da.” Kesha beranjak berdiri, di susul Manda yang berdiri di sampingnya. Kesha segera menuntun Manda untuk berjalan menuruni anak tangga. Menuju ke ruang tamu, pasti Aron dan anak-anaknya sudha lama menunggu. Lagian dia juga terlalu lama di kamar.
“Mama!!” teriak Duke, berlari mendekati mamanya.
Manda duduk jongkok, mengusap kepala Duke lembut. Dengan salah satu tangan memegang bahu anaknya itu. “Syang!! Mama tadi lagi bicara sebentar syang dengan tante, tapi sekarang sudah selesia” ucap Manda, dengan pandangan mata melirik ke arah Aron. Ia tahu pasti suaminya itu juga kesal padanya, karena terlalu lama berbincang.
“Sudah ayo kita pergi, sepertinya bentar lagi ke dua orang tua Kesha sampai.” Ucap Aron.
Manda beranjak berdiri lagi, “Baiklah!!” Manda segera menuntun ke dua anaknya berjalan bersama dengan Kesha masuk ke mobil Aron.
Di sisi lain, di balik sebuah pagar yang menjulang tinggi. Ada seorang laki-laki yang mengintip di balik pagar itu. Ia tersenyum tipis, melihat mobil Aron sudah melaju jauh.
"Sha, semoga kamu baca surat dariku." ucap Vino, beranjak pergi. Ia hanya bisa memberikan ia surat, dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke rumah Aron. ia tidak bisa bertemu kakanya, Manda dan juga Kesha.
__ADS_1